mari-menanam-di-trenggalek

Ada pepatah Jawa, ”Sapa sing nandur bakale ngundhuh,” dalam bahasa Indonesia: ”Siapa menanam akan menuai.” Seruan, ”Mari kita menanam!” tentu terutama ditujukan kepada siapa pun yang memiliki lahan (baca: tidak tinggal di lantai atas rumah susun).

Orang Indonesia, baik yang tinggal di kota-kota dan apalagi yang ada di pedesaan, pasti memiliki lahan untuk ditanami. Tumbuhan/pohon apa yang hendak/bisa ditanam tentu tergantung luas dan tipe lahannya.

Bagi mereka yang tinggal di kompleks perumahan sangat sederhana, misalnya, paling banter yang dapat dilakukan adalah menanam tanaman buah di dalam pot atau menanam sayuran di polibag, memanfaatkan sisa tanah yang cuma sejengkal, atau bahkan memanfaatkan lahan di pinggiran selokan.

Menanam itu, terlepas dari harapan untuk memetik hasilnya, adalah pekerjaan mulia. Tindakan menanam bisa merupakan bagian dari upaya penyelamatan varietas-varietas tertentu yang nyaris punah, misalnya pohon buni, mundu, yang di balik rasanya yang kurang enak (terlalu kecut) menyimpan khasiat yang sangat berharga bagi kesehatan.

Apalagi di era sekarang ketika kreativitas manusia seperti terpacu sedemikian rupa, ketika sampah daun kering pun dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri kerajinan.

Dari setiap helai daun tanaman yang kita rawat sesungguhnya kita telah menyumbang untuk udara yang lebih segar, yang lebih kaya oksigen terutama di siang hari. Itu hal yang kadang terlewat dari pemikiran kita.

Bukannya untuk menampak-nampakkan andil kita terhadap keselamatan dunia dari ancaman pemanasan global, misalnya, tindakan gemar menanam pohon/tanaman akan menjadikan kita termasuk golongan orang-orang yang lebih banyak memberikan (kepada alam) daripada mengisap atau menggerogotinya.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim penghujan tahun ini akan dimulai November. Awal musim penghujan adalah saat terbaik untuk menanam segala macam tumbuhan. Maka, marilah mulai sekarang kita bersiap, mau menanam apa saja di lahan yang kita punya.

Ingat, jika anda memiliki lahan yang cukup, ada baiknya punya perencanaan mengenai tatakelola lahan itu secara cermat. Misalnya, apa saja yang hendak ditanam di atasnya, berapa batang dan di sebelah mana hendak ditanam pohon yang dipanen kayunya, di mana ditanam pohon buah-buahan, di mana budidaya sayuran akan dilakukan, dan seterusnya.

Jika anda punya bakat di bidang tatakelola lahan, bukan tidak mungkin anda bisa segera mengkomersialisasikan kemampuan anda sebagai juru tanam dan juru taman professional.

Pasang iklan-nya pun cukup gampang. Kelola/atur tanaman di pekarangan rumah anda sedemikian rupa, sehingga orang akan segera meminta anda untuk mendesain pekarangannya dengan bayaran yang membuat anda puas.

Kalau Pak Presiden bilang, ”Ayo kerja!” sesungguhnyalah: orang menanam itu juga bekerja.*

BERBAGI
Bonari Nabonenar
Lahir di Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek (1964), menulis dengan bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia. Ikut menyunting tabloid berbahasa Jawa bagi remaja Bro dan Majalah Peduli yang diterbitkan untuk komunitas pekerja migran asal Indonesia di Hong Kong. Dapat dihubungi melalui: nabonenar@gmail.com