Tanaman menjalar di para-para (kebun raya bogor)

Kita dapat menyaksikan di beberapa kota, trotoar berhiaskan tanaman dalam pot-pot kecil yang ditata dengan konsep vertical garden. Selain berkesan sejuk-segar, berbagai jenis tanaman hias itu juga menjadi penyeimbang atas berjubelnya papan-papan reklame yang, nyaris membenamkan seluruh wajah sebuah kota –baik kota kecil, apalagi kota besar.

Lebih menarik lagi yang ada di Yogyakarta. Di kawasan Malioboro misalnya, kita akan segera dapat menyaksikan bangunan para-para dari logam jenis galvanis maupun stainless steel sebagai media untuk berbagai jenis tanaman menjalar. Ketika rimbun daun tanaman sudah memenuhi para-para, kesan sejuk dan segarnya sangat terasa. Bahkan, tak jarang di bawahnya dibangun juga tempat duduk untuk sekadar bersantai atau menunggu angkutan umum. Di Yoyakarta, para-para dengan tanaman menjalarnya tidak hanya ada di Malioboro, tetapi juga di jalan-jalan lain. Cobalah naik Trans Jogja, dan buktikan!

Dua contoh itu, vertical garden dan tanaman menjalar di para-para, menunjukkan program pembangunan yang dilandasi dengan konsep yang bagus. Bandingkanlah, misalnya, dengan yang dapat kita saksikan di jalan raya antarprovinsi menjelang Kota Sragen (dari arah Ngawi), di kiri kanan jalan ada taman-taman yang dibuat oleh masing-masing SKPD/dinas/lembaga pemerintahan di lingkup kabupaten, yang terkesan alay, sedikit tanaman dan lebih banyak konstruksi beton bertuliskan identitas lembaga/SKPD. Sepertinya, seingat saya yang model begitu ada juga di Trenggalek. Mungkin sekarang masih ada, atau sudah dihabisi?

Pot bertuliskan identitas
Pot bertuliskan identitas

Jika kita menyusuri jalan-jalan di Kota Trenggalek, yang akan segera terlihat sekarang ini adalah pohon perindang yang ditanam ala kadarnya, seperti sekadar menggugurkan kewajiban. Samasekali belum tampak adanya semangat baru seperti disarankan oleh kesadaran (baru) mengenai pentingnya konservasi lingkungan, kesadaran mengurangi dampak pemanasan global, dan sebagainya.

Maka, jangan heran jika melihat orang seperti latah menanam pucuk merah di sepanjang tepian ruas jalan, atau menanam pohon sono (yang terlalu cepat tumbuh rindang, tetapi juga gampang sempal cecabangnya jika datang hujan bersekongkol dengan angin yang agak kencang). Seolah para pemilik kebijakan (Urusan Pertamanan), tidak tahu-menahu sifat dan kemampuan meminimalisasi polusi antara bambu, talok, asam, dan seterusnya.

Kurangnya kesadaran akan pentingnya konservasi juga membuat di mata pemilik kebijakan seolah hanya keseragaman yang tampak indah. Maka dipasanglah pot-pot besar di sepanjang trotoar dengan tanaman seragam, misalnya: pucuk merah. Mengapa tidak menanam beraneka pohon buah di dalam pot-pot itu, sambil ikut melestarikan tanaman buah yang kini mulai langka, misalnya: buni, kenitu, mundu, kepel, dan sebagainya?

Kita juga bisa membayangkan, andai saja di Trenggalek dapat dibangun para-para seperti yang ada di Yogyakarta itu, lalu ditanami: markisa, cincau, santhiyet, sembukan, manon, anggur, dan sebangsanya. Pasti nuansanya akan jauh berbeda, jauh lebih asri, lebih indah, dan lebih asyik daripada keadaannya sekarang.

Pemimpin baru, semangat baru, konsep baru, energi baru, harapan baru. Jika itu semua sukses diramu, pasti khasiatnya bagi masyarakat akan lebih manjur daripada jamu. Tanaman menjalar di para-para itu, bisa diharapkan akan menampilkan wajah baru Trenggalek yang lebih segar, lebih asri, dalam dua atau tiga tahun mendatang. Begitu, jika dimulai dari sekarang.

BERBAGI
Bonari Nabonenar

Lahir di Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek (1964), menulis dengan bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia. Ikut menyunting tabloid berbahasa Jawa bagi remaja Bro dan Majalah Peduli yang diterbitkan untuk komunitas pekerja migran asal Indonesia di Hong Kong. Dapat dihubungi melalui: nabonenar@gmail.com