Misbahus Surur mengamati sungai di barat Gunung Geger Tengu

Di Desa Prigi, tepatnya di Dusun Sumber bagian utara, terdapat tebing sungai yang cukup tinggi. Sungai—yang pada aliran hulunya adalah dua buah sungai kecil yang barangkali berasal dari mata air di bukit-bukit sebelah utara dan timur Dusun Kocor, Desa Gemaharjo ini—tak punya aliran yang memadai pada musim kemarau. Dua sungai kecil yang menjadi hulunya, lantas bersatu begitu saja dan membentuk sungai induk yang mengalir ke selatan menuju dusun di bawahnya, yakni Dusun Sumber, Desa Prigi. Sungai ini terletak di sisi barat lereng Gunung Geger Tengu dan sebelah tenggara Bukit Apak Broto juga Bukit Kendil.

Geger Tengu adalah sebuah gunung/bukit yang tampak jelas bisa kita amati ketika melintasi jalur alternatif dari Gemaharjo tembus Prigi melalui Sumber. Sebuah jalan terabasan yang baru diaspal ini punya kontur menurun yang cukup curam. Sebuah tebing tinggi dari sungai yang saya ceritakan di atas, berlokasi di situ. Tepatnya berada di arah timur jalur utama ke Prigi melalui Sumber tersebut. Aliran air di sungai ini beralaskan batu-batu pegunungan yang me-lempeng. Saya yakin air sungai ini bisa membentuk jeram-jeram yang deras ketika musim penghujan tiba.

Sungai tak bernama alias anonim yang punya dua aliran sebagai hulu tersebut, kelak terus mengalir ke bawah hingga ke Desa Prigi dan barangkali menjadi aliran penyumbang ke badan sungai lain di bawah sana. Pada saat memasuki Dusun Sumber, aliran sungai ini menerjuni tebing berketinggian di atas ketinggian Jurug Nanas di Desa Dukuh. Air yang jatuh ke tebing—dengan ketinggian kurang lebih 30-an meter tersebut—oleh masyarakat setempat dinamai Jurug Coban. Saya tidak tahu, kenapa dinamai dengan dua kata yang sebetulnya mengandung makna yang sama—karena  jurug adalah sinonim dari coban. Air di sungai ini kecil, alirannya tampak pelan saat terjun kemudian membentur batu-batu di bawah tebing. Meski tak seberapa menghasilkan volume dan suara, sebagaimana pada arus sungai dengan debit besar, alirannya masih meninggalkan gerakan indah yang terbanting sembari menyipratkan tempias. Air turun dari tebing di lokasi ini, barangkali akan memunculkan tenaga yang sama nikmatnya dipandang ketika arus air sungai itu membesar.

Air jatuh dari tebing memunculkan bias
Tempias air Jurug Coban

Vegetasi di sekitar sungai lumayan baik, tentu sudah berkurang gerumbulannya. Ada beberapa pohon bertumbuh di sekitar sungai, yang daun-daun dan tangkainya berjatuhan ke badan sungai. Bambu kuning, pohon waru, semak-semak-an dan berbagai jenis rumputan menyebar di pinggir-pinggir sungai. Ketika aliran mati, kita jadi lebih mudah menyusuri sungai ini langsung melalui tubuhnya. Namun ketika arusnya deras, biasanya pada saat musim hujan, malah kemungkinan tak bisa disusuri melalui badan. Kita mesti lewat jalan setapak di pinggir-pinggir sungai, yang dikerumuni semak belukar, rumput-rumput berduri, ilalang dan tanah yang punya kemiringan tidak biasa. Tentu bagi yang hendak menyusuri sungai ini bisa turut menyulitkan perjalanan, karena topografi di sekitarnya memang landai.

Lereng di sekitar tebing sungai—jika kita menyusurinya dari hulu—punya kemiringan antara 45-70 derajat, dengan lebih banyak berkemiringan parah. Dari situ, Gunung Geger Tengu tampak makin menonjol. Pada saat susur sungai, kami diantarkan oleh seorang lelaki yang kesehariannya memang sering melakukan perjalanan pulang-pergi ke tegal-tegal dengan menerabasi daerah perbukitan dan lereng curam di sekitar sungai. Ia berjalan dengan cepat tapi juga sigap. Kedua kakinya dialasi sepatu yang mungkin sering dipakainya saat meladang. Sembari mencangklong sabit yang tercantel di pinggang. Sabit itu ia gunakan untuk menebasi ilalang guna membuat jalan baru yang kami lewati. Menuju ke lokasi kami memang kerap melalui jalan setapak di lereng-lereng, yang kadang penuh rumput dan semak berduri meski kadang juga melalui area agak terbuka yang lumayan kering.

Tampak aliran sungai dan vegetasi dari atas tebing Jurug Coban
Tampak aliran sungai dan vegetasi dari atas tebing Jurug Coban

Menapaki pegunungan-perbukitan di Trenggalek, saya selalu menahan untuk memuja-muja keasriannya, yang terkadang memang akan mengandung dan mengundang hasrat: segala hasrat buruk tentunya. Saya sering menggerutu di tengah jalan: mengapa jiwa eksploitasi kerap menyambangi kita. Jangan-jangan benar belaka bahwa manusia adalah predator (perusak) alam yang lebih buas dari segala jenis hewan predator. Sementara kesadaran menghikmati bumi malah sering diusir jauh-jauh. Tentu pencerahan akal-budi yang bukan bersumber dari hasrat pengetahuan positivistik-kapitalistik. Tapi dari rahim gunung dan bukit serta bau air sungai, yang kini, saya pikir kalau mereka bisa bicara, justru tengah mencari perlindungan manusia. Mungkin yang dinamakan pencerahan dari alam salah satunya bila pada saat kita mengamati gunung dan sungai, bisa menyingkapkan kesadaran ke akal budi.

Karena daerah-daerah tropik yang kita tempati, rumah bagi keragaman vegetasi dan segala jenis hewan itu, kini mayoritas tinggal dongengan. Kesadaran menjaga alam akan menghilangkan ketakutan terhadap gerumbulan yang sepanjang ini dianggap sarang bagi hantu-hantu. Dalam pandangan orang-orang jahat pemuja jiwa developmentalisme warisan (era) Pembangunanisme Orde Baru.

Modernisasi dan pembangunanisme justru telah menciptakan ”hantu” sebagai mitos yang dijauhi penuh jeri. Hingga rerimbunan—yang dituduh sebagai hunian para hantu dan dedemit ini—digunduli oleh pemikiran yang telah disuntik racun modernitas: termasuk untuk soal pemikiran dan kebijakan menebangi pohon-pohon di hutan; merusaki semak-pohonan pada mata air dan seterusnya, hanya karena dalih sarang hantu. Kalau kita membabat vegetasi pepohonannya, maka gunung kita, bukit kita, lembah kita, sungai kita—jajaran daratan mulai yang tertinggi hingga yang paling rendah—sebetulnya, ketahuilah tempat pertahanan terakhir kita dari kebuasan predator dari jenis kita sendiri. Menjaga alam-lingkungan sekeliling dengan baik, sudah merupakan alasan mendasar menjaga keberadaan serta kelangsungan hidup kita sendiri.

BERBAGI
Misbahus Surur

Kelahiran Munjungan, Trenggalek. Menulis buku Turonggo Yakso Berjuang Untuk Eksistensi (Yogyakarta: Syafni Press, 2013) dan menyunting buku Rengkek-Rengkek: Senarai Catatan dan Kisah (Per)jalan(an) di Kota Trenggalek (Trenggalek: Tuhālas Biblioteca, 2015).