Singkong

Upaya yang saya lakukan untuk menuliskan Trenggalek (selanjutnya akan saya tulis Nggalek saja) hanya sebatas upaya mendorong-paksa isi rahim ingatan saya. Jujur, saya tidak punya nyali untuk melakukan yang lebih dari itu. Maklum, saya tidak bermukim di wilayah Nggalek  saat ini. Sedangkan di dalam rahim ingatan itu terdapat sekian banyak kenangan masa lalu di Nggalek, khususnya masa kanak-kanak, yang seolah ingin terlahir kembali. Selama ini rahim ingatan itu terus saja membuncit seiring bertambahnya usia saya. Terkadang kenangan-kenangan itu menghentak-hentak hingga tak jarang menjadi sekadar muntahan kalimat-kalimat di status fesbuk.

Di kancah media sosial (medsos), tidak diragukan lagi, saya memang stalker fanatik mengenai kabar-kabar termutakhir Nggalek. Sebagai orang Nggalek yang mengais rejeki di perantauan, Nggalek memang tidak pernah lekang dari nafas kehidupan saya. Namun, Nggalek masa kini adalah Nggalek yang membuat saya seolah me-renta diri. Nggalek masa kini di mata saya adalah Nggalek yang progresif dan saya hanya fosil sisa peradaban Nggalek masa lalu. Percayalah.

Maka pada saat Misbahus Surur meminta saya ikut nimbrung di Nggalek.co ini, otot-otot rahim ingatan saya sontak berkontraksi kencang dan lalu memecah. Setelah menempuh fase-fase bukaan, bak fase-fase bukaan dalam sebuah proses persalinan, keluarlah sepenggal tulisan ala kadarnya ini. Tentu, kendati hanya sepenggal pun dibarengi dengan upaya mengerahkan segenap spirit ke-Nggalek-an yang makin menjadul dalam diri saya.

Adalah Desa Munjungan dan Desa Cakul, dua desa dengan kondisi alam berbeda di semesta Nggalek yang melingkungi rentang usia kanak-kanak saya. Desa Munjungan sekaligus ibu kota Kecamatan Munjungan, sedangkan Desa Cakul merupakan bagian dari Kecamatan Dongko yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Panggul. Barangkali memang sudah adatnya, suatu daerah yang letak geografisnya jauh dari kota sering harus menanggung kutukan administratif. Munjungan dan Cakul, saya pikir juga demikian. Lantaran berada jauh dari jantung kota Nggalek, keduanya sama-sama dipelosokkan dan kerap dipandang sebagai yang terbelakang. Mungkin juga anggapan saya terlampau berlebihan, jadi abaikan saja.

Munjungan adalah desa kelahiran saya. Genap enam tahun usia saya, ketika Bapak saya memboyong keluarga pindah ke Cakul. Kami berempat, prototipe Keluarga Berencana waktu itu meskipun saya dan adik saya, laki-laki semua. Di usia itu pula, saya masuk bangku kelas satu Sekolah Dasar Negeri 5 Cakul, sekolah tempat Bapak saya mengajar Pendidikan Agama Islam. berselang satu tahun kemudian, karena Ibu tidak kerasan, maka Ibu membawa serta kedua anaknya balik lagi ke Munjungan. Barulah saat saya naik kelas empat, kami sekeluarga menetap lagi di Cakul dengan menempati perumahan tipe (kurang dari, tidak sama dengan) 21 hingga saya lulus SD.

Jaman itu tidak ada jalan pintas Munjungan-Cakul yang dapat dilalui kendaraan. Kalaupun ada, hanya setapak jalan yang cuma bisa ditempuh dengan jalan kaki. Bapak saya termasuk salah satu yang melakukannya. Itu terjadi sebelum keluarga kami memutuskan menetap lagi di Cakul. Dan perjalanan dengan kendaraan mau tidak mau harus memutar mengikuti rute jalan beraspal yang ada.

Jalur memutar itu bisa lewat Nggalek lebih dahulu atau lewat Kecamatan Panggul. Tentu cukup memakan waktu dan menghabiskan tenaga. Sarana transportasi yang bisa digunakan hanyalah angkutan umum AntarDesa AntarKecamatan (ADAK—ini akronim gubahan saya sendiri), yaitu kendaraan ber-plat kuning jenis L 300. Pada jaman itu pula, kendaraan pribadi (mobil dan sepeda motor) belum begitu membumi.

Letak berjarak yang disebabkan keterbatasan akses tersebut mengakibatkan interaksi sosial ekonomi kedua desa itu pun bisa dikatakan sangat jarang terjadi. Sekat yang mengasingkan tegak menjulang di antaranya. Seperti menjulangnya sederetan bukit di sisi utara Munjungan hingga mengekalkan mitos-mitos miring Munjungan bagi mereka yang berada di sebalik bukit. Tidak jarang, hal itu justru menyuguhkan sketsa-sketsa konyol kehidupan sekaligus memberi warna tersendiri bagi hubungan dua desa beda kecamatan itu. Sangat layak untuk kita tertawakan bersama-sama tanpa tendensi apapun.

Bagi kebanyakan orang Munjungan, Cakul dianggap antah berantah dan orang-orangnya ndesit karena tinggal di pegunungan gersang. Begitu pula sebaliknya, nama Munjungan dan mitos Laut Selatan terdengar mengerikan bagi orang-orang Cakul. Saya ingat betul, “Kapan anjek?” (artinya “Kapan turun gunung?”) adalah pertanyaan yang sering dilontarkan oleh kerabat kami di Munjungan saat keluarga kami mudik liburan. Sebaliknya, tetangga kami di Cakul lekas-lekas mandi kembang sepulang  mengantar besanan dari Munjungan, khawatir “demit-demit” Laut Selatan menguntitnya. Ini nyata. Sayangnya, saya tidak punya bukti otentik terkait hal tersebut.

Secara geografis, Desa Munjungan saya kira lebih menikmati takdir keberuntungannya ketimbang Desa Cakul. Menempati hampir sepertiga dataran rendah pesisir laut selatan, Desa Munjungan khususnya dan Kecamatan Munjungan pada umumnya seolah menabalkan diri sebagai daerah yang layak menyandang sebutan munjung-munjung (berlimpah ruah) pangan. Sebagian besar dataran rendah yang membingkai Teluk Sumbreng tersebut berupa areal persawahan yang terhampar. Hamparan areal persawahan menjadi “pabrik bahan pangan” orang Munjungan. Beras menjadi makanan pokok keseharian. Nasi senantiasa terhidang di meja makan.

Tidak hanya area persawahan, hasil bumi dari ladang-ladang juga tak kalah melimpah. Dari ladang-ladang tersebut dihasilkan kelapa, pisang, palawija, kacang-kacangan, dan umbi-umbian. Pasokan air yang memadai menjadikan lahan pertanian di Munjungan seperti tak pernah berhenti bernafas. Hal ini juga tidak lepas dari keberadaan dua aliran sungai di Munjungan, satu dari utara dan satu dari timur yang bertemu di suatu tempat bernama Kali Tengah.

Saat musim panen tiba, hamparan area persawahan tampak bagai hamparan bersepuh emas yang memagari area pemukiman. Dan dari atas bukit di sisi utara, kita dapat melihat sebuah dataran rendah pesisiran dengan pendaran kuning terang yang meronai raut biru pantai selatan, tempat di mana para nelayan setempat menangguk berton-ton ikan yang memberi asupan protein orang Munjungan. Selepas padi dituai, musim panen meninggalkan gundukan jerami yang menggunung di sana sini. Bagi anak-anak seperti saya waktu itu, hal ini menjadi daya tarik tersendiri. Sebelum jerami itu dibakar untuk memulai masa tanam, kami seringkali menghabiskan waktu bermain di gundukan jerami tersebut. Dan untuk menghilangkan gatal-gatal, kami biasanya menceburkan diri di parit yang mengairi area persawahan.

Sementara itu, Cakul menghuni bentangan perbukitan di sisi barat Kecamatan Dongko. Saya sependapat dengan berbagai sumber yang menyebutkan daerah ini sebagai perbukitan tandus. Namun, saya tidak sependapat jika dikatakan sebagai daerah yang terbelakang. Desa Cakul khususnya dan Kecamatan Dongko pada umumnya, waktu itu sedang merangkaki lintasan nasibnya sendiri. Lintasan nasib yang tak selempeng daerah-daerah subur lainnya di Nggalek.

Masa kanak-kanak saya di Cakul adalah masa ketika BPPC berkuasa mutlak atas nasib pohon-pohon cengkih di seluruh Indonesia. Ya, cengkih menjadi tanaman primadona di Cakul. Sama halnya cengkih-cengkih di seantero Kecamatan Dongko waktu itu. Selain menjadi sandaran mata pencaharian, barisan tajuk-tajuk cengkih mampu menyulap perbukitan tandus menjadi berkesan subur. Cengkih memang sempat membetikkan harapan baru bagi orang-orang di sana. Sayangnya, pesonanya surut seiring terus merosotnya harga dari waktu ke waktu.

Tidak seperti Munjungan, perbukitan tandus di Cakul tidak memungkinkan bagi area persawahan. Pasokan air selalu jadi masalah. Terlebih ketika masuk pertengahan musim kemarau. Matahari pun rakus menghisap tiap tetes air di pori-pori tanah. Menyebabkan tanah rekah, memucat, dan mengeras-batu. Rumput dan rumpun-rumpun ilalang turut layu. Angin kering berhembus, merontokkan dedaun tua cengkih. Sehingga, ngasak atau mengumpulkan daun cengkih sering dilakukan orang pada saat seperti itu. Mereka menjualnya di ketel penyulingan untuk menyambung hidup.

Sudah pasti, air pun juga sulit dicari saat pertengahan kemarau itu. Debit air di sungai menyurut, bahkan kerontang sama sekali, menyisakan bebatuan kusam oleh sengatan terik matahari. Selang plastik yang biasa mengalirkan air menuju rumah-rumah pun memipih. Pun tak terdengar desir air di selang-selang itu atau tak ada tetes-tetes air dari celah-celah sambungannya seperti biasanya. Berbondong-bondong orang mencari sumber mata air yang masih ada. Mereka mengangkuti air menggunakan jun—yaitu wadah air dari tembikar berbentuk bulat. Agar air dalam jun tidak tumpah saat dipikul, mulut jun diberi beberapa lembar daun singkong.

Umbi singkong adalah sumber makanan pokok. Setelah melalui pengeringan, umbi singkong tersaji di meja makan dalam bentuk tiwul. Makanan inilah yang disantap sehari-hari. Uncet, sebutan orang Cakul untuk nasi, terbilang makanan eksklusif. Mencampur tiwul dengan sedikit uncet sudah terbilang istimewa. Karenanya pula, menanam singkong di ladang sebagai sumber bahan pangan menjadi pilihan.

Kadang singkong harus kejar tayang untuk memenuhi kebutuhan makanan keseharian. Singkong dipanen sebelum waktunya. Alhasil, tiwul yang dihasilkan lebih lembek dari yang semestinya. Begitulah. Dan ketidakpastian harga cengkih di tengah deraan kemarau berkepanjangan seakan membuat tanaman singkong menjadi seperti benteng terakhir yang menjaga keberlangsungan hidup.

Munjungan dan Cakul. Saya merasa beruntung dapat menjejakkan masa kanak-kanak di dua tempat tersebut. Sebab hal itu nyatanya telah mendemokratiskan cara pandang saya mengenai peran “padi” dan “singkong” sebagai sumber bahan makanan pokok. Bahwa padi dan singkong telah melampaui pembedaan strata dalam pandangan saya. Bagi saya, keduanya memiliki kandungan gizinya masing-masing, memiliki keunggulan nutrisi sendiri-sendiri. Tugas manusia adalah membudidayakannya, mengolahnya, dan lalu memakannya sembari bersyukur atas karunia-Nya.