Nelayan

Hidup tak hanya senyum, kembang dan kelam
Tapi juga
Keringat air mata dan laut
(Zawawi Imron: Hidup Tak Hanya)

Laut yang mendominasi jagad ini selalu menarik dikisahkan. Masyarakat yang hidup di pinggir laut pun bisa menghadirkan persepsi berbeda dari berbagai pandangan. Yang lantas menarik untuk dikemas serta diceritakan ulang. Masyarakat pesisir Kecamatan Watulimo dan sekitarnya, memang sering mencurahkan segenap harapannya di lautan. Jika telah tiba mangsa (waktu)  melaut, laut akan menjadi harapan bagi mereka, para nelayan, yang tinggal di sekitar pesisir pantai. Begitulah adanya.

Sering bagi manusia, laut menjadi selaksa tak bertepi. Terlebih bagi bocah-bocah (kelak sampai remaja dan dewasa) di desa pantai, berteman dengan laut adalah sebuah ritual wajib. Bagi bocah-bocah itu, laut adalah teman sekaligus juga taman bermain. Dari laut (pantai), mereka bisa menenun harapan ketika telah menjadi dewasa. Harapan untuk dikabarkan dan diberikan kepada sanak keluarga. Bahwa lautan—dengan aneka kehidupan di bawahnya—bisa juga berkawan dengan manusia. Begitu pula, banyak kehidupan di bawah laut yang mampu menopang kehidupan manusia di daratan.

Rendra, penyair kenamaan Indonesia itu pernah menuliskan puisi dilandasi kekagumannya akan lautan. Dalam puisinya yang berjudul “Lautan”, Rendra memandang laut sebagai sebuah rahasia yang harus terus diburu: Daratan adalah rumah kita/ dan lautan adalah kebebasan.// Daratan adalah rumah kita,/ dan lautan adalah rahasia. Bagi Rendra, laut seolah teka-teki kehidupan. Jika manusia dapat menemukan rahasianya (menjaring, memancing, menangkap hingga berjualan ikan), manusia akan dapat meneruskan hari esoknya, meski hanya dengan sepotong ikan asin.

Sebagaimana puisi yang ditulis penyair kenamaan itu, laut memang sebuah rahasia bagi banyak nelayan di desa saya. Jika musim ikan mental (baca: muncul), laut akan menjadi taman harta karun, yang entah di posisi mana letaknya akan diambil. Dan masyarakat terus berduyun-duyun mencari hingga fajar menyingsing.

Begitu pun pada keesokan harinya. Berulang-ulang hingga betul-betul rahasia itu tak menampakkan lagi atau hilang dari kedalaman. Oleh karena tak sedikit nelayan yang memusatkan perhatiannya pada segala jenis sumber mata pencaharian mereka di lautan. Di situ, laut seakan menjadi rahasia yang tidak ada habis dikuak ke permukaan.

Sejalan dengan nelayan yang ada di desa, adalah adik saya yang nomor dua. Ia dengan lantang, tak hendak meneruskan pendidikannya setamat SMA. Secara jujur dan berani, ia ikut melibatkan diri dalam pencarian rahasia lautan tersebut: berteman dan mengakrabkan diri dengan laut. Baginya, melanjutkan pendidikan adalah di kidul kono? (Laut Kidul, Pantai Prigi), begitu katanya. Menjadi seorang nelayan baginya lebih menjanjikan.

“Buat apa sekolah? Sekolah marai mikir (sekolah terlalu banyak berpikir),” katanya lagi suatu kali. Karena itu, ia tak sudi melanjutkan pendidikannya sampai di tingkat perguruan tinggi. Boro-boro sampai di perguruan tinggi, sekolah menengahnya saja dulu nutuk-nutukne (memaksa untuk selesai). Padahal, orangtua saya menginginkan dia bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Biar tidak seperti orangtuanya yang cuma lulusan SMP dan SD.

Apa mau dikata, baginya sekolah tidak memerdekakan pikiran; tidak membebaskannya untuk berekspresi. Kalau berbicara masalah itung-itungan, prestasi angka yang dibuat sekolah; peringkat dan nilai kuantitatif dalam rapor, hingga kini hanya bisa mendekam di sebuah map yang tersimpan rapi di lemari, alias tak berpengaruh terhadap kehidupan setelah ia jalani sekarang.

Kemauannya sebagai seorang nelayan itu dulu disambut baik oleh tetangga depan rumah. Kebetulan tetangga saya depan rumah merupakan seorang nelayan tulen. Tetangga tersebut bernama pak Min, nama panjangnya Muhaimin. Dia menjabat sebagai juru mudi (Juragan kapal Laut) di salah satu perahu miliknya. Dia bekerja sebagai yang men-jurag (baca: menjalankan) nakhoda perahu.

Adik saya pun ditawarinya sebagai seorang tenaga (ABK) di KM Sumber Pangan. Saya masih ingat, saat juragan laut tersebut saat itu merekrutnya di pelataran rumah kami. Membicarakan tetekbengek rahasia-rahasia di tengah laut beserta keberadaan ikan di sana.

Mereka berbicara tentang kontrak kerja. Kontrak kerja yang hanya berhenti di bualan uap saja. Waktu itu, saya melihat raut wajah ibu yang memelas. Tidak tega dengan anaknya yang masih berusia belasan tahun harus bergelut dengan ombak: menjinakkan ganasnya gelombang dan mengakrabkan diri dengan lautan. Bagi seorang nelayan, gelombang adalah selimutnya.

Saya ingat betul bagaimana paman saya pulang dari pelayaran di Laut Sulawesi, dengan membawa duka. Tinggal tubuh tak bernyawa. Sebelum menjadi jenazah, dia menuliskan sebait puisi tentang pertarungan di tengah lautan di HP-nya. Tapi sayang, puisi itu raib bersamaan hilangnya HP saya. Aaach… prasasti ketegaran seorang nelayan tangguh tak lagi terdokumentasi, minimal sebagai batu nisan dalam tulisan yang bisa selalu dikenang.