Bukit dan gunung di Karanganyar

Kami, saya dan Mas Bonari, memulai perjalanan pagi itu (27 Januari 2016) dari Dongko—Desa Cakul, rumah Mas Bonari—menuju Pacitan, dengan kondisi saya dihambat flu yang tiba-tiba menyerang. Dengan hanya memakai kaos berlapis baju-jaket dan bercelana kain (tanpa persiapan sarung tangan, sepatu dan apalagi penutup hidung), saya (dan Mas Bonari) menggelar perjalanan bersepada motor saling membuntuti (dan berkejaran) ke Yogyakarta. Sebelumnya, kami sampai di Dongko pada malam hari dan menginap di Cakul. Malam itu, kami tak segera istirahat, malah sempat asyik berbincang isi Serat Centhini. Kebetulan tema yang dibahas menyinggung gunung dan bukit serta beberapa bentuk kesenian yang pernah hidup di sekitar Trenggalek, dalam lembar-lembar Centhini. Saking asyiknya, obrolan membawa kami melewati tengah malam dan terlambat tidur.

Jauh-jauh hari memang sudah kami rencanakan hendak bersepeda (edisi ngepit, kata mas Bonari) dengan tujuan Yogyakarta: di antaranya ke kantor Mojok sambil bersilaturahim ke beberapa tempat, juga akan mampir Candi Sukuh dan Candi Cetho di Karanganyar, dalam perjalanan pulang dari Yogyakarta. Kami rencanakan berangkat melalui jalur selatan: melewati Pacitan—ini satu-satunya kabupaten di Jawa Timur yang belum pernah saya kunjungi—, Wonogiri, Gunung Kidul, Sleman, lalu Kota Yogyakarta. Kami mulai perjalanan pagi itu pada sekitar jam 09.00 dari Dongko melalui Panggul.

Sarapan pagi yang kami rencanakan di Panggul batal, di tengah jalan Mas Bonari usul sarapannya berganti di Pacitan. Tepatnya di rest area berhadapan dengan PLTU Sudimoro. Sedari keluar Kecamatan Panggul, saat perjalanan mengarah ke barat, saya berusaha mencatat setiap lekuk jalanan dan detail sekitar dalam ingatan. Maklum ini kali pertama saya melewati jalur Panggul-Pacitan. Lagi pula jalur ini bisa dibilang terletak di pinggir-pinggir laut. Berbeda dengan jalur pantura, yang sebagian persis di samping pantai. Jalur di lintas selatan ini porsi terbesar jalanannya mengulari perbukitan-pegunungan.

Sehabis sarapan dan wedangan secukupnya di Sudimoro, kami meneruskan perjalanan ke arah barat hingga masuk kota Pacitan, lantas memasuki Kecamatan Punung di barat kota. Di Pacitan saya sempat mengagumi keindahan Pantai Soge—di sepanjang jalur lintas selatan—yang cuma bisa kami lewati tanpa sempat berhenti. Setelah istirahat pertama kami di Sudimoro, istirahat kedua kami gelar saat memasuki Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri (Jawa Tengah) melalui Giritontro. Kami mengaso mulanya karena diserbu hujan lebat yang datang mendadak. Awalnya kami ingin berhenti di pinggir jalan begitu saja saat hujan tiba-tiba turun, karena menemukan greng alias gerumbulan pohon bambu untuk berteduh. Namun pada saat mas Bonari hendak menyulut rokok, saya keburu usul untuk terus saja sambil mencari warung kopi: berpikir tampaknya ngudud di warung kopi lebih enak sembari istirahat dalam situasi hujan.

Akhirnya kami meneruskan perjalanan, yang apesnya malah tak menemukan sekedai warung kopi pun yang bisa diampiri. Yang kami temukan malah mini market di samping jalan. Dan jadilah ngaso kedua kami gelar di situ, sembil menunggu hujan reda. Saat memasuki Jawa Tengah yang jalanannya menampakkan karakter rumah-rumah yang sangat ndesa. Jujur saja saya senang melintas di jalur ini sambil mengamati pagar-pagar depan rumah penduduk yang berpalang bambu, yang juga masih mempertahankan bentuk dan gaya rumah joglo-nya di sepanjang jalan.

Dari Pracimantoro kami lurus ke barat, sebelum memasuki Gunung Kidul, Yogyakarta, kami sengaja mampir museum karst. Museum ini adalah geopark (taman bumi) yang terletak di Pracimantoro bagian barat: perbatasan Wonogiri dengan Kabupaten Gunung Kidul. Kami memasuki museum yang digadang-gadang (dan juga baru diresmikan) sebagai satu-satunya situs warisan geologi dunia di Indonesia. Sebetulnya di situ banyak lokasi yang bisa kami kunjungi, di antaranya adalah beberapa gua karst. Karena keterbatasan waktu, lagi pula tujuan semula memang hanya ke museum. Jadilah kami puas-puaskan di museum saja sambil mengamati gambar-gambar situs karst dari beberapa negara, termasuk karst dari seluruh Indonesia, serta berbagai jenis dan klasifikasi persebaran karst. Ini museum yang sangat cocok dijadikan wahana eduwisata.

Setelah merasa cukup, kami pun mengaso sambil ngopi di samping museum, tersebab sepanjang perjalanan dari Sudimoro belum menemukan warung kopi. Kami melanjutkan lagi perjalanan melewati perbatasan Wonogiri dan Gunung Kidul dengan melintasi Gunung Sewu yang luar biasa. Kelak kami berhenti di kantor Balai Bahasa dan melanjutkan ke Kabupaten Kulon Progo untuk menginap di sana. Perjalanan di jalur Wonogiri-Gunung Kidul ini cukup menyenangkan karena kami melewati jajaran Gunung Sewu yang membujur dari Wonogiri sampai masuk Gunung Kidul. Di daerah inilah kami menemukan keunikan perjalanan melintasi hamparan gunung cilik yang bertebaran. Sayangnya kami di sana juga menemukan ketimpangan pemandangan.

Agak lucu, sehabis mengunjungi Geopark Gunung Sewu di Pracimantoro (Wonogiri) tadi, beberapa kilo ke baratnya, saat kami memasuki jajaran Gunung Sewu, tampak oleh mata beberapa bukit kecil yang mirip rangkaian piramida itu—bagian dari karst Gunung Sewu—sebagian malah dikepras dan sebagian yang lain sedang dikeruk. Bahkan masih tampak bagaimana separo di antara bukit-bukit itu hilang dan menyisakan sebagian saja dengan cara dipapras (dibelah) tepat menyigar secara simetris. Padahal Geopark Gunung Sewu, yang beberapa kilometer di timurnya itu sudah diniatkan sebagai kawasan konservasi alias perlindungan terhadap pengrusakan karst di sepanjang selatan Jawa: mulai Jawa Timur-Jawa Tengah hingga Yogyakarta.

Cerita perjalanan ini sebetulnya ingin menyinggung tentang karst di wilayah Selatan Jawa, yang terbentang dari Tulungagung hingga Yogyakarta. Yang di antara bentangan ini, terdapat pegunungan Sewu yang kita temui di Wonogiri bagian barat tadi. Ini adalah rangkaian pegunungan karst selatan (di Jawa bagian utara sendiri ada Pegunungan Kendeng dan Pegunungan Kapur Utara sebagai wilayah karst, yang sebagian penduduk sekitarnya—ibu-ibu petani Kendeng kemarin sedang melawan korporasi semen dengan cara protes mengecor kaki di depan istana negara). Gunung dan bukit di Kabupaten Trenggalek termasuk dalam area karst selatan yang panjang ini. Di sepanjang Trenggalek-Pacitan misalnya, banyak kita jumpai persebaran gua. Bahkan Pacitan adalah kota yang dikenal sebagai kota seribu gua, saking banyaknya gua karst di sana.

Gampang saja untuk mengidentifikasi daerah karst, salah satunya adalah dengan penelitian persebaran gua-nya. Karena gua-gua di Pacitan nota bene gua yang terbentuk oleh karst tersebut. Gua-gua itu sering pada mulanya adalah bekas-bekas sungai bawah tanah. Karena karst adalah pemasok ketersediaan air tanah, selain punya karakteristik relief yang membuat kita betah memelototi. Sebagaimana ketika kita mengamati stalagtit dan stalagmit yang terpacak dan tercantel di dinding gua, kita tak betah menahan diri untuk tak memegangnya. Meski kita tahu efeknya bisa buruk bagi pertumbuhan stalagtit dan stalagmit yang masih hidup.

Wilayah karst (batuan gamping dan dolomit—jenis batuan kaya mineral yang diubah air sedemikian rupa hingga mengristal) ketahuilah adalah rumah bagi air (sarana tangkapan dan tampungan air alami) dengan drainase yang sudah baik. Daerah karst bisa diidentifikasi melalui permukaannya, biasanya ditandai oleh bentuk permukaan yang unik dan ceruk yang indah. Biasanya menyembul dalam bentuk bukit, tebing dan lembah-lembah yang topografinya terjal, tapi justru menyenangkan saat ditatap.

Sementara di bawah permukaannya, keunikan itu bisa kita lihat pada saat kita memasuki lorong gua semisal di Gua Lowo (Lawa?), Watulimo dan barangkali gua-gua di Dongko. Yang menghamparkan lorong-lorong, rongga-rongga dan ruangan-ruangan berkerangka yang indah. Pelarutan batu kapur dengan derajat tertentu di sana menciptakan beragam permukaan yang berkelelot membentuk dinding, atap dan lantai yang menawan pandangan. Terbukti daerah bawah permukaan wilayah karst ini tak hanya membetahkan manusia, tetapi juga membetahkan berbagai hewan dan tumbuhan, biasanya dari jenis hewan dan tumbuhan endemik. Bisa kita lihat gua-gua itu menjadi rumah bagi berbagai jenis kelelawar dan sarang burung walet, selain tempat yang menyenangkan bagi vegetasi aneka tumbuhan di permukaannya.

Wilayah karst, gunung dan bukitnya termasuk bagian sumber daya alam yang tak bisa diperbarui. Penambangan terhadap kekayaan alam karst ini selain bisa menghilangkan air juga dapat merusak ekosistem dan banyak kerugian lain bagi manusia. Pabrik semen dan atau marmer, sedikit di antaranya, adalah kelompok korporasi yang mengolah bahan baku secara besar pada batu kapur (karst) ini. Karena itulah pabrik-pabrik semen dan marmer pasti punya kepentingan untuk merusak (mengeksploitasi) perbukitan-pegunungan karst di manapun ia berada. Kalau ini terjadi di Trenggalek, pasti bisa menyebabkan musnahnya lingkungan alam sekitar kita yang indah itu.

Kita tahu, saat ini tengah berlangsung konflik penduduk sekitar pegunungan Kendeng dan karst utara—yang salah satunya menjadi teritori sebagain besar Suku Samin—melawan korporasi pabrik semen (di antaranya Gresik dan Tuban) yang mulai menginvasi ke barat, akibat kekurangan bahan baku. Ibu-ibu dari Kendeng dan Samin itu sadar bahwa penambangan akan merusak kelangsungan hidup sehari-hari dan pertanian mereka. Karena itulah mereka melawan korporasi semen untuk membela akses ekonomi dan kehidupan mereka serta masa depan anak cucunya kelak.

Kita harus punya kesadaran akan lingkungan sekitar. Apalagi kecamatan-kecamatan pegunungan di Trenggalek ini rata-rata terdiri dari wilayah pegunungan-perbukitan karst. Gunung Manik Oro di Kampak, Gunung Sikambe (Sepikul) di Watulimo juga Gunung Lingga di Suruh, yang menjulang tinggi nan indah itu, sedikit di antaranya, secara geologis juga dibentuk dan berbahan batu karst. Bagian dari karst selatan yang membujur sejak dari Tulungagung hingga Gunung Kidul (Yogyakarta). Karena itu, mari jaga bukit dan gunung karst kita dari “kemungkinan” kolonisasi korporasi, baik asing maupun lokal (di antaranya berupa penambangan semen dan marmer) yang hendak menghancurkannya.

 

BERBAGI
Misbahus Surur

Kelahiran Munjungan, Trenggalek. Menulis buku Turonggo Yakso Berjuang Untuk Eksistensi (Yogyakarta: Syafni Press, 2013) dan menyunting buku Rengkek-Rengkek: Senarai Catatan dan Kisah (Per)jalan(an) di Kota Trenggalek (Trenggalek: Tuhālas Biblioteca, 2015).