anyone can write

Pernah nonton film “Ratatouille”? Itu lho, film kartun tentang tikus yang bisa memasak. Film tersebut bercerita kalau si tikus bisa memasak karena dimantrai oleh chef (juru masak) ternama Perancis yang menjadi pujaannya. Mantra itu bukan berupa air suci rasa menyan, bukan pula tongkat peri bertabur kerlap-kerlip, melainkan sekadar perkataan: “Anyone can cook”.

Saya kira perkataan si chef itu bisa kita terapkan untuk banyak hal. Termasuk dalam laku menulis. Anyone can write, kalau boleh saya ganti ungkapan itu untuk diri saya sendiri. Si chef mengatakan bahwa yang membatasi kemampuan kita sebetulnya adalah diri kita sendiri: your only limit is your soul (kamu sering dibatasi oleh dirimu sendiri).

Si tikus adalah simbol bagi orang-orang seperti saya yang ingin menulis, tapi terlampau takut dan banyak berpikir. Takut kalau tulisan saya jelek, tak layak baca, dan berakhir nggilani. Pikiran semacam itu hanya memunculkan pretensi absurd dari seorang penulis pemula: yang menulis untuk menyadarkan umat manusia! Hah! Sadar, mbokde!

Saya pernah menjalani fase nggilani ini. Pretensi itu didorong oleh rasa kagum saya dengan banyak penulis hebat menurut ukuran saya. Dan juga sebagian dari mereka yang menjadi pegiat literasi di Trenggalek. Yang dengan konsisten, menyadarkan remaja tanggung macam saya ini untuk membaca dan menulis. Sayangnya, kekaguman itu malah membawa saya ke jalan yang kurang baik. Saya tidak menulis kalau belum sepandai orang ini dan orang itu dalam hal-hal tertentu mengenai politik, sastra, dan segala bidang lainnya. Pemikiran seperti ini akhirnya membawa saya terjerumus pada: ora sido nulis.

Jadi, saya sekarang hendak melakukan semacam pertobatan. Daripada saya menulis status yang hanya dibaca segilintir orang, dan itupun pakai istilah ndakik-ndakik, yang saya sendiri ndak mudeng. Lebih baik saya menulis panjang berkaitan dengan hal-hal yang saya sukai dan kenal: misal desa saya, kucing saya, kakek-nenek saya, dan tentang dunia saya yang remeh-temeh ini.

Menulis dengan cara begitu telah mengubah pandangan saya tentang menulis. Menulis bukan lagi kegiatan mengerikan yang setiap kali harus dimulai dengan pertanyaan “menulis apa” dan berakhir dengan keputusasaan “saya tidak bisa menulis.” Masa iya, kalau saya mau menuliskan tetangga saya yang menyebalkan, saya harus mencari teori-teori psikologi. Atau ketika saya bosan, saya harus mencari buku filsafat kebosanan. Ya, kalau ketemu di perpustakaan daerah atau kampus? Kalau tidak, saya harus beli terlebih dahulu. Kalau saya tidak punya uang, saya harus download versi inggris-nya lalu saya terjemahkan dahulu. Aduh, kok repot sekali, Mak?

Padahal, betapa menyenangkan menulis tanpa harapan bahwa tulisan saya akan disukai banyak orang, lalu bisa menyadarkan umat manusia (jiah!). Seperti tulisan curhatan dengan seorang sahabat yang dengan senang hati mendengarkan nyinyiran remeh kita: perihal kenapa kucing tidak suka sup jagung atau kenapa embah saya tetap bisa bahagia meski tanpa gadget. Bedanya, menulis meninggalkan jejak. Jejak-jejak itulah yang sewaktu-waktu bisa kita kunjungi kembali untuk mengukur seberapa meningkat (kualitas) tulisan kita.

Betapa menyenangkannya, sekali lagi, andai menulis tanpa keinginan menjadi hero. Tanpa hal muluk-muluk bahwa tulisan saya akan disukai banyak orang, atau supaya bisa menyelamatkan peradaban. Ia adalah saya sendiri. Tempat saya menyimpan segala detail perasaan dan pikiran yang tak butuh dikomentari ini itu, itu ini. Saya jadi ingat kutipan film Finding Forrester, ”kunci utama menulis adalah menulis. Bukan berpikir.” Aneh, ya? Terdengar seperti menulis tidak memerlukan otak? Biarin, wong saya suka kutipan itu, kok.

Tetapi kalau menulisnya masih menye-menye dan datnyeng, lha kapan kita bisa menyadarkan umat manusia? Atau kapan bisa menulis untuk memperkenalkan betapa indahnya tempat saya tinggal sekarang? Selow aja, bro. Tulisan kita akan bertumbuh seiring dengan berkembangnya kualitas bacaan kita, bukan?

Terkait Pram misalnya, ia telah menulis sejak SD. Apa yang bisa ditulis anak SD? Marxis, realisme sosialis? Tentu saja bukan. Dia menuliskan pengalaman masa kecil yang pahit. Jadi, ia mengasah kemampuan menulisnya sejak dari SD! Lha kamu?

Biarkan penulis-penulis hebat yang sudah-sudah mendedah Trenggalek dengan teori modernitas, kapitalis, ekonomi dan sebagainya dan sebagainya. Kualitas bacaan mereka ‘kan sudah tingkat ma’rifat. Sedang untuk junior-junior unyu macam kita ini bagaimana? Ya, kita nulis sederhana saja, misalnya mengenai pariwisata yang banyak dikunjungi remaja untuk pacaran, atau sungai-sungai desa kita yang kering meski hujan (eh, emang ada?), dan yang semacam-semacam itu saja. Terakhir, tetap yakinlah bahwa anyone can write.

BERBAGI
Artikel sebelumyaCerita tentang Dongke
Artikel berikutnyaKartini dan Tradisi Membaca
Nur Mawadah
Mahasiswi semester akhir yang lahir dan tinggal di Tugu. Ia masih meyakini bahwa menjadi dewasa itu mengerikan.