BERBAGI
merawat hutan

Hutan merupakan paru-paru bumi. Hutan adalah tempat berkumpul flora dan fauna. Di sini, segala bentuk ekosistem dapat berkembang dan melestarikan keturunannya. Yang Maha Kuasa menciptakan hutan memang untuk keberlangsungan makhluk hidup di sekitarnya. Hutan adalah mata rantai kehidupan. Mata rantai dengan aneka makhluk hidup di sekelilingnya.

Manusia dijadikan wakil Tuhan di muka bumi ini sebagaimana firman-Nya (dalam QS, 2, ayat: 30): “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi, orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.”

Sebagai wakil Tuhan di muka bumi, selayaknya manusia merawat hutan, bertanggung jawab untuk menghijaukan hutan sebagai ejawantah dari makna khalifah. Kartini-Kartini dari Rembang beberapa hari lalu menolak eksploitasi tanahnya oleh pabrik semen, karena pabrik mencederai alam: hutan. Sebab hutan Kendeng sedari dulu telah menyejahterakan anak-cucu mereka.

Dengan mengiblat pada niat yang kuat, para ibu dari Rembang itu melakukan penolakan atas nama kelestarian alam dan hutan. Mereka adalah para wakil Tuhan untuk alam. Mereka sadar menjadi wakil Tuhan, adalah menjaga kelestarian alam. Aksi mencuri dan rebutan rezeki elit politik dan konglomerat (baca: perusahaan) kerap membuat Indonesia (baca: rakyat) mengalami kesengsaraan, melarat, dan kelaparan.

Multatuli pernah mencatat sesuatu dengan geram dalam novel Max Havelaar (1860). “Hamparan sawah tak bisa menjadi sumber penghidupan bagi penduduk. Konspirasi pejabat pribumi dan kolonial mengeksploitasi penduduk untuk mengabdi demi “para toean” berdalih kekuasaan. Penduduk tak menuai rezeki.”

Negara alpa mengatur kekayaan untuk kesejahteraan rakyat. Negara memuja uang dan pamer hedonisme untuk segelintir orang saja. Bermain dengan sumber daya alam. Sawah ditanami rumah-rumah. Sungai tersumbat sisa sampah. Laut keruh tak karuan. Hutan digunduli, dipangkas, dibabat rata. Hutan terus dieksploitasi sedemikian keji oleh para pemodal tanpa berpikir ada manusia di baliknya. Sehingga hutan tak ada otot yang menyangga timbunan air yang turun dari langit. Hutan mudah longsor, lalu memuntahkan banjir bandang dan musibah lain. Alam tak lagi seimbang. “Kiamat” tak lagi bisa dibendung.

Padahal, hutan begitu berarti bagi hidup manusia. Tak hanya manusia, flora dan fauna juga membutuhkan hutan. Dengan sumber daya alam yang melimpah, hutan patut kita jaga keasrian dan kehijauannya. Fitrah hutan adalah (meng)hijau. Binatang dengan caranya, ikut menjaga kelangsungan hidup pohon-pohon di hutan. Luwak misal, menyebar-luaskan penanaman pohon dan mengeluarkan kopi melalui kotoran yang dibuangnya. Yang menghasilkan komoditas nilai jual yang tinggi. Bahkan menjadi komoditas yang terkenal dan banyak diburu di pasaran.

Hutan mampu menyuplai semua kebutuhan hidup manusia. Lebih dari sekadar urusan “usus”. Dengan hutan, manusia bisa menyulam harapan. Harapan keahlian yang diwariskan oleh nenek moyang kita. Itu salah satu cara merawat hutan dan alam. Merawat hutan tak memerlukan orang pintar. Merawat hutan itu tidak sulit. Kita hanya memerlukan kemauan. Dengan sebilah parang dan sebuah cangkul di antaranya. Bersihkan rumput-rumput yang menyeringai dan menjalar di pohon-pohon besar.

Saya menikmati buku Daoed Joesoef berjudul Emak (2010). Di dalam buku tersebut, Daoed Joesoef menuliskan kekagumannya terhadap hutan yang menyimpan bermacam tumbuhan dan tanaman. Daoed Joesoef, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di era tahun 1978-1983, berkisah bersama emaknya kekaguman akan hutan di Kampung Darat di Medan, Sumatera Utara. Mereka merawat hutan dengan bercocok tanam untuk dikonsumsi.

Daoed—nama pendeknya—bersama sang ibu merawat hutan dengan menanam kemiri. Coba kita bayangkan, apa untungnya secara finansial dari buah kemiri itu? Tak ada keuntungan signifikan menanam kemiri bagi masyarakat modern. Tetapi bagi keluarga Daoed, menanam kemiri keuntungannya bisa dipetik keturunan setelahnya. Bagi adik-adik Daoed, dan anak-anak Daoed. “Kemiri yang kita makan sekarang bukan hasil tanaman kita atau orang-orang yang sebaya emak dan bapak…,” tambah emak Daoed, “Jadi emak dan bapak menanam kemiri kecil ini sebagai tanda terima kasih kepada orang yang dahulu telah menanamnya untuk kita agar kau dan anak-anakmu kelak tidak kekurangan buah kemiri.

Begitupun Daoed Joesoef, saya yang juga anak seorang petani di di telatah bumi Menak Sopal, Desa Tasikmadu, daerah tenggara kota Trenggalek. Pada tahun 1973, Bupati Trenggalek, Soetran memiliki gerakan mereboisasi. “Tidak boleh sejengkal tanahpun yang kosong dari tanaman.” Semboyan ini berhasil digelorakan. Masyarakat setelahnya menanam dan merawat hutan, yang telah digunduli dengan menanam pohon cengkih. Saya yang terlahir di awal era 90-an bersama keluarga (Ibu, Bapak, adik) berkunjung ke hutan untuk menanam pohon cengkih. Bahagia sekali menanam pohon cengkeh.

Masih basah dalam ingatan, waktu itu, saya menanam pohon cengkih yang dibentul dibawa dari rumah. Jarak rumah ke hutan sekitar sepuluh kilometer dengan berjalan kaki. Jika ibu dan bapak memakai sepatu khas untuk berkebun di hutan, saya telanjang kaki. Barangkali tak ada ukuran yang sesuai dengan kaki mungil saya. Bersamaan dengan gerak ritmis dan jalan yang nanjak dan terjal, kaki terluka, darah pun keluar. Kaki mungil ini terkena carang atau kayu yang tajam, sehingga wajah polos saya menjadi nanar melihatnya.

Hutan yang dulu saya tananami pohon-pohon cengkih sekarang sudah besar. Waktunya merawat, membawakan pupuk kompos dan kandang dari rumah. Kadang membelikan pupuk yang sesuai dengan tanaman yang kami tanam. Saya dan bapak (kadang ibu), merawat hutan dengan menanam tananam: ketela pohon, pohon pisang, pohon kelapa, selain pohon cengkih, durian, juga macam umbi-umbian.

Bagi saya tulisan ini semacam kontemplasi. Hutan adalah suatu karunia Tuhan yang patut kita syukuri. Kita sebagai makhluk manusia, adalah wakil Tuhan di bumi, kita sudah seharusnya menjadi wakil untuk melestarikan dan merawat hutan untuk keberlangsungan hidup bersama.

BERBAGI
Artikel sebelumyaDesa dan Kearifan Lokal Dunia Persawahan
Artikel berikutnyaTrenggalek dan Hari Buruh
M. Choirur Rokhim
Kelahiran Watulimo, Trenggalek. Sedang belajar mengajegkan membaca dan menulis. Tipikal lelaki baper yang sensitif dan mudah reaktif.
  • Ahaa, its pleasant dialogue regarding this piece of writing here at this
    blog, I have read all that, so now me also commenting at this place.

  • you’re in reality a just right webmaster. The website loading velocity is incredible.
    It seems that you are doing any unique trick.
    In addition, The contents are masterwork. you’ve performed a excellent activity in this topic!

  • Thank you for the auspicious writeup. It in fact was a amusement account it.

    Look advanced to far added agreeable from you!
    By the way, how can we communicate?

  • I couldn’t resist commenting. Well written!