World Dance Day 2016 Isi Surakarta - foto Sanggar Tari Pawon

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring,  ‘’festival” adalah: [1] hari atau pekan gembira dalam rangka peringatan peristiwa penting dan bersejarah; [2] pesta rakyat. Jadi, kalaulah kita tidak menamai sebuah acara sebagai Festival Rakyat, di dalam istilah ’festival’ itu sudah terakomodasi unsur ’rakyat’. Karena festival adalah perayaan atau pesta, maka nuansanya adalah keriangan, kegembiraan, kemeriahan. Maka, bisa saja sebuah festival melenceng dari esensinya jika yang terlalu dikejar adalah kemeriahannya.

Kadang penting juga dibatasi, ’rakyat’ yang mana yang akan menggelar atau diutamakan partisipasinya, misalnya: rakyat perkotaan atau rakyat pedesaan. Pertimbangan itu penting jika acara (festival) digagas secara top down, atau bukan oleh komunitas yang menempati suatu wilayah tertentu (misalnya: Nelayan Prigi, Petani Bendungan, Pecinta Tayuban Trenggalek, dsb.).

Dari pembicaraan di media jejaring sosial, saya tahu ternyata sudah digelar festival desa di kawasan Prigi, 2009. Kurun waktu itu jelas jauh sebelum ”kementerian desa” di pemerintahan sekarang menggagas dan melaksanakan acara yang sama (namanya). Masih di Trenggalek, di desa dan kecamatan lain, tahun itu digelar pula sebuah acara bertajuk Festival Sastra Jawa dan Desa (Cakul, 4 – 5 Agustus 2009). Dalam dua hari itu di Dusun Nglaran, Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, tergelar dua festival sekaligus, yakni: Festival Sastra Jawa dan Festival Desa. Coba kita lupakan festival sastra-nya, dan kita urai festival desa-nya.

Penggagas Festival Desa tahu bahwa Desa Cakul dihuni masyarakat petani yang makin hari makin terjepit persoalan tanah yang (semakin) tandus, kurang air, dan harga pupuk (buatan pabrik) yang mahal. Sejak 2008, anak-anak muda (terutama dari unsur Karang Taruna, Dusun Nglaran) dilibatkan dalam diskusi mengenai potensi wilayah, diajak mengunjungi dan mendata sumber air yang ada, dan pertemuan dengan tokoh dan perangkat desa pun diadakan. Dari diskusi dengan para pemuda (termasuk pemudi juga, lho!), menguat aspirasi agar kesenian jaranan yang pernah ada dibangkitkan kembali. Itu aspirasi yang segera mendapatkan respon positif dan syukurlah, segera terealisasi. Cita-cita untuk menggelar festival pada tahun berikutnya pun mendapatkan dukungan dari para tokoh dan perangkat desa.

Seingat saya, sudah masuk tahun 2009 ketika 5 orang pemuda dari Dusun Nglaran diberangkatkan ke Yogyakarta untuk (dalam waktu sepekan) belajar bertani organik dan pengorganisasian pemuda kepada ahli dan praktisinya secara langsung. Kelak, 3 di antaranya diundang sebagai narasumber pada acara Festival Desa. Yang sungguh mengecewakan panitia pada saat berlangsungnya festival adalah, ketidakhadiran Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Trenggalek (waktu itu). Padahal, beliau diundang secara tertulis dan ditemui langsung di kantornya oleh Ketua Panitia Festival untuk hadir sebagai pejabat terkait, sekaligus narasumber sarasehan.

Narasumber dari Yogyakarta yang hadir berbagi pengetahuan pada acara sarasehan dalam rangka Festival Desa adalah: Purwanto (petani organik dari Kelompok Tani Bangunrejo, Godean, Sleman), Qobul, SH (Pelopor Pertanian Lahan Pasir (Galur, Kulonprogo), dan Tugiman (Penggerak Kampung Seni, Piyungan, Bantul).

Sensasional

Mungkin bisa dibilang sensasional, mengingat acara Festival Sastra Jawa dan Desa di Desa Cakul 2009 itu melibatkan peserta dari berbagai kota di Jawa (Jakarta hingga Banyuwangi). Institusi yang mengirimkan wakilnya untuk menjadi peserta atau narasumber: Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas Negeri Semarang (Unnes), Balai Bahasa Jawa Timur, Taman Budaya Jawa Timur, Majalah Jaya Baya (Surabaya), Majalah Djaka Lodang (Yogyakarta), JTV (Surabaya), Pos Kota (Jakarta).

Dari sisi pemberitaan, bahkan festival ini lebih banyak memunculkan tulisan dalam bentuk opini yang tertayang sebelum dan sesudah acara, tersebar di beberapa media berbahasa Jawa maupun berbahasa Indonesia, sekadar menyebut yang saya ingat: Jaya Baya, Panjebar Semangat, Solopos, Kompas, Surabaya Post, Jawa Pos.

Peserta dan narasumber dari luar Trenggalek menginap semalam, dua malam, dan ada yang tiga malam di rumah-rumah warga. Mereka merasa betah, dan banyak yang berharap acara serupa dapat digelar lagi di Trenggalek di waktu yang akan datang. Itu sungguh telah menjawab secara telak pertanyaan wakil rakyat dari Komisi D waktu itu, yang mempertanyakan kepada panitia: mengapa acara festival digelar di Desa Cakul yang jauh dari pusat kota Trenggalek? Si penanya tampak khawatir, orang akan malas mendatangi acara karena tempatnya yang jauh, apalagi dalam proposal disebutkan bahwa calon peserta akan berdatangan dari berbagai kota. Dan ternyata memang benar, orang yang malas datang adalah orang Trenggalek sendiri, termasuk Kepala Dinas Pertanian tadi. Pakde Karwo yang semula hendak datang bersama Arswendo Atmowiloto batal datang, karena harus mendatangi sebuah acara yang lebih penting di Jakarta.

Festival yang dibuka Bupati dan kemudian ditutup Wakil Bupati Trenggalek itu meninggalkan kesan mendalam, bukan hanya bagi panitia dan warga sekitar lokasi acara, tetapi juga bagi beberapa peserta yang kemudian menuliskan pengalamannya di blog pribadi dan di media cetak, dan seorang Diah Hadaning malahan telah memasukkan nama ”Cakul” dan ”Trenggalek” dalam sebuah buku kumpulan puisi setebal 700-an halaman.

Sebuah Tawaran

Festival Desa di lingkup Kabupaten Trenggalek seperti yang pernah digelar di Prigi dan Dongko itu bisa menjadi sebuah tawaran untuk agenda pemerataan hiburan bagi rakyat (Trenggalek), sekaligus menjadi ajang unjuk karya, saling mengasah wawasan, dan bersama-sama menghadapi tantangan masa depan dengan kepala tegak.

Memang, beberapa agenda menuntut dipusatkan di ibu kota kabupaten, misalnya: Ritual Peringatan Hari Jadi Trenggalek. Tetapi, sebaiknya jangan sebentar-sebentar gelar acara di ’pusat’. Jangan dipinggirkan desa-desa yang lokasinya sudah di pinggir. Selain urusan di mana ”uang beredar”, sesungguhnya ada hal yang jauh lebih bernilai ketika sebuah desa dipercaya menjadi ajang festival yang berskala besar, yaitu “tumbuhnya semangat dan rasa percaya diri”.

Sebenarnya kita tidak lagi perlu terlalu vulgar meminta atau menyuruh-nyuruh agar warga sebuah desa menjaga kebersihan, membangun MCK yang layak, dan seterunya. Beritahulah bahwa mereka akan menerima tamu dari jauh, orang-orang besar akan datang, dan semua akan beres. Kira-kira begitu.

BERBAGI
Artikel sebelumyaMungkinkah Membangun Oposisi di Trenggalek?
Artikel berikutnyaPariwisata dan Wisatawan Trenggalek
Bonari Nabonenar
Lahir di Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek (1964), menulis dengan bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia. Ikut menyunting tabloid berbahasa Jawa bagi remaja Bro dan Majalah Peduli yang diterbitkan untuk komunitas pekerja migran asal Indonesia di Hong Kong. Dapat dihubungi melalui: [email protected]