Ilustrasi cerita pendek tanah warisan
Ilustrasi cerita pendek tanah warisan

Warung dan rumah Kasmuri berdiri di atas lahan seluas 12 x 8 meter. Terletak di pinggir jalan utama Kecamatan Tugu. Tidak ada nama jalan yang khusus di sana. Nama pahlawan, nama bunga atau kategori lain pun tidak dipergunakan untuk menunjuk jalan yang tergolong besar itu. Nama jalan sekadar disesuaikan akses jalan yang dihubungkan: Trenggalek di sebelah timur, dan Ponorogo di sebelah barat—menjadi Jalan Trenggalek-Ponorogo.

Warung Kasmuri kecil tapi penuh. Setidaknya itu yang akan dikatakan orang saat pertama kali melihatnya.

Warungnya jadi satu dengan rumah. Menjual beberapa kebutuhan rumah tangga seperti gula, sabun, mie, telur dan sejenisnya. Di depan rumah Kasmuri juga terdapat rumah-rumahan untuk beberapa botol bensin eceren. Toko di pinggir jalan selalu laris oleh orang yang membeli bensin. Meski jarak SPBU dari rumah hanya sekitar seratus meter, orang tak selalu mau membeli di sana. Bisa jadi, karena antrian panjang cuma untuk membeli beberapa liter.

Peristiwa seperti itu memberi keuntungan bagi pedagang kecil seperti Kasmuri!

Lagi pula kadar literan-nya tidak beda jauh. Kasmuri memang mengisinya nyaris penuh. Dan itu sangat penting, karena biasanya orang yang sedang bepergian jauh, juga akan tertarik membeli kebutuhan lain di warung, seperti minuman isotonik, roti, tisu dan lain-lain, pada saat berhenti membeli bensin itu. Sementara mata mereka sangat jeli. Meneliti mana saja bensin yang takarannya sebagus di SPBU—kira-kira penuh sampai leher botol. Hal ini tentu saja bisa menciptakan persaingan-persaingan kecil dengan beberapa toko di dekat rumahnya.

Toko itu sebenarnya belum lama dibuka Kasmuri. Lima tahun lalu, dia merantau ke Malaysia. Tertarik dengan kehidupan sebagai tenaga kerja luar negeri yang tampak mewah di saat pulang kampung. Menjadi tukang cuci di restaurant besar. Namun kerja di negeri tetangga disadarinya tak seenak dalam bayangan. Badannya yang kecil dan pendek, sudah tak lagi sanggup bila terus membersihkan piring dari pagi hingga larut malam. Setiap hari. Tanpa hari libur. Belum lagi rasa rindunya bila ingat istri yang sendirian mengasuh 2 anak perempuan. Kasmuri menyerah. Dia memilih mencari pekerjaan di rumah. Meski di restaurant itu bayarannya besar. Sedang mencari pekerjaan di kampung tak semudah dan tak semencukupi sebagaimana ketika kerja di luar negeri. Tapi rumah dan berkumpul dengan keluarga, memberinya gairah hidup yang lebih baik.

***

Sebulan sebelum warung kecil Kasmuri sering tutup, Karjo masih datang membeli rokok. Bos mebel yang 3 rumahnya tersebar di dua desa sekaligus itu memang pelanggan setia. Setiap hari selalu saja Karjo menghabiskan sedikitnya dua belas ribu rupiah untuk sebungkus rokok kesukaannya. Malah sering lebih dari jumlah itu. Biasanya, 3 sampai 5 bungkus rokok untuk jatah karyawan mebelnya. Belum lagi kopi, gula dan jajanan cucunya yang selalu dibeli dari warung Karjo. Kalau dirata-rata, setidaknya tiga puluh lima ribu rupiah yang dibelanjakan Karjo.

Kasmuri senang, demikian pula istrinya. Siapapun anggota keluarga yang saat itu mendapat giliran menjaga toko akan melayani Karjo dengan baik. Harga khusus pun ditawarkan sebagai bentuk kebaikan hati untuk pelanggan setia. Basa-basi menyenangkan. Bahasa “krama  inggil” juga tak segan mereka gunakan untuk menyenangkan pelanggannya. Maka, tak heran, saat sedang penat mengawasi pekerjaan karyawan atau mengirim barang, Karjo duduk berlama-lama di warung Kasmuri. Membaur bersama kesederhanaan keluarga Kasmuri. Seperti tetangga yang hubungannya naik satu tingkat menjadi kerabat. Karena sering menyenangkan juga menguntungkan satu sama lain, melebihi kerabat sendiri.

Tapi sebenarnya Karjo dan keluarganya bukan golongan orang yang disenangi di kampung!

Tak terhitung kasus bermasyarakat yang membikin orang ragu-ragu untuk menyandarkan kepercayaan, uang atau sekadar menganggap teman dekat. Beberapa kali anggota keluarga, baik anak, istri, mantu, bahkan Karjo sendiri pernah bertikai soal menyebar fitnah, tidak membayar hutang bahkan yang belakangan masih heboh adalah mengadakan arisan berhadiah palsu. Arisan itu berhadiah motor dan alat elektronik. Bukan main pintarnya perempuan-perempuan di keluarga Karjo bersilat lidah. Sudah 45 orang yang ikut arisannya. Setiap 6 bulan sekali diadakannya arisan, mereka selalu dicenderamatai barang-barang mahal seperti pot kaca besar, rak kecil yang bagus atau sekadar peralatan masak.

Tapi 2 tahun berjalan, tiba-tiba arisannya tutup dengan alasan yang tanggung. Berpuluh-puluh juta uang pengasok berada di tangan Karjo. Semua ribut tapi tak ada yang bisa menuntut. Tidak ada yang mampu mengumpulkan bukti kuat. Lagi pula sudah bukan rahasia lagi, mereka dekat dengan oknum polisi. Tidak hanya di kota besar tempat dia dulu bekerja, semua orang kaya di kampungnya sepertinya memang selalu dekat dengan aparat. Entah hubungan apa yang terjalin di antara mereka. Kasmuri menduga semua itu tak jauh berbeda dengan yang biasa beredar di teve. Aparat hukum dan orang kaya membikin hubungan dua arah yang menguntungkan.

Tapi Kasmuri mempunyai urusan sendiri. Lagi pula selama ini keluarga Karjo tak membikin masalah dengannya. Hubungan penjual dan pelanggan ini berlangsung tenang setahun terakhir. Sampai suatu sore ketika Karjo sedang duduk dengan istri di depan warungnya, Karjo datang bersama anak mantunya. Seperti biasa, Kasmuri menyambut Karjo dengan wajah sumringah. Berbasa-basi perihal ini itu. Memuji perabotan yang diproduksi meubelnya. Menanyakan cucu-cucunya yang lucu. Lantas si istri masuk ke warung. Bersiap menyodorkan beberapa bungkus rokok lalu menerima sejumlah uang. Namun hari itu berbeda. Karjo datang tidak untuk membeli rokok. Tidak juga gula, kopi dan yang lainnya. Dia meminta dengan sopan untuk masuk ke rumah Kasmuri. “Mau yang ada dibicarakan,” katanya lirih dan serius. Awalnya Kasmuri tidak menduga apa-apa. Dia masih sumringah mempersilakan Karjo dan menantunya masuk ke rumah. Tapi siapa sangka percakapan yang hanya berlangsung 45 menit itu membuat Kasmuri dan istrinya pening pada malam harinya.

Bisa dikatakan luas, tanah yang saat ini ditempati Kasmuri. Meski warungnya kecil tapi luasan tanah memanjang ke belakang. Dalam sertifikat yang ia miliki tertulis beberapa hektar. Tapi pada kertas itu hanya memuat ukuran untuk bangunan dan sebagian halaman belakang. Sementara bagian yang lain belum disahkan. Namun Kasmuri tahu itu halal miliknya. Bukan hasil rampasan tanah orang. Almarhum bapaknyalah yang telah membelinya sendiri dari orangtua Karjo. Dan kini, soal itulah yang sekarang diributkan: diperebutkan. Karena orangtua Kasmuri tidak membuatkan sertifikat negara atas kepemilikan tanah itu. Setelah beberapa tahun lewat, Karjo meminta tanah itu kembali.

Terletak di pinggir jalan raya, tanah Kasmuri memang memiliki nilai tersendiri. Puskesmas, kantor kecamatan dan pasar, masing-masing dibangun di pinggir jalan yang menghubungkan Trenggalek-Ponorogo itu. Dua jenis “market” modern juga telah dibikinkan di desa tempat tinggalnya. Berbagai fasilitas yang ada akan mengikutsertakan kemudahan yang lain. Tak mengherankan jika Karjo sampai harus memaksa memiliki sebagian tanah itu lagi. Memanfaatkan keteledoran bapak Kasmuri untuk kebutuhannya yang lebih berharga. Membangun cabang meubel yang lebih besar.

Apalagi di zaman ini, manusia semakin bertambah banyak dari tahun ke tahun. Berturut-turut lahir, berkembang sampai masanya menempati tanah-tanah kosong. Sebidang tanah untuk tempat tinggal semakin sulit dicari. Bahkan di kabupaten se-mini Trenggalek saja, rumah sudah saling berhimpitan. Menyisakan halaman depan dan belakang yang sangat sempit. Bagi orang yang cukup ber-uang, rumah dibangun sedemikian tinggi dengan satu tingkat. Anak-anak di rumah masih bisa naik turun tangga untuk berlarian. Sementara golongan bawah, sudah cukup tentram dengan atap mungil yang melindungi dari ganasnya cuaca. Meski sempit dan sesak.

Di desa, tanah-tanah kosong sebenarnya masih banyak. Namun selalu sepi peminat. Daerah pelosok memang selalu khas dengan minimnya prasarana. Di Winong, Tugu, tempat tinggal mertua Kasmuri tanah luas sering dijual murah. Jauh dibanding harga yang disetujui untuk tanah di dekat rumahnya yang dekat jalan raya. Lima kali lipat. Tempat tinggal mertua Kasmuri memang bertempat di Winong bagian lereng. Baru-baru ini diaspal berkat campur tangan si kyai kharismatik yang bermukim di sana. Sebelumnya tanah-tanah pegunungan yang berhubungan langsung dengan lumpur dan kerikil menjadi kawan perjalanan yang mengingatkan pada kehidupan terhormat orang-orang penting di kecamatan.

BERBAGI
Artikel sebelumyaRamadhan dan Formalisme Beribadah
Artikel berikutnyaNasib Bu Eni dan Kebaikan Netizen
Nur Mawadah
Mahasiswi semester akhir yang lahir dan tinggal di Tugu. Ia masih meyakini bahwa menjadi dewasa itu mengerikan.
  • nurma

    Cerpen yg usianya sudah 2 tahunan, belum jadi, lalu tidak bisa menjadikan.
    -_-.

    • Kereeeen tapi, minimal saya tahu kalau teteh @disqus_UYBLYEm1Yg:disqus ternyata bisa menulis cerpen apik

      • nurma

        Formula ceritanya klise. Alurnya bisa ditebak, kan. Seharusnya fokus memotret kesedihan kasmuri biar jadi cerpen liris-liris gitu deh. Ini mbleret sok-sok an ngomongne manusia yg kehabisan tempat tinggal :-D. Dan yang paling parah, sense penulisnya keburu mati sebelum bisa menyelesaikan.hahaha

        • Nanti bisa dibuat sesi kedua, bersambung