Nasib Bu Eni dan Kebaikan Nitizen
Bu Eni ramai diperbicangkan netizen setelah terkena razia Satpol PP.

Jagad dunia maya baru saja dihebohkan  kejadian memilukan yang dialami oleh Bu Saeni (Eni). Perempuan berusia 53 tahun, pemilik warteg, yang pada tanggal 8 Juni kemarin mengalami musibah dirazia Satpol PP, kota Serang. Akibat razia yang terorganisir itu, dagangan Bu Eni ikut raib disita petugas. Tentu saja musibah terencana ini menimbulkan kesedihan mendalam bagi keluarga Bu Eni dan nanti bagi bagi rakyat Indonesia (nitizen).

Sebenarnya apa salah Bu Eni sehingga Satpol PP Kota Serang melakukan razia: menyita barang dagangannya? Juga apa salah Satpol PP sehingga banyak netizen melakukan bullying atas tindakan mereka. Tanpa memihak kepada siapapun, penulis mencoba melakukan analisa ngawur untuk mendapatkan pencerahan pada diri sendiri, sekaligus turut memberikan gambaran kronologisnya, pada masyarakat Trenggalek, supaya tidak asal ceplos menilai masalah (kalau nyinyirnya sistematis, tidak apa-apa).

Bu Eni adalah pemilik warung tegal (warteg), selayaknya pemilik warung pastinya Bu Eni melakukan kegiatan jual makanan kepada masyarakat, tidak ada yang aneh dengan hal ini. Namun ketika Ramadhan tiba, mengacu Perda Kota Serang tahun 2010 dan edaran Wali Kota, Bu Eni dan pemilik warteg lainnya dilarang berjualan nasi di siang hari selama Ramadhan, meski pada sore hari diperbolehkan. Nah, dari sinilah kisah itu dimulai. Satpol PP memiliki kewajiban untuk menjalankan peraturan daerah serta bertugas melakukan penertiban terhadap masyarakat pemilik warteg. Bapak-bapak yang kerap memakai pentungan dalam setiap aksinya ini melakukan razia lokasi warung yang biasa dibuat mangkal orang-orang lapar. Meskipun ya di saat hari-hari puasa,  banyak orang yang nongkrong di warung. Tidak usah suudzon.

Tanpa mempedulikan tangisan dan rengekan masyarakat (biasanya seperti itu), Satpol PP tetap melakukan tugas melakukan penertiban, Bu Eni yang baru saja selesai memasak masakan di warteg-nya,dirazia oleh satpol PP. Malang bagi keduanya (Bu Eni dan Satpol PP), masakan Bu Eni diembat oleh Satpol PP, sedangkan Satpol PP digeruduk massa lewat media sosial, sesaat setelah berita ini disiarkan oleh salah satu televisi swasta Indonesia.

Ajaibnya, para pengguna media sosial yang merasa simpati dengan kejadian yang menimpa Bu Eni, melakukan penggalangan dana untuknya. Dan pada tanggal 12 Juni kemarin (waktu terakhir donasi) terkumpul dana kurang lebih Rp 265.534.758. Edian tenan, beginilah masyarakat Indonesia yang sesungguhnya, mereka memiliki sifat dan sikap tepa selira yang mudah kasihan namun mudah pula membantu saudaranya yang bernasib malang, meskipun lebih sering uluran tangan itu terketuk setelah ada yang memantik. Dan juga tidak banyak orang seberuntung Bu Eni yang mendapatkan bantuan. Namun saya harus tetap mengapresiasi sikap rakyat Indonesia ini dengan segala hormat. Semoga saja dana tersebut benar-benar disalurkan tanpa ada unsur bisnis terselubung yang memberlakukan sekian persen untuk pihak pertama dan sekian persen untuk pihak kedua, dan seterusnya.

Dari kejadian ini(karena kita sedang dalam bulan yang penuh berkah), mari kita ambil hikmah dan pelajaran. Sebagai orang yang sangat erat memegang budaya ketimuran, kita tidak perlu saling membenarkan dan menyalahkan. Jika kita mau berpikir dengan pikiran jernih tentu kita akan memperoleh hikmahnya.

***

Bu Eni sebagai ibu rumah tangga, ikut membantu suaminya berupaya memenuhi kebutuhan rumah tangga. Saat bulan puasa seperti ini, tentu penghasilan Bu Erni dan pemilik warung lain mengalami penurunan pendapatan jika harus break berjualan. Sedang kita tahu bahwa kebutuhan untuk keluarga tidak pernah bisa memahami kondisi hidup, ada dan tidak adanya kebutuhan, pokoknya harus ada. Berjualan makanan di bulan puasa (bagi saya) sah-sah saja, yang menentukan tingkat keimanan seseorang bukan terletak pada warung buka atau makanan yang hadir di sekeliling orang berpuasa, namun pada niat yang telah diucapkan sebelum imsak tiba. Bu Eni hanya menjalankan tugasnya sebagai pedagang yang harus menghidupi keluarga. Tidak ada yang salah dengan Bu Eni. Berjualan di bulan puasa itu sah-sah saja, meskipun peraturan daerah menyatakan tidak boleh, tapi percayalah, bukan hanya Bu Eni yang menyalahi peraturan tersebut, tapi kebanyakan orang termasuk restoran dan warung yang ada di mal-mal besar juga sering menyalahi. Puasa itu kalau bisa malah menghormati, bukan malah gila hormat.

Satpol PP sebagai kesatuan yang wajib menjalankan peraturan yang telah disahkan wali kota juga tidak bisa dinilai bersalah. Kendati para netizen banyak berpendapat bahwa keputusan untuk merazia warung Bu Eni ini adalah keputusan yang biadab, namun ingat, satpol PP hanya menjalankan tugas. Kepentingan apa yang dipunyai oleh Satpol PP selain tunduk pada kepentingan wali kota atau pemerintah daerah? Rasa-rasanya tidak sudi jika tiap saat satpol PP harus berurusan dengan masyarakat langsung. Sehingga pada saat ini, banyak masyarakat yang menstigma kesatuan mereka sebagai kesatuan yang brengsek dan selalu tidak memihak rakyat. Selama ini Satpol PP diidentikkan dengan musuh masyarakat (khusus yang rumahnya digusur).Tentu yang bapaknya, suaminya, embahnya, pakdenya, pakleknya, mertuanya berprofesi sebagai satpol PP akan merasa sedih dan terhina dengan kecaman semacam ini. Toh meskipun kamera sering menampakkan keganasan mereka dalam mempreteli rumah warga, sekali lagi mereka hanya menjalankan tugas.

Dalam kejadian Bu Eni ini, sudah jelas bahwa ada Perda yang melarang berjualan saat Ramadhan. Berarti tugas Satpol PP juga sangat jelas, yakni menertibkan warung (warteg) yang berjualan siang hari saat bulan Ramadhan. Jadi semata-mata razia tersebut dilakukan karena tugas, bukan kepentingan mendapatkan masakan gratis. Meskipun dalam razia tersebut, Satpol PP menyita masakannya Bu Eni (sebagian orang menilai tindakan tidak tepat). Seharusnya penyitaan tersebut tidak dilakukan, bisa dengan penutupan warteg saja. Namun di sisi lain, dengan adanya “penyitaan” tersebut juga mendatangkan dampak positif terhadap Bu Eni, rakyat Indonesia, pemerintah, dan juga media massa. Namun sayang, dampak positif tidak diperoleh Satpol PP.

Dwika Putra, seorang pengguna Twitter memanfaatkan peluang tersebut untuk menyentuh hati rakyat Indoensia, dia telah memprakarsai penggalangan dana untuk Bu Eni. Berita yang awalnya disiarkan oleh salah satu stasiun televisi nasional, Kompas TV  (kali ini saya sebut) mendapakan simpati dari sebagian rakyat Indonesia sehingga mereka membantu meringankan beban Bu Erni dan keluarga. Bukan hanya itu, pak wali kota, yang telah membuat surat edaran tersebut juga ikut menyayangkan Satpol PP dan merekomendasikan supaya Satpol pp membayar kerugian yang diderita oleh Bu Eni. Sebenarnya apa salah Satpol PP?

Dalam pandangan picik saya, Satpol PP tidak bersalah dan Bu Eni pun juga tidak salah, Netizen pun tidak salah, wali kota juga tidak salah. Lalu siapa yang salah? Tidak ada yang salah, tetapi otak kekimcil-kimcilan (kalau meminjam istilah Mas Puthut) itu terlalu gusar dan gegabah menentukan siapa yang salah dan siapa yang benar. Di dunia ini banyak sekali cara untuk menilai, bukan hanya benar dan salah.

Dan satu lagi, berdasarkan analisis kritis kepicik-picikan, saya beranggapan bahwa, jangan sekali-kali menutup warung nasi saat puasa, dengan kejadian yang dialami oleh Bu Erni, saya semakin yakin, Gusti Allah pun tidak rela jika warung nasi sampai ditutup oleh pemerintah dan ormas-ormas Islam. Kenapa bisa begitu? Kalau puasa tanpa ada godaan, terus asyiknya berpuasa di mana? Jadi manusia mbok ya jangan sering ikut campur urusan Tuhan, kualat baru tahu rasa.