Gambar di capture dari film berjudul Merantau, mengilustrasikan momen pamitan anak pada ibu untuk pergi merantau | edited mastrigus
Gambar di capture dari film berjudul Merantau, mengilustrasikan momen pamitan anak pada ibu untuk pergi merantau | edited mastrigus

Tanggal 24 Oktober, waktu menunjukkan pukul 05.30 WIT. Matahari telah bersinar di Jayapura. Kota ini memulai aktivitas dua jam lebih cepat jika dibanding saudara-saudaranya di bagian barat Indonesia. Tidak heran jika FRM (Fuel Retail Manager) Pertamina region VIII untuk wilayah Papua, Papua Barat, Maluku dan Maluku Utara menggunakannya sebagai tagline “two hours earlier, make us start earlier and think earlier”. Tagline itu bukan saja menggambarkan realitas, tapi sangat tepat untuk membangkitkan pride (harga diri) dan etos kerja masyarakat Papua yang hingga kini merasa ditinggalkan lagi dianaktirikan Jakarta.

Pandangan mata segera dimanjakan sinar matahari pagi yang menyembul dari bawah laut nan biru. Berdiri di sini serasa berdiri di atas air. Mulai bawah kaki tempat saya berpijak sampai sejauh mata memandang, tersaji hamparan laut Papua yang berwarna biru dan begitu tenang. Entah kenapa laut yang terhubung langsung dengan Samudera Atlantik itu tidak menimbulkan suara gemercak sedikitpun ketika membentur bibir pantai. Tanpa suara gemercak, bisa-bisa tanpa kita sadari ada gelombang laut yang sekali waktu mengancam.

“Ah.. terada itu Bapa… bahaya.. terada. Hanya ikan besar… sebesar mobil innova ini… ikut kapal besar (Perintis) masuk teluk. Terada orang berani berenang. Di pinggir pantai, aman-aman saja”. Itulah penjelasan sopir pengantar asal Jombang yang logat bicaranya sudah “Papua banget”, ketika sehari sebelumnya saya tanya soal ancaman kota yang begitu dekat dari air laut. Jadi pagi itu saya pede saja berdiri di tempat tersebut sambil potret sana-sini.

Menggeser sedikit pandangan ke arah kanan dari tempat saya berdiri, terlihat gundukan pulau yang masih tertutup hutan. Pulau itu terlihat seperti puncak gunung, menyembul di atas birunya laut Papua yang tenang. Itulah pulau Tobati, tempat suku laut Tobati, suku asli Jayapura, bermukim. Papua memiliki 300-an suku dan 3000-an bahasa. Suku Tobati hanya salah satu saja. Konon masing-masing suku memiliki struktur tengkorak wajah yang berbeda. Jika tidak paham, kita tidak akan bisa membedakan sosok kekar hitam legam yang kita jumpai itu sebagai orang Papua mana. Keberadannya tersebar di seluruh penjuru Papua, masing-masing memiliki tradisi dan pride (harga diri) kesukuan yang kuat. Dari sinilah pengelolaan masyarakat papua itu menjadi tidak gampang.

Menoleh ke kanan dan ke kiri, saya segera menemukan hamparan bangunan gedung menjulang tinggi, yang berderet-deret di sepanjang bibir pantai berbentuk tapal kuda itu. Dock kapal juga banyak kita jumpai, tempat di mana kapal-kapal pelayaran perintis bersandar. Begitu membalik badan, segera tampak bangunan-bangunan perumahan bertengger di lereng-lereng gunung yang tampak begitu dekat. Kota Jayapura memang dibangun di antara ‘lipatan-lipatan lembah pegunungan menjulang’. Nyaris tidak banyak ruang datar yang memisahkan pegunungan dengan laut untuk bisa dibangun kawasan perkotaan. Mungkin potret topografi inilah gambaran masyarakat Papua. Kokoh seperti gunung, tenang seperti Teluk Papua, tapi di dalamnya tersimpan energi yang siap memuntahkan keganasannya jika sewaktu-waktu terusik.

Sayangnya pembangunan kota Jayapura kurang melibatkan arsitektural khas Papua, kecuali bangunan bandara dan sedikit sekali bangunan lainnya. Semua bangunan vertical-flat, seperti trend bangunan kota-kota baru yang bermunculan di Indonesia. Beda ketika kita masuk kota Pekanbaru atau sebagian kota di Jawa, corak lokal banyak kita jumpai dalam desain arsitektural kotanya. Sesekali kita menemui orang-orang kekar hitam legam berlalu lalang, kota Jayapura rasanya memang kurang “Papua banget”. Desain arsitekturalnya belum memantulkan jiwa dan khasanah budaya masyarakat Papua itu sendiri.

***

Kaki masih belum beranjak dari halaman belakang Satkamla Lantamal X, ketika petugas Lantamal bergegas mendekat. “Mohon maaf Pak… Bapak dari mana?. Ini property Lantamal dan tidak diperkenankan mengambil gambar di sini”, tegur petugas. “Oh… Baik Bapak…, saya dari Jakarta, sedang ada koordinasi dengan Pemprov. Saya menginap di hotel itu,” jawab saya sambil menunjuk hotel tempat menginap.

“Ya.. sekedar lihat – lihat kota Jayapura Pak, karena pertemuan masih dilanjut pukul 09.00, jadi saya pake jalan-jalan” sambung saya memperpanjang obrolan. Saya pikir komunikasi sangat penting, sebelum pistol meletus menyerempet kaki, walaupun petugas yang mendekat itu tidak membawa senjata. Pikiran kotor itu wajar saja muncul karena expose berita selama ini Papua dikenal kurang stabil dalam hal keamanan. Siapa tau ada sniper tersebunyi dan ketika saya kurang menunjukkan reaksi yang bersahabat, kaki bisa terserempet timah panas.

Setelah saya sodori identitas dan terlihat jelas petugas itu bukan postur Papua, saya buka komunikasi lagi, “Bapak.. Saya tinggal di Jakarta, asli Jawa Timur. Bapak dari mana?”. “Saya dari Pati, Mas (tidak lagi di panggil Pak) Jawa-nya mana”, tanyanya dengan nada melunak. “Saya asli Trenggalek Jawa Timur, Pak”, jawab saya. “Lha itu… sopir-sopir taksi itu banyak dari Trenggalek”, katanya. “Baiklah.. sudah.. silakan, Mas …” kata petugas itu sambil tersenyum tanpa melihat lama-lama identitas saya. “Oh.. terima kasih, Pak,” jawab saya.

Saya lihat puluhan minibus kecil —seukuran colt angkutan pedesaan di Trenggalek— warna putih yang diparkir berderet-deret di belakang Lantamal. Itulah taksi Papua. Saya pikir itu property Lantamal, ternyata pangkalan taksi juga. Saya datangi mobil-mobil itu dan sudah banyak sopir yang memanaskan mesin. Ternyata benar, banyak sopir-sopir taksi itu orang Trenggalek. Obrolan cas-cis cus ala Trenggalek berlangsung sangat akrab. Tapi saya tidak bisa berlama-lama disini agar tidak mengganggu mereka memulai pekerjaanya hari itu.

Walaupun hanya komunikasi sekadarnya, saya menjadi tahu, di Jayapura banyak orang Trenggalek Jawa Timur yang tersebar di berbagai profesi. Mulai PNS, penjual pecel yang terkenal di depan Puskesmas daerah Klufkam, maupun sopir-sopir taksi. Bahkan orang Trenggalek tersebar hingga daerah pegunungan, Wamena. Sebuah daerah enclave yang hingga kini belum tersedia jalur darat untuk mencapainya. Sungai Memberamo juga masih banyak dihuni buaya-buaya besar, dan menjadikannya sebagai jalur lalu lintas masih sangat berbahaya. “Eei… tubuh orang bisa sekali makan (telan),” kata orang Wamena yang saya ajak ngobrol. Begitu pula dengan penerbangan, konon bandaranya masih dari tanah berbantalkan karpet rerumputan. Penerbangan ke Wamena dilayani Trigana Air dengan pesawat Cesna dengan tarif Rp. 900.000,- s/d 1 juta sekali flight dari Jayapura. Saya tidak habis pikir, bagaimana jalan cerita orang-orang Trenggalek ini bisa berdiaspora hingga Wamena yang medannya begitu berat itu.

***

Sejak obrolan singkat dengan orang-orang sekampung itu, pikiran tidak lagi fokus menelurusi “jiwa” kota Jayapura. Bidikan kamera sudah tidak tentu arah. Dialog-dialog imajiner dipenuhi pertanyaan lama saya, “Bagaimana kisah lengkap diaspora orang-orang Trenggalek hingga Papua, Ambon, Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera. Bahkan kabarnya ada orang Trenggalek yang jadi kepala suku adat Nusantara (Jawa-Sunda-Madura) di daerah Sorong Papua Barat. Renungan-renungan seputar “jati diri orang Trenggalek” yang sudah lama mengendap, kembali mencuat. Mengiringi jalan balik ke hotel sambil menunggu lalu lintas sela yang hari itu sudah mulai ramai.

Trenggalek merupakan daerah enclave, di pesisir selatan Provinsi Jawa Timur. Walau masih berada di pulai Jawa, jarak tempuh Jakarta-Trenggalek lebih jauh jika dibandingkan Trenggalek-Jayapura Papua. Jayapura bisa di tempuh 5 jam penerbangan nonstop. Sedangkan Jakarta-Trenggalek harus ditempuh 18 jam perjalanan menggunakan mobil. Kereta Api Eksekutif Gajayana memerlukan waktu 13 jam perjalanan dari Stasiun Gambir Jakarta menuju Stasiun Tulung Agung. Perjalanan Tulung Agung-Trenggalek kota bisa di tempuh kurang lebih 30 s/d 40 menit, tergantung moda yang dipergunakan, kendaraan pribadi atau angkutan umum.

Begitu pula dengan moda transportasi udara. Jakarta-Trenggalek harus ditempuh melalui Surabaya dengan lama penerbangan 1 jam. Selebihnya, perjalanan Surabaya-Trenggalek via darat kurang lebih memakan waktu 4 s/d 5 jam. Dari sisi transportasi, jarak tempuh Jakarta-Trenggalek lebih jauh dibanding jarak Jakarta-Hongkong atau Jakarta Ho Chi Min City Vietnam.

Topografi Trenggalek lebih dari 60 % pegunungan dan hanya menyisakan areal tidak terlalu luas untuk lahan pertanian maupun permukiman. Sisi selatan merupakan wilayah pantai yang kaya potensi perairan tangkap dan pariwisata, namun kendala infrastruktur telah mengasingkan kawasan ini dari proses pertumbuhan yang wajar. Kawasan selatan ini seharusnya menjadi sumber penghidupan masyarakat dengan kandungan row material nyaris tanpa batas.

Trenggalek juga terbenam dalam jangka waktu lama oleh stereotype “daerah minus”. Stereotype ini bukan saja pukulan psikologis dan menumbuhkan rasa rendah diri secara berlebihan di kalangan masyarakat, akan tetapi bisa menjadi kamuflase pejabat setempat untuk tidak sungguh-sungguh mengeksplorasi kreatifitasnya memajukan daerah. Stereotype itu juga merupakan anomali Kecemerlangan Trenggalek dari aspek pengalaman kesejarahan, kontribusi kebangsaan maupun keunggulan karakter masyarakatnya.

Perspektif kesejarahan menempatkan Trenggalek sebagai penyangga tumbuh tegaknya suprastruktur peradaban Nusantara. Abad 9, Trenggalek dijadikan perdikan (Kampak) oleh Mpu Sendok dalam rangka memintal suprastruktur peradaban Nusantara dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Abad 11 (Kamulan) Trenggalek menjadi perdikan oleh kontribusinya terhadap kerajaan Kediri. Era itu pergumulan peradaban dunia didominasi oleh superioritas Eropa-Cina-India-Timur Tengah dan Nusantara. Bukan sebagaimana peta sekarang dengan adanya tambahan Amerika modern dan di selatan ada Australia modern. Eksistensi sebagai perdikan menunjukkan Trenggalek bukan saja catatan kaki dalam perjalanan sejarah Nusantara, akan tetapi merupakan kontributor yang tidak bisa diabaikan. Berkaca dari sini menunjukkan bahwa sudah sejak lama  orang Trenggalek bukanlah tipikal follower, akan tetapi dalam skala-skala tertentu justru menjadi pembangun peradaban.

Kontribusi kebangsaan Trenggalek diafirmasi oleh peran-peran penting orang-orang Trenggalek dalam turut serta menentukan arah dan kebijakan Indonesia modern, walaupun jati dirinya sering disembunyikan dari expose publik. Kehadiran dua kali Panglima Sudirman ke Trenggalek semasa gerilya perlu menjadi pencermatan terkait rahasia tersembunyi kontribusi orang-orang Trenggalek dalam menegakkan kembali eksistensi peradaban Nusantara melalui format NKRI. Begitu pula dengan Menteri Agama RI yang menjadikan Trenggalek sebagain kantor sementara pada saat agresi Belanda II. Menteri Kehakiman kabarnya juga menjadikan Trenggalek sebagai persinggahan pelarian pada saat yang sama.

Dalam hal karakter SDM, orang-orang Trenggalek memiliki ketangguhan dan keunggulan tersendiri. Keunggulan karakteristik itu antara lain:

[1] Memiliki endurance (daya tahan) yang kuat dalam menghadapi berbagai situasi. Karakter ini kemungkinan besar dibentuk oleh kondisi geografis yang tidak bersahabat, sebagai tempat lingkungannya tumbuh. Tak heran jika orang lain mengalami kelelahan perjuangan, orang Trenggalek tampil (tanpa demonstratif) dan meyakinkan yang lain “kita belum habis dan akan melewati situasi ini dengan baik”. Orang-orang Trenggalek adalah orang-orang yang tidak meleleh oleh tekanan keadaan.

[2] Memiliki katahanan spiritual yang kuat karena segala tindakanya selalu disandarkan pada orientasi transendensi (dengan segala variannya), baik kelompok agama maupun abangan. Bahkan (menurut subyektif saya), ada “falsafah terpendam orang Trenggalek ” yang masih hidup hingga saat ini, yaitu : “tidak mengapa kalah dalam pertempuran hidup, sepanjang hidup dijalani dengan kesungguhan dan kerja keras dalam rangka kepasrahan kepada Tuhan, hukum Tuhan dan Perjanjian Kontraktrual antar sesama (perinteraksian sosial) yang tidak melanggar jiwa hukum Tuhan”. Melalui prinsip ini orang-orang Trenggalek menjadi sosok nothing to lose.

[3] Presisi (akurat, memperhatikan hal detail). Ketelitian orang-orang Trenggalek ini direkam kuat dalam “stereotype sosial” yang hingga kini masih melekat dalam memori sosiologis masyarakat sekitar Trenggalek.

[4] Inovatif dan pekerja keras. Karena tempaan geografis, orang-orang Trenggalek tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang inovatif dan pekerja keras. Keterbatasan yang ada tidak membuat patah arang, akan tetapi berusaha menginovasi keterbatasan yang ada untuk tetap melangkah maju.

[5] Memiliki achievement (motivasi untuk maju) yang kuat. Orang-orang Trenggalek (mulai level paling bawah) memiliki kemauan untuk maju yang kuat, berfikiran terbuka dan adaptif terhadap perubahan yang positif/tidak kolot (walaupun tetap selektif). Selain didasari cinta kemajuan, orang-orang Trenggalek (baik yang ada di Trenggalek maupun di rantauan) selalu menjaga harmoni, malu membebani, apalagi menjadi parasit bagi orang-orang di sekitarnya. Orang-orang Trenggalek, di manapun akan selalu berusaha memberi kontribusi bagi kemajuan lingkungannya.

***

Trenggalek diaspora dalam beberapa kasus barangkali dilatarbelakangi oleh tekanan keadaan. Tanpa mereka sadari keunggulan karakter yang melekat pada dirinya (sebagaimana keunggulan karakter orang Trenggalek diatas) membawa pengaruh positif bagi daerah yang didatangi. Dalam aspek SDM, diaspora Trenggalek merupakan instrumen pengungkit kemajuan daerah, tempat di mana ia kini berlabuh. Kini orang-orang Trenggalek yang berdiaspora itu mulai menapakkan jejak-jejak keberhasilan di berbagai altar peran dan profesi.

Penting kiranya untuk segera digelorakan semangat persaudaraan/solidaritas Trenggalek, untuk memintal orang-orang Trenggalek yang berdiaspora itu, di manapun saat ini berada. Visi baru perlu ditumbuhkan, bahwa kehadiran mereka tidak lain merupakan instrumen penting dalam memajukan sisi-sisi lain wilayah negara yang luas. Perasaan tersingkir dari kampung halaman harus dibuang jauh-jauh. Jalinan persaudaraan menjadi begitu penting untuk saling mendorong keberhasilan di antara mereka dalam rangka memaksimalkan kontribusinya memajukan daerah yang kini mereka tinggali. Solidaritas Trenggalek juga bisa memunculkan gairah baru untuk sama-sama mendorong akselerasi pembangunan Trenggalek yang mungkin dinilainya lamban.

Diaspora merupakan konsekuensi logis dan menjadi kecenderungan umum pulau Jawa yang kepadatan penduduknya berada pada tingkat akut. Bahkan kawan Papua saya sempat berseloroh “kalau semua orang Jawa disuruh pulang ke pulaunya, itu pasti tidak muat.” Pada saat ini saja penduduk Trenggalek mencapai hampir 1 juta atau empat kali lipat jumlah penduduk Jayapura (256 ribu) dan sepertiga jumlah total penduduk Provinsi Papua (2,8 Juta). Diaspora itu bisa dipastikan akan terus berlangsung pada waktu-waktu mendatang.

Ah… Tanpa terasa dialog imaginer saya sudah terlalu lama. Mulai keluar dari halaman Lantamal Jayapura, berlarian menghindari kendaraan di pertigaan depan Lantamal, menuju hotel, mandi, ganti baju dan kini harus siap kegiatan yang baru.