karnaval inbok trenggalek

”Karnaval Inbox SCTV” sudah empat hari yang lalu berlangsung di Trenggalek. Tetapi, hiruk pembicaraan mengenai acara yang berlangsung selama dua hari itu masih bergaung hingga hari ini (Kamis, 11/8). Ini salah satu bukti bahwa dari satu sisi/ukuran yang biasa dinomorsatukan di jagad hiburan, dalam strategi komunikasi, bahkan dalam dunia politik yakni popularitas, trending, sangat berhasil. Jika kita sepakat dengan keberhasilan seperti ini, jangan lupa pula bahwa pihak yang cukup signifikan jasanya dalam urusan mendongkrak popularitas acara tersebut hingga masih selalu terasa hangat, bahkan panas, setelah berhari-hari terlewat, adalah para penentangnya.

Dalam konteks ini, sungguh menyedihkan melihat keriuhan dan silang-sengkarut arus tanggapan atau komentar yang bahkan melebar ke mana-mana. Bahkan, cenderung menjadi perdebatan (kurang sehat) antara dua kubu: kubu penentang dengan kubu pendukung. Lucunya, ada komentar yang sekilas tampak membela penyelenggara, tetapi sesungguhnyalah jika dirasa-rasa pembelaan secara membabi-buta begitu justru berpotensi mempermalukan pihak yang dibela. Lontaran kata pendukung Inbox seperti ini, misalnya, ”Tak usahlah kamu mengurusi urusan orang lain, urusilah urusanmu sendiri agar kamu dihargai orang!” Tampak jelas bahwa pemilik kalimat itu beranggapan bahwa acara Inbox adalah acara milik orang per orang. Padahal, bukankah sebenarnya itu acara (-nya) lembaga atau institusi yang bernama Pemerintah Kabupaten Trenggalek?

Saya melihat banyak komentator atau penyetatus (iki istilah apa maneh?) dari kubu pendukung acara Inbox justru melakukan blunder. Dan kita layak khawatir seandainya pihak penyelenggara menganggap para ”pendukung”-nya itu sebagai para pembela sejati. Niat baik para pendukung memang layak dihargai. Tetapi, sebagian besar cara mereka menyatakan dukungan layak dikoreksi.

Sebagian besar dari kalangan pendukung tampak beranggapan bahwa para penentang acara Inbok adalah para penyinyir, yang hanya bisa berteriak-teriak menyatakan penentangan, tetapi tidak pernah melakukan apa-apa dalam rangka ikut serta mengangkat Trenggalek, hanya bisa mencela dan tidak mampu memberikan solusi. Dan lebih tegas lagi, bahwa para penentang itu hanyalah para pengesruh; para batu sandungan!

Jangan lupa nggih Mas Bro, kita hidup di negara demokrasi. Warga negara punya hak menyatakan pendapat, bahkan dengan cara berdemonstrasi turun ke jalan. Nah, sekarang kita tengok lagi, apa yang sudah dilakukan para penentang? Sekadar rasan-rasan, melontarkan status di situs jejaring sosial. Mereka adalah orang-orang, akun-akun yang terkait urusan ini tidak terorganisasi. Jadi, tidak punya kekuatan apalagi kekuasaan untuk mengganjal acara itu, atau seperti itu, seandainya dalam waktu dekat hendak digelar lagi di sini (baca: Trenggalek).

Silakan tanggapi lontaran-lontaran pernyataan mereka dengan kepala dingin. Boleh dengan kata-kata yang nyaris menyentuh garis ambang kesopan-santunan, atau jika antarakun yang secara antarorang sudah saling kenal baik pakai pisuhan bernuansa keakraban juga akan membuat diskusi makin bergairah tanpa ditunggangi emosi/rasa permusuhan. Saling misuh-lah di medsos, tetapi kalau bertemu di suatu tempat segeralah beriringan menuju warkop!

Pasang badan dengan segenap rasa marah dan geram untuk membela penyelenggara Karnaval Inbox adalah tindakan yang rada konyol dan justru menyepelekan pihak yang dibelanya. Mengapa? Acara itu sudah berlangsung dengan tertib, sah, tidak cacat hukum, dengan segala dampak positifnya. Bahwa ada sekian orang merasa ada potensi berdampak buruk, itu pandangan mereka. Itu sah juga. Seperti orang melihat gunung dari sisi yang berbeda, pasti akan menghasilkan laporan pandangan mata yang berbeda juga. Dari pandangan yang berseberangan itulah seharusnya bisa dibangun dialog, diskusi, rembugan yang gayeng penuh suasana paseduluran.

Kita punya pemimpin yang memiliki akses luar biasa bagus ke pusat, pada jalur birokratis maupun jalur ”biro-artis”. Pastinya kedua akses itu telah didayagunakan dengan baik. Khusus untuk jalur yang disebut terakhir tadi, bukti teraktualnya adalah keberhasilan gelaran acara Karnaval Inbox SCTV yang kita bicarakan ini.

Ingatlah, ongkos atau biaya yang dibutuhkan untuk mengiklankan potensi daerah seperti telah dilakukan pada acara itu jelas mahal. Jika koran cetak menghitung biaya iklan per baris/kolom, televisi menghitungnya per detik. Padahal, Karnaval Inbox SCTV mengiklankan Trenggalek selama dua hari (untuk tayangan televisinya, mbuh pirang jam, ya?) Biaya promosi itu sungguh mahal, Mas Bro!

Sedangkan Pemkab Trenggalek, menurut pernyataan Doding R, di sebuah situs jejaring media sosial itu semua bisa diperoleh secara gratis! Di sinilah selayaknya kita bersyukur. Syukur-syukur dengan khusuk, sehingga  tidak perlu terlalu baper jika di situ atau di sana ada yang masih punya waktu untuk menyinyirinya.

BERBAGI
Artikel sebelumyaMerayakan Masyarakat Tontonan
Artikel berikutnyaSopan Santun dan Jawanisme
Bonari Nabonenar
Lahir di Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek (1964), menulis dengan bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia. Ikut menyunting tabloid berbahasa Jawa bagi remaja Bro dan Majalah Peduli yang diterbitkan untuk komunitas pekerja migran asal Indonesia di Hong Kong. Dapat dihubungi melalui: [email protected]