Tumpeng berukuran besar diarak dari Kantor Kecamatan Watulimo menuju Pantai Prigi | Tradisi larung sembonyo di Pantai Prig | Foto Mas Rokhim
Tumpeng berukuran besar diarak dari Kantor Kecamatan Watulimo menuju Pantai Prigi | Tradisi larung sembonyo di Pantai Prig | Foto Mas Rokhim

Seperti tahun lalu, arak-arakan tumpeng atau gunungan Sembonyo dilakukan dari halaman kantor Kecamatan Watulimo. Tumpeng Sembonyo ini diarak seperti karnaval hari kemerdekaan. Alegori kerajaan Nyai Gambar Inten biasanya digambarkan melalui arak-arakan tersebut. Saya belum pernah terlibat langsung perayaan Larung Sembonyo. Ritual Sembonyo seperti ini adalah cara merawat tradisi warisan orang-orang terdahulu. Sembonyo menjadi salah satu identitas wilayah pesisir yang digelar tiap bulan Selo pada penanggalan Jawa.

Larung Sembonyo digelar lagi kemarin, Minggu (28/8), di Pantai Prigi. Saya begitu antusias melihat Larung Sembonyo ini. Sedari pukul sembilan pagi saya sudah bersiap: mandi lalu dandan rapi, walau tidak ingat sarapan. Jam sembilan lebih saya memacu motor menuju Pantai. Jarak rumah ke pantai sebenarnya tidak begitu jauh: kurang lebih lima menit.

Saya bersepeda motor sendirian. Sial. Kali ini tak ada teman melihat Larung Sembonyo. Lima menit kemudian, saya telah sampai di pos masuk penjaga pelabuhan. Dari jarak 50 meter dari pos masuk, setelah portal yang dijaga petugas pelabuhan, terlihat beberapa pemuda yang mengalungkan id card pada laher. Sepertinya mereka adalah panitia acara. Saya urung berjalan ke pelabuhan. Lalu mengambil jalur memutar ke kanan, melewati bunderan patung ikan, kemudian menuju utara melewati Hotel Prigi.

Niat sedari awal untuk melihat Sembonyo dari dekat, sedikit terkikis setelah motor tak boleh masuk ke area pelabuhan. Selang beberapa menit, saya berjalan menuju utara. Dari seberang jalan seseorang memanggil, dan ternyata adalah Pak Mamat. Akhirnya saya menuju ke selatan lagi. Motor saya jagang di trotoar. Dari atas motor, saya berbincang dengan bapak-bapak yang menunggu karnaval Larung Sembonyo. Jarak antarkami tak begitu dekat. Kami bercerita dengan suara keras. Sebab suara lalu-lalang penjual minuman dan mainan anak-anak saling bersahutan, mengganggu obrolan kami. Belum lagi, rengek-tangis anak kecil meminta mainan.

Sementara arak-arakan tumpeng belum melintas, di depan rumah kami ngobrol ngalor ngidul dengan Pak Mamat. Ia mengenakan sarung, duduk di depan rumah. Badannya tambun. Kami ngobrol tanpa ujung pangkal. Di sela-sela obrolan, saya kerap bertanya karena penasaran tentang isi tumpeng Sembonyo. Saya merasa Pak Mamat sedikit banyak tahu, karena ia adalah nelayan di Pantai Prigi dan memiliki beberapa perahu slerek, perahu andalan Pantai Prigi. Ia bercerita bahwa isi tumpeng Sembonyo adalah ayam ingkung.

Antusiasme warga menyaksikan prosesi larung sembonyo | Tradisi larung sembonyo di Pantai Prigi | Foto Mas Rokhim
Antusiasme warga menyaksikan prosesi larung sembonyo | Tradisi larung sembonyo di Pantai Prigi | Foto Mas Rokhim

Senada dengan Pak Mamat, kata Pak Abu, isi tumpeng Sembonyo juga adalah ayam ingkung. Biasanya berisi empat ayam lodho ingkung.

Penasaran dengan cerita tersebut, saya kemudian bertanya apakah benar pada zaman dahulu ada persembahan kepala kerbau yang ditaruh dalam tumpeng itu. Dengan ditemani pisang goreng, ia bercerita bahwa tak ada “persembahan” kepala kerbau di acara Larung Sembonyo. Yang ada adalah ayam lodho ingkung dikasih wangi-wangian. Tentu saja rasa dan baunya membuat tidak enak dimakan.

Setelah mendapat cerita tersebut, saya melihat jam di handphone dalam saku celana. Waktu menunjukkan jam sebelas siang. Arak-arakan karnaval belum juga melintas. Waktu semakin siang. Sinar matahari semakin naik, dan panasnya juga cukup menyengat: keringat bercucuran.

Mobil polisi yang mengiringi nampak dari pertigaan depan kantor Desa Tasikmadu. Suara nyondro dari barisan karnaval pun terdengar. Pengunjung merangsak ke tepi jalan dan sesekali mengabadikan gambar. Nampak pada barisan pertama iring-iringan Larung Sembonyo, termasuk lodho yang dipikul oleh para prajurit. Ada dua persembahan yang dipikul oleh prajurit berpakaian Surjan. Tumpeng Sembonyo dihias mirip gunungan yang di puncaknya ditaruh buah nanas. Pada badan tumpeng ditaruh berbagai jenis rempah-rempah, sayur-mayur, dan buah-buahan.

Di belakang para prajurit, ada ibu-ibu nelayan berdandan mirip dengan sinden, mereka ini adalah dayang. Tiba-tiba ada seorang ibu berjalan ke tengah barisan—kalau tidak salah istri Pak Mamat—memberi beberapa air botol kepada ibu-ibu dayang , baris pun menjadi tidak beraturan karena berebut air minum. Melihat ini saya tertawa. Beberapa pengunjung menertawai barisan kacau itu.

Di belakangnya ada arak-arakan menaiki kuda, yang dihias dua naga mendungak ke atas, warna hijau, representasi Nyai Roro Kidul. Barangkali ini alegori Ratu Kidul, bukan Nyai Gambar Iten. Saya berjalan agak ke tengah lalu mengambil gambar. Beberapa orang pengunjung ikut bergerak ke Selatan. Dan lalu-lalang kendaraan semakin ramai.

Setelah memastikan, arak-arakan Larung Sembonyo berjalan, saya pamit menuju dermaga pelabuhan. Saya memacu motor mengambil jalur pos penjagaan masuk Pantai Prigi lama, memutar ke kanan menuju Utara. Di perempatan, saya menuju ke timur—Jalur Lintas Selatan. Jalur ini ramai tapi lancar. Saya memacu motor dengan kecepatan standar menuju ke dermaga di Tempat Pelelangan Ikan (TPI), Prigi.

***

Konon, tradisi Larung Sembonyo ini wujud dari rasa syukur warga pesisir di Kecamatan Watulimo atas pernikahan Raden Temenggung Yudhanegara dengan Nyai Gambar Iten. Entah bagaimana ceritanya, saban sasi Selo, Larung sembonyo selalu digelar. Larung Sembonyo adalah kearifan lokal yang harus diangkat menjadi destinasi wisata di wilayah pesisir Watulimo. Pengunjung acara labuh laut ini bukan saja warga lokal, tetapi juga masyarakat dari daerah lain.

Saya sebagai warga lokal tentu sangat antusias melihat labuh laut dari dekat. Sampai di tempat parkir, saya berjalan menuju ke dermaga seorang diri. Ternyata sudah banyak orang yang naik perahu slerek. Sebagian besar orang berdiri di atas dermaga, yang lain naik di atas perahu. Dari jauh, saya melihat teman naik perahu. Perahu yang ditumpanginya adalah KM Sagita. Dengan bersemangat saya juga ikut perahu yang sama. Orang-orang yang berada di belakang saya juga ikut naik perahu. Di atas perahu, saya melihat-lihat ke sekeliling. Di atas perahu itu, saya hanya kenal seorang teman bersama suaminya.

Tumpeng yang telah dilarungkan ke tengah laut | Tradisi larung sembonyo di Pantai Prigi | Foto Mas Rochim
Tumpeng yang telah dilarungkan ke tengah laut | Tradisi larung sembonyo di Pantai Prigi | Foto Mas Rochim

Saya melihat perahu di sisi barat, jaraknya terpisah enam atau tujuh perahu. Tampak perahu penuh, ada beberapa keponakan dan adik saya yang naik dalam satu perahu. Akhirnya, saya memutuskan ikut naik bersama adik saya tadi. Saya berjalan rada berlari hingga perahu yang dituju. Perahu itu adalah perahu paklik, yakni perahu KM Bonansa.

Kemudian, saya melihat ke arah TPI, ruwatan buceng Sembonyo belum juga selesai. Sedangkan orang-orang yang ingin naik perahu semakin banyak. Melihat semakin banyak pengunjung yang ingin naik perahu, pengemudi pun menggerakkan ke tengah laut. Perahu yang kami tumpangi berjalan dengan kecepatan standar. Salah satu pemilik kapal itu menyuruh pengemudi berjalan menuju ke sisi Timur, yakni menuju ke pantai Pasir Putih, Karanggoso.

Selesai berjalan, perahu itu kembali ke dermaga. Sampai di dermaga ada kiriman konsumsi untuk orang-orang yang berada di perahu. Euforia perayaan Larung Sembonyo tidak dibarengi kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya. Sampah beterbangan dari atas perahu menuju dermaga. Bungkus-bungkus kado, plastik berserakan di dermaga. Seharusnya masyarakat mengindahkan kebersihan laut, sementara panitia juga menyediakan tempat sampah di beberapa titik.

Hari semakin siang dan jam di hand phone menunjukkan setengah satu. Matahari berada tepat di atas kepala. Panas terasa menyengat. Kirab buceng Sembonyo belum selesai. Barangkali doa-doa untuk keberkahan dan keselamatan nelayan Prigi belum selesai dipanjatkan. Tumpeng tidak tampak di-jegur-kan. Di tengah segara perahu-perahu didandan-i: dipayungi janur kuning, dipasangi bendera berbagai warna.

Sementara para pengunjung yang naik perahu tetap semangat menunggu untuk melihat Tumpeng Sembonyo diarak ke tengah segara. Tumpeng belum juga ada tanda-tanda akan diarak. Di belakang saya, keponakan kelihatan mual dan ingin muntah: mabuk. Begitulah rasanya jika digoyang ombak.

Dari jalur keluar kolam pemberhentian perahu, ada beberapa perahu berjalan arak-arakan. Sedangkan perahu yang saya tumpangi berada di jalan masuk dermaga. Perahu ini akhirnya menunggu arak-arakan tumpeng yang ditarik perahu, yang saya lupa namanya. Tumpeng tersebut dijaga oleh tiga pemuda, sedang tumpeng tempat sesaji ada di belakang yang dijaga oleh satu orang, dengan papan rakitan yang terbuat dari batang pisang. Tiga pemuda berdiri bak prajurit pengaman.

Lepas dari dermaga itu, dengan diringi oleh perahu patroli, satu orang yang menjaga sesaji itu memakannya dengan lahap. Dengan goyang-goyang mengangkat dua tangannya seakan mengajak bergojet. Sesekali mengambil sesaji untuk dimakan. Sementara, tumpeng Sembonyo yang berisi rempah-rempah dan buah-buahan oleh ketiga orang itu dilempar-lemparkan ke beberapa perahu di dekatnya.

Perahu yang saya tumpangi ikut dilempari jeruk. Perahu yang saya tumpangi, berada tepat di sebelah barat Tumpeng. Sementara perahu pratoli milik Angkatan Laut yang dinaiki beberapa orang berseragam loreng memberikan peringatan suara sirine. Perahu itu yang mengatur jalan agar perahu beriring-iringan dan tidak menggangu Tumpeng Sembonyo. Di balik jendela kapal patroli, nampak istri Bupati Trenggalek: Arumi. Ia dari atas boat ikut melihat Tumpeng Sembonyo ke tengah segara.

Di sebelah Timur boat, Emil dan Arifin juga ikut mengarak Tumpeng. Mereka duduk di atas dek perahu KM Sumber Pangan. Tepatnya, di depan kemudi perahu. Mereka tampak serius dan sangat menikmati Larung Sembonyo. Dari kejauhan, saya beberapa kali mengambil gambar Bupati dan Wakil Bupati Trenggalek, meski zoom kamera hape tak bisa menjangkau. Beberapa orang dari perahu yang saya tumpangi juga ikut mengambil gambar.

Iring-iringan perahu semakin tak teratur, karena arus juga tidak beraturan. Beberapa kali, perahu yang saya tumpangi bersenggolan dengan perahu lain. Ya, kita tahu perahu tak memiliki rem untuk berhenti. Beberapa kali pula, para penumpang berteriak-teriak. Teriakan tersebut tidak ada beda, antara senang dan takut. Pada posisi yang sama, dari arah boat, prajurit berseragam juga berteriak supaya memberi jarak dengan buceng Sembonyo itu.

Kali ini teriakan berbeda. Saya tak bisa memastikan apa yang terjadi di sebelah barat punggung perahu itu. Ada juga teriakan dari perahu lain. Ada juga suara yang bernada ejekan. Ternyata ada kejadian senggolan perahu satu dengan perahu lain. Perahu yang bersenggolan tersebut adalah perahu yang saya tumpangi dengan perahu pancingan. Setelah tahu apa yang terjadi, ternyata tiang perahu pancingan itu lepas. Pengemudi perahu pancingan itu marah-marah. Wajahnya tampak merah. Pengemudinya beberapa kali berbicara dengan mimik wajah emosi. Jari telunjukkannya menunjuk ke dermaga. Ia menggerakkan perahunya dengan emosi. Terlihat seolah mengajak bertabrakan meski akhirnya ia membelokkan perahunya.

Arah laju perahu yang saya tumpangi tak lagi ke selatan, tetapi berputar menuju dermaga. Perahu pancingan tersebut melaju ke dermaga II: tempat perahu kecil-kecil berlabuh. Sedangkan perahu slerek yang saya tumpangi bergerak menuju dermaga tempat Sembonyo tadi digelar. Akhirnya, melihat Sembonyo di tengah segara telah usai. Kami (saya dan beberapa adik keponakan) saat mendarat di dermaga pelabuhan terasa seperti masih di atas perahu.