BERBAGI
Batu-di Bukit Jompong-Pule
Batu-di Bukit Jompong-Pule

Pule adalah kecamatan terakhir yang saya jangkau dari seluruh daftar kecamatan di Trenggalek, sepanjang perjalanan dalam rangka menelusuri jalan-jalan antarkecamatan di seantero kabupaten ini—katakan saja begitu—sejak sekitar 4 tahun lampau. Agenda iseng ini, di antaranya telah menghasilkan buku Rengkek-rengkek: Senarai Catatan dan Kisah (Per)jalana(an) di Kota Trenggalek, yang ditulis kurang-lebih oleh 20-an orang. Dengan sudah terlaksananya penembusan Pule-Panggul kali ini, maka saya anggap seluruh jalan antarkecamatan di Trenggalek sudah tamat dilewati. Kalau toh masih ada yang belum terlintasi, anggap saja sisa, bagian jalan-jalan kecil antardesa, baik dalam satu kecamatan atau antarkecamatan.

Sama dengan Kecamatan Bendungan, Pule adalah kecamatan yang berada di pegunungan alias sebagian besar wilayahnya gunung dan bukit, tapi belum tentu tak punya sungai. Kira-kira setahun yang lalu, saya bersama Gilang Tri Subekti sebetulnya sudah pernah ke Pule untuk melihat Bukit Jompong, karena provokasi sebuah berita: tentang penemuan batu-batu berbentuk pilar-pilar. Tapi, tanpa alamat yang terang dan ditambah asal datang, meski sempat mampir entah saat itu di rumah lurah atau entah ketua RT, di Desa Sukokidul, tempat Bukit Jompong berada, arahan mereka tidak benar-benar langsung menuju Bukit Jompong, kami malah kesasar kira-kira ke bukit sebelahnya.

Meski pada saat (seolah-olah) di Bukit Jompong itu, kami tak merasa salah lokasi. Tersebab kami juga menemukan pemandangan batu selinder yang tampak mirip dengan batu yang diliput oleh salah satu stasiun televisi, yang saya tonton pada hari sebelumnya. Kami sempat memotret dan mengamati batu-batu tersebut. Setelah pulang dari Pule, dan menonton video itu kembali, kami baru sadar kalau ternyata telah salah lokasi. Karena salah alamat itulah, saya berniat balik lagi ke lokasi. Rupanya, kesempatan yang ditunggu-tunggu itu baru bisa terlunaskan di hari kemarin. Akhirnya saya bisa ke Pule lagi setelah setahun lamanya, ya tepatnya hari kemarin, ketika kami melintasi Pule-Panggul dalam rangkaian j(el)ajah desa-desa bagian barat Trenggalek: dari Tugu menuju Pule tembus Panggul hingga Dongko dan balik lagi ke Trenggalek bersama Mas Bonari dan Rokhim.

Kami berangkat dengan niat menilas kembali jalan saya sewaktu pulang dari Pule dahulu. Pertama datang ke Pule, saya dan Gilang melewati arah selatan via Suruh memasuki desa-desa bagian selatan kemudian baru desa-desa bagian utara, hingga Desa Sukokidul dan turun ke Tugu. Sementara kali ini, kami melewati desa paling utara terlebih dahulu dengan melintasi waduk di Nglinggis, Tugu, melewati jembatan di hilir bendungan Nglinggis, belok ke barat menyusuri pinggir selatan bendungan Nglinggis lalu naik dengan jalur agak sempit, sebab aspal yang sudah lumayan dadal-dual meski setahun kemarin, ketika saya ke sini, masih agak bagus. Dilapisi makadam yang mencuat dan struktur permukaan yang sangat tidak rata.

Setelah menyusuri Nglinggis, kami mengambil arah naik ke selatan. Semakin naik ke atas, jalanan berganti dengan rabatan membelah bukit. Berangkat pada tengah hari saat cuaca sedang panas-panasnya. Ketika tiba di bukit Jompong pun, matahari belum benar-benar menggelincir ke barat. Meski, ketika kami berangkat lagi ke selatan, mendung tampak menggelayut begitu saja: tanda-tanda mau hujan. Namun saat benar-benar tiba di desa-desa bagian selatan, hujan telah usai, dan kami aman dari guyurannya.

Dari ketinggian, bendungan Nglinggis semakin kelihatan. Dua bukit seolah dibelah. Semakin ke atas, tak hanya tampak view sisi utara, tapi juga view sisi timur. Terlebih, ketika kita sudah memasuki Pule, tepatnya masuk Desa Sukokidul itu, view makin bagus. Di kanan jalan masih dalam hitungan naik, akan tampak kamar-kamar mandi penduduk sekitar berada di pinggir jalan, yang airnya diperoleh dari sumber di dekatnya, dengan dibikinkan kolam penampungan sekitar tiga buah, tepat di bawah gerumbulan semak dan beberapa pohon cukup tinggi. Prediksi saya, di sekitar lokasi mata air memang ada kars, yang dapat menabung air. Tentu setelah saya menamatkan sekitarnya lebih seksama. Sementara di sebelah kiri atau timur jalan, tampak pemandangan teras-teras sawah yang indah di lereng bukit. Kami pernah mengambil foto sawah-sawah terasering ini dan memasangnya di dinding Facebook.

Sekitar sekilo dari sumber air, kita akan sampai di area Bukit Jompong. Dari jalan utama lalu kita mengambi jalan selebar dua langkah kaki orang dewasa ke timur, menuju lereng bukit. Dengan sepeda motor, kita bisa langsung terarahkan tepat di kaki bukit. Setelah naik akan tampak batu-batu selinder bertebaran, sebagian masih merekat membentuk gugusan batu sebesar rumah. Menuju ke atas lagi, batu-batu selinder ukurannya makin besar, sebagian merekat seolah dililiti lem alami. Ada sebuah batu tersusun menyerupai sayap burung raksasa ada juga yang seolah berbentuk rumah beserta atapnya. Sementara yang lain, berserakan-melintang mengarah ke segala penjuru. Batu-batu selinder berselonjoran di sana-sini, seperti reruntuhan bangunan besar: berbentuk pilar-pilar bangunan yang baru saja digempur entah oleh apa.

Dari Sukokidul kami menuju Desa Karanganyar lantas Desa Jombok hingga melintasi perempatan Kasrepan. Bukan perempatan, karena ada lagi satu jalan mengarah ke selatan, meski tak beraspal. Jadi sepertinya ini semacam simpang lima, termasuk wilayah dari Desa Jombok. Sepanjang Sukokidul menuju perempatan Kasrepan, tampak di beberapa titik, terdapat pagar di pinggir-pinggir jalan dibentuk oleh pohon-pohon yang hidup atau berkarakter sebagai pohonan pagar seperti rabuk ijo, pohon senggani dan jenis lainnya. Berjajar rapi dilintangi bambu. Pertemuan palang-palang bambu yang berjajar secara horizonal dan pohonan secara vertikal itu dibebat tali dari bambu juga. Mengingatkan pada pagar-pagar pekarangan rumah zaman dahulu, yang kini di kampung-kampung kita, jamaknya sudah banyak berganti dengan pagar semen.

Dari perempatan Kasrepan kami mengarah ke barat melingkari sekaligus menjauhi pusat kota Kecamatan Pule, menuju ke barat berturut-turut melalui Desa Tanggaran, Desa Puyung dan Desa Sidomulyo lantas serong ke selatan menembusi desa-desa di Panggul bagian utara, yang berada di ketinggian, lalu turun ke bawah mendekati kota Kecamatan Panggul. Memasuki Kecamatan Panggul berturut-turut kami melewati Desa Tangkil, Desa Manggis, Desa Sawahan kemudian Desa Barang, masuk ke Desa Bodag, lantas Kertosono, dan Desa Panggul yang berada di wilayah  kecamatannya. Menuju arah Kecamatan Dongko via Nglebeng, Ngrecak ke arah Desa Cakul (desa paling selatan Kecamatan Dongko). Dari Pule bagian utara hingga penghabisan Kecamatan Panggul ini saja, sekurangnya kami telah melewati sekitar lebih dari 10 desa.

Saat melintasi Jombok ke barat tadi, sekeliling jalanan sekitar terlihat agak gersang. Baru setelah masuk Desa Puyung suasananya berbeda. Ini desa dengan area vegetasi yang tampaknya lebih rimbun dibanding desa-desa sebelumnya. Menyuguhkan lingkungan yang dingin, seolah berada di lokasi pedesaan paling tinggi. Bisa ditunjukkan dengan perubahan rasa pada tubuh kami yang tiba-tiba diserang dingin dan beberapa titik lintasan sempat dikerubuti kabut atau pedut—kalau mulut orang Trenggalek mengistilahkannya. Barangkali Desa Puyung adalah desa paling tinggi di Kecamatan Pule, mengingat desa ini berbatasan langsung dengan daerah Kecamatan Ngrayung, Ponorogo, di sebelah baratnya. Sehabis dari Puyung kita akan memasuki Desa Sidomulyo. Ini desa terakhir di Kecamatan Pule, sebelum kita memasuki Kecamatan Panggul paling utara yakni saat masuk Desa Tangkil. Melewati sepanjang Pulung-Panggul ini, serasa, sekali lagi, kontur jalan dan muka topografi wilayahnya seperti kembaran Kecamatan Bendungan, yang merupakan kecamatan paling utara di Kabupaten Trenggalek.

Kecamatan Pule mungkin adalah satu-satunya kecamatan yang jarang mencuat dan terekspose dibanding kecamatan-kecamatan lain di Trenggalek. Atau karena saya saja yang kurang mendengar perkembangan kecamatan ini? Sepanjang memasuki Desa Puyung seperti memasuki sebuah desa yang berbeda. Dengan rasa dinginnya yang khas. Kalau saya boleh menarik-narik kesamaan antara desa di tiap kecamatan Trenggalek. Barangkali Puyung ini tipikal Desa Sumberbening di Dongko atau Desa Slawe di Watulimo, atau Desa Besuki di Munjungan. Pule barangkali adalah kecamatan paling tidak diperhatikan setelah Kecamatan Bendungan (?). Saya jadi ingat perihal sembilan bunyi ”Nawa-Cita” Jokowi, yang bagian ketiganya adalah: ”Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.”

Sebetulnya desa memang miniatur dari negara. Jangan dibalik. Desa adalah prototipe asli yang harus banyak diperhatikan oleh pemerintah ketika memandang pembangunan dari ruang dan skala kecilnya. Membangun mengacu dan berdasarkan perspektif karakter pedesaan dan genuinitas-nya. Desa mestinya adalah laboratorium pembangunan. Tentu ”pembangunan” yang bukan menggunakan cara pandang dari luar karakter desa, melainkan harus dari dalam desa itu sendiri. Di situ, desa bisa menjadi sumber ontologis sekaligus epistemologis konsep pembangunan ala nawa-cita Presiden Indonesia. Para ilmuwan harus melihat desa dengan cara pandang desa sendiri. Dengan begitu, ilmu antropologi, planologi, sosiologi pedesaan, dan teori-teori tradisional dan sosial lainnya, dikreasi lagi direvitalisasi sesuai atau taat dengan kearifan lokal pedesaan. Pembangunan, dengan begitu, harus mendukung atau berdasarkan cara pandang desa-desa (negara mawa tata, desa mawa cara). Dan, Mas Bupati dan Mas Wabup Trenggalek perlu lebih banyak mempelajari ini, untuk mengembangkan kabupatennya.

Memasuki perbatasan Pule-Panggul tampak tidak seperti dalam pikiran saya semula, yang mengira-ngira seperti daerah penuh hutan dan jalan panjang tanpa rumah. Ternyata dugaan saya itu keliru. Saat sore hari, melintasi Sidomulyo menuju Tangkil, desa-desa di sini tak sepi-sepi amat, dan perjalanan menjadi menyenangkan. Ada banyak pemuda dan masyarakat secara umum yang beraktivitas di sore hari. Beberapa pemuda yang nggerumbul, nyangkruk dan ngobrol di angkringan-angkringan atau tempat duduk yang dibikin di pinggir jalan. Pohon-pohon dan aneka tumbuhan yang berada di tepi jalan, sebagian menjuntai ditiup angin sore. Saya agak gelisah ketika dibonceng Rokhim. Rasanya cukup ketar-ketir saat duduk di jok belakang dengan motor jenis matik di jalanan menurun berliku-liku serta bolong-bolong di berbagai titiknya itu.

Sejak awal, kami (saya dan Mas bonari) memang merancang akan menembus Panggul-Pule dengan tujuan di antaranya, melihat lebih dekat situs di dua tempat: batu-batu selinder di Bukit Jompong (Pule) dan situs batu serupa yang kata Mas Bonari ada di sekitar Desa Karantengah (Panggul). Ihwal batu di Bukit Jompong, banyak yang mengatakan ini batu yang dalam titik tertentu, agak-agak dekat kasusnya dengan situs batu Megalitikum Gunung Padang di Cianjur, berupa punden berundak. Batu-batu persegi di Gunung Padang bertumpukan semacam berbentuk terasering atau bangunan berteras. Kalau bebatuan di Jompong, tidak lebih tertata sebagus di Gunung Padang. Batu-batu di Jompong berserakan. Yang menarik di mata saya, batu-batu selinder atau mirip pilar-pilar atau lingga-lingga tersebut, katakan saja begitu, melekat satu sama lain menjadi susunan yang lebih besar. Dan sepertinya memang sengaja direkatkan entah oleh alam atau manusia. Masih perlu diteliti lebih jauh oleh pakarnya.

Awalnya, saya mengira perjalanan ini akan dimulai dari Cakul (rumah Mas Bonari) menuju Panggul lalu ke Karangtengah terus menuju Kecamatan Pule dan berakhir di Trenggalek. Tetapi karena pada hari itu Mas Bonari kebetulan sedang berada di Trenggalek, maka perjalanan kami berangkatkan dari Tugu menuju Pule. Rute kami balik dari rencana semula.

Asyik saja misalnya ketika di tengah jalan, semula kami memakai helm dan memanggul tas, lalu tampak Mas Bonari mulai mengemasi jaket, helm, dan tasnya, lantas meletakkannya di depan dan mengendarai motor dengan apa adanya, rambut tergerai ke belakang, seperti ingin memperlihatkan bahwa ia bagian dari penduduk setempat. Dan perjalanan jadi tampak begitu santai. Badan dihembus angin siang yang berkesiur mendekati sore hari. Suasana redup seperti hendak hujan, meski hujan tak benar-benar turun saat kami berjalan. Hujan di daerah selatan telah usai pasca kami sampai di Pule bagian selatan. Hawa pedesaan semilir dan dingin. Saya sebetulnya ingin meniru Mas Bonari, dengan melepas jaket dan helm, namun karena kami sedang berboncengan dan tak banyak tempat untuk menaruh jaket dan helm, maka tentu situasi kami berdua tak seleluasa mas Bonari yang bersepeda sendirian.

Kami sempat beristirahat di sebuah pertigaan: yang jika ke utara mengarah ke Kota Trenggalek, ke barat menuju Ngrayun-Jajar (Ponorogo), dan sementara arah selatan sendiri menuju Panggul, yang akan kami lewati sebentar lagi. Ketika memasuki desa di ujung utara Kecamatan Panggul, yakni Tangkil dan mengarah ke desa-desa di ujung barat Panggul, yakni melalui Desa Terbis dan Desa Karangtengah seperti yang kami rencanakan dari jauh-jauh hari, tak jadi kami lakukan, dengan mempertimbangkan waktu: kami pasti sampai Karangtengah di saat gelap. Keputusannya adalah, kami membelokkan arah memasuki Desa Manggis menuju Sawahan tembus ke Desa Bodag.

Di Bodag, motor Mas Bonari yang berada di depan, tiba-tiba berbelok ke selatan, ke sebuah gang. Saya sudah langsung menebak bahwa kita akan mampir ke rumah singgah Pak Dirman (Jendral Soedirman) sewaktu dulu bergerilya di Trenggalek lewat Dongko dan Panggul. Rumah ini tampaknya masih mempertahankan bentuk aslinya dan lumayan terawat. Di seberang rumah terdapat sebuah bangunan mushola/masjid yang merupakan satu rangkaian dengan rumah cagar budaya Pak Dirman tadi. Sehabis dari rumah Pak Dirman di Bodag, kami lanjut mampir ke Pantai Konang untuk ngaso secukupnya, sembari menikmati ombak pantai selatan di sore hari. Sudah, singkat cerita perjalanan kemarin begitu.

BERBAGI
Artikel sebelumyaUpaya Menjaga Sungai
Artikel berikutnyaBagaimana Pengelolaan Hutan di Trenggalek?
Misbahus Surur
Kelahiran Munjungan, Trenggalek. Menulis buku Turonggo Yakso Berjuang Untuk Eksistensi (Yogyakarta: Syafni Press, 2013) dan menyunting buku Rengkek-Rengkek: Senarai Catatan dan Kisah (Per)jalan(an) di Kota Trenggalek (Trenggalek: Tuhālas Biblioteca, 2015).