Latihan menari di sanggar budaya | foto by photoshobbies
Latihan menari di sanggar budaya | foto by photoshobbies

Dua kata yang sering mengumandang—sejak kampanye Pilpres 2014 hingga saat ini—dan membuat banyak orang penasaran adalah: Revolusi Mental. Itu semacam canangan nasional untuk gerakan perubahan, setelah menyadari bahwa rezim demi rezim di negeri ini seolah makin memperpanjang jarak antara proklamasi kemerdekaan dengan cita-cita yang hendak dicapainya.

Karena korupsi sedang merajalela, seolah ditangkap satu tumbuh seribu, setiap disebut kata ”mental” asosiasi kita biasanya langsung melayang ke soal korupsi dan sekitarnya. Padahal, mental korup baru salah satu dari sifat negatif yang menghambat, mengganjal, gerak pembangunan bangsa ini.  Rasa kurang percaya diri, disiplin yang rendah, pikiran yang kurang terbuka, kegemaran terhadap jalan pintas, dan suka mengabaikan kualitas adalah beberapa yang lain, yang perlu segera dibongkar untuk memberi ruang yang lebih layak bagi tumbuhnya mental-mental positif.

Ada sebagian orang yang menganggap penting untuk dihidupkannya kembali program Penataran dan Simulasi P-4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) seperti pernah dilakukan pada masa Pemerintahan Presiden Soeharto (Orde Baru). Jika sekadar menghidupkan kembali program lama tanpa perubahan berarti, boleh dijamin hanya akan mengulangi jatuh ke dalam lubang kegagalan yang sama. Lalu, program seperti apa yang sekiranya paling berpeluang secara tepat dan berdayaguna guna mengimplementasikan Revolusi Mental–dengan R dan M kapital—itu?

Seiring dengan persoalan mental negatif tadi, bangsa ini sesungguhnya sedang menghadapi banyak persoalan besar, kerusakan alam (sumber daya alam), menipisnya solidaritas. Kerusakan (sumber daya) alam terutama berkaitan dengan mental tamak, korup, sehingga misalnya, kawasan hutan diubah peruntukannya, penebangan liar tak terkendali, penambangan dilakukan secara serampangan, dan kepunahan varietas flora maupun fauna, termasuk penumpukan racun kimiawi, sampah yang susah terurai di lahan-lahan pertanian. Seolah-olah kebodohan bersekongkol dengan ketamakan untuk mempercepat kerusakan itu.

Menipisnya solidaritas justru sering dikamuflase dengan solidaritas-solidaritas semu, misalnya solidaritas kedaerahan yang picik, kuatnya ikatan emosi pendukung klub sepakbola. Maka, yang sering kita saksikan kemudian adalah bentrok antarpendukung klub sepakbola, perkelahian pelajar, perkelahian antarkampung, yang makin sering terjadi justru membuat kita lalu secara tidak sadar memandangnya sebagai hal biasa, yang tidak penting untuk dipikirkan bagaimana menyudahinya.

Jika ada yang menggembirakan, sesungguhnya di tengah-tengah masyarakat banyak bertumbuhan semangat perjuangan untuk keluar dari banyak permasalahan itu. Ada kelompok-kelompok petani organik di berbagai kota, di desa-desa, yang sepertinya tidak berkaitan atau terhubung secara baik dengan organisasi petani tataran nasional semacam HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia). Di kalangan perempuan muda juga bertumbuh semangat mengelola sampah, antara lain dengan mengolah barang bekas yang susah terurai dengan menjadikannya barang-barang kerajinan. Di bidang konservasi fauna, para penangkar burung, komunitas penyelamatan penyu, dan penangkar beberapa jenis hewan lain juga dilakukan secara mandiri oleh masyarakat, baik semata-mata karena kecintaan mereka maupun dengan motif komersial. Para pegiat/penangkar itu sungguh patut didukung karena merekalah yang ada di barisan terdepan penyelamat beberapa jenis hewan dari ancaman kepunahan.

Sanggar-sanggar kesenian, kelompok-kelompok kesenian tradisional juga masih hidup di desa-desa, walau ikon-ikon seperti wayang orang, ketoprak, kentrung, bahkan ludruk, seperti sudah (lama) ditabuh lonceng kematian mereka. Betapa indah dan sejuknya, ketika memasuki sebuah desa/kampung, dan kita bisa menemukan anak-anak berlatih menari/menyanyi, dan terdengar musik tradisional, misalnya karawitan. Untuk menyiapkan mental dan kemudian budi dan pekerti yang positif, orang Jawa sangat memandang penting: beksan (tari) dang gendhing = musik/tembang/lagu. Tiga unsur dasar dalam tarian adalah: wiraga, wirama, wirasa. Artinya, dengan menari seseorang tidak hanya ber-olah-rasa, melainkan sekaligus juga berolah raga. Dan melalui gending, ketajaman rasa itu makin diasah. Tak lupa pula melalui sastra:  cakepan/lirik/syair tembang-tembang—ditingkatkan keluasan wawasan dan pengetahuan.

Sesungguhnya saya hendak mengatakan bahwa Revolusi Mental itu akan lebih berpeluang untuk menemukan keberhasilan jika dilancarkan dengan memupuk/mendukung semangat dan gerakan-gerakan yang sudah tumbuh di tengah-tengah masyarakat, bukan semata-mata model top-down sebagaimana Program P-4 yang dilakukan Pemerintah Orde Baru. Maka, adalah penting untuk membangun sanggar-sanggar budaya di setiap kecamatan, dan kemudian di setiap desa, sebagai posko terdepan untuk menjalankan Revolusi Mental itu.

BERBAGI
Artikel sebelumyaPotensi Terpendam di Tengah Jongkoknya Mindset dan Birokrasi
Artikel berikutnyaLandmark Kota dan Strategi Penataan RTH di Trenggalek
Bonari Nabonenar
Lahir di Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek (1964), menulis dengan bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia. Ikut menyunting tabloid berbahasa Jawa bagi remaja Bro dan Majalah Peduli yang diterbitkan untuk komunitas pekerja migran asal Indonesia di Hong Kong. Dapat dihubungi melalui: [email protected]