Kenapa Musim Kawin Berlangsung Berbarengan?

Suara musik telah diperdendangkan semenjak bundel dilakukan melalui 4 pasang sound system ukuran besar: dua pasang sound di sebelah kanan rumah; dua pasang lainnya ditaruh di sebelah kiri. Suara musik terus diperdengarkan selama sehari penuh, atau bahkan hingga dua hari. Tergantung berapa lama si tuan rumah mengadakan pesta mantenan.

Pemandangan seperti ini jamak terjadi di wilayah Trenggalek, apabila musim kawin (mantenan)  tiba: tersebar dari kecamatan paling timur sampai kecamatan paling barat; dari daerah di ujung utara hingga paling selatan. Musik yang diputar melalui keping CD (bukan celana dalam) atau dari musisi campursari secara live, sangat mudah untuk kita jumpai. Seperti saat menulis catatan ini, musim mantenan di Trenggalek sedang hangat-hangatnya, begitu pula di berbagai daerah lain. Tak heran bagi yang sejak remaja sudah mulai rajin mbecek (mendatangi undangan orang baik dalam pesta nikah atau hajat yang lain) atau sudah pernah mengundang orang di acara nikahan, dipastikan puyeng akibat bingung membagi uang untuk mbecek. Kadang, untuk orang yang aktif mbecek, musim mantenan seperti ini bisa mendapatkan 10-20 undangan secara gratis.

Oh ya, kamu tahu apa itu mbecek? Mbecek bagi orang Trenggalek merupakan aktivitas menghadiri undangan mantu atau jenis undangan lain dengan membawa amplop berisi uang: jumlahnya tergantung kemampuan atau krus bea mbecek saat ini, untuk di berikan kepada yang punya hajat. Memberi di sini, menurut perkiraan saya digolongkan sebagai bantuan atau hadiah bagi yang punya hajat. Namun menurut emak saya, yang sudah terbiasa menjadi laden mbarep, yang didengarnya dari embah dulu, mbecek diartikan sebagai cara membeli makanan yang telah dijamukan kepada kita dari si tuan rumah, untuk menggantikan biaya makanan. Kata emak saya,  “setidaknya anggaplah mbecek seperti itu, supaya kamu tidak merasa berat bahkan pelit untuk memberi bantuan kepada orang lain, atau kamu merasa berat untuk menghadiri undangan mentenan yang berkah itu.

Mengenai becek-an tadi, juga bisa Kalian sebut dengan menghadiri undangan (kondangan), namun tidak dengan tangan kosong. Sebenarnya di kabupaten tetangga (Tulungagung, Ponorogo) pun juga mempunyai kebiasaan yang sama. Entah siapa yang membawa kebiasaan ini sampai di tempat kita. Yang pasti, saya tidak sedang membahas masalah sejarah mbecek.

Sebelum hajatan manten berlangsung, jauh-jauh telah ada rangkaian panjang hingga sampai pada: di mana mempelai wanita dan memperlai pria bisa duduk bersanding di pelaminan. Pada umumnya, proses pertama yang terjadi adalah pacaran dulu antara lelaki dan perempuan, kemudian apabila mereka sudah saling mengerti dan merasa cocok, si perempuan atau si lelaki membawa kekasihnya ke rumah untuk diperkenalkan kepada orangtua. Selanjutnya, orangtua yang sudah menangkap ada sinyal-sinyal cinta di antara mereka, bakal menanyai di antaranya, seperti yang dulu saya alami: “Iki anakku wedok arep kok gawe tenanan apa mek kok gawe kancanan?” Bagi lelaki gentel seperti saya, pasti akan menjawab begini, “yoga panjenengan badhe kulo nikahi pak. Mugi panjenengan paring pangestu…” Nah, adanya dialog seperti ini lazim ditemukan pada pernikahan-pernikahan secara umum. Berbeda dengan pernikahan akibat LKMD (lamar keri mblendung dhisik) atau pernikahan paksa macam Siti Nurbaya, mungkin tidak ada dialog khidmat, yang bagi lelaki ingusan kadang bikin keder.

Lantas, apabila sang bapak dari cewek sudah setuju untuk menerima si lelaki sebagai suami anaknya, bapak dari cewek ditemani beberapa saudara, bahkan juga membawa “dongke” pergi mendatangi rumah si lelaki. Tentu jauh-jauh sebelumnya mereka sudah lebih dulu janjian. Kedatangan ini dimaksud untuk mengadakan lamaran kepada keluarga lelaki. Nah di Trenggalek, lamaran lazim dilakukan oleh keluarga perempuan kepada keluarga lelaki. Jangan tanya kepada saya mengapa ini berbeda dengan tradisi Islam (lelaki melamar perempuan), atau berbeda dengan tradisi di beberapa tempat lain. Pastinya saya tidak tahu jawabanya. Kan tadi saya sudah bilang, kalau saya di sini tidak mengupas sejarah mantenan.

Keluarga lelaki menerima lamaran, dan si dongke sampai di sini sudah mulai menggunakan rumus pitagoras untuk menghitung hari apa yang paling tepat untuk mengadakan pesta pernikahan. Memadukan antara arah rumah dari kedua pihak, neptu dan hari serta tanggal lahir kedua calon manten, lalu mengolaborasikan dengan penanggalan Jawa. Setelah itu, ditemukanlah hari terbaik dari hari-hari lainnya untuk mengadakan pernikahan. Perlu dicatat, peran dongke bisa berubah-ubah sesuai syarat dan ketentuan. Bisa jadi, dongke dari pihak lelaki dan dongke dari pihak perempuan beradu kelihaian dalam mengecak ilmu perdongkean. Terkadang perdebatan bisa saja terjadi.

Kalau keluarga dari pihak perempuan sudah datang melamar pihak lelaki, kemudian ada kun-bal (kunjungan balik) dari pihak lelaki ke rumah pihak perempuan. Tujuannya jelas untuk silaturahmi, dan untuk mempererat jagongan yang sebelumnya sudah terjadi. Kunjungan kali ini tidak melulu menjadi persoalan dongke, namun lebih pada obrolan bagaimana pesta pernikahan ini dilakukan. Bagi orang Jawa partikelir, kunjungan-kunjungan ini tidak afdol apabila tidak membawa beberapa makanan yang dipercaya menjadi pra-syarat rukunnya rumah tangga. Seperti jadah, tetel, jajan pasar dan lain-lain. Jadah memiliki tekstur lengkeh dipercaya dapat memper-erat hubungan antara kedua keluarga.

Jika dua pihak keluarga sudah sepakat menentukan hari pernikahan, maka pada hari yang telah disepakati itu, diadakan berbagai prosesi pernikahan yang melelahkan. Pesta pernikahan biasanya mula-mula berlangsung di rumah perempuan. Namun di rumah lelaki pun tidak kalah repot. Kedua belah pihak pastinya membuat kepanitiaan mantenan yang kadang bisa melibatkan orang se-RT: mulai dari laden mbarep, laden mburi, tukang sepen (peracik minuman), tukang isah-isah, tukang perlengkapan dan tukang-tukang yang lain. Kesatuan kepanitiaan ini disebut rewang. Orang yang hidup di Trenggalek pasti sudah pernah merasakan repotnya rewang ini, sebagai bentuk solidaritas antarwarga untuk nyengkuyung keberhasilan hajatan manten saudara atau tetangga dekat.

Saya sendiri sudah pernah menjadi manten. Bahkan di usia masih setara ABG ini juga sudah pernah mantu: menikahkan adik perempuan saya sebagai wakil dari bapak yang telah tiada. Jadi, secara pribadi, saya paham betul alur dari tetek bengek pernikahan di Trenggalek, khususnya di Watulimo.

Maka, jika kebetulan kamu saat ini sedang mumet membagi uang untuk mbecek karena banyak undangan, hal yang harus kamu pikirkan adalah kenapa mbecek selalu terjadi hampir berbarengan? Temukan pula jawaban, kenapa banyak orang hamil dalam waktu berdekatan. Ya, mungkin ini karena ulah di dongke-nya. Para dongke dari ujung wetan sampai ujung kulon memakai rumus yang sama, yakni rumus pitagoras perdongkean. Dan mereka selalu mematuhi rumus tersebut. Lebih banyak orang Jawa percaya jika sampai tidak mematuhi rumus-rumus tersebut, bisa menjadi pengundang bahaya bagi kedua mempelai, misalnya usia pernikahan tidak lama. Untuk itulah kenapa jika kebetulan kamu lahir di hari dan (weton) Wage dan pacar kamu lahir di hari (weton) Pahing, kamu bakal ditentang oleh orangtua dan para dongke. Itu weton di mana keduanya tidak boleh duduk bersama di pelaminan?

  • Roin Jozuna Vahrudin

    wis mbecek opo urong mas?

    • Dereng mas Roin. Kulo rodok nyingkrih