stupa-candi-borobudur

Apa yang membuat sebuah tempat menjadi tujuan wisata? Pertanyaan semacam ini bisa dijawab dengan berbagai alasan. Ingin mencari tempat berbeda; berharap mendapatkan pengalaman yang mengejutkan; ingin menikmati makanan yang berbeda, dan sebagainya. Paling tidak, alasan menuju ke tempat wisata selalu terkait dengan bagaimana orang memaknai sebuah tempat; bagaimana pengalaman terhadap sebuah tempat dirasakan dan dijalani.

Sebuah tempat bisa bermakna karena secara inheren sudah dilekati makna. Makna ini dibangun melalui narasi, mitos, sejarah. Banyak pula yang membangun makna atas sebuah tempat karena memori , kenangan atau emosi secara individual atau secara sosial. Memori secara individual maupun secara sosial ini mampu membawa orang mendatangi sebuah tempat dan menjadikan suatu tempat menjadi destinasi wisata. Apa yang membedakan ketika sebuah tempat diberi label destinasi wisata?

Tentunya ketika sebuah tempat disebut-sebut sebagai sebuah destinasi wisata, ada harapan yang ditebar bagi para wisatawannya. Sebuah tempat disebut sebagai tempat wisata tourist landscape diharapkan akan memberikan pengalaman berbeda, misalnya, dengan tempat tinggal, tempat bekerja yang sehari-hari yang dia alami. Lanskap berbeda akan memberikan pengalaman berbeda. Pemaknaan terhadap lanskap yang berbeda-beda ini dilakukan terus-menerus dan bersifat dinamis.

Pada umumnya, tempat wisata atau lanskap wisata dimaknai berbeda dengan lanskap kota cityscape, yang lebih dimaknai sebagai tempat untuk tinggal dan bekerja sehari-hari; sebagai tempat yang lebih berorientasi fungsional. Lanskap wisata atau touristscape melekat makna fungsi tempat yang tidak sama dengan tempat yang biasa dialami, yang berorientasi sebagai tempat untuk dinikmati.

Kombinasi bagi kedua kategori lanskap inipun banyak dilakukan di wilayah perkotaan, seperti di Jakarta misalnya. Menghindari problem jalanan yang macet parah di saat orang pulang bekerja, membuat orang kreatif melihat peluang dengan menciptakan tempat wisata semacam coffee shop, atau pusat-pusat kebugaran di tempat-tempat strategis sehingga orang bisa menghabiskan beberapa jam untuk singgah dan melakukan aktivitas yang berguna daripada terjebak macet berjam-jam di dalam kendaraan.

Dalam upaya membuat tempat wisata menjadi tempat yang layak kunjung, pemerintah daerah memberi label suatu tempat dengan “destinasi wisata.” Apa yang membedakan ketika diberi label “destinasi wisata”? Tentu saja urusan tidak selesai hanya dengan menuliskan di papan petunjuk jalan atau papan nama destinasi wisata anu dan destinasi wisata bla… bla… bla…

Menciptakan “destinasi wisata” membawa konsekuensi untuk membangun sebuah tempat menjadi bernilai untuk dikunjungi, bisa jadi karena keunikannya, atau ada hal-hal yang spesial yang tidak ada di tempat lain. Destinasi merupakan suatu tempat yang bukan hanya tempat yang berbeda . Untuk memahami pentingnya suatu tempat yang disebut destinasi sebagai lawan dari sekadar sebuah ruang, perlu dipahami imajinasi geografis. Imajinasi geografis ini membangun semangat atau ruh dari sebuah tempat, genius loci. “Ruh” yang mampu dirumuskan dan dibentuk dengan baik mampu mengubah sebuah tempat menjadi sebuah destinasi. Bahan-bahan untuk membangun genius loci ini memadukan unsur sosiokultural dan historis masyarakat setempat. Ketika unsur historis lebih menonjol, maka wisata ini disebut sebagai memory tourism.

Wisata memori ini merupakan jenis wisata yang banyak dibangun dalam masyarakat kontemporer. Jenis wisata ini mempunyai banyak keunggulan dibandingkan dengan wisata jenis lain, seperti wisata alam. Selain karena unik dan bisa diperbarui, wisata memori (memori kolektif dan memori sosial) dalam skala lebih luas, bisa memberi wahana literasi dan edukasi mengenai sejarah maupun narasi-narasi lain yang ingin disosialisasikan.

Tembok Berlin, Checkpoint Charlie, Jewish Memorial Park (memperingati pembantaian orang-orang Yahudi oleh Nazi) dan taman tempat memperingati Genosida “The Sinti and Roma” 1933-1945, adalah contoh wisata memori yang membuat Berlin menjadi destinasi wisata yang setiap hari dikunjungi ratusan orang. Kenangan dan sejarah kelam yang pernah terjadi di sebuah kota menjadi narasi yang diceritakan secara efektif dan abadi melalui berbagai lanskap wisata yang tersebar di kota. Literasi terhadap sejarah pun berjalan di tempat-tempat publik.

Wisata memori juga bisa muncul dalam konteks sosial dan budaya yang berbeda. Banyak masyarakat modern yang tinggal di kota mengalami krisis memori –baik memori kolektif maupun individual—terkait proses modernisasi itu sendiri. Perubahan gaya hidup yang diproduksi oleh modernitas seringkali membawa kerentanan yang memunculkan sentimen nostalgia. Lemahnya ikatan tradisional, hilangnya rasa memiliki mendorong masyarakat untuk mencari strategi baru untuk berpartisipasi dalam proses-proses reproduksi sosial.

Komodifikasi nostalgia bisa dianggap salah satu strategi ini dan turisme menjadi wilayah yang paling menarik di mana kita bisa mengamati proses komodifikasi emosi ini. Bisa Anda amati, berbagai wisata kuliner yang mengusung wacana tradisional seperti “Warung nDesa”, “Dapur Nenek “, “Bumbu nDesa” yang sukses mengkomodifikasi nostalgia akan makanan “kenangan.”