perahu-kunting

Kapal atau perahu merupakan alat transportasi tak terpisahkan bagi nelayan. Perahu  memiliki peranan luar biasa bagi masyarakat pesisir dari zaman nenek moyang sampai nelayan zaman sekarang. Perahu adalah produk kebudayaan masyarakat maritim dalam mengais rezeki di laut. Perkembangan atau modifikasi perahu tidak bisa dihindari, dari yang semula memakai alat dayung dari kayu dan layar sebagai penggerak, hingga memakai mesin motor berkapasitas besar.

Dalam khazanah kebudayaan Jawa klasik, kajian kapal dan perahu yang dilakukan oleh Hasan Djafar (2009), dalam Kapal dalam Naskah dan Prasasti Abad XII-XIV: Mencari Bentuk Kapal Majapahit (Sebuah Survei Bibliografis). Djafar meneliti empat buah naskah Jawa Kuno dari masa Kediri, serta tujuh buah naskah klasik dari masa Majapahit yang berbahasa Jawa Kuno dan Jawa Tengahan, yaitu kakawin Nagarakrtagama, Arjunawijaya, Sutasoma, kidung Harsa-Wijaya, kidung Rangga Lawe, kidung Sunda, kidung Pararaton, serta sebuah naskah berbahasa Sunda kuno, termasuk Bujangga Manik.

Di antara empat buah naskah Jawa kuno dari masa Kediri (Abad XIII) adalah Adiparwa, Hariwangsa, Wirataparwa, dan Bhomakawya. Dalam Adiparwa, Hariwangsa, dan Wirataparwa ditemukan kata parahu. Sementara dalam Bhomakawya ditemukan kata jukung dan jong (jung). Dalam kakawin Nagarakartagama dan kitab Pararaton ditemukan kata perahu. Di Harsa-Wijaya ditemukan kata jong dan parahu. Temuan kata-kata seperti parahu, jukung dan jong dari naskah klasik itu bisa memperkuat bukti bahwa dalam naskah sastra klasik, kapal dan perahu menjadi alat pelayaran jalur maritim, baik untuk melakukan perjalanan perdagangan, maupun alat transportasi mencari rempah-rempah serta untuk penangkapan ikan.

Peneliti lain, Ismail Ali (2009: 58) dalam kajian berjudul The Culture of Outrigger Boat in the Malay Archipelago: A Maritime Perspective, mengatakan adanya kata perahu pada era mesolitik. Adanya cerita dalam kesusastraan Melayu dan Jawa klasik ini semakin jelas bahwa kapal dan perahu sebagai alat untuk berlayar nenek moyang kita dari negeri ke negeri; serta dari pulau ke pulau. Dari jalur maritim inilah penyebaran ilmu perahu, alat-alat tangkap ikan dan perahu semakin masif. Apalagi Nusantara merupakan negara kepulauan dengan 17.000 pulau tersebar di seluruh penjurunya. Perkembangan perahu pun jelas merata sampai di kawasan pesisir lain, sampai juga di pantai selatan, di Pantai Prigi misalnya. Yang perkembangan perahunya sangat membantu nelayan lokal dalam mengais rezeki di musim ikan.

Cikal Perahu Kunting

Pada Sabtu-Minggu (15-16/10) kemarin, komunitas G9 mengadakan laga exhibition balap dayung dengan tajuk Prigi Fest Exhibition. Acara tersebut menarik animo peserta dan ribuan pengunjung. Sebanyak 38 peserta balap dayung perahu tradisional. Perahu kunting  ikut serta memeriahkan laga ketangkasan balap dayung yang digelar di lokasi jembatan kembar di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN), Prigi. Dari 38 peserta itu bukan atlet profesional, melainkan para nelayan setempat yang memang sudah terbiasa menggunakan perahu kunting. Para peserta harus menaklukkan lintasan sepanjang 200 meter untuk mecapai garis finis. Untuk sampai di garis finis, bukan perkara mudah bagi para nelayan peserta balap. Mereka harus melawan arus serta angin yang kencang, dan tenaga  yang dibutuhan juga harus prima, mengingat mereka bukan atlet profesional.

Namun sejatinya gelaran balap dayung  tersebut bukan untuk memperebutkan besarnya hadiah, tetapi dengan menghadirkan kembali perahu kunting semacam mengingat bagaimana nelayan Prigi memakai perahu tersebut. Perahu kunting dahulu menjadi bagian dari kehidupan nelayan Prigi. Kehadiran perahu kunting di tengah modernisasi bahan perahu merupakan aksi menjauhkan lupa, bahwa perahu kunting, dahulu sangat berjasa bagi masyarakat pesisir. Generasi yang lahir tahun 90-an, jelas tidak mengetahui manfaat kunting. Mereka tahunya hanya perahu slerek yang bermesin motor. Oleh karena itu, menurut Anjar Priadi Putra, ketua G9, “Balap dayung ini bertujuan melestarikan kearifan lokal nelayan Prigi.” Sisi lain, gelaran di tengah padang bulan dan sepi musim ikan merupakan hiburan tersendiri bagi nelayan dan masyarakat sekitar. Yang jelas, kita sedang bernostalgia dengan peralatan berlayar orang dahulu.

Kawasan laut selatan Prigi ini sebelum dirombak habis dan dibangun menjadi Pelabuhan Prigi Nusantara (PPN), memang lebih akrab dengan perahu berukuran kecil yang sering disebut kunting. Kunting menjadi peralatan utama bagi para nelayan. Perahu kunting berasal dari kata Jawa Kawi, yang artinya pendek dan lebar (kapal) atau bisa bermakna jenis kapal kecil tertentu (Maharsi, 2009: 319). Sementara Andaya (2004: xv) menulis, kunting merupakan perahu penangkap ikan. Mereka hanya memanfaatkan dayung sebagai penggerak, kadang juga ditambah layar. Kunting berkapasitas satu orang dengan bantuan tenaga manusia, dan lokasi operasi di sekitar Teluk Prigi saja. Dengan peralatan tradisional tersebut, nelayan lokal sudah mampu mendapatkan ikan berkelas, sejenis ikan tuna, GT, ikan kakap, ikan kerapu juga ikan layaran.

Di sela-sela istirahat acara balap dayung, saya sempat berbincang dengan Soekarno atau akrab disapa Bero. Dengan alat tangkap dan perahu tradisional, nelayan setempat tidak lupa bersyukur selepas mendapat hasil. “Zaman dulu saban mendapat hasil tangkapan, para nelayan Prigi ini mengadakan syukuran, mengundang tetangga, terutama ketika ikan layaran sebagai hasil tangkapan.” Lanjutnya, “nelayan Prigi sekitar tahun 1980-an, menangkap ikan memakai perahu kunting dan masih memakai pancing. Saat ikan terkena mata pancing, unsur magis juga digunakan untuk meluluhkan perlawanan ikan ketika ditarik ke atas perahu,” cerita Pak Bero.

Sedang saat ini, nelayan yang mencari ikan menggunakan perahu kunting sudah tidak banyak lagi. Di daerah Prigi, perahu kunting hanya ada di kawasan Pantai Cengkrong dan Pantai Karanggoso. Di Pantai Prigi, kunting sudah habis. Mayoritas telah beralih pada perahu bermotor. Nah, karena itulah “hajat” balap dayung (perahu kunting) memang sengaja untuk men-ziarahi tradisi nelayan Prigi zaman dahulu. Perahu yang merupakan cikal bakal perahu nelayan pantai selatan, khususnya Pantai Prigi ini.

Kita hidup di era modern, yang menawarkan segala kemudahan dan teknologi semakin canggih. Alat transportasi pun juga mengalami perkembangan yang sangat pesat. Peralatan mencari ikan juga mengalami perubahan signifikan. Di daerah Prigi, kapal atau perahu juga mengalami perubahan. Yang awalnya memakai perahu kunting, semakin ke sini, memakai mesin motor. Menurut Pak Bero, Romo Logano merupakan orang pertama yang memperkenalkan alat tradisional ke alat modern pada nelayan Prigi, seperti mesin kapal Porse Seine (Slerek), yang didatangkan dari Sulawesi-Maluku.

Zaman semakin berubah. Laut semakin ganas. Cuaca juga semakin tidak menentu. Modifikasi dan teknologi tidak bisa dihindari. Perahu tradisional, kunting, telah mengalami perubahan bentuk. Yang dahulu menggunakan bahan kayu, sekarang menggunakan bahan baku fiber glass. Sebab, kunting yang terbuat dari fiber glass dinilai lebih efisien. Ditambah lagi semakin banyaknya perahu menggunakan mesin bermotor. Adanya mesin penggerak berwujud mesin motor dan perahu kunting berbahan fiber glass, seakan mendegradasi keberadaan dan jumlah kunting berbahan kayu. Kunting menjadi perahu langka. Oleh karena menampilkan dayung atau kunting di tengah-tengah generasi yang doyan pop culture serasa mengajak menziarahi kearifan lokal yang dahulu menjadi cikal bakal perahu yang dipakai oleh nelayan Prigi.

  • Sepertinya gambar di atas memberikan firasat..

    • Muhammad Choirur Rokhim

      firasat tidak baik ye mas Trigus?

  • Roin J. Vahrudin

    Demen baca ini karena saya memang kurang pengetahuan tentang perahu.
    Terima kasih mas Rokhim.

    • Muhammad Choirur Rokhim

      Aku juga baru ngerti loh mas Roin setelah dapat cerita dari Pak Bero kalau kunting itu sangat berjasa pada perut-perut nelayan lokal, termasuk nelayan Prigi. Biiyen ngunu kunting kui dadi perahu seng digawe nengah: gawe mancing lan ngibarne jaring

  • Mundi Rahayu

    Perahu-perahu “kunting” yang digunakan di wisata ‘pasar apung’ (di Batu) itu juga termasuk pop culture lho..:)

    • Muhammad Choirur Rokhim

      Batu, Malang kah bu yang dimaksud itu? Berarti inovasi dari perdagangan dalam merawat peninggalan tradisi leluluh. Hihihi