Putu

Nguuuung… suara ini terdengar sangat khas. Ini bukan suara hewan atau suara kereta api berbahan bakar batu bara itu. Suara tersebut adalah suara yang dihasilkan oleh uap air keluar dari lubang-lubang kecil di kuwali. Suara khas dari jajanan putu (biasanya masyarakat menyebutnya phutu) yang hampir setiap hari menjelajahi jalanan perkotaan di Trenggalek.

Penjual putu tidak perlu mengenalkan produknya melalui corong pengeras, seperti penjual jamu atau tahu bulat yang kini sudah merambah kota ujung selatan Jawa. Tak perlu berteriak thuuu… atau putuuuu… putuuuu…  Namun hanya suara dihasilkan dari potongan bambu kecil yang diletakkan di atas lubang kuwali, sudah sangat mewakili bahwa ada penjual putu yang sedang lewat di sekitar kita.

Kue putu pun tidak bisa serta-merta diakuisisi atau berasal dari kota manapun juga negara manapun. Keberadaan putu sudah ada sejak dahulu. Sewaktu istri saya masih TK, penjual putu sudah ada. Nyaris setiap hari dibeli olehnya, lantaran harganya murah, rasanya enak dan mengenyangkan. Bagi pelajar zaman dulu, apa yang lebih membahagiakan selain jajanan yang mengenyangkan ini. Karena untuk memburu rasa dan kenikmatan, dia harus mau kelaparan berhari-hari saat di sekolah: mengumpulkan recehan demi recehan untuk membeli somai, misalnya.

Kue putu, masih eksis sampai sekarang. Meski penikmatnya bukan lagi anak-anak muda seperti dulu. Tapi lebih banyak orang tua yang ingin mengenang masa lalu. Mungkin warna, rasa, tekstur dan suaranya yang khas juga mengingatkan sesuatu. Suara hasil dari kreativitas penjual kue putu pun masih sama seperti dulu.

Kue putu adalah jenis makanan Indonesia berupa kue yang berisi gula Jawa dan parutan kelapa. Bahan yang paling mendominasi dari makanan ini adalah tepung beras butiran kasar. Tepung beras ini apabila dipanaskan berubah menjadi gumpalan lembut, dan jika digigit bersamaan dengan gula Jawa dan parutan kelapa tadi, akan membentuk rasa khas, yang hanya bisa ditemui pada kue putu tersebut.

Siang itu, saya berkumpul di markas besar nggalek.co, bersama beberapa kawan serta tamu. Gelak tawa yang kami hasilkan selama beberapa jam, ditambah perdebatan ngalor-ngidul, membuat perut saya begitu lapar. Perut yang sedari pagi belum terisi, kembali mengingatkan indera pendengaran dengan membuat bunyi krucuk-krucuk serta mengingatkan indera perasa dengan rasa liyer di perut. Sungguh, meski kondisi seperti ini kerap kali saya jalani, namun siang itu rasanya berbeda. Lapar yang sudah sampai pada puncaknya, otomatis membuat otak terpaksa memikirkan apa yang bisa saya makan.

Di tengah-tengah keiginan untuk segera makan, terdengar suara khas putu dari kejauhan. Meski agak jauh, suara itu berhasil masuk ke dalam indera pendengaran dengan amat jelas. Mungkin saja rasa lapar telah membuat semua menjadi peka. Macam oknum pejabat yang selalu peka terhadap dana yang bisa dimakan, meski itu bukan haknya. Dan di sini, saya peka suara putu karena rasa lapar juga.

penjual-kue-putu-3

Tanpa berpikir panjang, ketika penjual putu lewat tepat di depan mabes. Saya bergegas menghampiri. Namun, untuk menghampiri penjual putu, perlakuan saya tidak seperti saat saya menghampiri calon istri waktu pertama kali dulu. Saya tidak perlu mengeluarkan aroma khas tubuh untuk dapat memikat sang calon istri supaya klepek-klepek. Untuk menjumpai penjul putu, saya hanya perlu mengeluarkan bau abab (nafas) yang khas, penanda bahwa bau mulut ini adalah bau kelaparan.

“Pinten pak setunggal?”  tanyaku.

“600 rupiah mas,” jawabnya.

Wah murah, batinku. “Nek ngaten 5000 mawon, Pak”

Bukan, bukan karena saya pelit hanya membeli putu sedikit . Itu bukan alasan yang menjadi prinsip. Itu karena isi kantong yang tinggal 5000. Dengan harga 600 per biji, seharusnya uang 5000 hanya mendapatkan 8 biji. Namun karena aroma kelaparan yang sudah saya keluarkan semenjak awal, membuat penjual putu (mungkin) iba. Saya diberi 10 biji. Alhamdulillah.

Segera penjual yang lupa saya tanyai namanya, membuatkan putu. Diambilnya potongan bambu kecil dari tempatnya, sehingga suara khas yang tadi dihasilkan, akhirnya berhenti. Kuwali berisi air yang sebelumnya sudah dipanasi dengan kompor gas, sudah siap untuk digunakan untuk memasak.

Diambilnya potongan bambu yang mempunyai lubang seukuran jari telunjuk dan ibu jari orang dewasa ketika disatukan ujungnya. Kemudian dia buka laci yang tersembunyi dibalik gerobaknya. Laci tersebut berisi tepung beras kasar. Diisinya potongan bambu dengan tepung beras sampai separuh, diambilnya gula Jawa (gula Jawa bisa dari nira aren atau nira kelapa—orang lokal menyebutnya badek) yang sudah dicampur dengan air supaya mudah untuk dibagi-bagi, lalu ditaruhnya di atas tepung beras. Kemudian diambilnya lagi tepung beras untuk mengisi separuh kekosongan tabung dari bambu. Jadi di tengah-tengah tepung beras ada gula jawa.

penjual-kue-putu-2

Potongan bambu yang sudah berisi adonan tadi kemudian diletakkan di atas lubang kecil kuwali. Tempat di mana uap air keluar. Begitu penjual putu mengulanginya sampai lubang-lubang kecil kuwali penuh tertutupi oleh potongan bambu.

Sekitar 7 menit, bahan-bahan yang berada di tabung alami dari bambu sudah matang. Sang penjual mengambil satu persatu, di-sogok-nya (memasukan sesuatu kepada lubang) untuk mengeluarkan putu yang telah matang. Putu tadi di letakkan di kertas minyak. Setelah selesai, barulah parutan kelapa ditaburkan di atasnya. Dan, putu telah siap untuk disajikan.

Artikel Baru

Artikel Terkait