Dear, Mas Emil.

Salam hormat, Mas Emil. Semoga Mas Emil sekeluarga senantiasa berada dalam lindungan Tuhan YME. Terlebih, melihat aktivitas Mas Emil akhir-akhir ini yang selalu siap dan sigap menangani berbagai bencana yang menghampiri Trenggalek. Semoga Mas Emil diberi kesehatan dan kekuatan lahir-batin.

Mas Emil, di penghujung tahun 2016 ini, izinkan saya untuk menyapa Mas Emil lewat surat ini, sekaligus sebagai catatan penutup saya untuk akhir tahun.

Mas Emil…

Beberapa waktu lalu, dalam sebuah sarasehan di Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, Sampean menantang pemuda Trenggalek untuk berani menjadi petani. Sampean mengaku prihatin melihat sedikitnya pemuda sekarang yang berminat menekuni profesi pertanian. Padahal, lanjut Sampean, petani memilik jasa yang sangat besar terhadap kehidupan bangsa.

Menurut Mas Emil, kecilnya minat bertani di kalangan pemuda disebabkan persepsi bahwa petani merupakan pekerjaan kelas bawah. Karenanya, kecuali kepepet, menjadi petani sama sekali bukan pilihan. Pola pikir seperti itu harus diubah. Bahwa petani bukanlah pekerjaan rendahan. Profesi petani sejajar dengan profesi lainnya. Dari situ, Mas Emil menantang para pemuda untuk mau menjadi petani!

Beberapa waktu kemudian… Di media sosial, saya menjumpai sebuah poster yang segera ramai jadi pembicaraan. Poster tersebut bertuliskan “Warga Trenggalek Dilarang Miskin!”, dengan logo Pemkab Trenggalek di bawahnya. Saya penasaran. Benarkah “larangan” tersebut diterbitkan oleh Pemkab? Saya cari-cari referensi dan informasi resmi mengenai kebenaran poster tersebut tak kunjung dapat. Sampai kemudian, Mas Ipin mempostingnya ke dalam sebuah WAG, dengan penjelasan yang singkat namun cukup lugas. Dari situ, saya jadi percaya bahwa poster tersebut benar-benar diterbitkan oleh Pemkab.

Singkat kata, setelah menantang pemuda Trenggalek untuk ‘berani’ bertani, Mas Emil juga melarang warga Trenggalek untuk miskin!

Baiklah, Mas Emil, dan Mas Ipin… Jika memang demikian, saya terima tantangan Mas Emil! Saya siap bertani, dan saya juga sangat siap untuk tidak miskin!

Saya tidak sedang berpretensi untuk asbun (asal bunyi), apalagi main-main. Mbah-mbah saya adalah petani. Menyekolahkan anak-anaknya hingga bahkan tamat pendidikan tinggi juga dari hasil pertanian. Meskipun yang disekolahkan mbah saya tadi, yakni orangtua saya pada akhirnya tidak berprofesi sebagai petani. Namun karena dalam tubuhnya mengalir “gen petani”, ia menghiasi pekarangan rumah dengan berbagai tanaman seperti lombok, bawang merah, empon-empon, dan sejenisnya. Sementara saya, saat ini, meski tidak setiap hari, biasa pergi ke sawah untuk membantu merawat tanaman palawija dan holtikultura milik keluarga. Selama ini, tanaman yang biasa kami budidayakan—selain padi—antara lain juga jagung, kedelai, cabai, mentimun, kacang panjang, gambas, tomat, dan seterusnya.

Hanya saja, Mas Emil, saya kira naif jika dikatakan bahwa rendahnya minat pemuda terhadap dunia pertanian semata disebabkan anggapan selama ini bahwa petani merupakan profesi kelas bawah. Pola pikir demikian tak sepenuhnya salah sebenarnya. Namun yang lebih mendasar, tak lain adalah soal kesejahteraan.

Merujuk data BPS tahun 2013, hampir separoh (13 juta) dari total 28,07 juta penduduk miskin adalah petani. Itu artinya, petani merupakan penyumbang terbesar terhadap total penduduk miskin. Masih menurut BPS, rata-rata pendapatan sektor pertanian sebesar Rp12.413.920/tahun atau kurang lebih Rp1.034.500/bulan (bandingkan dengan UMR tahun yang sama).

Demikian pula jika dilihat dari Nilai Tukar Petani (NTP) —yang merepresentasikan kemampuan petani untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari— yang sangat fluktuatif, bahkan mengalami tren penurunan pada tahun 2016, di tiap bulannya. Pada Januari 2016, secara berturut-turut NTP turun 0,27 persen (Januari); turun 0,31 persen (Februari); turun 0,89 persen (Maret); turun 0,51 persen (April); naik 0,43 persen (Mei); turun 0,08 persen (Juni); dan turun lagi 0,08 persen menjadi 104,59 pada bulan Juli.

Dari sekilas gambaran tersebut, secara ironi, tak berlebihan jika saya katakan bahwa profesi petani yang sampai hari ini merupakan mata pencaharian terbesar penduduk negara yang terkenal gemah ripah loh jinawi ini, juga menjadi salah satu tulang punggung perekonomian—dengan sumbangan PDRB-nya yang terbesar ketiga— masih jauh dari kata sejahtera. Dan karenanya, tidak bisa (mungkin belum) dijadikan tumpuan masa depan pemuda. Maka, “wajar” jika jumlah petani berkurang hampir 500 ribu tiap tahunnya. Juga, lahan pertanian yang menyusut 100 ribu hektar tiap tahun, sehingga, banyak kalangan mengkhawatirkan terjadinya krisis pangan di Indonesia.

Tapi, meskipun demikian, Mas Emil tetap menantang saya dan pemuda Trenggalek lainnya untuk menjadi petani. Tantangan Mas Emil agar saya dan pemuda Trenggalek lain mau bertani, sementara kondisi pertanian kita masih seperti ini, menjadikan saya yakin, bahwa Mas Emil bukan asal menantang. Lebih-lebih jika mengingat bahwa program pembangunan pertanian, Mas Emil prioritaskan di nomor urut dua pada visi dan misi Mas Emil kemarin. Belum lagi, sekilas yang saya tahu, Mas Ipin juga mempunyai visi yang progresif di sektor pertanian, dengan membentuk “tim bayangan” —saya sebut demikian— yang selama ini juga fokus pada program-program pertanian kerakyatan. Saya yakin—mengingat analisis Mas Emil bahwa pertanian tanaman pangan di Trenggalek kurang prospektif— akan ada lompatan-lompatan aksi yang disiapkan Mas Emil dan Mas Ipin untuk pembangunan pertanian Trenggalek, yang ujungnya nanti, apalagi kalau bukan kesejahteraan petani Trenggalek. Ya meskipun, reformasi birokrasi yang Mas Emil jalankan tidak memunculkan wajah baru nan segar di leading sector pertanian.

Singkat kata, saya memahami, sampai penghujung 2016 ini Mas Emil telah berjuang keras untuk memperkenalkan Trenggalek keluar. Maka, menyongsong tahun 2017 mendatang, izinkan saya untuk menaruh harapan yang lebih besar. Bahwa sektor pertanian di Trenggalek, yang selama ini sebagai penyumbang PDRB terbesar Trenggalek, semakin diperhatikan, yang pada akhirnya bisa dijadikan tumpuan masa depan yang cerah dan terang bagi saya, dan pemuda Trenggalek yang lain.

Demikian surat ini, Mas Emil. Semoga bisa menjadi pelepas penat Mas Bupati di sela-sela liburan natal dan tahun baru 2017 ini.

Salam hangat,

Androw Dzulfikar

Trenggalek, 25 Desember 2016