Setahun sudah, hampir berlalu dari hadapan kita. Sejak Januari lalu kita telah mengukir berbagai hal dalam kehidupan, baik yang tertulis dalam kisah-kisah bagus maupun yang tertulis dalam lembaran-lembaran buruk. Semua menjadi adonan kehidupan yang tidak dapat dihilangkan atau dipisahkan dari liku-liku hidup manusia. Bahkan, menjelang berlalunya tahun 2016 ini, masih ada sebuah kisah yang tetap menjadi harapan karena belum menjadi kenyataan.

Saya hidup di sebuah kabupaten yang katanya menyimpan “gemah ripah loh jinawi”. Tidak jauh dari anggapan bahwa tanah di kabupaten ini subur dan makmur. Namun sejauh yang saya ingat, kendati ungkapan-ungkapan itu mengabarkan kebaikan pada tanah warisan Minaksopal, diujung 2016 ini, tetap ada lembaran buruk yang terpaksa harus kita saksikan.

Mari kita mengingat, supaya kita mampu menggali apa yang telah terjadi; supaya umpatan itu tidak hanya datang ketika banjir dan kemarau panjang datang; supaya kita tidak hanya memohon keselamatan saat-saat longsor tiba, atau saat-saat jalanan Kranding berubah menjadi lahan yang siap disebari benih jagung. Kata orang, ini disebut refleksi atau bagi orang yang terbiasa membuat program, mungkin disebut evaluasi.

Tahun 2016, Trenggalek memiliki pemimpin baru. Pemimpin muda dan kabarnya berbakat. Disebut-sebut doktor lulusan Jepang—karena keberuntungannya lahir dari keluarga “ber-uang”—yang ahli dalam pembangunan. Tak jauh-jauh dari usia bupatinya, usia wakil bupati Trenggalek, dijabat oleh pemuda juga. Menurut orang-orang, diyakini sebagai pemuda energik penuh perhatian kepada masyarakat. Dikabarkan pula tidak mau memakan harta gajian dari jabatannya sebagai wabup—karena dia sudah punya harta warisan hasil kerja keras orangtuanya, yang kemudian dapat dikelolanya dengan baik. Dan memilih untuk menyumbangkannya ke badan amil zakat.

Secara ideal, sepatutnya kita bangga dan takdzim terhadap kekuatan baru yang muncul dari pemuda-pemuda ini. Faktanya, masih berdarah yang nyambung kepada moyang-moyang Trenggalek. Masyarakat bangga dan mencintai pemimpinnya. Mereka mengharapkan lebih banyak. Sifat suguh, aruh lan lungguh yang dijanjikan semenjak dari pertarungannya di podium politik, telah memberikan keleluasaan pada masyarakat untuk mengadu bahwa listrik di tempatnya padam, atau mengadu jalan di sebelah rumahnya rusak. Berarti ini adalah kabar baik, dapat ngudari anggapan ketidak-terbukaan pemimpin sebelumnya kepada masyarakat.

Dua orang pemimpin muda energik, di antara ratusan birokrat-birokrat tua, sedikit banyak dianggap mengganggu “konsentrasi pembangunan”. Setidaknya itu muncul dari suara-suara kalangan menengah ke atas. Pernah beberapa saat yang lalu, muncul surat kabar yang menganalogikan pemerintah Trenggalek, layaknya mobil dengan mesin super, namun memiliki roda tipis.

Apa yang bisa dilakukan oleh para birokrat-birokrat tua tersebut, sejatinya tecermin dari bagaimana pemimpinnya mengatur dan mengarahkan untuk menjadi lebih baik. Toh mempunyai birokrat-birokrat muda tidak juga menjamin adanya keberhasilan pembangunan jika mereka terjangkiti virus penjilat dan selalu mencari muka. Yang saat ini sudah lazim terjadi di mana-mana.

Tua muda-sama, mungkin kita perlu membuka lagi lembaran-lemabaran sejarah untuk mengetahui akan kebersamaan dan kepemimpinan yang penting itu. Dan ini adalah kabar baik, selama pemimpin mampu memegang kendalinya dan tidak terpengaruh oleh praktik bisikan-bisikan syaitan. Bukankah ada ujar-ujar “Omne tulit punctum qui miscuit” yang berarti orang yang dapat mencampur sesuatu yang berguna dengan sesuatu yang menyenangkan akan mendapatkan segalanya.

Gonjang-ganjing pergantian rezim lama dan pegantian rezim baru ini nyata-nyata telah ikut mempengaruhi alam Trenggalek untuk ikut gonjang-ganjing. Kenanglah kawan, di tahun 2016 ini, Trenggalek dihadapkan pada masa-masa sulit: banjir bandang yang terjadi di Kecamatan Munjugan sana, yang airnya mengikis bibir sungai hingga membawa larut bangunan sekolah. Apa Anda mendengar banjir yang melanda Gandusari, Kampak dan Watulimo? Apa Anda mendengar tentang longsor di Kecamatan Bendungan hingga tanahnya menindih rumah-rumah warga. Apa Anda mendengar tentang angin puting beliung yang sempat menampakkan diri di langit Trenggalek? Apa pernah mendengar “meme-meme busuk” kerusakan jalan Kranding dan Ngetal? Apa Anda mendengar kabar-kabar buruk itu?

Hal yang paling tidak saya dengar di tahun 2016 adalah tentang kabar DPR, orang-orang pribumi terhormat yang mulutnya pernah terbuka lebar di masa-masa kampanye, dan kini tak terdengar kabarnya. Entah karena tidak ada yang ingin mengabarkan kehidupan mereka, atau mereka tidak mau dikabarkan. Yang pasti, saya tidak akan membicarakan mereka karena tidak adanya kabar. Dan ini saya sebut sebagai kabar buruk di antara kabar buruk lainnya. Karena Anda pasti akan kecewa saat ada orang minta suaramu dengan sungguh-sungguh dan setelah Anda beri suara, dia menghilang. Mirip Kanjeng Gentong yang berjanji melipatgandakan kesenangan namun tidak kunjung terpenuhi saat Anda membutuhkannya.

Ini adalah catatan saya, yang berusaha mengenang berbagai hal di tahun 2016. Anggap saja ini refleksi atas apa yang telah kita lalui. Jika Anda tidak berkenan, tidak usah dibaca.

BERBAGI
Artikel sebelumyaBerkunjung ke Desa Wisata Dompyong
Artikel berikutnyaMendongengkan Suminten Edan
Trigus D. Susilo
Lelaki kelahiran Watulimo, Trenggalek. Sejak kecil bercita-cita menjadi "agent of change". Meski hingga saat ini ternyata tidak ada yang bisa dia ubah, bahkan untuk mengubah namanya sendiri.