nasi pecel trenggalek

Warung pecel Mak Rum, begitu orang-orang sekitar biasa menyebut. Warung itu terletak 100 meter dari rumah saya di Tugu. Setiap saya datang ke sana, saya akan disuguhi tata ruang yang tidak pernah berubah selama bertahun-tahun. Lantai ubin, tiga meja yang disusun melingkar, dengan rak kecil bertingkat berisi toples-toples krupuk, juga dapur di belakang yang asapnya kadang mengepul sampai ke warung bagian depan.

Mak Rum, si pemilik warung, akan menghadap ember-ember besar berisi sayuran, sambel pecel, sayur lodeh dan kerupuk. Ia dengan ramah akan menyapa para pengunjung dan meminta mereka untuk mengantri. Mak Rum biasa berbincang dengan pelanggan sementara mereka duduk-duduk sambil merokok atau makan gorengan. Ia perempuan tangguh yang lebih dari 30 tahun mengelola warung ini. Kemarin, ketika saya mengantri sambil  melamun, ia mengajak saya mengobrol. Seorang bapak tukang becak dan ibu tukang sayur lantas ikut serta dalam obrolan kami.

Warung tradisional memang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Perubahan gaya hidup serta daya beli masyarakat yang makin tinggi menjadikan warung tradisional sebagai salah satu peluang bisnis yang digemari. Warung ini menjadi tujuan bagi para pekerja yang tidak membawa bekal dari rumah atau orang-orang yang memilih untuk tidak memasak. Pada umumnya, mereka menjual makanan lokal seperti pecel, soto, nasi gegok dll. Tampilan warung juga beragam, tergantung modal si penjual serta lokasi usaha.

Ada yang dibangun di tanah sempit, menyusup di antara gang-gang lapuk berdiri bertahun-tahun tanpa “umbul-umbul” sebagai tanda pengenal. Pelanggan warung ini adalah para tetangga. Penghasilan warung hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun ada pula warung yang ketenarannya membuat si pemilik sampai harus membuka cabang di mana-mana. Usaha mereka jadi bisnis keluarga yang turun temurun sampai ke anak cucu.

Di kota kecil seperti Trenggalek, keberadaan warung tradisional belum tergusur oleh restauran modern yang menyajikan makanan luar negeri. Meskipun hari ini satu per satu mulai dijumpai rumah makan yang menjual menu makanan Jepang, Korea dan Amerika. Di sini, bisnis makanan nyatanya lebih aman ketimbang bisnis toko kelontong yang hari ini mulai dibabat toko modern ber-merek “mart“.

Di kota besar, restauran cepat saji misalnya, telah merajai selera lidah masyarakat. Mc Donald, KFC, Pizza huts adalah brand makanan impor yang berdiri di atas sistem besar para pemilik modal. Mereka dibangun di tempat strategis, memiliki cabang di mana-mana dan membayar mahal untuk jasa iklan. Di seluruh dunia, mereka membangun sistem manajemen ilmiah yang berprinsip pada gaya instan, cepat dan tepat. Kehadiran mereka menjadi salah satu ikon dari proses rasionalisasi yang berlangsung sepanjang abad ke-20. Dalam ruang masyarakat modern, makanan dan gaya makan telah menjadi penanda kelas.

Meski demikian, ada satu yang tidak kita temukan ketika makan di kedai makan modern itu, yakni sosok Mak Rum. Di Mc Donald, Ritzer dalam bukunya yang berjudul McDonaldization of Society mengkritik gelagat para karyawan Mc Donald yang tampak seperti robot. Mereka memakai seragam sama, gaya senyum yang sama serta ucapan kalimat yang juga sama. Pada pelatihan sebelum kerja, mereka disuruh menghapal kalimat yang perlu diucapkan saat melayani pelanggan serta harus mengatakan hal yang sesuai skript jika misalnya ada konsumen yang marah atau melakukan tindakan yang tidak seharusnya. Keramahan mereka adalah keramahan palsu yang sebetulnya hanya untuk memenuhi kepentingan daya prediksi dalam sistem manajemen perusahan.

Warung Mak Rum tidak memiliki desain interior dan eksterior yang senyaman restauran-resturan mahal. Namun kita akan menemukan proses interaksi yang lentur dengan sesama. Sosok Mak Rum akan menyapa pelanggan dengan keramahan yang tidak dibuat-buat, mengakrabi kita dan berusaha menghangatkan suasana di warung.

Setiap kali saya mengamati Mak Rum, saya membayangkan wajah para pemilik warung kecil di perkotaan. Mereka sosok “Si Lemah” yang sedang berlari terengah-engah mengejar zaman yang makin berpihak pada “Si Kuat.” Pagi buta mereka bangun, bergulat dengan udara dingin, menyiapkan dagangan yang hasilnya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Sementara di restauran-resturan mahal, kita menemukan setumpuk ironi dari sebagian besar manusia yang ingin disebut modern. Di saat itu, hati saya berubah dingin. Perkataan Hamsun dalam novelnya yang, “Lapar”, terngiang-ngiang di kepala, “harapan yang dibuat tinggi-tinggi hanya untuk dihancurkan. Harapan yang dibuat tinggi-tinggi hanya untuk dihancurkan.” Lalu satu suara membangunkan saya.

Nak, kuliah e wis bar?

Saya tersentak dan menjawab dengan malu-malu. “Nggeh, sampun.

Wah, lha kok wis bar lak kuliah. Cepet, ya…” sahut seorang tukang becak.

Dari belakang, seorang ibu tukang sayur menyahut sambil mengambil rempeyek dari toples. “Ancen kowe ra melu ngopeni ya ketoro cepet.

Lantas mereka tertawa. Saya cuma tersenyum kecil. Kebekuan dalam diri saya tiba-tiba lenyap bersamaan dengan keyakinan bahwa perkataan Hamsun tidak benar.