“Beri aku 10 pemuda dan akan kuguncang dunia,“ begitu kurang lebih kata-kata Presiden RI pertama, Soekarno. Kata-kata yang menunjukkan bahwa ia memiliki kekaguman yang luar biasa terhadap usia muda. Tidak bisa kita lupakan bahwa para tokoh dan pemikir terbentuknya republik ini juga adalah para pemuda. Kita juga pasti sangat ingat bagaimana semangat dan antusiasme para pemuda menyongsong kemerdekaan. Saking bersemangatnya, para pemuda sempat “menculik” Soekarno agar mau segera memproklamasikan kemerdekaan.

Sejak dahulu sampai sekarang, negeri ini tak pernah lepas dari kiprah para pemuda. Momen Sumpah Pemuda misalnya adalah salah satu aksi dari wujud keberadaan para pemuda yang hingga kini masih dikenang. Para tokoh bangsa mulanya adalah pemuda-pemuda yang memiliki visi luar biasa untuk negerinya. Bung Karno, Tan Malaka, Bung Hatta, Pak Dirman, Bung Tomo, di antaranya, adalah sebagian kecil saja contoh bagaimana kiprah mereka di masa mudanya dengan tindakan-tindakan besar itu, tetap dikenang.

Setelah kemerdekaan, beragam tokoh pemuda muncul dari berbagai bidang. Chairil Anwar dan Soe Hok Gie juga adalah pemuda dengan kiprah besar, yang sayangnya meninggal di usia emasnya. Mereka berdua telah membuktikan diri di bidang kesusastraan disebut sebagai tokoh pembaharu sastra dan aktivis berbagai lapangan pergerakan untuk negerinya.

Keberadaan pemuda tak bisa diremehkan. Mata rantai kelangsungan peradaban suatu bangsa, ada di tangan para pemuda. Seperti yang sudah diibaratkan oleh Bung Karno di pembuka tulisan ini. Keberadaan pemuda berkualitas, meskipun kalah dalam hal kuantitas. Mereka akan mampu mengungguli para kawula tua yang meski unggul secara kuantitas. Pemikiran-pemikiran yang segar dan ide-ide cemerlang biasanya dilahirkan oleh barisan orang muda. Pemikiran ini tentu akan menghasilkan suatu gebrakan dan gerakan yang belum tentu terpikirkan oleh rombongan generasi sebelumnya.

Dewasa ini, tokoh pemuda juga masih digandrungi dan mewarnai berbagai bidang. Bukan cuma para artis sinetron ataupun selebriti. Sebagian mereka juga aktif di bidang olahraga, politik, ekonomi dan aktivitas lainnya. Banyak pejabat pemerintahan yang kini juga diisi oleh para pemuda. Sebut saja yang kerap muncul di televisi adalah Ridwan Kamil, Zumi Zola, Bupati Dharmasraya (bupati termuda di Indonesia) juga bupati dan wakil bupati Trenggalek (wakilnya termasuk termuda di Indonesia). Ini cukup menunjukkan kepada kita bahwa eksistensi pemuda masih terus berlanjut. Dengan pendidikan, wawasan, pengetahuan dan keahlian yang dimiliki, para pemuda ini, kerap menawarkan sesuatu yang baru.

Eksistensi pemuda ini juga tak hanya dominan di kota-kota besar. Di berbagai desa di Kabupaten Trenggalek, peran pemuda tak bisa diremehkan. Karang Taruna sebagai wadah di tingkat pedesaan bisa berperan ikut memfasilitasi aktivitas para pemuda dalam menyalurkan semangat, aspirasi dan kontribusi mereka. Meski, ya tidak semua Karang Taruna mampu berperan sebagaimana mestinya. Kolaborasi antarpemuda di satu desa dengan berbagai latar , pengetahuan dan keahlian masing-masing, jika mampu di-mix dengan baik, pasti akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Di Desa Slawe, Watulimo misalnya, Mas Puji adalah Hayam Wuruk-nya Karang Taruna Mardi Utama. Beliau sosok pengarep para pemuda di desa tersebut. Setiap akan terjadi gejolak di Karang Taruna, ia selalu bisa menenangkan gelombang ini meski bertubi-tubi. Berbagai negosiasi dengan pihak lain, selalu saja mampu dan berhasil dilaksanakan. Komunikasi yang baik dengan berbagai pihak adalah salah satu kemampuannya.

Jika ada Hayam Wuruk, Mas Luhur tentunya adalah representasi dari seorang Mahapatihnya, yakni Gajah Mada. Jika Hayam Wuruk sebagai simbol dan pembuat kebijakan, maka Gajah Mada adalah eksekutor berbagai kebijakan sang raja. Di tangan Mas Luhur, berbagai kegiatan Karang Taruna berjalan sukses. Tak hanya urusan administrasi dan teknis, tapi ia juga mampu mengkoordinir kelompok kerja-kelompok kerja yang ada.

Mas Teguh, sungguh saya tak bisa melihat orang lain selain beliau untuk mengurusi perkara administrasi. Mas Hardi lain lagi. Ia selalu mampu diandalkan ketika Karang Taruna Mardi Utama berhadapan dengan kendala pendanaan. Selalu ada ide dan inovasi yang beliau terapkan untuk keberhasilan tugas-tugasnya.

Mas Danang. Ah, membicarakan tokoh yang satu ini, selalu saja menyenangkan. Jika pemuda Desa Slawe ingin belajar bagaimana bertanggung jawab dan totalitas dalam berkarya, ia bisa dicontoh.

Mereka hanya sebagian saja dari banyak pemuda luar biasa di Desa Slawe. Kolaborasi mereka mampu menginspirasi yang lain untuk melakukan yang terbaik sesuai kemampuannya masing-masing. Banyak ide dan hal-hal baru yang mereka tunjukkan. Keberadaan mereka memperkukuh persatuan di kalangan pemuda, khususnya di Desa Slawe. Kolaborasi mereka sudah terbukti dalam berbagai kondisi dan situasi. Tak hanya di “dalam ruang”, namun juga di “luar ruang”. Sudah banyak kegiatan Karang Taruna Desa Slawe yang berhasil dan sukses ketika mereka manghayu bagyo.

Apakah yang dilakukan oleh pemuda-pemuda tersebut adalah hal yang sepele? Tidak. Secara kasat mata mereka mungkin “hanya” melaksanakan kegiatan-kegiatan seperti Karang Taruna sebagaimana yang lain. Mendapatkan dana dari pemerintah kabupaten, mengelola, menggunakan, serta memanfaatkan untuk desa mereka. Tapi, lebih dari itu mereka telah memberikan semangat, antusias dan kebahagiaan bagi seluruh warga Desa Slawe.

Oh ya, ada yang suka dengan olah raga bola voli? Orang-orang muda di atas sebentar lagi juga akan memanitiani turnamen bola voli di desa mereka. Nonton, yuk!