langkir memandangi sunrise dari puncak ngrancah

Kejutan-kejutan yang dihadirkan Tuhan itu bermacam-macam bentuk dan waktunya. Kadang kita mendapati sesuatu yang luar biasa besar menghampiri, namun kadang sesuatu yang kita anggap remeh mampu memberikan kejutan yang luar biasa, seperti beberapa hari kemarin.

Pada Sabtu, belum tengah hari, seorang kawan, Trigus, mengirim pesan melalui aplikasi chat di HP. Isi pesan adalah ajakan untuk kemah (begitu ia menyebut kegiatan muncak). Di hari itu juga, dan saat itu juga. Mungkin terkesan biasa, tapi ternyata adalah salah satu hal luar biasa yang mampu memberi kejutan.

Bukan apa-apa, selain sok sibuk mengurusi nggalek.co (sebagai web master), ia juga salah satu pengelola paditren.com, sebuah situs jual beli gagasan anak-anak Trenggalek, yang memberi wadah bagi UMKM Trenggalek memasarkan produk-produk terbaiknya. Ya tiba-tiba saja, tak ada kabar apakah kepalanya terbentur atau baru kesetrum juga salah minum kopi, kok ia mengajak muncak ke salah satu puncak gunung tertinggi di Kecamatan Watulimo.

Tenanan kowe ki, bro!? Tanya saya padanya.

“Kowe kudu siap lan gelem. Aku iki budal nang Watulimo.”

Pelajaran pertama: kejutan kadang datang dari orang yang menyebalkan

Begitu pesannya sebelum ia sampai di rumah saya. Setelah itu, susah ia  saya hubungi. Banyak pertanyaan yang ingin  saya ajukan. Apakah ia benar-benar, dengan ajakannya itu? Apakah ia sehat? Kalau iya, apa ia sudah mempersiapkan segala kebutuhannya? Sejak pesannya masuk ke HP, otak saya dipenuhi pertanyaan.

Selepas tengah hari,  saya dengar suara motornya ada di depan tempat kerja saya. Ia tiba. Tak menunggu lama, belum sempat  saya persilakan duduk, sebelum saya suguhkan kopi, ia saya berondong pertanyaan tentang ajakannya untuk muncak di Ngrancah. Ia bersungguh-sungguh, jawabnya. Justru karena jawaban itu, rasa terkejut saya bukannya hilang malah semakin besar. Dan anehnya, saya pun mengiyakan keinginanannya.

Setelah menguhubungi beberapa kawan untuk menemani, akhirnya hanya kawan kami yang bernama Saiful—kami biasa memanggilnya dengan panggilan “Langkir”—yang siap untuk menemani. Saya menebak, ia ikut muncak bukan sekadar ikut-ikutan tapi sebenarnya ia juga membutuhkan semacam penenang. Selain urusan pekerjaan, apalagi kalau bukan urusan asmara yang selalu dapat meng-galau-kan kehidupan. Nah, kebetulan kami mengajaknya untuk ikut muncak. Pas, kan?

Saya dan Trigus berangkat hanya berbekal jaket, sarung, kopi Jimat—itupun tanpa membawa gula—dan air minum. Ketika kami menghampiri ia di rumahnya yang memang searah dengan jalan menuju puncak, ia geleng-geleng melihat persiapan kami.

“Hoalah cah-cah, kowe ki kiro-kiro kok arep ngrepoti aku.” Mungkin begitu gumamnya dalam hati.

Pelajaran kedua: ketika ingin bermalam di alam, tak perlu bawa gula

Mungkin karena ia tergolong pria yang halus perasaannya, mudah tersentuh, ia pun tak tega jika ia tak menemani kami ke puncak. Ia pun bersedia repot untuk kami. Matras, sabit, kenceng, dan tali ia siapkan. Menjelang senja kami berangkat bersama ke puncak. Sengaja perjalanan kami ke puncak kami lalui dengan santai sembari menikmati suasana yang sama sekali berbeda dengan keseharian kami. Setelah melewati Tumpak Waru kemudian Tumpak Pandan, kami semakin menikmati jalanan yang naik-turun dan meliuk-liuk, tebing-pepohonan di kanan kiri, halus-kasar permukaan jalan aspal, semen dan tanah, senyum masyarakat desa dan keramahannya. Tak bisa dilupakan tentunya adalah dingin yang semakin jauh perjalanan kami, semakin ia membalut kuat tubuh kami.

Keluar dari jalan desa, jalanan tanah menanjak langsung kami lewati. Jalanan yang sepatutnya dilewati oleh motor trail, sore itu kami lewati dengan motor matic-nya Trigus yang suara knalpotnya seperti orang teriak kehabisan napas; dan Langkir dengan motor GL yang ban depan maupun belakangnya terpasang ban yang seharusnya berada di aspal, bukan di tanah. Jarak kurang lebih 100 M dari lokasi puncak, saya turun dari boncengan sengaja jalan kaki untuk lebih menikmati pemandangan yang ada di selatan, Teluk Prigi.

Pelajaran ketiga: bermotor di alam, patuhi rambu-rambu lalu lintas

Jika kita berjalan ke arah lokasi puncak, sebelah kiri menghadap ke selatan adalah jurang. Di tepinya terpagari semak dan rerumputan. Sebelah kanannya adalah tanah hutan yang dikelola oleh warga sekitar. Lebar jalan muat untuk kendaraan roda empat. Di bahu jalan sebelah kanan terdapat tanah yang sedikit lapang dan tempat itulah yang kami gunakan untuk bermalam di puncak. Tanah lapang dan kebun warga dibatasi oleh pohon-pohon Waru yang ketika siang bermanfaat sebagai payon bagi siapa saja yang beristirahat di sini.

Sampai di lokasi nge-camp, tanpa komando, masing-masing dari kami melakukan yang seharusnya dilakukan. Trigus dan Langkir mempersiapkan tenda yang sangat sederhana, yaitu terpal yang dipasang seadanya yang penting bisa melindungi ketika hujan. Sedangkan saya mencari ranting-ranting dan rerumputan kering untuk membuat api unggun. Tepat ketika senja pekerjaan kami hampir selesai, tinggal memasak air untuk menyeduh kopi Jimat meski tak ada gula. Meski senja waktu itu kabut begitu tebal, dari puncak terlihat samar lampu-lampu rumah warga yang menyala.

Di puncak, tidak dapat kami bantah bahwa kawan kami, Langkir  adalah orang yang paling terampil dalam urusan “menginap” di alam terbuka. Sebelum berangkat saja ia sudah menggerutu kepada kami, bukan perkara ajakan kami yang mendadak tapi gara-gara kami yang tak mempersiapkan apa-apa. Yang awalnya kami mengajak ia untuk menemani, pada akhirnya dialah yang menemani kami.

Pelajaran keempat: ke gunung, jangan ajak orang cerewet

Menjelang malam, ketika hujan, kami kedatangan kawan lain, Marvin dan Dade. Seorang pejuang yang ngotot dan seorang remaja pencari jati diri. Kami bersyukur atas kedatangan mereka berdua. Selain gula, mereka juga membawa makanan ringan yang setidaknya mampu mengganjal perut kami yang kelaparan. Kami makan, menyeduh kopi, menikmati kretek dan ngobrol ngalor-ngidul.

Menjelang tengah malam hujan berhenti. Kami keluar dari tenda yang sederhana, menata terpal dan matras mengelilingi api unggun melanjutkan obrolan yang dimulai dari dalam tenda. Suasana datar menjadi lebih semarak dan penuh dengan tawa keceriaan disebabkan oleh perdebatan Marvin dan Dade. Antara si ngotot dan si ngalen. Meski terdengar remeh dan konyol, namun perdebatan mereka sepertinya perlu juga dibahas oleh pemangku kebijakan di kabupaten ini. Semakin asyik kami ngobrol, semakin jauh dingin membawa kami dalam nikmatnya malam.

Semakin malam, langit semakin terang dengan gemintang yang mulai tampak. Kabut yang tadinya begitu tebal sedikit berkurang dan kami dapat menikmati luar biasanya pemandangan Watulimo ketika malam. Intensitas obrolan yang semakin menurun menyebabkan kami semua tak tahu pukul berapa kami tertidur. Langkir, saat kawan-kawannya tertidur dan kedinginan hingga nggreweli ia menjaga api unggun tetap menyala agar kami semua tetap hangat. Ketika terjaga, kulihat ia mondar-mandir mencari ranting kayu yang dapat dibakar.

Pelajaran kelima: bermalam di alam, bawalah helm

Kami terbangun oleh suara motor yang Dade nyalakan, tanpa peduli kawan-kawannya yang masih menikmati hangatnya sarung, ia menarik tuas gas motornya semakin kencang. Entah apa maksudnya. Kami semua terbangun. Menikmati matahari terbit. Indah. Dan Langkir? Ia kebelet buang hajat.

Salam Lestari!