Dahulu di Desa Prambon ada tiga bukit (sering disebut gunung oleh masyarakat setempat) yang membentuk garis dari timur ke barat. Ketiga bukit tersebut masing-masing bernama Gunung Putih, berada di sebelah timur; Gunung Slakar, berdiri di sebelah barat ; dan yang terletak di tengah bernama Gunung Jamal.

Ada cerita yang beredar di masyarakat sekitar, bahwa Gunung Putih dan Gunung Slakar selalu bermusuhan. Sementara Gunung Jamal, gunung kecil yang berada di antara keduanya, selalu menjadi gunung yang melerai kedua gunung yang lain.

Cerita yang berasal dari Desa Prambon, Kecamatan Tugu, ini dahulu beredar dan kini mulai dilupakan. Dan memang, letak ketiga bukit atau gunung tersebut berada di Desa Prambon, desa yang punya budaya lokal (kesenian) berupa Upacara Sinongkelan.

Percaya atau tidak, begitulah cerita yang diwariskan oleh leluhur Desa Prambon kepada anak-cucunya. Saya tidak tahu di mana letak pesan moral yang ingin disampaikan dalam legenda tersebut. Namun sejauh ini, setelah saya bertanya-tanya, saya belum menemui orang yang bisa menjelaskan makna di balik cerita atau legenda tersebut. Yang pasti, sebagai orang Jawa yang menjunjung tinggi kearifan dan etika lokal, sekaligus sebagai anak muda yang lahir di dunia modern, saya tidak ingin menelan mentah-mentah cerita pertengkaran kedua gunung itu. Meski juga tidak ingin mengabaikan begitu saja cerita tersebut, dengan mengategorikannya sebagai cerita tahayul. Bagaimanapun, mbah-mbah kita pintar dalam membuat sanepa, bukan?

***

Beberapa waktu lalu di Desa Prambon, Kecamatan Tugu, tepatnya di Dukuh Pakel, terkena musibah kembali. Musibah itu berupa tanah bergerak yang mengakibatkan longsor. Sepatutnya menjadi kesedihan kita bersama, sebagai warga Trenggalek. Mengingat beberapa bulan ini, Trenggalek banyak diuji dengan bencana. Mulai dari banjir, longsor, angin beliung dan bencana lain. Tentu bencana ini selalu membawa dampak kerugian bagi warga. Seperti yang terjadi di Desa Prambon, akibat tanah molet (meliuk) ini, warga sekitar harus diungsikan.

Setidaknya ada 2 RT yang berada dalam radius bahaya: yakni RT 39 dan RT 40. Terpaksa petugas yang tergabung dari beberapa unsur harus melakukan evakuasi dan mengungsikan puluhan warga ke tempat aman. Alhamdulillah-nya, petugas tanggap darurat bencana yang tergabung dari beberapa unsur ini sudah siap sedia. Menurut keterangan warga, sebenarnya pergerakan tanah ini sudah terprediksi. Namun puncak pergerakan terparah terjadi pada tanggal 3 Maret 2017 pukul 11.oo WIB lalu.

Saya dan beberapa kawan melakukan reportase ke sekitar lokasi bencana. Dampak dari pergerakan tanah ini nyata-nyata telah menumbangkan beberapa pohon dan melorotkan tanah. Tampak bongkahan-bongkahan tanah di titik bencana. Lokasinya sangat dekat dengan rumah warga, sehingga harus dilakukan evakuasi dan pengungsian.

Lokasi pusat tanah bergerak di Desa Prambon.

Sebelumnya, tidak jauh dari titik pergerakan tanah, sudah terjadi longsor. Tepatnya, berada di sebelah selatan dari lokasi bencana yang terakhir. Namun bekas-bekasnya sudah tidak kentara lantaran buru-buru ditanami pohon jati dan tertutup rumput liar. Meski begitu, perubahan topografinya masih nampak. Yang semula menanjak, kini agak lapang. “Semoga dari penanaman ini bisa sedikit mengamankan tanah supaya tidak longsor lagi,” tutur Mukhlis, warga sekitar lokasi.

Disadarkan Bencana

Mencermati Desa Prambon memang asyik, karena pemerintah setempat sedang mengupayakan untuk mengenalkan Upacara Sinongkelan kepada masyarakat luas. Selain itu, di Desa Prambon, tengah terjadi pengerukan tanah yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Jangan tanya kepada saya apa isi kandungan yang ada pada tanah tersebut, namun saya bisa menyaksikan secara langsung truk gandeng berlalu-lalang dengan memuat tanah dari Prambon, juga truk truk kecil yang membawa tanah dari lokasi pengerukan untuk dikumpulkan di suatu tempat.

Dengan mata telanjang, ketika menuju daerah terdampak bencana kemarin, saya bisa menyaksikan sendiri bukit-bukit yang telah dijamah oleh pemodal besar, untuk dikeruk keuntungannya. Bukan bermaksud untuk memunculkan api di tengah ilalang kering, namun jamak diketahui, bahwa pengerukan tanah tersebut memang ada dan sedang terjadi. Ada lokasi pengerukan yang masih aktif dan ada juga yang sudah ditinggalkan. Beberapa tanah yang dikeruk dan sudah ditinggalkan tersebut, letaknya di sebelah barat, tidak jauh jauh dari lokasi bencana. Sedang lokasi tanah yang masih aktif dikeruk berada di timur lokasi bencana. Tepatnya, di Bukit Jamal.

Maka sampai di sini, ijinkan saya sedikit berteori. Mencoba mencari sebab musabab bencana di tanah Prambon dari sisi mistik dan otak-atik gatuk. Dan yang perlu sampean ketahui, saya bukan ahli sejarah, apalagi ahli geologi.

Dalam sebuah tulisan di jurnal, seorang mahasiswa Unesa, Anugrah Octarianti membahas panjang lebar mengenai ritual Sinongkelan. Dan yang menarik perhatian saya adalah mengenai pesan sanepa dari Kanjeng Sinongkel. Sanepa yang keluar dalam bentuk woro-woro sayembara berbunyi:

Godhong murep dilumahne
Pasang Jagang, Pasang Gawar Pagrogolan, Pasang Bencok, Pasang Jaring
Udheng Gadhung, Brongsong Nongko, Nyothe Keris Ora Keno

Pasang Jagang, Pasang Gawar Pagrogolan, Pasang Bencok, Pasang Jaring  dalam jurnal tersebut dijelaskan berarti seperti ini: Siap siaga membuat kode atau tanda dalam berburu, meyiapkan perangkap dan tidak boleh teriak dengan suara lantang, serta menjaga keharmonisan alam sekitar

Kalimat menjaga keharmonisan alam sekitar sengaja hurufnya saya tebali untuk mengingat kembali pesan leluhur dalam sanepa tersebut. Pesan dari Kanjeng Sinongkel ini terucap saat mengumumkan sayembara untuk mencari kidang kencono, prasarat upacara yang akan digelar.

Jauh-jauh hari, para leluhur telah berpesan kepada cucu-cicitnya untuk menjaga keharmonisan alam sekitar. Menjaga berarti memastikan bahwa alam tidak rusak; dan harmonis berarti lelaku hidup harus bersahabat dengan alam. Namun menyaksikan tanah Prambon saat ini, rasa-rasanya belum sepenuhnya bisa disebut hidup harmonis dengan alam serta menjaganya. Jika kita bisa menghormati kisah perjuangan Kanjeng Sinongkel dan menelurkannya dalam upacara Sinongkelan, lalu kenapa kita tidak bisa menerapkan apa yang dipesankan oleh Kanjeng Sinongkel tersebut?

Kejadian tanah bergerak dan sikap memandang sebelah mata kepentingan menjaga kelestarian alam, serta malah cenderung merusaknya untuk mendapatkan keuntungan, tentu menjadi alasan dari teori otak-atik gatuk saya tadi.

Kembali pada cerita tentang perkelahian Gunung Slakar dan Gunung Putih yang selalu dilerai oleh Gunung Jamal. Dan kini Gunung Jamal sedikit demi sedikit sedang diratakan dengan tanah, maka tidak ada lagi yang bisa melerai pertengkaran dua gunung tersebut. Secara nyata, area di sekitar Gunung Slakar kini terdampak tanah molet. Slakar menurut riwayat cerita adalah gunung yang dipakai bertapa Kanjeng Sinongkel untuk mencari wangsit. Dan dari sana pulalah upacara sinongkelan itu bermula. Jadi, sebagai orang sok mengerti yang telah menulis artikel ini dengan logika otak-atik matuk, saya sangat yakin sekali, bahwa bencana di Tanah Prambon, adalah bencana yang sedikit-banyak berhubungan dengan penambangan tanah bertahun-tahun itu, demi keuntungan segelintir orang, tanpa memperhatikan pesan moral dari leluhurnya. Mestinya, tak perlu harus disadarkan dahulu oleh bencana.

  • Marsub Taufik Has

    Mantaappppp….

  • Mas O’o

    gus, inbox nope ne Bayu Moonfang