Petuah-Berburu-di-Laut

Salah satu kebahagiaan hidup yang dia banggakan adalah terlahir di laut. Tepatnya di tengah laut dan disaksikan para pemburu hebat yang merupakan kolega ayahnya. Bagi mereka semua, laut adalah irisan dunia terberi dan terberkati dari Sang Maha Pencipta. Meskipun sebenarnya juga nasib, kenangan, dan perjuangan.

Ayahnya merupakan seorang pemburu ulung di lautan. Ia begitu disegani dan ditakuti karena didaku sebagai titisan para leluhur orang laut. Dan bagi ayahnya, melaut adalah garis takdir penuh rahmat dan bikin nikmat yang harus senantiasa terpenuhi. Makanya, hidup mereka telah menjelma jadi perburuan terus-menerus yang tak pakai batasan waktu luang. Waktu luang hanyalah milik orang-orang malas di daratan sebagai perkara kebosanan terselubung yang mengabaikan rahmat juga nikmat. Oleh karena itu, setiap kesempatan perihal bertahan hidup di laut justru harus digeluti selagi nafas hidup masih terembus dari Sang Maha Pencipta.

Namun, anak-anak seperti dirinya belum pantas terlibat dalam perburuan. Anak-anak itu masih kecil dan tugasnya hanyalah mendengarkan risalah dari orangtua mereka. Mereka mesti banyak belajar supaya bisa jadi pemburu berkelas. Sebab, berburu di lautan mahaluas itu sama seperti memperjudikan nasib sendiri. Jika salah langkah dan salah sasar, lawan akan datang mencederai balik. Bahkan membunuhmu dengan lebih sadis. Sehingga butuh kematangan dan disposisi hati yang mantap untuk larut dalam pertarungan.

Makanya, dia lebih banyak bersandar di perut ibunya lantas merunut setiap tutur kata yang dikeluarkan. Ibunya akan mendengungkan dongeng-dongeng tentang keperkasaan para nenek moyang mereka. Berbagai kisah heroik pertarungan dituturkan penuh alur dan dia mendengarkan dengan serius. Matanya tak bergerak, mencerna setiap jengkal kata yang keluar dari bibir ibunya.

“Aku ingin jadi pemburu hebat,” gumamnya dalam hati begitu cerita juga petuah terselesaikan.

Ibunya pernah berkisah mengenai pemburu bernama Martinus yang bergulat dengan para pemburu laut lainnya. Kala itu, Martinus berburu seorang diri. Dan tanpa diduga-duga, beberapa kawanan pemburu lain tiba-tiba datang menyerangnya. Hendak menghabisinya. Syukurlah Martinus berhasil selamat dengan menghabisi balik para penyerang.

“Dia membikin mati mereka semua meski harus pulang dalam kondisi sekarat.”

Memang begitulah kehidupan di laut. Ia adalah rahmat dan nikmat tapi sekaligus kiamat. Keperkasaan menjadi harga mati serentak supremasi tertinggi yang mesti diusung oleh para petarung dari negeri laut mana pun. Tentu saja, kau tahu, nyawalah yang menjadi taruhannya.

Anak itu bangga mendengar kisah tersebut. Martinus adalah buyutnya, kakek dari ayahnya. Dia pun berharap suatu saat nanti akan ada anak cucu yang menceritakan dirinya. Tentang petualangan-petualangan serunya. Tentang kehebatan-kehebatan berburunya.

Namun, hidup di laut tak selamanya berikan kepuasan batin terdalam. Selalu saja ada pertanyaan yang muncul dengan jawaban yang bikin penasaran. Bahwasanya ada kehidupan lain di sekitar dunia mereka dan tampak berbeda. Kehidupan itu rupanya bernama daratan. Dan berulangkali ibunya mengatakan bahwa semua makhluk yang hidup di daratan itu jahat, bebal, dan hanya membuat gelisah kehidupan orang-orang laut.

“Apakah orang-orang darat juga berburu seperti kita?” dia bertanya kepada ibunya.

“Ya. Dan justru mereka berburu dengan cara yang kurang ajar. Mereka seringkali memakai cara yang curang guna mendapatkan banyak tangkapan,” jelas sang ibu.

“Orang-orang darat hanya memikirkan perut mereka. Mereka tidak peduli pada keberlangsungan hidup barang-barang hasil buruan. Mereka itu serakah. Datang tak hanya membunuh, tapi juga merusak rumah orang-orang laut.”

Anak itu mengangguk-angguk mengerti. Dia pun tahu bahwa orang-orang darat selalu menggunakan apa yang namanya perahu sebagai rumah mereka kala berburu di laut. Lantas ibu dan ayahnya beserta tetek-bengek keluarga mereka sangat membenci kalau deru mesin perahu mulai terdengar di kejauhan. Itu adalah sirene pengingat bahaya. Sebab, keluarga itu bisa jadi target buruan para nelayan daratan.

Perlahan-lahan kebencian terhadap daratan – maksudnya orang-orang darat- tertanam di dalam kepalanya. Tapi, anak itu tetap saja larut dalam penasaran. Dari kejauhan, dia melihat makhluk-makhluk darat lalu-lalang di tepian laut. Mereka bermain pasir, menyalakan api, tertawa ria, dan berlari ke sana kemari. Tak jarang, dia juga melihat makhluk-makhluk darat itu menangis, bertikai, dan saling mencederai satu sama lain.

Namun, niat untuk mengetahui kehidupan daratan secara lebih dekat barangkali jauh panggang dari api. Itu karena ibunya tak pernah mengizinkannya bermain-main ke sana. “Bahaya selalu saja datang mengintai setiap saat, Nak. Orang-orang darat akan membunuhmu bila kau mendekat ke wilayah mereka,” tutur ibunya.

Dia tak bisa membantah. Sejak kecil, dirinya sudah diajarkan ketaatan dan kepatuhan terhadap orang tua. Kedua hal itu adalah modal mangkus untuk bisa jadi pemburu berkelas.

“Setiap petuah dan nasihat harus kau turuti. Kau masih kecil dan butuh banyak belajar. Ikutilah apa yang dikatakan ayah dan ibu biar kau bisa jadi pemburu luar biasa kelak.”

Hari demi hari berlalu, anak itu semakin mahir belajar menjadi seorang pemburu lautan. Ayahnya lah yang memberi pengajaran. Ketangkasan-ketangkasan sebagai pemburu mulai menjalar erat, misalnya bagaimana menangkap buruan secepat kilat atau cara menghindari lawan dan menyerang balik dengan sekali tusukan.

Ayahnya pun mulai mengajaknya ikut berburu. Dan dia menemukan banyak sensasi tak terduga setiap kali ritual perburuan digelar. Kadang tangkapan begitu mudah didapatkan, kadang butuh upaya keras untuk taklukkan mereka. Ia juga sadar bahwa musuh mereka bisa saja datang dari sesama pemburu dari babon keluarga lain. Lagi-lagi, di situ, nyawa menjadi taruhan, sebuah harga mati yang tak bisa diganggu gugat.

Setiap kali berburu, ayahnya juga selalu mengingatkan bahwa orang-orang darat dengan perahu bising mereka patut diwaspadai. Lebih tepatnya dihindari.

“Orang-orang darat suka mendapatkan tangkapan yang besar dan segar. Dan ikan-ikan raksasa seperti kita akan jadi tantangan tersendiri buat mereka,” demikian tutur ayahnya.

Pada akhir cerita yang kepalang singkat ini, kau harus tahu bahwa ini sebenarnya kisah tentang seekor anak ikan raksasa yang dijejali petuah-petuah bertahan hidup di lautan. Bagi anak ikan itu, melaut adalah memburu sesama bangsa mereka yang kecil dan tak berdaya. Tentang perkara ikan besar memangsa ikan-ikan kecil. Makanya, dia bangga terlahir sebagai predator dalam babon keluarga ikan raksasa. Sebagai anak lautan, dan bukan anak daratan tentunya.

 Pantai Koka, Oktober 2016

  • menarik sekali cerpen ini, baru tahu siapa tokoh utama sebenarnya setelah sampai titik paragraf terkahir.. kereeeen

  • Roin J. Vahrudin

    serasa mendapatkan air di tengah gurun