1-tahun-nggalek.co

Selama dua belas bulan mengeditori portal nggalek.co, banyak pelajaran yang bisa saya petik, meski juga ada pengorbanan waktu yang harus saya berikan. Satu hal, saya menyukai membaca dan menulis, pada hal lain saya punya pekerjaan sendiri yang harus ditata dan diselesaikan. Ketambahan dengan kerja editorial (yang tentu menyita waktu) demi ikut menyemaikan bibit maupun bakat (yang sudah ada, dari) penulis-penulis Trenggalek, yang memang sebagian sudah tumbuh. Sejak awal, saya memang telah mengambil keputusan itu: untuk mengarahkan tema-tema apa (sekaligus bentuk dan jenis tulisan seperti apa) yang boleh dimuat di nggalek.co, sesudah rasanya tak ada yang punya waktu dan tenaga lebih untuk melakukan itu.

Keputusan ini akhirnya membawa konsekuensi pada: pengembalian, pemotongan, hingga pada penolakan terhadap banyak tulisan yang ingin tampil, tapi belum memenuhi syarat-syarat yang sejak awal dipatok. Tentu saja ini berat. Di satu sisi harus melawan kekecewaan banyak orang, pada sisi yang lain juga terhambat oleh akan kian sedikitnya yang mau dan mampu menulis topik-topik yang telah ditentukan. Padahal yang akan aktif menulis adalah anak-anak muda Trenggalek yang mayoritas bukan penulis: belum begitu terbiasa dengan dasar-dasar penulisan secara lebih memadai. Belum lagi, bahwa portal ini kenyataannya adalah salah satu dari banyak media yang editor dan para penulisnya tak dibayar. Alih-alih membayar para penulisnya, untuk membayari hostingan saja harus memasang papan reklame donasi di header website-nya. Portal ini memang digagas oleh banyak orang secara swadaya, kendati mengenai bentuk-bentuk tulisan yang mewarnainya, setahun ini berada dalam pengawasan saya sebagai satpam postingan-postingannya.

Lebih dari itu: saya di sini ingin mengabarkan bagaimana portal ini bisa bertahan selama setahun dengan keterlibatan banyak penulisnya, yang rata-rata juga sambil belajaran menulis. Untuk beberapa penulis, yang dalam taraf belajar itu (portal ini juga akhirnya menjadi ruang sinau membaca dan menulis bersama, dimulai dari hal-hal mendasarnya seperti membiasakan diri menggunakan kata baku, tanda baca dan ejaan yang berlaku serta kalimat efektif). Begitu pula sebenarnya dari sini, saya juga dapat belajar (bagaimana) mengedit lebih baik lagi. Nah, dari sekian penulis yang tampail untuk perkara produktivitas, saya salut pada beberapa nama yang sudah teruji, di antaranya M. Choirur Rokhim, Trigus Dodik Susilo, dan Roin J Vahrudin.

Sepanjang ini, ada sekian jenis tulisan yang masuk. Dan yang paling banyak adalah opini. Dari situ, saya ingin mengenalkan pada mereka keindahan menulis menggunakan reportase (bentuk-bentuk tulisan yang bisa dibilang dekat dengan feature). Sebuah tulisan yang berangkat dari apa yang mereka amati dan observasi di sekitar keseharian mereka. Secara khusus, lingkup kehidupan orang-orang Trenggalek tentunya. Reportase atau menulis feature sebetulnya juga adalah cara menuliskan objek dari dekat. Tak jarang, di antara para penulis ini berlangsung interaksi yang dekat, cair dan egaliter, untuk saling bertukar pikiran, mendiskusikan teknik penulisan gagasan yang ingin dituliskan, kemungkinan tema-tema yang bisa dieksplorasi lebih jauh, serta kecocokan dituang dalam bentuk tulisan apa. Tak ketinggalan, kita sering juga membahas hambatan-hambatan dalam menuliskannya. Sebab, perkara macet (writer’s block) bisa menimpa siapa saja, selain penulis yang sering menulis juga mereka yang tulisannya tidak selesai-selesai.

Untuk menyiasati ini, saya merekomendasikan kepada para penulis di nggalek.co, untuk memperbanyak tulisan reportase sebagai, salah satunya, cara mengatasi kehabisan ide yang ingin dituliskan. Dengan memperhatikan lebih jauh bagaimana tulisan feature ditulis, bukan cuma menuangkan uneg-uneg ke dalam opini, melainkan juga melatih diri menulis jenis tulisan yang berangkat dari pelaporan di lapangan, melalui teknik reportase itu (menuliskan apa yang kita saksikan dalam balutan cerita). Sekurangnya menulis dari pengalaman dan aktivitas keseharian, dengan menggunakan sudut pandang tertentu yang hidup. Sebuah tulisan yang berangkat dari kenyataan yang dilihat, dirasakan dan bahkan dialami, tanpa harus memaksakan diri menuliskan ide-ide abstrak di kepala sebagaimana saat mereka menulis opini atau gagasan murni.

Menulis tentang hal sekitar merupakan sarana mendekatkan perhatian kita dengan situasi sekitar. Mengajak mencermati dan menuliskan persoalan lingkungan di sekitar serta belajar mensistematisasikan jalan berpikir. Ini tentu tak akan bisa dilakukan dengan baik, tanpa serius memulainya. Meski ternyata bentuk-bentuk tulisan yang dihadirkan oleh nggalek.co kerap gagap dicermati oleh masyarakat pembaca. Tak jarang mereka “membaca” situs ini sebagai ruang yang menyajikan news: menganggapnya sebagai koran atau surat kabar online sebagaimana yang banyak mereka temui. Lantas banyak pembaca memperlakukan portal (sekaligus para penulisnya) sebagai koran dan wartawannya, yang harus meliput ini dan itu, yang sedang berlangsung di Trenggalek. Oh ya, sekali lagi, portal ini—meski jenis tulisannya beragam—adalah portal atau media opini, yang sebagian juga berisi kajian.

Sejak awal mematok tulisan, di antara banyak penulisnya telah mengerti bagaimana menulis opini, dan rata-rata tulisan yang masuk memang berbentuk gagasan (opini), dan banyak di antara penulis belum terbiasa menulis reportase (mengerjakan tulisan bentuk feature), apalagi esai. Lantas beberapa penulisnya mulai intensif berlatih menuliskan reportase, di antara mereka adalah Rokhim, Trigus dan saya. Kini keduanya saya kira sudah cukup piawai menulis feature, dan tak lagi cuma menulis opini. Sementara Rokhim sudah mulai banyak menulis bukan cuma opini dan feature, melainkan juga mewarnainya dengan tulisan esai. Sayangnya, esai-esai yang ia tulis masih sering sekadar menjajarkan kutipan tanpa lebih jauh mengolahnya. Kerap hanya potongan-potongan dari banyak buku yang dijadikan satu tanpa kepiawaian lebih jauh untuk mengeksplorasi.

Trigus Dodik Susilo punya kemampuan menulis dengan konsentrasi yang baik. Pemuda gingsul kesayangan istrinya itu, biasanya hanya cukup duduk di atas kursi menghadap laptop dan lantas memuntahkan semua yang ingin ditulisnya, baik reportase maupun opininya atau sekadar menggali ingatannya akan suatu peristiwa, lalu dimuntahkannya semua ke dalam tulisan. Dan tak kurang sekitar sejam kemudian, tersajilah muntahan tulisan itu. Dan hasilnya, sudah pasti amburadul. Tapi tetap berisi dan punya alur. Lalu sebelum diberikan ke saya, sering saya paksa ia untuk mengeditnya sendiri. Sebab, proses mengeditnya sudah pasti memakan waktu lebih lama daripada waktu menulisnya.

Mengenai Rokhim saya tak tahu proses ia menulis, karena tak bisa mengamati secara langsung, sebab ia lebih suka menulis semua tulisannya secara sembunyi-sembunyi (offline). Ia menulis artikel di rumahnya, di Prigi sana. Pemuda yang kini melancong tidak jelas ke Tangerang itu masih sering curhat perihal tulisan-tulisannya dan bagaimana seharusnya menulis, yang biasanya juga saya jawab sekenanya. Roin lain lagi, ia sepertinya adalah pemuda dengan rasa ingin tahu yang banyak. Ia seperti menganggap tidak telat mengetahui segala hal dengan batasan usia. Ini dibuktikannya dengan banyak membeli buku yang membuatnya penasaran. Yang saya tak habis pikir, ia sempat-sempatnya nge-print naskah buku saya dan membuatnya terjilid rapi layaknya buku cetak, katanya supaya mudah dibaca.

Beberapa nama penulis lain punya kemampuan menulis yang sudah sangat bagus. Androw Dzulfikar, Gilang Tri Subekti, Nur Mawadah, KW Lidhya Ningsih, Rihanan, serta Randy Mahendra di antaranya adalah penulis di atas rata-rata. Sayang sekali mereka malah jarang menghasilkan tulisan. Saat mereka menulis, hasilnya biasanya tinggal sedikit memoles (-edit) dan sudah bisa langsung tayang.

Saya ingat Borges. Ungkapan berikut saya parafrasekan dari tulisannya. Bahwa penulis-penulis kontemporer terlalu fokus untuk menulis secara revolusioner dan menjadi unik, padahal mereka perlu untuk kembali ke dalam dirinya sendiri dan memandang hal-hal di sekitarnya. Terlampau ingin melambung dan tak melihat tanah berpijak adalah sebuah kekeliruan. Mereka harus menghormati dan melihat warisan di sekitarnya, termasuk warisan tradisi dan hidup keseharian masyarakat yang ia harus tulis dan tak boleh abaikan. Dari situlah menulis secara “revolusioner” baru bisa tampak. Nah, celoteh Borges itu sepertinya sudah tak mempan untuk para penulis nggalek.co, karena mereka sudah melakukan apa yang Borges risaukan.

BERBAGI
Misbahus Surur

Kelahiran Munjungan, Trenggalek. Menulis buku Turonggo Yakso Berjuang Untuk Eksistensi (Yogyakarta: Syafni Press, 2013) dan menyunting buku Rengkek-Rengkek: Senarai Catatan dan Kisah (Per)jalan(an) di Kota Trenggalek (Trenggalek: Tuhālas Biblioteca, 2015).