lampu-di-pendopo-Trenggalek

Bagi Anda yang pernah singgah atau hidup di Trenggalek di awal-awal dilantiknya Bupati Trenggalek, pasti akan menyaksikan kelap-kelip lampu dengan berbagai warna dari sepanjang jalur hotel Hayam Wuruk hingga ke seputaran alun-alun. Lampu kecil dibungkus selang bening memanjang dan didominasi warna merah dan hijau tersebut, tampak gemerlap ketika malam hari. Pohon-pohon yang berdiri kokoh dan mengesankan seram pada malam-malam sebelumnya, telah berubah menjadi pohon penuh gemerlap dan dililiti lampu-lampu.

Pemandangan ini jelas menjadi kebanggaan pemerintah daerah dan masuk dalam daftar perubahan Kabupaten Trenggalek, sampai-sampai sempat ditayangkan dalam video 100 hari kepemimpinan Bupati Emil. Untuk mengindikasikan bahwa capaian 100 hari kerja menjabat bupati telah berhasil mengubah temaram di Kota Trenggalek menjadi gemerlapan ketika malam hari. Tentu, Anda dan saya, yang dulu juga memilihnya dalam pesta demokrasi merasa bangga, bukan? Iya, karena perubahan memang jelas dirasakan meski dalam representasi lampu-lampu tersebut.

Bukan hanya itu, selama saya menelusuri jalanan Trenggalek, lampu gemerlap tersebut juga dipasang di gapura-gapura kebesaran Trenggalek seperti gapura di Kecamatan Pogalan dan gapura di garis perbatasan Tulungagung-Trenggalek. Pantas jika saat itu pemerintah telah bangga dengan capaian ini. Toh sedikit banyak sudah membuat bahagia bagi rekanan yang telah memasangkan lampu tadi.

Bangunan-bangunan pemerintah juga tidak ketinggalan, seperti pendopo kabupaten dan kantor sekretariat daerah. Jika malam hari, kita pasti bisa menyaksikan wuwung-wuwung bangunan tersebut tampak ngejreng dengan dominasi warna merahnya, membentuk sketsa bangunan yang bersambung-sambung. Bagi saya, yang lama tinggal di desa, tentu kagum dengan lampu-lampu tersebut. Setidaknya kagum akan upaya pemerintah untuk mempercantik area pendopo Trenggalek dengan cahaya, sedang di pelosok-pelosok desa kabupaten, masih ada beberapa warga yang belum dapat menikmati cahaya lampu dengan mudah dan murah. Jangan bilang itu ironis, karena kita sedang membahas kebanggaan.

Apakah pembangunan harus sama rata atau menempatkan pembangunan berdasarkan kebutuhan. Saya hanya fokus pada perihal lampu-lampu ini sementara. Lampu yang saat ini sudah mulai meredup karena kurang perawatan.

Benar, jika kita saksikan saat ini di malam hari, lampu-lampu yang telah saya ceritakan di atas tidak lagi benderang seperti saat 100 hari kepemimpinan Bupati. Lampu merah hijau di perbatasan Trenggalek-Tulungagung misalnya, kalau dulu gemerlapnya bakal menyilaukan pemilik mata minus berkacamata, kini telah berubah menjadi kumpulan lampu yang hidup dan mati. Maksudnya, lebih banyak lampu mati daripada yang masih hidup.

Begitu juga lampu-lampu yang berada di sepanjang jalan depan hotel Hayam Wuruk sampai dengan tugu pancasila di alun-alun, jika dulu gemerlapnya mampu mengundang laron-laron, kini kembali meredup, dan menjadi pemandangan seperti sediakala. Yah meski gemerlap yang sempat singgah di mata tersebut  mampu menyenangkan sebagian orang, kini telah meredup dan tak mampu lagi memproyeksikan keberhasilan dalam membuat perubahan jaman dari kegelapan menuju terang benderang: oleh lampu.

Mungkin ini ada pengaruhnya dengan meredupnya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Oh sebentar, apa korelasi meredupnya lampu dengan meredupnya kepercayaan masyarakat? Secara teori tidak ada sama sekali hubungannya, kecuali masyarakat seperti saya ini, menganggap turunnya kadar kepercayaan masyarakat karena pemerintah belum berhasil membuat lampu itu terus menyala dan terlihat indah. Meski sebagian yang lain percaya itu karena  belum seriusnya para pengurus lampu memahami visi misi bupati dan menganggap bahwa urusan lampu adalah urusan remeh yang tidak perlu bupati turun tangan mengurusi.

Kita sadar bahwa kepala daerah kita memiliki jam terbang tinggi untuk membawa nama Trenggalek moncer ke seantero dunia. Kita tahu bupati kita memiliki agenda-agenda lain selain melulu mengurusi Trenggalek. Kita tahu bupati kita adalah kader partai, yang partai tersebut sangat membutuhkan ia untuk ikut kampanye di beberapa daerah untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat. Bupati kita tidak melulu mengurusi Trenggalek, karena ia dibutuhkan oleh masyarakat dunia juga karena kepandaiannya. Ia adalah insan perubahan, bukan pengurus lampu merah-hijau di Kota Trenggalek.

Jadi wajar jika akhir-akhir ini ada berita laporan salah satu organisasi ekstra kampus kepada DPRD Trenggalek  yang bersileweran di grup-grup facebook dan whatsapp dengan keluhan bahwa bupati sering menghadiri agenda non kedinasan. Wajar karena ini dianggap sebagai masalah, yakni harapan mereka tak sesuai dengan kenyataan yang ada. Dalam hati kecil saya, merasa senang dengan berita tersebut, lantaran adanya perhatian masyarakat kepada pemerintah. Siapa pun jangan menganggap itu pil pahit, sebaliknya anggap saja bahwa kita sedang berdemokrasi: sedang mencoba memerankan diri sebagai masyarakat demokratis.

Meredupnya lampu-lampu kota justru membawa perubahan berarti bagi Trenggalek, bahwa kritik-kritik dihidupkan, upaya perbaikan dijalankan, masyarakat mengawasi dan pemerintah semakin serius dalam mengemban mandat negara serta jujur dalam mengelola anggaran daerah untuk kepentingan daerah. Bagi saya, tidak mengapa lampu-lampu itu mati, bahkan tidak ada. Karena kepentingannya bukan untuk menerangi jalan namun untuk memberi keindahan, sedang keindahan itu juga tidak semua orang bisa merasakannya. Lampu tersebut memakan biaya, memakan daya listrik yang berarti memakan APBD Trenggalek. Di sisi lain, kemiskinan belum mentas sepenuhnya. Apa tidak lebih baik pemerintah fokus melepaskan belenggu kemiskinan ini ketimbang membuat keindahan. Karena bagaimanapun, jika masyarakat Trenggalek sudah sejahtera sesuai dengan visi misi Trenggalek, justru itu adalah keindahan sebenarnya.