Gambar dari beritajawa.com

Dalam tata bangunan rumah adat Jawa ada beberapa jenis bangunan kayu yang kita kenal, di antaranya adalah tajug, joglo, limasan, sinom, panggang pe dan omah setangkep. Tajug merupakan rumah dengan bentuk atap bertingkat, tempat mengheningkan cipta dan olah samadi. Dalam perkembanganya, pola bangunan tajug bermetamorfosis menjadi langgar, musholla dan masjid dengan tetap mempertahankan atap tumpang bertingkatnya.

Joglo adalah bangunan yang ditopang oleh empat saka guru, merupakan tempat pertemuan atau ruang tamu yang cukup luas dan terletak di bagian depan sebuah rumah. Saat ini banyak difungsikan sebagai balai pertemuan, balai dusun dan balai desa.

Sinom dan limasan merupakan rumah kayu yang ditopang oleh delapan saka guru, biasanya ruang dalamnya disekat oleh tebeng atau gebyok.

Panggang pe dan omah setangkep merupakan bentuk yang lebih sederhana lagi. Omah setangkep menggunakan dua lembar atap yang beradu di tengah, sedang panggang pe hanya terdiri dari satu lembaran atap saja.

Sebagai rumah tinggal, joglo, sinoman, dan limasan mempunyai beberapa ruang kecil yang disekat oleh tebeng atau gebyok. Ruang-ruang kecil yang lazim disebut senthong tersebut biasanya terdiri atas tiga bagian, yakni senthong tengah, senthong kiwa dan senthong tengen.

Selain sebagai tempat tidur, senthong juga berfungsi sebagai tempat mengheningkan cipta, tempat menyimpan jimat tolak bala, menyimpan barang pusaka dan tosan aji, serta menyimpan gabah, beras dan bahan-bahan pokok lainnya.

Setelah Islam berkembang pesat, banyak berdiri pondok pesantren dengan pola bangunan yang terinspirasi oleh tata bangunan adat Jawa. Pasraman, tempat asrama siswa sebuah Mandala pendidikan asli Nusantara berubah menjadi asrama padepokan. Untuk selanjutnya, berubah lagi menjadi asrama pondok pesantren. Perubahan vokal lidah Jawa dari padepokan cantrik-pemondokan, santri-pondok pesantren.

Senthong berubah menjadi gothakan: ruang-ruang kecil di asrama pesantren yang berfungsi sebagai tempat tidur sekaligus tempat mendaras kitab kuning, tempat ngopi, wahana diskusi di antara tumpukan buku serta jajaran lemari pakaian.

Senthong atau gothakan ini bukan sebuah kamar tidur biasa. Kamar tidur merupakan ruang paling privasi dalam tata bangunan versi kolonial yang merupakan tempat istirahat bagi si empunya rumah. Sedang senthong atau gothakan merupakan kamar tidur umum para santri yang di tiap ruang kecilnya bisa ditempati oleh lima sampai sepuluh orang santri, terkadang bahkan lebih. Lenyapnya nilai individualisme dan tumbuhnya rasa kebersamaan dimulai dari sini.

Kamar tidur gaya modern terpisah dengan kamar belajar. Sedangkan senthong ataupun gothakan sekaligus juga merupakan tempat belajar menulis dan membaca. Tumbuhnya kesadaran akan buku sebagai jendela dunia bermula dari sini.

Kamar tidur gaya masa kini terpisah dengan ruang makan. Sebaliknya, para santri seringkali makan bersama-sama di senthong/gothakan dengan beralaskan lengser, baskom, tampah ataupun daun pisang. Munculnya rasa persaudaraan (brotherhood) bersemai dari aktivitas ini.

Kamar tidur di rumah gaya minimalis pun harus terpisah dengan ruang tamu. Berkebalikan dengan senthong (gothakan) yang sekaligus berfungsi sebagai ruang tamu. Ukhwah Islamiyah, ukhwah basyariyah dan ukhwah wathoniyah sejak dini terlahir dari proses ini.

Kamar tidur sama sekali berbeda dengan warung kopi. Namun di senthong (gothakan) kami menganggapnya sekaligus sebagai warung kopi. Di kamar tidur yang bisa berdiskusi cuma sepasang suami istri. Tetapi di senthong kami bisa berdiskusi lintas generasi, lintas area lintas kampung halaman serta lintas disiplin ilmu hingga dini hari. Nalar kritis ditempa dari forum kecil ini.

Sempitnya ruang senthong bukanlah sebuah halangan guna mengerjakan banyak hal. Sempitnya sebuah senthong bukanlah rintangan bagi para penghuninya untuk merampungkan agenda harian berikutnya. Sempitnya ruang senthong justru merupakan daya lecut dan daya pacu yang menghasilkan daya dobrak luar biasa bagi perkembangan nalar kritis dan energi kreatif bagi para penghuninya.

Keterbatasan senthong menjadi wahana latihan dalam memperkuat daya tahan hidup. Alumni senthong, orang yang pernah merasakan hidup bersama di dalam senthong bisa dipastikan mempunyai daya survival di atas rata-rata. Senthong telah membentuk pribadi yang tangguh dan jiwa yang gemblengan.

Bahkan, para alumni senthong pun akan selalu merindukan pertemuan bersama sahabat lama di dalam sebuah senthong asrama pondok pesantren almamaternya. Guna mengambil energi positif dari rangkaian kumparan doa dan pengalaman spiritual kawan lama yang telah bertugas di dataran juang yang berbeda. Berkumpul untuk berembug, bertemu untuk menyatu, kembali pulang dengan sejuta kenangan.

Salam dari alumni senthong!