Desa tidak hanya memancarkan pesona kearifan. Apabila kita menjejak semakin jauh dan dalam, kita akan mulai merasakan sensasi unik dari nuansa mistisme yang khas hingga menyejukkan bulu kuduk. Tentang keyakinan-keyakinan bahwa alam itu berjiwa, serta tutur-tutur perihal makhluk tak kasatmata yang mendiami sebuah tempat yang sakral. Memang begitulah desa. Dengan segala pola tradisionalitasnya, desa mempunyai cara “tradisional” juga dalam mengkaji dan memaknai alam. Tidak sekadar tentang eksploitasi sumber daya, tapi juga tentang upaya penyatuan jiwa. Menggarap jengkal demi jengkal bumi dengan “kasih” karena ada kepercayaan bahwa bumi dan manusia mempunyai keterikatan, yang saling menjaga dan melestarikan. Bertukar mashlahat, bisa pula bertukar bencana, tergantung hubungan yang dibina. Perilaku yang mengagumkan.

Berbicara perihal mistisme pedesaan, kita akan menemukan begitu banyak kisah yang sudah popular di telinga kita, mulai dari buto, genderuwo, kemamang, santet, teluh, dan lain sebagainya. Namun yang menarik untuk kita bahas dalam tulisan ini adalah tentang “danyangan”. Kata ini pastinya sudah tidak lagi asing di telinga kita. Terutama bagi kita yang pernah atau sedang berdomisili di pedesaan. Tiap desa bahkan tiap dusun kerap punya danyangan mereka sendiri-sendiri.

“Danyang” dalam pemaknaan masyarakat desa, utamanya masyarakat Jawa, adalah roh halus penguasa sebuah wilayah tertentu. Danyang ini dipercaya mempunyai kerajaan yang disebut punden atau danyangan yang terletak pada tempat angker seperti pohon besar, sungai, bangunan tua tak berpenghuni, dan lain sebagainya. Danyang mempunyai beraneka jenis anak buah semisal genderuwo, kemamang, tuyul, dan yang se-spesies dengan mereka. Kisah tentang keberadaan makhluk-makhluk halus ini tumbuh subur dalam cerita tutur para tetua desa.

Di tempat saya, ada pohon beringin besar tumbuh di tepi sungai dekat dengan kuburan. Disebutlah pohon itu dengan Danyangan Tunggul. Dipercaya sosok danyang menghuni tempat ini. Beberapa kejadian mistis pernah dikisahkan, semisal pernah ada yang mengambil daun beringin itu untuk pakan sapi, lalu tiba-tiba sapi-nya “ndadi” alias ngamuk tidak karuan. Pernah juga ada yang berkisah melihat sosok tinggi besar seperti genderuwo bergelayutan di akar-akar yang menjalar.

Di sisi timur dusun saya juga terdapat tempat yang disebut dengan “mledung” (huruf ‘e’ dilafalkan seperti dalam kata sate). Sebuah tikungan jalan dekat dengan hutan bambu di tepian sungai. Konon, di kawasan ini ada sosok mbah kithing yang berkuasa di sana.

Kisahnya, dahulu sekitar tahun 60-an, jalur ini adalah jalur sungai. Untuk keperluan pembangunan, maka jalur sungai ini diputus dan dipindahkan alurnya. Setelah jalurnya dipindah, maka jalur Sungai Mledung ini mengering dan dasar sungai terlihat jelas. Tak disangka, di dasar sungai yang telah kering ini terdapat sebuah makam (atau mirip makam).

Kemudian Mbah Kemi, seorang tua yang bermukim di dekat daerah itu mengaku bermimpi didatangi oleh sosok renta yang berjenggot dan bertangan kithing. Sosok renta itu mengaku si empunya makam, dan telah menjaga daerah itu sejak lama. Dari sini cerita mulai menyebar. Meskipun pada akhirnya jalur sungai mati itu diuruk dan dijadikan jalan tembus antar-RT, namun kisah Mbah Kithing sudah telanjur terkenal hingga hampir tiga generasi.

Penulis masih ingat benar, masa di mana tikungan itu seringkali dijadikan ajang uji nyali oleh kawan-kawan semasa anak-anak hingga remaja. Siapa yang setelah selesai belajar ngaji (waktu Isya) berani lewat tikungan itu seorang diri, maka berhak mendapat acungan jempol. Biasanya, kawan-kawan yang rumahnya harus melewati tikungan itu akan pulang bergerombol sembari membaca Alquran, atau terkadang membuka Alquran dalam posisi siaga layaknya senjata untuk mengancam makhluk-makhluk halus yang akan mendekat.

Anak-anak Dusun Jajar yang lahir tahun 80-an dipastikan akrab dengan kisah Mbah Kithing ini, karena para ibu kerap menggunakannya untuk menakuti anak yang bandel: tidak mau tidur siang atau enggan membaca Alquran, katanya akan digendong Mbah Kithing.

Menyenangkan memang mengingat kenangan masa kanak-kanak dalam suasana pedesaan. Meskipun sekarang tikungan mledung ini sudah beraspal dan mulai didekati pemukiman, namun sensasi melewatinya saat malam hari masih saja terasa unik. Bukan lagi karena ketakutan akan digendong oleh si Mbah, tapi lebih karena terkenang akan rasa takut yang dulu pernah ada.

Punden atau danyangan di tiap tempat mempunyai kisah tersendiri yang menarik minat kita untuk menyimak. Kisah mistis yang dituturkan terkait latar belakang si danyang membuat kita merinding berbalut penasaran. Meskipun pola hidup rasional semakin berkembang, namun se-rasionalis apapun Anda, beranikah Anda berkunjung ke danyangan di daerah Anda yang dikenal angker sedirian di malam hari?