Pram, suatu kali, mengisahkan istri keduanya dalam sebuah surat untuk anaknya.

“Pertemuan dan perkenalan dengan ibumu membikin semangat hidupku bangkit kembali. Dengan dia aku akan hidup.”

Ia adalah Maemunah Thamrin. Di masa itu, sebagai istri penulis yang dikenal keras dengan kritiknya, juga mlarat, ia harus menjalani laku hidup yang kepalang sulit—nyaris sureal. Pada 1965, Pram ditahan. 14 tahun lamanya ia diasingkan, buku-buku di rumahnya dibakar, karya-karya dilarang. Nun jauh dari jangkauannya, Maemunah menghidupi 5 orang anak, dalam masyarakat yang mengucilkannya serta ekonomi yang mencekik.

Meskipun sama-sama perempuan, saya mungkin tak tahu demi keluarganya, bagaimana Maemunah bisa menjelma bagai tiang baja. Tapi dari kisahnya, saya tahu, bahwa kekuatan jiwa perempuan tak kalah tangguh dibanding laki-laki, manusia yang kerapkali mendominasinya dalam keluarga maupun masyarakat. Maemunah mungkin bukan penulis, juga tidak dikurung, dan (mungkin) sekadar ibu rumah tangga, tapi bagi saya ia sebanding dengan Pram.

Pada titik kritis dalam hidup, sebagaimana suaminya, ia bisa menempa diri menjadi pribadi yang lebih dari sekadar biasa. Ia ringkus pekerjaan rumah tangga yang seharusnya dikerjakan oleh suami-istri sekaligus; bekerja, mendidik anak, menyekolahkannya. Ketika Pram berkata padanya, “aku tak ada harapan, kalau mau kawin lagi, kawin saja”, ia tolak kepasrahan itu—yang mungkin ditulis sastrawan ini dengan kesadaran tak hendak membebani hidup sang istri. Maemunah, dengan berani dan mungkin juga bakti, terus menjaga keluarganya, hingga Pram pulang 14 tahun kemudian.

Dalam sebuah kisah mengenai perempuan yang lain, seorang laki-laki tua yang tampak selalu gugup, berdiri di atas podium megah, menghadap ribuan penonton yang takjub. Berkali-kali diliriknya seseorang wanita tua yang tak henti tersenyum padanya. “I am only here tonight because of you. You are the reason I am,” ujar laki-laki tua itu, yang secara tak langsung ditujukan pada si wanita tua. Penonton bertepuk tangan. Riuh. Kagum.

Itu adalah scene terakhir film Beautiful Mind. Laki-laki tua itu adalah penerima nobel ekonomi, John Nash. Dan wanita tua itu adalah mahasiswi jurusan fisika nuklir yang Nash nikahi, Alicia Lopez-Harrison de Larde. Film ini adalah biografi Nash, ilmuwan jenius, yang juga pengidap skizofrenia. Selain mengisahkan perjuangan Nash, film ini memuat narasi tentang kekuatan perempuan yang ditampilkan secara apik oleh Alicia. Terlepas dramatisasi dari sang sutradara untuk sentuhan film, saya kira tak ada yang lebih sulit dari merawat suami yang tak bisa membedakan mana kenyataan dan mana ilusi. Ia berbicara sendiri, nyaris membunuh anaknya, dan kebingungan sepanjang waktu.

Saya tak tahu apa yang Alicia yakini, hingga ia yang mulanya memilih cerai, lantas kembali pada Nash. Dalam ironi, tak jelas apakah Nash akan sembuh, juga apakah dirinya sanggup menghabiskan nyaris separuh hidup untuk orang gila. Nyatanya, sebagaimana Maemunah, ia sanggup. Perempuan ini bekerja, membesarkan anak, merawat Nash, hingga laki-laki itu pulih dan berdiri di atas podium demi meraih Nobel, untuknya: untuk Alicia.

Bagi saya, Maemunah dan Alicia lebih beruntung, bahwa di antara banyak kisah perempuan, teladan bagi kemasyhuran (suaminya). Namun di luar sana, yang mungkin tidak kita sadari, banyak kisah perempuan lain yang serupa. Eksistensi perjuangan mereka ada, hanya sekadar tak dikenal. Para perempuan itu juga mencoba tampil, masing-masing punya cara: sebagai ibu rumah tangga, petani, pegawai, ilmuwan, juga penulis.

Di pedesaan sendiri misalnya, tempat wacana patriarki berkuasa, perempuan melakoni peran ganda; sebagai ibu, juga pekerja. Penghasilan suami mereka rata-rata tak cukup. Mereka menikah dini, bekerja bersama dengan suami di ladang atau menjadi buruh tani dengan upah yang dibayar setara laki-laki. Tak ada keluhan khusus. Kalau ada hanya seputar para suami mereka yang menyisihkan uang keluarga yang tak seberapa itu untuk jatah rokok, atau untuk ngopi. Lantas, mereka yang harus membaginya untuk banyak keperluan: dapur, sekolah anak, kendaraan, rumah dan lain sebagainya. Di kota, tempat banyak wanita telah mengaktualisasi diri, masalah tak selesai; ruang publik yang tak ramah perempuan, hak-hak di tempat kerja yang dilucuti, juga peran-peran di organisasi yang dibatasi, ….

Masalah itu tak berhenti, wacana terus berulang, dan dominasi tetap mengeram, bagai kutukan masa lalu, entah sampai kapan (?).

  • Ya, meski agak sedikit nggrundel saya hampir menyepakari tulisan ini. Lebih khusus pada poin bahwa “dibalik kesuksesan pria selalu ada wanita hebat dibelakangya”. Tapi jangan sedih dulu ketika banyak kabar perempuan menjadi manusia berjenis kelamin betina yang terdominasi. Percayalah, saat akad nikah itu dimulai, setahun kemudian wanitalah yang akan menjadi sosok pendominasi. Hidup kaum hawa