Mengapa Ublik Tidak Lagi Menyala di Desa-desa?

Saya tak tahu pasti apa alasan Thomas Alfa Edison ketika ia menciptakan bohlam, atau ketika Nikola Tesla mampu mengubah partikel-partikel energi tertentu menjadi suatu cahaya. Apakah mereka sekadar menemukan begitu saja, atau memang meneliti semua hal terkait cahaya. Hingga akhirnya, terciptalah benda yang mampu mengisolasi partikel-partikel tertentu dalam suatu wadah bening, yang dengannya suatu energi mengalir dengan kecepatan dan besaran yang stabil dan konsisten hingga alirannya memendarkan cahaya.

Di era Orde Baru, Indonesia “ngebut” membangun di segala bidang, tak terkecuali listrik. Di Watulimo, tidak serta merta seluruh wilayahnya merasakan manfaat listrik. Desa Dukuh misalnya, saya baru tahu bahwa listrik ternyata baru mulai masuk ke sana sekitar tahun 1994. Petromak adalah alat penerangan yang mewah, demikian juga ublik yang saat itu menjadi alat penerangan sejuta umat. Di tempat saya menghabiskan masa kecil, yakni di Sebo, banyak tetangga masih menggunakan ublik sebagai alat penerangan utama di rumah. Juga ada beberapa keluarga yang sudah menggunakan petromak. Namun ublik tetaplah nomor satu.

Dan ublik bagi saya adalah memories keeper. Ia mampu menampilkan berlembar-lembar slide dari berbagai kenangan yang pernah terjadi di masa kecil, entah dalam keadaan ia digunakan sesuai fungsinya atau ketika ia berada di etalase kaca sebagai sebuah barang antik. Dari sekian banyak kenangan, ublik adalah pemantik kedua yang mampu membawa saya ke potongan-potongan kenangan tentang almarhum kakek. Ia meninggal dunia ketika saya masih kecil. Tak banyak yang bisa saya pelajari tentang sifat-sifat baik dan kesederhanaannya secara langsung. Saya banyak bertanya tentangnya melalui ayah saya.

Dan jika berbicara tentang almarhum kakek, kenangan pertama yang saya ingat tentu saja adalah suasana rumahnya. Rumah terpagari oleh potongan bambu yang berjajar, di sekitar rumah ditanami berbagai tumbuhan yang bisa dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari. Ada tumbuhan obat-obatan, buah dan juga berbagai bunga yang menghiasi halaman depan. Teras terpagari oleh potongan bambu yang ditata sedemikian rapi. Ia kumpulkan batu-batu dari sekitar rumah untuk membuat jalan menuju rumah dari jalan desa. Semuanya tertata rapi dan bersih.

Ublik adalah kenangan kedua yang begitu melekat dalam ingatan saya tentang kakek. Ketika senja mulai berada, ia menyalakan ublik untuk menerangi rumah yang dindingnya terbuat dari gedhek (anyaman bambu) dan beralaskan tanah itu. Meskipun sangat sederhana, tapi sejatinya rumah itu begitu terasa istimewa dengan keberadaan kakek. Selepas magrib, suasana menjadi khidmat dan begitu damai ketika terdengar suara ia mengaji setelah sembahyang. Mengobrol dengan seluruh keluarga di ruang tengah sekaligus ruang tamu adalah kegiatan yang selalu menyenangkan dengan almarhum kakek. Tak ada televisi, tak ada gadget. Itu adalah ketenangan khas pedesaan terbaik.

Ublik kini riwayatnya seperti andong yang tergerus oleh angkot dan ojek konvensional, yang keduanya kini tergeser oleh sistem online. Seperti surat yang tergantikan oleh email, telegram “disapu bersih” oleh SMS, dan SMS pun kini terkena sliding tackle oleh aplikasi chat yang beraneka. JAVA “mampus” oleh Android, telepon rumah digantikan oleh telepon seluler yang kini sekadar barang antik di hadapan smartphone. Ublik juga tersisihkan oleh bohlam, lampu neon dan juga LED di zaman terkini.

Keberadaannya “yang luar biasa” di masa itu telah memberikan banyak manfaat bagi manusia. Tak hanya menjadi alat penerangan, ia juga menjadi saksi sekaligus mengajari manusia-manusia Indonesia yang se-jaman dengannya, bahwa kesederhanaan lebih baik dari bermewah-mewah.

Meskipun dengan keadaan yang sekarang, eksistensi ublik di Trenggalek sepertinya akan terus berlanjut meskipun kini berganti peran. Yang semula berfungsi sebagai alat penerangan, kini menjadi salah satu komoditi yang mampu dimanfaatkan oleh istri saya untuk meraih rejeki dari Tuhan Yang Maha Kuasa, yaitu, di antaranya, souvenir pernikahan berupa ublik yang dikemas dengan sangat cantik.

Salam Lestari!