Sekitar satu dekade yang lalu, saya ingat pernah menonton film yang menarik, berjudul “A.I.”, kependekan dari Artificial Intelligence. Film bergenre drama fiksi yang disutradarai Steven Spielberg ini diluncurkan tahun 2001. Skripnya ditulis oleh Ian Watson berdasarkan cerita pendek “Super-Toys Last All Summer Long” yang ditulis oleh Brian Aldiss. Film ini menarik karena menarasikan tokoh utamanya, (sosok) robot android anak, yang dinamai David.

Anak laki-laki android ini diprogram secara unik, bukan hanya wujudnya yang begitu serupa bocah lelaki cute, melainkan juga punya kemampuan untuk mencintai. Kemampuan yang sangat manusiawi inilah yang menjadi keunikan si bocah robot, yang dieksplorasi dalam film ini hingga mampu menggugah emosi penonton yang nota bene manusia dengan perangkat emosi yang sudah built-in pada dirinya.

Di awal milenium ini (tahun 2000-an) artificial intelligence atau kecerdasan buatan seperti pada film Hollywood di atas, masih menjadi fiksi dan mayoritas orang awam belum membayangkannya sebagai suatu realitas yang bisa dialami secara konkret. Namun sekarang, teknologi artificial intelligence ini telah dikembangkan dan menjadi salah satu dari kemajuan teknologi yang membawa pada gelombang revolusi industri keempat.

Sepanjang sejarah peradaban manusia, telah terjadi beberapa revolusi teknologi. Disebut revolusi ketika teknologi dan cara-cara baru dalam memandang dunia ditemukan dan mampu memicu perubahan yang signifikan dalam sistem ekonomi dan struktur sosial (Schwab, 2016).

Revolusi pertama yang penting untuk dicatat dalam peradaban manusia adalah ketika terjadi transisi dari berburu ke pertanian, sekitar 10,000 tahun yang lalu, ditandai dengan domestikasi binatang. Kemampuan manusia dalam menjinakkan binatang ini berimplikasi pada peningkatan produksi makanan, transportasi, dan komunikasi. Akibat selanjutnya, meningkatnya pertumbuhan jumlah penduduk, dan semakin meluasnya pemukiman manusia. Revolusi pertanian tersebut kemudian diikuti dengan serangkaian revolusi industri, dimulai di paruh kedua abad 18. Revolusi industri ini menandai transisi dari kekuatan otot ke kekuatan mesin, yang lalu berevolusi sampai sekarang dengan revolusi industri keempat (Schwab, 2016).

Revolusi industri pertama merentang sekitar tahun 1760 sampai sekitar tahun 1840, dipicu oleh pembangunan jalan-jalan kereta api dan penemuan mesin uap, yang mengembangkan semakin banyak produksi mesin. Revolusi industri kedua, dimulai di akhir abad 19 sampai awal abad 20, ditandai dengan munculnya produksi massal, diperkokoh dengan penemuan listrik dan sistem alur produksi. Revolusi industri ketiga mulai di tahun 1960-an, yang ditandai dengan revolusi komputer atau revolusi digital dengan katalisatornya perkembangan semi-konduktor, komputer (1960-an), komputer personal (1970-an dan 80-an) dan internet (1990-an).

Revolusi industri keempat, dimulai di awal abad ini, berpijak pada revolusi digital dengan ditandai semakin merebaknya mobile internet, dengan sensor yang lebih besar dan bentuknya semakin kecil, dengan harga lebih murah, juga dengan berkembangnya kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang semakin canggih.

Apa yang membedakan revolusi industri ketiga dan keempat? Teknologi digital yang menggunakan perangkat keras komputer, perangkat lunak, dan jaringan, sejatinya bukan merupakan hal baru. Ia sudah ada sejak revolusi industri ketiga yang bahan utamanya adalah penemuan dan penggunaan komputer. Di revolusi industri keempat ini, penggunaan komputer menjadi semakin canggih dan terintegrasi yang menghasilkan transformasi masyarakat dan ekonomi global.

Jadi, revolusi ini bukan hanya mengenai sistem dan mesin yang pintar dan terkoneksi. Lingkupnya jauh lebih luas, karena bersamaan dengan integrasi ini muncul gelombang terobosan-terobosan di berbagai bidang, mulai dari rangkaian gen sampai teknologi nano, dari energi terbarukan sampai komputasi kuantum. Perpaduan dan interaksi antardomain, fisik, digital, dan biologi menghasilkan inovasi teknologi di berbagai bidang kehidupan dan tersebar secara cepat dan luas.

Peralatan dengan internet bukan hanya di komputer meja, dengan penyebaran yang cepat sekarang, tiap orang menggenggam telepon pintar yang bisa menghubungkannya dengan siapa saja dan kapan saja. Bahkan Inovasi yang dihasilkan dari integrasi antara teknologi yang berbeda tidak lagi merupakan fiksi ilmiah. Orang bisa memilih aplikasi kesehatan yang cocok untuk menghitung berapa langkah yang telah dia lakukan dalam satu hari, jumlah kalori yang dikonsumsi dan yang dibakar, melaporkan detak jantungnya, denyut nadinya, dan mengingatkan kalau terlalu banyak duduk di depan komputer dan saatnya untuk berolah raga, dan sebagainya. Teknologi bahkan bisa di-implant (ditanam) di dalam tubuh untuk memantau kondisi organ tubuh dan untuk pengobatan.

Memang pada realitasnya, kecepatan persebaran teknologi digital ini belumlah merata. Revolusi industri kedua belum sepenuhnya dialami oleh semua manusia di planet bumi sekarang ini. Masih ada 17% yang berarti 1,3 milyar penduduk bumi belum menikmati akses listrik. Demikian pula dengan revolusi industri ketiga yang belum dinikmati oleh 4 milyar penduduk planet ini karena tidak mempunyai akses internet. Semoga saja Anda tidak termasuk ke dalam 1,3 milyar atau yang 4 milyar di atas.

Apa yang menjadi masalah ketika revolusi industri keempat yang berbasis teknologi digital itu membanjiri hidup kita? Masih hangat di berbagai berita surat kabar—serta api perseteruan pun belumlah padam—persaingan taksi atau ojek konvensional dan taksi atau ojek online yang merebak di berbagai kota di Jawa. Fasilitas aplikasi yang ada di telpon pintar dan akses internet membuat konsumen lebih cepat dan lebih murah memesan taksi atau ojek online dibanding dengan taksi atau ojek konvensional. Tak pelak lagi, layanan transportasi online ini dalam waktu singkat menjadi ancaman bagi penyedia jasa transportasi konvensional, dan ketegangan serta konflik ini membenturkan ratusan bahkan ribuan pengemudi taksi atau ojek yang berada di kelas sosial yang sama.

Kalau revolusi industri pertama memerlukan waktu hampir 120 tahun untuk menyebar keluar dari Eropa, maka internet hanya membutuhkan waktu kurang dari satu dekade untuk membanjiri dunia. Dengan internet, inovasi di berbagai sektor berkembang sangat cepat dan mengubah hidup kita sehari-hari, cara kita makan, bekerja, berkomunikasi, berekspresi dan lain sebagainya. Mengingat munculnya konflik sebagaimana disinggung di atas, maka di sinilah peran pemerintah dan lembaga publik, juga swasta, untuk bersinergi memikirkan dan mengantisipasi. Yang juga tidak kalah penting adalah bagaimana warga masyarakat juga memahami persoalan-persoalan terkait dengan revolusi industri keempat ini.