Bekerja merupakan bagian yang tak terpisahkan dari hidup manusia. Dengan bekerja manusia dapat mengaktualisasi diri: dapat pengakuan dari lingkungan, perwujudan prestasi serta capaian mimpi. Selain itu, kerja merupakan aktivitas yang dilakukan oleh seseorang untuk mendefinisikan diri sendiri dan kemanusiaannya.

Ada sebuah bait lagu dolanan, berjudul Sluku-sluku Bathok yang menyebut bahwa hakikat manusia itu adalah bergerak dan bekerja. Saya kutipkan lagu tersebut: Sluku-sluku bathok/Bathoke ela-elo//Si Rama menyang Solo/Oleh-olehe payung motha//Mak jenthit lolo lobah/Wong mati ora obah//Nek obah medeni bocah/Nek urip goleka dhuwit.

Lagu tinggalan Sunan Kalijaga tersebut merepresentasikan, bahwa orang yang masih hidup hakikatnya bergerak dan bekerja. Dengan bekerja, manusia mendapat yang diinginkan; di antaranya relasi sesama teman, terhindar dari faktor finansial, menjalin networking serta menambah kedewasaan diri dari problem dan konflik di tempat kerja.

Franz Magnis Suseno pernah menulis bahwa ada tiga fungsi kerja, yakni fungsi reproduksi material, integrasi sosial, dan pengembangan diri. Yang pertama, dengan bekerja manusia bisa memenuhi kebutuhannya. Yang kedua, dengan bekerja manusia mendapatkan status di masyarakat. Ia dipandang sebagai warga yang bermanfaat. Dan yang ketiga, dengan bekerja manusia mampu secara kreatif menciptakan dan mengembangkan dirinya (Franz Magnis-Suseno, Kota dan Kerja, 2009: 4). Dan, tentunya mampu mencukupi kebutuhan hidup, baik sandang, pangan maupun papan.

Jadi tak berlebihan bila manusia berbondong-bondong mencari lowongan pekerjaan. Meminta belas kasih dari perusahaan bermodal ijazah tanpa ada skill memadai. Lihat saja ketika arus mudik dan balik lebaran, para pencari kerja itu berduyun-duyun ke kota, bak jamur di musim penghujan. Yang awalnya menikmati keheningan desa mereka berdesak-desakan menikmati bising dan kesemrawutan kota dengan segala macam permasalahannya.

Mereka berasumsi bahwa mencari pekerjaan di kota itu lebih mudah. Lapangan pekerjaan masih banyak sehingga mampu mengubah derajat hidupnya. Namun faktanya tak sedikit yang hanya mendapati keculasan dan kepongahan gedung-gedung yang gagah menjulang tinggi itu. Mereka terlempar dari persaingan tempat kerja. Yang mereka dapatkan malah kesengsaraan.

Di kota-kota seperti Tangerang dan Jakarta, yang menjadi tujuan utama para pencari kerja. Sebagaimana laporan Tempo edisi 13 Juli 2016, di Tangerang—di mana saya merantau ini—ada  ratusan pencari kerja yang mengantri mencari surat keterangan pencari kerja atau surat kuning. Jumlah pencari kerja yang datang pasca lebaran dan kelulusan sekolah meningkat dari hari biasa. Yang pada hari biasa perhari 200 orang pelayanan di Dinas Ketenagakerjaan, pasca lebaran kemarin meningkat menjadi 800 orang per hari. Itu artinya 4 kali lipat di hari biasa.

Lantas apa jadinya setelah susah-susah cari kerja, merantau dan melepas semua pekerjaan di desa. Baru dapat kurang satu tahun berniat kembali ke desa tanpa ada pekerjaan yang jelas di sana. Sedang orang lain yang bertahan, pada waktu bersama telah menikmati kenaikan gaji yang signifikan, jenjang karir yang jelas. Dan saya malah undur diri dari perusahaan atau tempat kerja di kota dan memilih kembali ke desa.

Saya memilih balik ke desa karena jenuh dan bosan, sehingga tak begitu produktif. Selain itu, sekadar mengerjakan satu pekerjaan yang berulang, mengakibatkan tubuh gampang lelah, bosan, dan pada akhirnya meninggalkan pekerjaan itu. Di antara penyebab saya undur diri adalah gaji tak sesuai kapasitas pekerjaan juga waktu kerja yang tak menentu. Oleh karena itu, bertahan di tanah rantau adalah perjuangan dan kembali ke desa adalah pilihan.

Kita mafhum, sudah menjadi hakikat manusia untuk bertahan dan meninggalkan. Namun sebelum memutuskan resign, saya harus memperhitungkan (dampak psikologis dan sosialnya) secara matang tanpa grusa-grusu. Termasuk harus siap diserang ditanya kapan nikah?

Bekerja itu fana sementara pekerjaan abadi. Ketakutan tak memiliki pekerjaan selepas resign pun menghantui. Seperti halnya menghantui orang yang di-PHK. Mengutip M. Aan Mansyur  berjudul “ketakutan global” dari terjemahan dari buku Eduardo Galeano, Upside Down.

Orang-orang yang bekerja takut kehilangan pekerjaan. Mereka yang tidak punya pekerjaan takut tidak akan mendapatkan pekerjaan.

Ketakutan-ketakutan itu nyata. Saya jadi terbayang akan rentangan waktu dua puluh tahun yang lalu. Di mana saya tak kepikiran menentengi ijazah dan mencari kerja, kerja dan kerja! Banyak yang bilang bahwa hidup ini enak di usia anak-anak sekolah dasar (SD). Mereka hanya tahu pada hari ini berseragam dan bermain bersama teman sebayanya, karena dunia mereka memang dunia bermain. Namun waktu terus berputar, usia manusia beranjak mengikuti rentangan masa dan waktu.

Tidak mudah memang melepaskan hal yang sulit didapatkan, tidak mudah meninggalkan hal yang sudah menjadi rutinitas. Tidak ada orang yang melepaskan pekerjaan tanpa ada alasan. Saya menaruh percaya pada kalimat dan kekuatan doa orang tua yang jauh lebih mujarab: pengen sugih merga dongane wong tua, dhudhuk sugih merga dunyane wong tua. Selebihnya biarkan Tuhan yang mengimplementasikan apa yang kita lakukan.

Waktu terus berjalan. Jam dinding terus berdetak; detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam. Oleh karena itu, untuk memutuskan sesuatu, kita kira-kira butuh waktu tiga detik atau kurang, begitu tulis Azrul Ananda. Lain hal tentang estimasi komunikasi via telepon, kita setidaknya perlu menyisihkan waktu kurang lebih tiga menit. Waktu untuk pulang pun sudah tiba. Kota seperti Jakarta, Tangerang dan yang lainnya, dengan segala keangkuhannya sekadar menjadi kota persinggahan bagi para pekerja.

BERBAGI
M. Choirur Rokhim

Kelahiran Watulimo, Trenggalek. Sedang belajar mengajegkan membaca dan menulis. Tipikal lelaki baper yang sensitif dan mudah reaktif.