desa-yang-berdaya-melalui-bumdesa
Desa Mart. Photo: Dok. Pribadi

Lokakarya Nasional Greget Desa 2017  yang diselenggarakan oleh IDEA pada tanggal 9-11 Agustus mengangkat tema “Mengelola Sumber Daya Desa untuk Mengurangi Ketimpangan dan Meningkatkan Kesejahteraan”. Kegiatan ini membawa saya untuk mengenali salah satu Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) di Desa Dlingo Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Bayangkan BUMDesa ini telah memiliki  supermarket sendiri bernama Desa Mart. Di situ dipajang barang-barang hasil produk warga desa yang dijual di supermarket.

Memasuki Desa Mart tersebut, mata saya menemukan celengan batok kelapa lucu dengan dibentuk meniru berbagai jenis binatang, kerajinan anyaman bambu, sepatu dan sandal kulit, kaos, serta  makanan hasil olahan warga desa. Bukan itu saja, masih banyak barang-barang kebutuhan pokok lainnya yang dijual seperti beras, telur, minyak, peralatan mandi, alat cuci, kopi, gula dan teh.

Saya sendiri tak jemu-jemu memperhatikan makanan olahan kreasi warga Desa Dlingo yang dipajang di rak. Yang tertangkap mata saya antara lain: dodol sawo, manisan sawo, agar-agar sawo, bolu sawo (dengan merek Samankis Padaswatu). Lalu madu mongso, criping ketela rasa gadung, emping garut. Juga saya temukan minuman tradisional yang dibungkus plastik bening berisi jahe, secang, daun salam dan gula batu. Minuman hangat tradisional ramuan alami nusantara yang membuat badan jadi segar. Perhatian saya selanjutnya beralih ke celengan berbentuk binatang yang terbuat dari batok kelapa.

desa-yang-berdaya-melalui-bumdesa-dok-pribadi
Desa Mart. Foto: Dok. Pribadi

Setelah mengelilingi seluruh rak di Desa Mart,  kemudian saya mengunjungi bazar produk-produk hasil kreasi warga Desa Dlingo yang berada di halaman Desa Mart. Bazar ini menjadi salah satu rangkaian acara Greget Desa yang saya ikuti.  Di sini kita diperkenalkan dengan produk hasil kreasi warga desa, mulai dari kerajinan bambu, makanan olahan, kain batik, tas dari kain perca batik, serta tas dari resettling.  Potensi Desa  Dlingo telah menginspirasi kita bahwa desa memiliki kekuatan luar biasa jika dikelola dengan maksimal.

Tanggal 12 Agustus 2017 adalah hari terakhir saya di Desa Dlingo. Kenangan terakhir saya di Dlingo saya habiskan untuk berbelanja oleh-oleh di Desa Mart tersebut. Tanpa sengaja, ketika saya berbelanja, saya bertemu Pak Kades Dlingo bernama Pak Bahrun Wardoyo yang kebetulan sedang belanja juga. Pertemuan ini saya manfaatkan untuk wawancara. Saya ngobrol santai dengan Pak Kades terkait awal mula gagasan Desa Mart. Saya pikir ini gagasan baik yang dilakukan oleh  Kades Dlingo ini harus di sebarkan. Oleh karena itu, tanpa pikir panjang saya mendekati Pak Kades agar mau saya wawancarai dan saya dokumentasikan. Pak Kades pun setuju. Saya minta bantuan Iwan, guide tour saya,  untuk mendokumentasikan wawancara saya dengan Pak Kades menggunakan handycam.

“Kita orang desa bukan semakin berdaya tapi malah semakin terpinggirkan. Bahkan banyak hadir franchise minimarket masuk ke desa. Kita tidak bisa melarang mereka. Yang kita bisa kan memberikan alternatif, desa harus punya sendiri. Sehingga ketika mereka masuk, kita sudah punya alternatif. Ketika kita berikan alternatif itu, kita edukasi masyarakat. Keuntungan warung ini kembali ke desa.” Tutur Pak Kades.

“Sebelum kita mulai menggagas ini, kita data ada berapa warung di Desa Dlingo? Ada 200 warung. Di Desa Mart ini ada dua pemberdayaan yaitu: pertama, dari supplier (dalam arti produsen-produsen usaha kecil) kita bina sampai dia berani mengekspos di minimarket sebagai media pembelajaran mereka. Kita latih, baru satu kali pelatihan. Target kita mereka sampai kepada kemasan yang baik, juga ijin, dan sebagainya. Sehingga nanti menjadikan mereka berani bersaing.

Kedua, pemberdayaan kepada warung kecil. Bersifat grosir dan eceran. Untuk warung kecil kita berikan harga grosir sehingga harga jual pun sama dengan kita, tidak saling membunuh. Kemudian ketika kita buka wisata, kita berikan modal kepada warga, semua barang  dari kita, mereka tinggal menjual. Mereka hanya mencari keuntungan dari selisih harga.” Lanjutnya.

“BUMDesa yang didirikan di Desa Dlingo ini sudah dilegalisasi melalui Perdes No 12 Tahun 2016. Target dalam satu tahun, BUMDesa menjalankan satu unit. Jadi fokus tahun pertama menjalankan unit Desa Mart. Pengembangan wisata desa belum masuk dalam unit BUMDesa. Harapan Pak Kades, Desa Dlingo yang terpencil dan jauh dari perkotaan bisa menjadi magnet sehingga masyarakatnya tidak perlu keluar mencari uang. Justru orang yang punya uang berbelanja di sini dan bahkan berwisata di sini, sehingga kami mampu mengolah siklus keuangan desa”, begitu ujarnya.

Dari wawancara saya, saya yakin bahwa Pak Bahrun memiliki visi ke depan yang baik: terbukti ia ingin melakukan tata kelola produksi, konsumsi dan distribusi produk yang dihasilkan warga desanya. Saya setuju, jangan sampai semua barang dari luar masuk terlalu banyak ke desa, dan warga desa hanya menjadi objek dan konsumen.

Negara harus memiliki keberpihakan kepada desa. Negara harus melindungi serta memfasilitasi  segala bentuk inisiatif, inovasi dan tindakan warga desa dalam memproduksi apa yang dikonsumsi mereka dan mendistribusikannya kembali kepada  warga desa dan  publik secara luas. Sehingga uang berputar di desa dan berdampak pada kesejahteraan warga desa. Publik harus (di)sadar(kan) bahwa kita semua harus mencintai, bangga dan membeli produk yang dihasilkan warga desa. Kesadaran itulah yang akan menjadikan desa menjadi berdaya.

Desa membutuhkan pemimpin yang visioner, mampu mengayomi, mampu menginspirasi dan menggerakkan partisipasi warga desa dalam membangun desa. Seorang pemimpin harus berani mengambil langkah strategis untuk mengelola desanya secara mandiri. Ingat, membangun desa merupakan titik awal membangun bangsa. Jadikan desa sebagai basis perjuangan dan perubahan sosial.

BERBAGI
Wulandari
Perempuan kelahiran Majalaya, Kabupaten Bandung ini banyak melakukan aktivitas pemberdayaan masyarakat desa dan advokasi kebijakan. Ia aktif di Perkumpulan Inisiatif, Bandung.