tungku, pawonan, menanak nasi di tungku

Saya kangen makan nasi yang ditanak di tungku. Lima genggaman penuh dua tangan atau lebih beras dibersihkan (dipususi) di dunak/tompo (nama wadah dari anyaman bambu berbentuk seperti penutup kepala) lalu direbus di air mendidih. Sesudah itu, ditiriskan dan dimasak di kukusan (nama wadah dari bambu lagi, berbentuk kerucut). Dari proses begitu, selain mendapatkan rasa nasi “yang berbeda”, kita juga bisa mendapatkan kenikmatan mencicipi endapan tajin (air beras tanakan berwarna putih kental) yang bergizi. Tajin ini dulu sering dimanfaatkan sebagai ganti susu bagi balita, yang orangtuanya tak kuat membelikan susu.

Memasak nasi dari dapur yang di-geneni (diberi perapian dari kayu bakar) prosesnya memang lebih lama dibanding tanakan nasi di rice-cooker. Kini, semua dapur (rumah tangga) sepertinya sudah punya magic jar (rice-cooker) sendiri guna menyulap butiran-butiran beras menjadi nasi matang. Dengan cukup dicuci di sana, dan menjentikkan jari pada tombol bertuliskan cook (memasak). Tak lebih dari satu jam kemudian, butiran-butiran beras pun akan menjadi nasi matang. Proses ini terhitung cepat. Magic jar adalah alat dari kebudayaan cepat saji. Sayangnya, dengan menggunakan rice cooker, kita tak akan mendapatkan tajin dari beras yang dimasak pada alat penanakan sebangsa panci. Kita juga tidak bisa menanti-nanti sesuatu, di antaranya tajin  tadi, seperti saat memasaknya menggunakan panci yang diproses dengan perapian kayu bakar.

Saya bukan segolongan orang yang anti pada budaya cepat saji. Di sini, saya sedang ingin bernostalgia meminum tajin (yang beberapa hari lalu saya lakukan lagi). Tajin tersebut, sebelum saya minum, bisa saya campuri dengan gula pasir, untuk mendapatkan rasa yang lezat dan manis. Rasa-rasanya, nasi yang dimasak, seperti yang saya ceritakan barusan, lebih nikmat, gurih lagi nyaman di mulut ketimbang beras yang dimasak di dalam rice-cooker. Anda boleh mencobanya sendiri?

Menanak nasi di panci dengan perapian hanya berlangsung di dapur orang-orang desa yang rumah pemukimannya dekat dengan ladang. Sebab, kayu bakar masih tersedia secara melimpah dari ranting-ranting kering yang, karena semburan angin, berjatuhan sendiri dari atas pohonan. Di Trenggalek, khususnya di dapur-dapur rumah tangga di kecamatan-kecamatan pegunungan dan pesisiran seperti di Watulimo, Munjungan, Panggul, Bendungan, Pule, Dongko dan Tugu, akan lebih mudah mendapatkan kayu bakar di ladang-ladang penduduk.

Lagi pula mereka sebagian besar juga masih enjoy menanak nasi di dapur dengan lueng-an/pawonan-nya yang terbuat dari tanah liat. Kalau di Kecamatan kota Trenggalek sini, saya tidak tahu apakah masih ada yang memasak nasi dengan cara begitu, sementara waktu dan pekerjaan (yang banyak) mengejar-ngejar.

Cerita di atas adalah situasi dapur di rumah kakek-nenek saya di Munjungan, yang terletak di sebelah timur rumah. Di rumah kakek-nenek saya tidak punya alat penghangat nasi, dan masih melestarikan menanak beras dalam panci di pawonon (lueng). Karena pawon masih digunakan dan kayu bakar di kebun-kebun timur rumah masih tersedia.

Satu kali dapur mengepul bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Tidak hanya memasak nasi, tapi juga memasak sayuran dan lauk-pauk, di samping masih bisa digunakan untuk merebus air minum dan berbagai keperluan lain seperti untuk api-api (sebutan bagi kegiatan menghangatkan tubuh di depan perapian). Dan, nasi yang sudah matang pada hari itu, harus (di)habis(kan) pada hari itu juga. Kalau tidak, nasi akan berubah menjadi basi.

Dengan demikian, nasi yang kelebihan (dan tidak kemakan), biasanya, sebelum menjadi basi, akan sesegera mungkin diantisipasi, salah satunya, dengan cara dijemur di bawah terik matahari sampai mengering. Nasi yang sudah kering bisa langsung dikonsumsi (dengan cara digoreng) atau disimpan terlebih dahulu. Nasi kering yang digoreng akan menjadi makanan, yang—kalau di Munjungan—bernama cengkaruk (nasi kering yang digoreng mirip rengginang atau krecek). Biasanya cengkaruk setelah selesai digoreng (sesudah ditiriskan) bisa dicampuri dengan parutan kelapa muda dan ditambahi sawutan gula merah untuk mendapatkan rasa yang enak, manis dan tekstur yang menyenangkan. Jenis olahan ini sudah menjadi kudapan tersendiri yang merakyat. Disantap di pagi hari sambil menyeruput kopi dan menggelar perbincangan ngalor-ngidul yang hangat antartetangga.

Kendati di desa-desa ritme dan pola kehidupan mengikuti perkembangan zaman, dengan perkakas yang juga mengikuti situasi dan kondisi. Ada pola-pola tertentu yang masih dihikmati oleh orang-orang desa, dari hidup keseharian, proses mengolah pertanian, dan terutama proses menanak nasi juga mengolah sayuran. Begitu pula, dalam cara mengolah ikan mentah—karena kebetulan rumah saya di pesisiran—menjadi makanan siap saji. Ikan-ikan hasil laut setelah dibumbui secukupnya, bisa di-linting (dimasukkan ke daun pisang lalu dipanggang); ada yang di-genemi (dimasukkan ke daun pisang) lalu direbus. Itu adalah di antara cara mengolah ikan menjadi lauk tanpa sama sekali melibatkan minyak goreng.

Terkadang tradisi dan kebiasaan orang-orang desa terkikis oleh kebiasaan ibu-ibu muda yang tidak mau ribet oleh lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menanak nasi atau membuat lauk. Mereka membiasakan mengonsumsi barang-barang olahan jadi, seperti santan bungkusan misalnya, karena tidak biasa atau tidak mampu menyumbat kelapa sendiri dan betapa ribet-nya andai harus memarut buah kelapa sekadar untuk mendapatkan santan. Dalam hal ini, bulek saya, selain memasak, ia punya kecakapan menyumbat kelapa, cukup andal melepaskan buah kelapa dari batoknya, dan masih banyak keandalannya yang lain.

Begitulah, waktu memang seperti cepat bergegas, kendati ada hal-hal yang sebetulnya tidak dapat digesa di desa-desa. Kata orang, dunia, dengan segala tindakan-tindakan kapitalnya kerap mengambil (mengonsumsi, lebih tepatnya mengekploitasi) milik alam dengan ukuran kecepatan yang jauh melebihi kemampuan alam itu sendiri untuk memproduksi atau menghasilkan. Sampai-sampai, untuk urusan memasak pun, orang harus terpengaruhi motif-motif ekonomi kapital dari dunia antah barantah.

Ritme hidup serba cepat sulit mengalahkan kebiasaan di desa-desa, meski masyarakatnya ikut mengimpor (memakai) alat-alat yang digunakan di lokasi-lokasi di mana kapital menjadi panduan orang bekerja dan melayani hidup. Di dunia yang dipandu kapital, ritme kehidupan memang serba cepat, namun kehidupan di pedesaan nyatanya masih akan berjalan lambat dan linear belaka.

Beberapa hari kemarin, ada sekitar 1 bulan saya bisa tinggal lebih lama di Munjungan. Saya bisa mengubah gaya hidup: kebiasaan tidak sarapan, tidur tengah malam, tiba-tiba bisa saya ubah. Secara ajeg saya terbiasa sarapan di pagi hari, tidur sebelum jam 12 malam. Dan karena ikan laut melimpah dan bisa dengan mudah didapat, saya punya kebiasaan baru—meski saat kecil sering saya lakukan—yakni membakar ikan di pawon bekas memasak pada saat arang bekas perapian masih merah membara.

Ikan yang sudah saya cuci dan dibaluri garam, saya masukkan ke tempat pembakaran dengan arang yang masih merah nyalang, hingga matang. Sesudah ikan bakar matang, lalu saya membuat sambal plelek. Sebagaimana sambal pada umumnya, bahan-bahannya diracik dari bawang merah dan putih, lombok sesuai selera dan juga garam, tapi bawang merahnya terlebih dahulu dibakar setengah matang. Lalu dilembutkan di pengulekan (cobek).

Sesudah sambal dilembutkan dan ikan siap disantap, kita tinggal menyiapkan satu-dua piring nasi. Cara makannya cukup dengan menyuil sedikit demi sedikit daging ikan bakar lantas dicolekkan ke sambal dengan cabai sesuai selera. Lumayan, saya yang biasanya makan hanya sepiring kecil, dengan cara begitu (ikan bakar disambal plelek) bisa habis dua piring setiap sarapan pagi. Nafsu makan tergenjot naik. Hasilnya, berat badan naik, meski sekilo.

Saya sendiri tidak merasa bosan makan ikan laut, dimasak dengan cara apapun tetap menyenangkan. Berbeda dengan daging kambing atau ayam, yang buat saya, bisa membosankan bila kelebihan. Ikan laut bakar, ikan di-linting atau di-genemi dengan daun pisang lalu direbus tak pernah membuat bosan. Ini salah satu kudapan ala orang-orang desa pesisiran, khususnya di pantai Trenggalek, yang bisa Anda coba. Tertarik?

BERBAGI
Misbahus Surur

Kelahiran Munjungan, Trenggalek. Menulis buku Turonggo Yakso Berjuang Untuk Eksistensi (Yogyakarta: Syafni Press, 2013) dan menyunting buku Rengkek-Rengkek: Senarai Catatan dan Kisah (Per)jalan(an) di Kota Trenggalek (Trenggalek: Tuhālas Biblioteca, 2015).