Setiap kali pulang Kampung, hal yang tidak ingin saya lewatkan sebenarnya adalah membangun komunikasi dengan anak-anak di lingkungan rumah. Sebatas melakukan obrolan ngalor-ngidul yang menurut saya mirip dengan usaha membangun interaksi verbal dengan anak-anak dan mengenal dunia mereka. Bagi saya, dunia anak selalu menghadirkan hal menarik tersendiri. Mereka mencoba melakukan banyak kegiatan demi rasa penasaran. Seketika kita bisa sangat jengkel hanya gara-gara mendapati anak-anak merusak mainan berupa mobil-mobilan yang baru tadi pagi dibelikan.

Saya yakin mereka melakukan itu karena memiliki keingintahuan yang tinggi, mereka memiliki naluri dan ketertarikan. Anak-anak muncul begitu menggemaskan, mereka nampak menghadirkan wajah penuh kepolosan namun bercampur dengan keseriusan. Mereka sekali waktu akan dengan enteng menjawab dalam cita-cita dewasa mereka ingin menjadi dokter sekalipun mereka takut pada jarum suntik. Mereka juga akan dengan mudah bosan terhadap pelajaran di kelas, bahkan sampai membencinya hanya gara-gara tidak tertarik dengan guru mata pelajaran tersebut.

Saya adalah salah satu lulusan fakultas pendidikan, yang kemudian memutuskan untuk tidak mengajar di ruang kelas. Saya merasa belum mampu menjadi guru dan percaya bahwa tidak punya bakat mengajar sekalipun sering memantik diskusi. Namun kendati demikian, tidak ada alasan bagi saya untuk tidak peduli pada dunia anak, mencintai dunia pendidikan bagi anak-anak. Saya selalu percaya bahwa menghadirkan pendidikan adalah suatu upaya memproyeksikan masa depan anak-anak yang lebih terarah dan lebih mandiri.

Pendidikan adalah sebuah usaha sadar yang diberikan dengan tujuan menyiapkan pribadi yang mandiri, dinamis, dan terampil guna mencapai tujuan hidup. Maka dengan memberikan pendidikan diharapkan setiap pribadi mampu mewujudkan cita-cita kemanusiaan yang lebih universal.

Pendidikan sejak awal ditempatkan sebagai investasi jangka panjang (long term investment) bagi keberlangsungan kehidupan. Sebuah sebuah sikap dan kesepakatan bahwa pembekalan pendidikan bagi setiap generasi adalah sebuah modal dan persiapan menciptakan generasi penerus yang mandiri dan mampu menguasai zamannya. Sekolah tentu adalah salah satu perangkat yang tidak bisa dilepaskan dari pendidikan sekalipun kita percaya pendidikan tidak hanya diperoleh di ruang belajar bernama kelas. Sekolah dalam hal ini menempati perannya sebagai sebuah institusi negara yang dibentuk dengan cangkupan perangkat yang terus bergerak sesuai kemajuan jaman dan kebutuhan dunia. Di mana keberadaannya adalah sebuah implemantasi dari tujuan negara yang termaktub dalam pembukaaan Undang-Undang Dasar: mencerdaskan kehidupan bangsa.

***

Namun rasanya menjadi cerdas dan mandiri bukanlah tujuan utama pendidikan kita, tujuan utama sistem pendidikan kita adalah mengurangi jumlah pengangguran dan dapat memperoleh pekerjaan bergengsi. Pendidikan yang dihadirkan sekolah sekali lagi bukan usaha sadar menciptakan pribadi mandiri dengan semangat kritis. Namun sebuah ruang dengan kesadaran kolektif memenuhi standar dan kebutuhan pasar. Kita kemudian boleh bertanya kepada eks aktivis kampus, bagaimana rasanya tidak disenangi dosen tertentu hanya gara-gara berlaku kritis sampai berakhir ancaman pengurangan nilai?
Atau dalam skala lebih luas bagaimana nalar kritis anak usia sekolah coba dimatikan dengan alasan moralitas hanya karena kurang sopan mendebat gurunya. Dalam kondisi ini kita serasa menikmati sistem pendidikan yang sedang melakukan perkawinan dengan semangat kapitalisme. Pendidikan yang coba dimunculkan institusi pendidikan tak lebih dari sebuah alat cetak dalam memproduksi barang yang siap dipasarkan. Yang memenuhi standar kelayakan akan terbeli, sementara yang tidak sesuai standar akan menjamur, di-loak-kan atau berakhir di keranjang pembuangan.

Pendidikan yang demikian itu adalah keadaan yang kerapkali melalaikan perannya. Pendidikan yang membatasi nalar berpikir, mempersempit gerak kemandirian, setelah sebelumnya mencoba mengikis daya kritis peserta didik. Institusi pendidikan yang coba dihadirkan sebagai wajah pabrik pencetak SDM yang tidak lebih dari sebatas dari upaya mengejar ijazah dan titel guna melamar pekerjaan yang di-elu-elukan masyarakat. Orientasi menjadi pegawai masih potensial menyerang setiap lulusan perguruan tinggi setiap tahunnya ketimbang kesadaran dan upaya membuka lapangan pekerjaan. Tentu hal yang demikian itu tidak keliru, suatu hal yang kadung dianggap lumrah oleh masyarakat pada umumnya. Sekali lagi kita mengejar standar bersama, kita mengejar kesejahteraan keluarga. Kita sedang menikmati gaya berpikir kolektif.

Bahkan sangat mungkin, tujuan awal dari orangtua menyekolahkan anak memiliki tujuan serupa, “kerja sesuai standar kelayakan yang diamini masyarakat”. Alih-alih menghadirkan pendidikan lewat sekolah sebagai usaha sadar memberi jalan pengalaman dan bekal kemandirian bagi anak. Sangat mungkin menyekolahkan anak di tengah himpitan ekonomi adalah usaha nyata memutus rantai kemiskinan. Tentu dengan anggapan bahwa lulus sekolah dengan title yang diperoleh adalah syarat mutlak untuk memperoleh pekerjaan yang lebih layak. Ada nilai yang hendak dikejar dari sana, yaitu upaya menyejajarkan diri melalui jalan pekerjaan yang lebih bergengsi.

Begitulah wajah pendidikan kita, pendidikan yang muncul dengan tujuan sebatas pengulangan dogma-dogma positivis dengan sifat pabrikasinya, di mana pendidikan berorientasi ke pasar. Pasar lebih menitik-beratkan dengan standar atas sesuatu yang dapat dinilai dengan angka. Saya tidak hendak mengerucutkan penilaian bahwa cita-cita menjadi pengejar lowongan kerja itu tidak menarik. Menjadi pekerja di instansi pemerintahan ataupun swasta tentu saja menarik, pun sama menariknya dengan mereka yang memutuskan diri turun di lapangan sebagai penyedia jasa sampai keputusan menjadi wirausaha. Semua sama menariknya saya rasa. Letak kekeliruannya justru jika lulus pendidikan namun tidak dapat mencerminkan sifat kemandirian. Hal itu tak lain adalah jalan tengah bagi kita untuk meruntuhkan kesepakatan kolektif tentang pendidikan bahwa standar kelulusan adalah mampu bertempat di sektor-sektor perkantoran.

Tentu yang demikian ini mengerikan, sangat mengerikan bahkan jika kita menyadari betapa lowongan kerja kita dipenuhi standar penerimaan tenaga kerja yang berbelit, sementara pencari kerja dan lulusan perguruan tinggi setiap tahun jumlahnya meningkat. Terlepas dari tuntutan keluarga yang kerap kali menekan kepribadian, menjadi wirausaha saya rasa adalah pilihan yang tidak buruk-buruk amat. Karena jika kita terus mengamini kesepatan kolektif masyarakat bahwa kerja kantoran adalah buah dari pendidikan itu artinya pendidikan tak lain adalah sebuah ruang pencetak pengangguran.

Tentu hal itu sejalan dari banyaknya lulusan yang gagal menjadi pegawai kantor karena persaingan yang begitu ketat serta lapangan kerja yang tidak sebanding. Saya tidak membayangkan jika di kemudian hari ada lulusan perguruan tinggi yang tertekan keadaan dan ekspektasi pekerjaan ini gagal kemudian frustasi. Sungguh tidak ada salahnya bagi setiap lulusan perguruan tinggi ini mencoba peruntungan membuka usaha rintisan, ya menjadi wirausaha.

Untuk mengakhiri tulisan ini izinkan saya membagikan cerita yang dikirimkan teman saya memilih menepaki dunia usaha selepas lulus kuliah. Tulisan inilah yang kemudian membuat saya percaya bahwa tujuan pendidikan tidak sebatas usaha mencari kerja, tapi semangat menjadi pribadi yang lebih mandiri. Sebagaimana anggapan bahwa bekerja di sektor pemerintahan, menjadi pegawai swasta, membuka usaha adalah sebuah pilihan yang bernilai sama.

Semua soal kesempatan dan tentu saja tanpa meninggalkan kemampuan menyadari diri terkait passion: pilihan hidup sampai cara dalam mengembangkan diri. Begini pesan Whatsapp teman saya yang coba saya bagikan untuk melengkapi tulisan ini. Entah kemudian dia mengarang cerita atau bagaimana. Semoga di kemudian hari orang tersebut membaca, dan menyadari bahwa ceritannya berguna.

Ada cerita dari Yunani Kuno. Alkisah ada seorang Raja yang sangat baik hati, dia menggizinkan setiap malam satu orang rakyatnya untuk tidur di atas ranjang emas miliknya,. Raja akan mengintip orang-orang tersebut, jika kaki orang itu terlalu panjang dari ranjang emas, dia akan memotongnya. Jika terlalu pendek, dia akan menariknya biar pas. Jadi pesan moralnya, memberikan kebaikan atas aturan yang dibuat sendiri itu pada akhirnya mengerikan, tidak akan memunculkan kebahagiaan.

Sama seperti pada sistem pendidikan kita, kalau pendidikan hanya dijadikan atau dipandang sebagai pabrik PNS. Menjadi PNS tentu saja baik, namun jika stereotif yang dikembangkan di masyarakat mewajibkan begitu, maka hasilnya tidak akan berujung pada rasa bahagia. Kita lihat betapa lowongan menjadi PNS hari ini semakin sulit. Maka yang terbaik adalah membiarkan seseorang menjadi kreatif, memanfaatkan hasil pendidikannya dengan caranya sendiri.