Mengitung Program dan Jasa Mas Emil

Belum genap rasa marem karena dipimpin oleh duo pemuda jaman now yang mampu memenangi 77% hati rakyat Trenggalek. Satu minggu belakangan, Trenggalek digoyang kabar oleh hengkangnya Mas Emil dari jabatan bupati yang (kemungkinan besar) kepincut dengan tawaran wakil gubernur untuk mendampingi Bu Khofifah.

Saya (secara partikelir) berpikir bahwa secara politis Mas Emil sudah memilih jalan yang benar, meski kini diusung partainya Pak De SBY. Jabatan bupati tidaklah seperlente jabatan wakil gubernur. Barangkali Mas Emil berharap, dengan jabatan tersebut, ia bisa lebih leluasa membangun Trenggalek. Apakah kira-kira begitu?

Namun jika dipandang dari sisi moralitas, Mas Emil yang memiliki “jalan ninja” ini (kalau dalam dunia Naruto) dianggap tidak taat pada mandat yang telah diberikan oleh masyarakat Trenggalek kepadanya, untuk membawa kabupaten pinggiran ini lebih moncer. Ini juga disuarakan secara banter oleh salah satu partai pengusungnya saat memenangi Pilkada 2015 kemarin. Ya, partai banteng moncong putih yang dulu menjadi koalisinya. Dan pada pilgub nanti, ia (partai banteng bermoncong putih tersebut) sah menjadi rival.

Tengok saja berita-berita yang beredar seminggu terakhir, ada beberapa tagline tentang Emil dan PDI-P, yang tidak boleh kita sebut sebagai berita baper, di antaranya: Langkah politik Emil Mencoreng Kepercayaan Masyarakat Trenggalek (rmol.co, terbit 22/11/2017); Emil Dardak Membelot, PDI-P Sebut Itu Cermin Pendidikan Barat (news.lupitan6.com, terbit 23/11/2017): Dampingi Khofifah di Pilkada Jatim, Emil Dardak Dipecat sebagai Kader PDi-P (nasional.kompas.com, terbit 23/11/2017); Pemecatan PDI-P Terhadap Emil Dardak Dinilai Tepat (inilah.com, terbit 25/11/2017); Emil Dardak Hormati Keputusan PDI-P yang Memecatnya (nasional.kompas.com, terbit 24/11/2017); Dan puluhan berita lain yang berpaut sangkut dengan “PDI-P dan Emil Dardak”. Silakan sampean search di google dengan keyword “Emil Dardak + PDIP”.

Ketimbang menyinyiri pilihan Mas Emil untuk mencalonkan diri menjadi wagub dan dikesankan sedang gaduh dengan PDI-P, lebih baik kita ingat-ingat lagi, apa terapan visi-misi Mas Emil dan Mas Ipin. Konon visi dan misinya dipercaya mampu mengangkat Kabupaten Trenggalek, lagi pula Mas Bupati kerap mendapatkan penghargaan (mungkin menjadi salah satu pemasok kepercayaan diri Mas Emil untuk menjabat Wagub), mari kita lihat:

Program Lintas Perangkat Daerah Kabupaten Trenggalek

  1. Reformasi Birokrasi.
  2. SMART Regency.
  3. WAJAR (Wajib Belajar) 12 Tahun.
  4. GERBANG ANGKASA BIRU (Gerakan Perbaikan Gizi dan Pendampingan Upaya Akselerasi Penurunan Angka Kematian dan Kesakitan Ibu dan Bayi Baru Lahir).
  5. GEMA MELEKAT (Gerakan Bersama Menuju Trenggalek Sehat).
  6. Pengembangan Pertanian Terpadu.
  7. Kakao Land dan Rumah Coklat.
  8. International Durio Forestry.
  9. Revitalisasi Kebun Kopi Dilem Wilis.
  10. Sentra Peternakan Rakyat (SPR) dan Rekayasa Intensifikasi Ternak Induk Sapi Pedesaan (RINTIS DESA).
  11. Konservasi Mangrove dan Penyu.
  12. Trenggalek menuju 100-0-100.
  13. Pengembangan Destinasi Pariwisata.
  14. Trenggalek MY DARLING (Masyarakat Sadar Lingkungan).
  15. Penanggulangan Bencana (Kekeringan).
  16. Trenggalek GEMILANG (Gerakan Mutu Industri Cemerlang).
  17. Pasar Rakyat Mandiri (Sekolah Pasar).
  18. Kabupaten Layak Anak.
  19. Desa Adopsi dan Ngantor di Desa.
  20. P4GN (Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba).
  21. GENCAR (Generasi Gemar Baca dan Pintar).
  22. GERTAK (Gerakan Tengok Bawah Masalah Kemiskinan).

Program Kewilayahan 

  1. Segitiga Pembangunan Wilayah (Kota Perdagangan Baru, Panggul–Pusat Kota Trenggalek—Kota Maritim Baru, Prigi).
  2. Pengembangan Kawasan Agropolitan/Minapolitan.
  3. Pengembangan Kawasan Perdagangan.
  4. Pengembangan Kawasan Strategis Bendungan Tugu dan Bendungan Bagong.
  5. Pembangunan Jalan Lintas.
  6. Pengembangan Kawasan Selingkar Wilis.
  7. Pengembangan Desa Wisata.
  8. Pengembangan Kawasan Strategis Perdesaaan.

Total jumlah program yang akan dilaksanakan pada Tahun Anggaran 2016-2021 sejumlah 173 program Perangkat Daerah (4 program di antaranya adalah program rutin); 22 program lintas perangkat daerah; dan 8 program kewilayahan.

Nyaris tak terbendung, dari berbagai program tersebut, Kabupaten Trenggalek mendapatkan berbagai penghargaan, yang menurut pandangan saya (sebagai anak muda jaman now tapi melek informasi) sangat bagus dalam persoalan branding. Yups, Mas Emil dan para “pembantu”-nya mampu membawa nama Trenggalek hingga manca negara. Nah berikut penghargaan yang pernah didapat:

  1. ICSB Presidential Award 2017, penghargaan kepada Akademisi dan Pemerintah Daerah yang berkontribusi bagi UMKM.
  2. Government Award 2017 dari Sindo Weekly.
  3. Penghargaan dari Mark Plus 2017 untuk Program Gertak.
  4. WOWService Excellence 2017 untuk Program Gertak.
  5. Penghargaan Kabupaten layak Anak 2017 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
  6. Penghargaan Kabupaten Peduli HAM 2016 dari Kementerian Hukum dan HAM.
  7. WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) perdana selama Trenggalek Berdiri.
  8. Dan masih banyak lagi penghargaan yang lain.

Tidak bisa kita pungkiri, bahwa Mas Emil dan Mas Ipin merupakan angin baru bagi Kabupaten Trenggalek. Sejak ditetapkan sebagai Calon Bupati dan Calon Wabup oleh KPU Trenggalek, antusiasme masyarakat kepada mereka sangat besar, sebanyak 77%  dari 383.088 surat suara sah merupakan bukti bahwa pasangan muda ini dianggap sebagai secercah harapan untuk Kota Minak Sopal menuju berperadaban sebaik peradaban Desa Konoha (Desa-nya Naruto).

Tapi mengapa ia kepincut dengan tawaran Demokrat dan menjadi rival dengan PDI-P dalam gelaran Pilgub 2018 nanti? Dan mengapa ia tega (seakan) meninggalkan kepercayaan masyarakat Trenggalek? Meskipun dengan majunya dalam Pilgub nanti tidak menghilangkan jabatannya sebagai bupati (UU 10/2016 membolehkan cuti). Tapi ya mosok tha Trenggalek hanya menjadi batu loncatan politik, meski itu sah-sah saja. Secara moral koyok-e tidak patut.

Oke kawan, jawaban yang jujur hanya ada pada hati nurani Mas Emil, namun di sisi lain, izinkanlah saya mengandai-andai beberapa alasan kenapa Mas Emil tidak betah di Trenggalek.

Alasan Pertama: Dari kacamata media (Sebelum PDI-P mengungkapkan “sumpah serapah” di media) nama Emil Dardak tergolong positif. Ia adalah peraih gelar Doktor Ekonomi Pembangunan termuda di Ritsumeikan Asia Pasific University, Jepang. Ia adalah Wakil President (Co-President) UCLG Asia Pasific, permah menjadi World Bank Officer di Jakarta, dan Media Analysis Consultant di Ogilvy. Puncak karier Mas Emil dicapai saat didaulat menjadi Chief Business Development and Communication-Executive Vice President di PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero).

Jadi, mumpung ia sedang dipuncak kesuksesan branding, mencalonkan diri menjadi wakil gubernur untuk mendampingi simbok Khofifah adalah pilihan cemerlang. Toh katanya, aliansi para kyai sadar politik, telah memberinya mandat untuk tempur melawan Gus Ipul dan Azwar Anas. Menyoal masyarakat Trenggalek yang ditinggalkan, pie-pie o panggah manut dawuh kyai. Jawa Timur lebih butuh.

Alasan Kedua: Program-program kerja yang diusung dan dituangkan dalam dokumen RPJMD 2016-2021, merupakan program anyar, yang kemungkinan besar agak sulit untuk diterapkan (hanya Mas Emil dan Mas Ipin yang bisa melaksanakan). Di sisi lain, dengan diperolehnya berbagai penghargaan tersebut, pastinya menambah beban dan tanggung jawab. Bagaimanapun juga, sebuah penghargaan selalu berbasis pada bukti otentik penerapan, kalau toh yang dihargai adalah gagasannya, penerapan lapangan juga harus ada.

Nah sebelum banyak lambe nyinyir yang bakal mempertanyakan “apa hasilnya” dari program tersebut, lebih baik Mas Emil menuju Provinsi saja. Toh Pak SBY turun langsung mendukungnya.

Alasan Ketiga: Di awal karir pasangan kepala daerah tersebut, banyak pesimisme beredar di masyarakat, termasuk dari lambe para politisi. Mereka menganalogikan bahwa, ibarat sebuah kereta, Mas emil adalah lokomotif jaman now, sedangkan SKPD merupakan gerbong lawas, jadi ibarat mau melaju cepat, kepala kereta sudah jauh di depan, gerbongnya masih terseok-seok di belakang.

Analogi ini menurut saya menjadi alasan kenapa Mas Emil ingin segera berpaling dari Trenggalek, karena para gerbong tak mampu melakoni keinginan-keinginannya. Loh, kenapa kok tidak dari dulu saja berpikirnya? Lha wong branding itu penting kok, menjadi kepala daerah muda merupakan branding bagus jika didukung dengan berbagai gagasan yang mengundang decak kagum. Jadi ini bisa dijadikan alasan.

Alasan Keempat: Trenggalek itu kecil untuk ukuran kapasitas gagasan Mas Emil. Iya lah, lha wong ia peraih doktor termuda dari negara Naruto, Trenggalek tidak mampu menampung kapasitas orang bak dewa tersebut. Lantas, supaya gagasan-gagasannya tidak mubadzir begitu saja, ia harus berkiprah di provinsi. Meski sebenarnya saya agak berat memakai alasan ini, karena di Pilgub nanti ia hanya menjabat wakil. Di mana-mana wakil tidak bisa membuat keputusan dan hanya menjadi pelaksana kebijakan atasannya. Saya beritahu, wakil yang berkuasa melebihi atasannya hanya ada pada DPR. Kalau nggak percaya tanyao Den Mas Broto, eh Mas Ipin.

Jadi bukan sesuatu yang buruk ketika ia lebih menuruti apa kata kyai dan Pak SBY untuk maju dalam pilgub. Mas Emil itu dibutuhkan masyarakat Jawa Timur ketimbang di Trenggalek. Ingat, dia adalah wakil ketua perkumpulan kepala daerah se Asia Pasifik. Camkan itu.

Alasan Kelima: Ini agak berat juga untuk saya tulis, tapi biarkan saja. Suatu hari Pak SBY mendatangi Pak Dardak si mantan Wamen PU, yang juga ayah dari Mas Emil. Presiden 2 periode yang moncer dengan Partai Demokrat tersebut saat ini banyak kehilangan kader-kader potensialnya, yang mau tidak mau harus mencari kader potensial.

Ketika Pak SBY menemui Menteri PU-nya di kabinet bersatu tersebut, lantas ia berkata: “Eh Dak, awakmu kan ngerti lek mbiyen iku ente wes tak dadekne menteri. Terus awakmu kan yo ngerti lek kaderku podo nek penjara. Awakmu ngerti ta, maksudku?

Piye mas, jajale seng genah lek matur. Ben aku yo cetha ngono, lho” jawab Pak Dardak.

“Ngene lho, Dak. Awakmu kan duwe anak seng dadi Bupati Trenggalek. Cah kuwi lek menurut pengamatanku temen gek apik. Elektabelitas-e yo lagi moncer. Piye lek tak usung wae dadi wakil gubernur, ben iso ndampingi Dik Khofifah. Itung-itung gawe ngijoli jabatan menterimu mbiyen?” tawar Pak BY.

Eeeem, pie yo Mas. Iki berat banget lho, secara Emil iku dianggep kadere PDI-P, iku rivalmu lho. Lek dadi nyalon wagub, iki mengko bakal dinyinyiri habis-habisan. Opo maneh budal saka partaimu, lha Sampean opo siap mengko lek dikira luru kader potensial?” Kata Pak Dardak, berusaha menjelaskan.

lha terus piye lek menurutmu?” balas Pak SBY sambil mengerlingkan mata sebagai kode tagihan.

Ya wes lah, Mas. Sak mareme Sampean ae lek ngono, aku manut. Aku kan (mantan) menterimu.

Pertemuan dibubarkan dan kesepakatan diperoleh, lobi-lobi politik dimulai semenjak itu. Mas Emil direncanakan ke Jawa Timur mendampingi Bu Khofifah, didukung Demokrat dan juga didukung pula oleh para kyai sadar politik.

Maka, terpujilah tiang listrik.

BERBAGI
Trigus D. Susilo

Lelaki kelahiran Watulimo, Trenggalek. Sejak kecil bercita-cita menjadi “agent of change”. Meski hingga saat ini ternyata tidak ada yang bisa dia ubah, bahkan untuk mengubah namanya sendiri.