Seharusnya Tidak Sekarang, Pak Bupati!
Bu Kofifah dan Mas Emil saat serah terima bantuan Mobil Dapur Umum Lapangan | Foto Humas Setda Trenggalek

Begitu mendengar kabar ada tokoh muda yang ikut kontestasi Pilkada Trenggalek 2015 lalu, saya, sebagai putra asli Trenggalek, cukup bungah. Sebagian warga lainnya mungkin juga begitu. Apalagi, Emil Elestiano Dardak alias Emil Dardak (selanjutnya disingkat ED saja biar gampang), tokoh muda itu, memiliki garis keturunan di kota ini dari sang kakek. Dia juga punya rekam jejak pendidikan mentereng: doktor ekonomi pembangunan termuda di Jepang. Antusiasme dan optimisme itu langsung mengangkasa setelah ED memenangi pemilihan dengan keunggulan mutlak, 292.248 suara atau sekitar 76,28 persen.

Ya, banyak faktor yang membuat saya begitu yakin Trenggalek akan maju di tangan pemuda milenial. Bayangan saya langsung menerawang jauh ke ujung Pulau Jawa sana, di Banyuwangi, kabupaten yang juga digawangi tokoh muda-milenial. Tokoh muda cenderung totalitas dan punya inovasi lebih karena ada tujuan yang lebih visioner, juga untuk membangun kepercayaan diri. Semangatnya biasanya juga masih tinggi-tingginya.

Maklum, selama ini, sepanjang yang saya tahu, bupati Trenggalek dua periode sebelumnya atau satu dekade terakhir sudah cukup berumur ketika menjabat. Soeharto (2005-2010) dan Mulyadi (2010-2015) berusia 50 tahun lebih tatkala  memegang kendali pemerintahan. Hasilnya? Trenggalek, yang punya segudang potensi untuk dijadikan modal sebagai kawasan maju, masih jalan di tempat. Soeharto malah sempat disidang di Surabaya lantaran tersandung kasus rasuah. Maka, hipotesis awal saya sedikit terbukti: tokoh tua cenderung pragmatis dan kurang visioner.

Seiring dengan berjalannya waktu, sesuai prediksi, ED ternyata mampu mewarnai Trenggalek dengan beberapa inovasi. Ketokohan sang bupati begitu jelas di mata konstituen –itu sebenarnya ditambah peran sang istri yang juga mantan artis. Singkat cerita, cukuplah kegiatan-kegiatan yang dimotori ED meyakinkan rakyat soal kinerjanya. Katanya, ibu bupati yang juga masih muda itu tak segan membaur dengan warga, terutama ibu-ibu, untuk menjalin komunikasi. Singkatnya, chemistry antara bupati dan rakyatnya sudah terbangun dengan baik.

Hingga akhirnya, datanglah momen pilgub itu. Momen yang menodai kemesraannya dengan rakyat. Menyakiti hati dan mengubur harapan warga Trenggalek. Setelah digeret sana-sini, ”keimanan” ED runtuh juga. Khofifah Indar Parawansa, yang sejak awal kelihatan sangat bingung mencari pendamping di Pilgub Jatim 2018, dengan angkuhnya ”merenggut” ED dari desa untuk diangkut ke kota, dijadikan partner-nya. Alasannya cukup masuk akal: ED dinilai sebagai tokoh muda yang mewakili kaum milenial.

Khofifah boleh-lah bersenang-senang dengan keberhasilannya merebut sang bupati untuk diajak bertarung di provinsi. Tapi, bagaimana dengan sang empu, rakyat Trenggalek? Sesaat setelah beredarnya foto ED bersama Khofifah di kediaman Susilo Bambang Yudhoyono (21/11), yang artinya ED diambil Demokrat, partai yang belakangan krisis kader, saya segera mengunggahnya ke Facebook ”Kecamatan Watulimo Bersatu”. Saya tulis begini: ”Dospundi warga Nggalek niki, setuju napa mboten?” Saya sengaja mengunggahnya ke grup itu untuk mengetahui respons masyarakat mengetahui pemimpinnya maju pilgub. Sampai tulisan ini dibuat, Selasa (28/11), posting-an itu di-like 400 orang lebih dengan berjibun komentar.

Respons mereka macam-macam. Ada yang menanggapi dengan serius. Ada pula yang tak hirau dengan kata-kata kurang lebih ”Halaaaaah awake ki wong cilik arek ko ti pimpin sopo ae yo renek bedane.” Di sisi lain, ada yang cukup kritis berkomentar: ”Ooooe oooe…. aja bangga sek broww… semisal maju trus dadi wakil gubernur…seng tiurusi ora mung galek…… saiki ae looo njabat nek galek ws menghasilkan opoo….

Sementara yang lain berkomentar membawa-bawa Khofifah: ”aku ndak setuju nek pak emil dipasangne karo khofifah rep magang cagub&cawagub jatim. Nek khofifah rep magang cagub rasah karo pak emil marai ngganggu ketentraman trenggalek. Pokoke pak emil kudu dicukopne disek tanggung jawabe nek trenggalek karo pak ipin. Nek wes cukop gek ngadek bareng magang cagub &cawagub jatim”. Warga lainnya, dengan sedikit muntab, mengungkapkan kekesalan: ”Kecewa… Selesaikan dlu masa tugasnya..” dan ”Puo…puo..jan.kemaruk.” Kemaruk artinya adalah serakah atau loba.

Meski begitu, masih ada yang dengan bijaksana berkata bahwa itu hak prerogatif yang bersangkutan: ”Yo sak karepe arep magang wakil gubernur yo ra opo2….masalah nggalek yo gen ti urusi pemimpin berikute. Lek pak emil dadi wakil gubernur terus sek eling karo nggalek kui malah luwih apik, terutama kawasan Prigi sing wes dadi programe Pak emil waktu dadi bupati, soale janji pemimpin amanah…..Monggo Pak Emil dilanjut….

Kalau dirata-rata, yang tidak setuju mendominasi, sekitar 80 persen. Sedangkan yang setuju hanya 20 persen. Artinya, warga Watulimo, salah satu kecamatan strategis di Trenggalek, banyak yang menyesalkan keputusan ED maju dalam pilgub. Dibilang strategis karena sang bupati sering memusatkan kegiatan di Watulimo, terutama kawasan Pantai Prigi.

Dengarlah, Mas ED, jeritan hati konstituenmu, suara pengikutmu. Adakah yang lebih layak didengar bagi seorang pemimpin kecuali keinginan rakyatnya. Kalau dalam ungkapan bijak Latin, vox populi vox dei. Suara rakyat adalah suara Tuhan. Arti kontekstualnya, suara rakyat harus dihargai sebagai penyampai kehendak Ilahi.

Mas ED sepertinya harus belajar banyak dari Abdullah Azwar Anas, bupati Banyuwangi, yang kebetulan juga menjadi rival dalam persaingan memperebutkan kursi Jatim 2. Tanpa bermaksud menyurutkan nyali ED, dan juga tidak mengurangi rasa hormat, Azwar Anas berani maju karena merasa sudah purna dalam bertugas. Dia sudah cukup mewariskan di benak masyarakat Bumi Blambangan bahwa keberhasilan Banyuwangi salah satunya berkat kinerja bupatinya. Dari yang awalnya hanya dikenal sebagai sarangnya santet kini menjadi kota sentral di Jawa Timur. Bahkan dijuluki Sunrise of Java. Sekarang pendulum pariwisata di Indonesia mulai mengarah ke sana.

Dalam benak saya, Trenggalek seyogianya bisa, minimal, menyamai Banyuwangi. Sebab, potensi wisata di Trenggalek sangat luar biasa. Pantainya, yang terbentang dari Watulimo, Munjungan, sampai Panggul, kurang lebih ada lima belas. Sungguh angka yang tidak sedikit. Belum lagi jika melihat gua-nya. Yang paling fenomenal tentu Gua Lawa. Di samping itu, Trenggalek juga bisa menawarkan diri sebagai lokasi balap sepeda yang belakangan lagi ngetren. Tour de Prigi, misalnya. Ya, mirip-mirip dengan Tour de Ijen di Banyuwangi.

Pokoknya, kalau di Timur ada Banyuwangi, di barat ada Trenggalek! Saya membayangkan Trenggalek suatu saat, 5 atau 10 tahun mendatang, bisa menjadi contoh pembangunan berbasis pariwisata selanjutnya yang berhasil. Harapan yang saya sematkan kepada Mas ED beserta wakilnya, Mohammad Nur Arifin alias Cak Ipin.

Namun, keputusan sang bupati maju dalam pilgub membuat harapan itu menguap begitu saja. Mas ED sebaiknya membangun dinasti yang kuat dulu. Dalam artian bekerja total dan sepenuh hati untuk Trenggalek. Sehingga kelak orang melihat Trenggalek ya representasi dari kinerja ED. Seperti orang memandang Banyuwangi ya sosok Azwar Anas.

Nasi telah menjadi bubur. Keputusan ED jelas menyayat hari rakyat. Beberapa partai berang bukan main karena merasa ditelikung. PDIP, salah satu partai pengusung ED di pilkada Trenggalek, bahkan langsung memecatnya dari keanggotaan partai. Sebab, sebelumnya, ED diklaim punya kartu anggota partai tersebut. Pembajakan ED oleh Partai Demokrat juga dianggap sebagai bentuk pragmatisme politik. ”Tentu itu tidak etis dalam berpolitik. Tidak boleh dan tidak seharusnya,” kata pengamat politik LIPI Siti Zuhro dalam sebuah kesempatan.

Baiklah, undang-undang memang menyatakan bahwa bupati yang ikut kontestasi pilkada cukup mengajukan cuti. Tidak harus mengundurkan diri. Tapi, kasus seperti ini kerap dipandang masyarakat sebagai batu loncatan saja. Dalam hal ini, ED menjadikan Trenggalek sebagai pijakan untuk melahap kekuasaan di tingkat provinsi. Ketika sang bupati mengajukan cuti, tentu saja di sisi lain banyak waktu terbuang sia-sia yang seharusnya digunakan untuk mengurusi Trenggalek dan manusia-manusianya.

Boleh sih maju pilgub, tapi tidak sekarang! Sebab, sebagian besar rakyat Trenggalek masih ingin ED melanjutkan kepemimpinan hingga tuntas. Mereka juga masih sreg dengan cara kerja sang bupati. Seperti kata salah satu warga yang berkomentar di Facebook tadi, selesaikan dulu masa baktinya, minimal lima tahun. Atau, kalau berkenan, maju lagi sampai dua periode. Kuatkan dulu fondasinya. Peluang menang di pilgub kelak, jika masih berhasrat, saya kira bakal lebih besar. Kalau sekarang, di Pilgub Jatim 2018, saya tidak menjamin ED dan koleganya, Khofifah, bisa berjaya.

Saya sampai berprasangka buruk: jangan-jangan sang bupati sudah tidak kerasan di desa dan ingin segera kembali ke kota?