Sampah merupakan satu konsekuensi adanya aktivitas manusia. Sebab, tak ada manusia yang tak meninggalkan jejak sampah. Ditambah lagi tingginya populasi penduduk dan besarnya pertumbuhan ekonomi, berdampak pada peningkatan konsumsi masyarakat. Akibatnya lahan untuk menampung bekas atau sisa konsumsi pun semakin terbatas. Di berbagai penjuru dunia, sampah menjadi permasalahan serius dan kerap tak terkendali.
Sampah menjadi urusan sangat penting. Sampah juga kerap dijadikan alasan dan ancaman bagi masyarakat saat hujan datang. Padahal sampah merupakan seonggok benda mati yang bisa ikut terseret ke mana saja arah gerakan (sapuan) tangan manusia. Jika sampah tersebut berada di tangan yang tak peduli lingkungan, maka sampah bakal berdampak jadi masalah. Beda saat sampah berada di tangan-tangan kreatif, sampah bisa bernilai ekonomis, seperti daur-ulang sampah botol plastik yang bisa dimanfaatkan menjadi pot tanaman, kapal-kapalan, juga plastik bungkus yang bisa disulap menjadi tas jinjing dan seterusnya.

Di Indonesia, permasalahan sampah terus mengisi pembahasan di berbagai kesempatan. Menurut Riset Greeneration, organisasi non-pemerintah yang 10 tahun concern membahas dan mengikuti isu sampah, bahwa satu orang di Indonesia rata-rata memproduksi 700 sampah kantong plastik per tahun.

Hasil riset Jenna R Jambeck dan kawan-kawannya (www.sciencemag.org 12 Februari 2016), yang diunduh dari laman www.iswa.org pada 20 Januari 2016, yang kemudian saya kutip dari situs www.nationalgeographic.co.id, menerangkan bahwa negara Indonesia menempati urutan kedua dalam memproduksi sampah. “Prestasi membanggakan” dengan menyabet brace medal atau runner up sebagai penghasil sampah plastik ini tentu sangat membanggakan, bukan? Apalagi Indonesia bersaing ketat dengan negara sekelas Tiongkok sebagai negara penghasil sampah terbesar di dunia: yang sampahnya hanyut ke tengah laut. Prestasi tersebut dibuntuti oleh negara tetangga, Filipina, Vietnam dan Sri Lanka.

Masyarakat sebagai penghasil sampah tentu merasa bangga dengan prestasi yang dicapai ini? Kebanggannya tidak lain dan tidak bukan, adalah masih mempertahankan pola pikir acuh terhadap sampah dan perilaku membuang sampah di sembarang tempat.

Kita masih sering menjumpai sampah berserakan di tempat-tempat yang seharusnya jauh dari sampah. Sebut saja, di salah satu jembatan yang merupakan jalur JLS. Jalur ini merupakan jalur wisata. Kita kerap disuguhi pemandangan sampah yang menumpuk di kanan-kiri jalan. Sampah tersebut didominasi sampah anorganik yang masa urainya sangat lama, seperti kantong plastik yang masa urainya memakan 10-20 tahun; plastik kertas (botol plastik) 50-100 tahun; dan Sterefoam yang tidak dapat diurai.

Ulah siapa ini kalau bukan ulah masyarakat sendiri?

Lain lagi ketika sampah tersebut kemudian menyumbat saluran air, dan saluran tersebut saat musim hujan tak mampu menampung debit air. Ke mana air akan bermuara? Ya di rumah-rumah warga, di sawah-sawah dan di laut dengan bongkahan-bongkahan sampah. Siapa yang akan disalahkan? Pemerintah harus siap disalahkan. Wong pemerintah iku pelayan rakyat. Sementara masyarakat atau rakyat iku raja.

Ya, suka ndak suka pelayan harus menurut apa kata rajanya dan siap dengan telinga terbuka menerima protes dari rajanya. Di satu sisi, jika rakyat benar-benar sebagai raja tapi la kok perilaku dan kebiasaan masih belum menggambarkan sebagai raja? Maksudnya, dengan kebijaksanaannya mampu melindungi dan menjaga lingkungan dengan baik.

Sebenarnya pemerintah lewat dinas terkait—dalam hal ini Dinas Perumahan, Permukiman dan Kebersihan—tidak tinggal diam. Namun yang dilakukan adalah fokus pada pengumpulan dan pengangkutan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Menurut Jurnal Pembangunan Wilayah & Kota (26 Januari 2016), mengatakan bahwa sampah yang diangkut di penampungan TPA, baik TPA Bengkorok maupun TPA di Srabah (Watulimo) sekitar 8,59%, sisanya dikelola sendiri oleh masyarakat dengan cara dibuang ke sungai atau dibakar.

Sampah-sampah yang didominasi adalah sampah non-organik, seperti sampah rumah tangga, sampah plastik dan sampah seperti popok bayi itu memang menjadi sampah paling gampang dihanyutkan di sungai. Selain merusak lingkungan, sampah-sampah itu juga akan menimbulkan bau yang menyengat dan membuat air mengalir tidak lancar.

Oleh karena itu, sudah waktunya pemerintah dan kita bersama tentunya, mengajak masyarakat berperan aktif dalam menangani permasalahan sampah serta meluruskan mitos-mitos yang berkembang di masyarakat terkait sampah. Misalnya sampah bekas popok bayi yang didominasi oleh pempes, ada mitos yang perlu diluruskan di kalangan masyarakat. Menurut mitos yang berkembang bahwa masyarakat sekitar lebih menyakini secara turun temurun dan mempengaruhi pola pikir mereka, bahwa popok bayi atau pakaian bayi jika tidak dihanyutkan ke sungai, maka bayi nantinya akan sembelit atau pantatnya panas dan ruam.

Seperti apa yang dikatakan salah satu warga di sekitar bantaran Sungai Wancir di Desa Tasikmadu. “Dari dulu saya kalau buang popok ya, di kali. Dulu popok kan tidak seperti sekarang. Dahulu popok itu kan dari sobekan kain baju yang tidak terpakai, tapi saat ini cucu saya yang sudah menggunakan popok beli, sehabis pakai atau tidak dipakai lagi, ya dibuang di kali.

Nah, sudah waktunya pemahaman dan kebenaran mitos ini perlu diluruskan dengan edukasi terhadap masyarakat. Bukan itu saja, di zaman yang serba instan, produk-produk yang diinginkan masyarakat adalah berupa kemasan instan, tahan lama dan mudah dibawa ke mana-mana. Kans masyarakat untuk memproduksi sampah sangatlah besar, bila tidak diimbangi dengan kebijakan pemerintah untuk menyadarkan perilaku masyarakat ini.
Diperlukan peran aktif dari masyarakat tentang perilaku menghargai lingkungan dengan cara mengolah sampah melalui program 3R (reduce, reuse, recycle), dan tidak membuang sampah di sungai serta membiasakan membuang sampah pada tempatnya. Karena peran aktif masyarakat sangat-sangat berguna menyelesaikan masalah persampahan ini.

TINGGALKAN KOMENTAR