Rokok, Dangdut Koplo, Sinetron

Orang kecil selalu salah dan kalah. Begitulah istilah yang biasa kita dengar untuk menggambarkan nasib “wong cilik” yang selalu tersisihkan dalam persaingan di masyarakat. Mereka seperti tak henti-hentinya disalahkan juga dikalahkan atas apapun pilihan hidup yang mereka buat.

Di sektor ekonomi, mereka harus mati-matian bersaing dengan barisan orang kaya. Tanah mereka dirampas, hak-hak mereka sebagai warga negara dilucuti, sumber penghasilan mereka juga digusur atas nama pembangunan. Tidak berhenti di situ, bahkan pilihan-pilihan yang mereka buat untuk mengisi jeda dalam ruang-ruang pribadi pun tak luput dari caci maki. Setidaknya ada tiga hal: dalam merokok, selera musik yang berkiblat kepada dangdut koplo serta hiburan sejuta umat: sinetron.

Bicara tentang rokok, ada banyak wacana yang diangkat terkait bahaya dan kerugiannya. Dari segi kesehatan, rokok mengandung zat-zat berbahaya yang merusak tubuh. Dari segi ekonomi, rokok diangggap sebagai pemborosan karena harga yang mahal dan oleh para perokok malah dijadikan kebutuhan pokok. Setidaknya, dari 2 alasan itu, kampanye rokok untuk orang miskin lantas dikaitkan dengan kondisi keuangan mereka. Katanya, dengan penghasilan yang tidak menentu seharusnya mereka bisa menggunakan uang untuk kebutuhan yang lebih penting. Lalu, sebagai orang miskin mereka seharusnya lebih memperhatikan kesehatan, karena biaya pengobatan mahal.

Tetapi sungguh masalahnya tak sesederhana itu. Bagi orang kecil (wong cilik) ini, rokok telah menjadi semacam penghiburan yang tidak boleh dilepaskan di tengah beban sehari-hari yang berat dan bikin stres. Bisa dibilang, efek candunya dibutuhkan untuk mengurai kepenatan dan ketegangan setelah babak belur dihajar pekerjaan kasar dan berat.

Di tengah himpitan ekonomi yang demikian ironis, sesungguhnya rokok malah menjadi strategi untuk menjaga pikiran mereka tetap waras. Selain itu, rokok juga dijadikan motivasi untuk bekerja lebih giat. Saat ngopeni para tukang bangunan dan buruh tani di desa misalnya, rokok dihitung sebagai kebutuhan yang harus disediakan oleh tuan rumah. Sifatnya sama wajibnya seperti menyediakan makanan dan minuman. Seperti sudah menjadi keyakinan bersama, menyediakan rokok akan membuat pekerja lebih fokus dan giat.

Ada lagi yang dinyinyiri dari wong cilik adalah kesenangan mereka dengan dangdut koplo. Dangdut koplo memang menjadi bagian budaya populer yang kerap dianggap tidak “nyeni” dan rendahan. Lirik-liriknya sama sekali tidak puitis lagi tidak mengandung filosofi yang dalam. Ia digemari hanya karena iramanya yang rancak dan energik, sehingga membuat kita bersemangat dan (tanpa sadar) bergoyang.

Tetapi justru itulah yang membuanya digemari masyarakat kelas bawah. Dangdut koplo mengangkat kehidupan wong cilik ke dalam lirik-lirik yang mudah dipahami. Emosi sehari-hari masyarakat kelas bawah digambarkan ke dalam bahasa yang sederhana. Lirik seperti, “Kuat dilakoni, lek ra kuat ditinggal ngopi, tetep cinta senajan bojoku galak.” Bukankah lirik ini dekat dengan kehidupan wong cilik? Ibarat hidup sudah susah, jangan ditambah susah lantaran harus mendengarkan lagu-lagu yang butuh waktu berhari-hari hanya untuk memahami liriknya.

Mereka tidak punya waktu untuk men-jlimeti lirik-lirik filosofis dari lagu-lagu yang dianggap nyeni. Terlebih jika lagu itu menggunakan bahasa Inggis atau bahasa asing lain yang sangat tidak familiar dengan telinga mereka. Tidak seperti orang kaya yang kebutuhan ekonomi tercukupi (dan tentu turah-turah), mereka punya banyak waktu untuk mendalami hal lain seperti filsafat, sastra dan ilmu pengetahuan lain yang berpengaruh pada selera mereka pada banyak hal, termasuk musik. Kebutuhan mereka akan musik sekadar untuk kepuasan emosional dan bukan kepuasaan kognitif. Lirik yang dekat dengan keseharian kita dan irama yang bikin bersemangat dan bergoyang adalah kombinasi lengkap hiburan yang asyik dan merakyat.

Lain rokok dan dangdut koplo, adalah sinteron. Di Indonesia, sinetron menjadi acara primadona yang menghasilkan banyak keuntungan bagi stasiun TV yang menayangkan. Rating sinetron selalu tinggi. Di masyarakat kita, rutinitas menonton sinetron bisa mengumpulkan seluruh anggota keluarga kelas bawah ke dalam suasana yang hangat dan seru. Kita bisa berlama-lama saling bertatap muka setelah seharian sibuk sendiri atau tertawa bersama karena karakter lucu atau jalan cerita yang aneh.

Ini benar-benar hiburan yang murah namun asyik dan menyatukan keluarga. Tetapi ini pun ada saja yang menyinyiri. Sinetron dianggap tayangan yang tidak berkualitas dan mendidik. Iya, ini benar. Tetapi masyarakat menonton sinetron karena butuh hiburan dan tak ada banyak pilihan acara. Mereka juga bukan si ATM berjalan yang punya duit berlebih untuk mencari hiburan lain seperti menyewa layanan NETFLIX, pergi ke bioskop atau makan malam mewah keluarga atau memasang WI-FI untuk youtuban. Kritik tentang kualitas sinetron seharusnya lebih keras ditujukan untuk stasiun TV yang menayangkannya.

Dalam sebuah artikel yang saya baca (tirto.id: di bawah lindungan sinetron), TV hanya memperhatikan rating dan sama sekali tidak peduli kualitas cerita. Cara kerjanya, setiap melihat rating tinggi (dan itu artinya uang dalam jumlah fantastis), TV akan menggunakan praktik stripping (tayang tiap hari). Stripping ini lalu akan membuat para penulis naskah harus menyetor naskah dalam waktu singkat bahkan meski mengorbankan logika cerita. Penulis naskah harus menulis 1 jam tayangan terus menerus. Sutradara juga harus memproduksi 1 menit sinetron dalam waktu 8-12 menit. Ini tentu saja melelahkan, dan bagi saya, tidak manusiawi. Dalam artikel di sini, inilah penyebab dadal dual-nya mutu sinetron.

Lantas, jika merujuk ke data Nielsen dalam wawancara di sini, bahwa sinetron paling banyak memang ditonton oleh masyarakat kelas bawah. Dari situ, lalu ada yang nyinyir bahwa alasan sinetron buruk lantaran penikmatnya hanya datang dari masyarakat kelas bawah. Oh, waow, tuh ‘kan salah lagi. Asumsi itu seolah ingin menjelaskan bahwa masyarakat kelas bawah tak punya selera yang bagus terhadap film.

Padahal faktanya (diambil dari tirto.id: kita enggak punya banyak pilihan sinetron bagus), bahwa pernah ada sinetron bagus (judulnya Para Pencari Tuhan) yang juga menduduki rating nomer satu. Itu artinya, selera masyarakat kelas bawah sebenarnya juga bagus dan siap untuk menerima tayangan berkualitas. Hanya saja, ya itu, “wong cilik itu tidak lebih penting dari uang,” kata konglomerat TV pemuja materi di sana.

TINGGALKAN KOMENTAR