Menanti Nggalek.co Gulung Tikar

Catatan Dua Tahun Nggalek.co

Bulan Maret adalah bulan pertama kali nggalek.co memajang tulisan-tulisan di lamannya. Dan, bulan Maret tahun 2018 ini adalah genap 2 tahun sudah nggalek.co konsisten menerbitkan tulisan, sejak pertama kali orbit di suatu malam di tahun 2016 di Jalan Patimura No. 17, Ngantru, Trenggalek. Tempat itulah yang hingga kini menjadi markas portal sederhana ini—tentu saja dengan menebeng. Perlu diketahui, nggalek.co masih menebeng di rumah yang merupakan kantor LPPM (Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat) Pama tersebut hingga sekarang. Portal yang mula-mula dilatari oleh ikhtiar mengumpulkan para blogger Trenggalek itu, pada akhirnya—atas usul entah Trigus atau entah Mas Bonari—menghasilkan  nama portal: nggalek.co. Dari situ-lah ia pelan-pelan tumbuh menjadi media dengan bentuk dan karakter yang bisa Anda lihat dan nilai sendiri sekarang.

Di malam-malam saat launching dahulu, tak lebih hanya dihadiri oleh sekitar—ingat saya—tiga atau empat orang, yang masing-masing telah menyiapkan satu buah tulisan (dengan membaca basmalah dan doa) untuk diposting sebagai seremoni kecil per-launching-an-nya. Saya masih ingat, pada awal mula didirikan, portal ini dengan gagah lagi ngotot, memajang tulisan dua kali sehari, dan bertahan satu bulan. Di bulan sesudahnya, kebijakan diambil dengan memajang satu tulisan dalam sehari, dan sekali lagi, hanya betah bertahan sebulan. Lantas di-turun-kan dengan: dua hari memosting satu tulisan, dan (lumayan) sanggup bertahan hingga lima bulan. Di bulan-bulan sesudahnya, nggalek.co cuma mampu memajang tulisan, tak lebih dari: 6 hingga 12 buah tiap bulannya.

Kini nggalek.co masih bertahan dengan memosting tulisan rata-rata per bulan, 6 hingga 12 tulisan, tapi yang paling sering adalah 8 hingga 10 tulisan saja. Sekali saja nggalek.co pernah hanya memosting 5 tulisan dalam satu bulan, yakni pada bulan Februari, tahun 2017. Itu mungkin adalah bulan paling paceklik karya dalam sejarah keberadaan nggalek.co dibanding bulan-bulan yang lain selama 2 tahun ini. Jadi, paling tidak, tiap bulan nggalek.co sepanjang dua tahun ini, sudah sanggup memosting rata-rata antara 8 hingga 10 tulisan. Untuk menyiasati supaya tidak paceklik konten ini, nggalek.co memang menerapkan aturan/kebijakan bersama, dengan “donasi wajib” untuk (sebagian) anggota/kontributornya, berupa tulisan atau uang.

Jadi, kontributor atau penulis-penulis di nggalek.co punya kewajiban donasi tulisan tiap bulan sekali, atau kalau kebetulan tidak mampu membuat tulisan sesuai kesepakatan, donasi tulisan boleh diganti dengan donasi uang Rp 50.000: dan nominal ini juga merupakan kesepakatan. Uang donasi ini tentu cukup besar ukurannya untuk mereka yang tidak bekerja. Dan mau tidak mau, kalau tidak sanggup membayarnya, lebih memilih untuk membuat tulisan, meski sekadar supaya aman dari berdonasi dalam bentuk uang.

Kelebihan portal ini memang dibangun secara swadaya, baik kontributor tulisan maupun bayaran patungan untuk tetek-bengek administrasinya: misal untuk bayar domain, hosting juga wifi internet. Saya tidak tahu, apakah kelebihan ini nanti bisa berubah menjadi petaka? Sebagai siasat supaya tetap bertahan (konsisten) menyajikan konten, dua hal yang dilakukan nggalek.co: pertama, dengan memperbanyak tulisan reportase (kalau-kalau para penulisnya sedang kehabisan stok tulisan opini). Reportase ini seperti kerja pewartaan, katakan saja bagian dari citizen journalism. Peristiwa itu bergerak dan tak akan habis ditulis. Dan, kita tahu, umur peristiwa setua usia manusia. Kedua, dengan mengubah kebijakan tema/konten yang ditulis. Sebetulnya nggalek.co sudah tidak lagi sepenuhnya menuliskan topik-topik lokal/ke-trenggalek-an. Topik-topik di portal ini sudah bercampur antara topik lokal dan tema-tema umum. Asal topik tersebut tidak jauh keluar dari karakter tulisan di nggalek.co, misalnya masih berkaitan dengan desa, manusia, dan situasi sosial pedesaan.

Meski begitu, memang tetap harus ada beberapa penulis yang menjaga ritme dan karakter ke-trenggalek-an-nya. Peran ini salah satunya saya ambil. Saya menjaganya dengan menuliskan tema-tema yang berkaitan dengan sejarah Trenggalek dan segala topik yang jarang diulas terkait Trenggalek. Selain saya, masih ada Mas Bonari, yang membidik tulisan-tulisan bertopik ke-dongko-an, secara khusus topik-topik berlatar Dusun Cakul, fenomena, kejadian dan segala sesuatu yang layak diangkat di Cakul sana. Mas Bonari kerap menyajikan fenomena apapun di dusunnya itu secara khas dan menjadi layak disimak. Roin, Rihanan, Pulung, Dian, Nurma, Androw, Randy dll sebetulnya juga masih menulis topik-topik lokal, tapi tentu saja kalah banyak dengan apa yang telah disajikan Mas Bonari, Rokhim, Trigus dan saya sendiri.

Dengan konsistensi para penulisnya di tiap bulan selama dua tahun ini, tidak disangka nggalek.co—sampai dengan bulan Maret 2018 ini—telah menghasilkan lebih dari 300-an artikel dengan jumlah sekitar 44 orang penulis. Bisa dibayangkan betapa sulit mengumpulkan berbagai jenis tulisan (opini, feature, esai, hasil reportase, cerpen dll) dengan jumlah itu tadi, tanpa keberadaan media ini. Lebih dari semuanya, saya ingin mengacungkan dua jempol untuk Trigus Dodik Susilo, yang sama sekali tidak berlatar penulis tapi malah belum pernah absen menulis tiap bulan di nggalek.co selama dua tahun ini. Belum lagi perannya sebagi penjaga mutu ragangan, penyuplai gambar sekaligus web master nggalek.co.

Saya sendiri, dengan Trigus, merasa ibarat dua orang pemain tunggal dalam mengelola web ini atau seperti pekerja harian tanpa upah. Kami sudah biasa berdiskusi, berdebat, saling engkel-engkelan, bertengkar, hingga sampai pernah saling memisuhi karena meributkan konten maupun tampilan nggalek.co. Karena itu-lah, barangkali secara emosi saya lebih dekat dengan Trigus, hingga sama-sama mengetahui karakter masing-masing. Kami sangat biasa berdebat soal gambar untuk tulisan, pilihan font, tata letak isi web (yang sering juga berubah-ubah) sampai perkara-perkara sepele lainnya.

Saya tidak tahu sampai kapan nggalek.co, akan bertahan untuk menuliskan topik Trenggalek. Dan, sampai kapan pula para penulisnya akan betah berkomitmen dan konsisten untuk menulis Trenggalek: tentang desa, manusia-manusia tetangga mereka sendiri, dan pada pokoknya seluruh pergerakan di pedesaan: pohon ditiup angin, burung terbang ataupun buah durian yang kebetulan jatuh. Sebab, komitmen dan konsistensi itu hari ini masih menjadi dua barang mahal, yang sudah banyak orang sering tak sanggup lama-lama memanggulnya.

Lebih-lebih karena nggalek.co tak memberikan apa-apa buat para pengelola dan kontributornya. Dan sudah pasti malah menjadi parasit, karena menyedot tenaga, waktu dan mungkin finansial, salah satunya, dengan berdonasi. Apa yang kita harapkan dari nggalek.co selain masing-masing kita—untuk saat ini dengan kadar tertentu, dan dalam ukuran yang tak mesti sama—mungkin punya rasa cinta padanya. Anggap saja nggalek.co adalah sisa dari ruang untuk memelihara harapan bersama kita akan “kemajuan” kota lahir: Trenggalek tercinta. Di sini, lewat portal ini kita memberi semampunya. Amor vincit omnia! Semoga pula melalui nggalek.co, kita dapat membuat tabungan (sudah pasti tabungan tulisan di antaranya) dan juga menjadi sodaqoh jariyah.

Saya pribadi, barangkali dalam kerja edit-mengedit ini sudah tak lagi sedetail dan se-awas setahun pertama. Barangkali pembaca sekalian sering juga memergoki salah ketik/typo, kesalahan penulisan tanda baca: titik, koma, juga penggunaan kata tidak baku di berbagai tempat, ketika pembaca sekalian sedang asyik-asyiknya berselancar alias membacai nggalek.co. Semata-mata itu semua selain kesalahan penulisnya, juga merupakan kesalahan dan kekurang-cermatan editornya. Sebab, dulu barangkali saya masih bisa mengedit tulisan-tulisan di nggalek.co hingga 3 sampai 4 kali, bahkan lebih. Kini—disebabkan perkara-perkara lain yang juga butuh perhatian—saya hanya mampu mengeditnya satu hingga dua kali saja.

Kapan kira-kira nggalek.co kukut? Sebab portal ini sudah banyak menyedot tenaga, waktu dan pikiran kita semua. Sudah begitu, markasnya saja masih nebeng. Para penulisnya main comot di jalanan, juga main todong tulisan ke orang. Dan selebihnya portal ini sama sekali tak menguntungkan bagi pengelola dan para penulisnya. Saya sangat menunggu-nungu kapan nggalek.co ini akan kukut. Dengan begitu, akan selesai juga tugas dan beban saya untuk mencari tulisan, menjadi motivator seperti Mario yang menjenuhkan itu, sekaligus tak lagi sibuk dengan kerjaan edit mengedit ini. Lantas saya bisa melanjutkan kehidupan menulis saya sendiri—yang telah lama sekarat—di media cetak maupun online, yang nyata-nyata menyediakan honorarium, buat kebutuhan saya makan-minum sehari-hari dan membelikan sabun-odol istri. Saya benar-benar sedang menunggu—entah dengan sebab apa—nggalek.co tiba-tiba saja kukut.

TINGGALKAN KOMENTAR

Misbahus Surur
Kelahiran Munjungan, Trenggalek. Menulis buku Turonggo Yakso Berjuang Untuk Eksistensi (Yogyakarta: Syafni Press, 2013) dan menyunting buku Rengkek-Rengkek: Senarai Catatan dan Kisah (Per)jalan(an) di Kota Trenggalek (Trenggalek: Tuhālas Biblioteca, 2015).