roin j. vahrudin-Apa Untungnya Menulis di nggalek.co?

Tanggal 6 April 2016 adalah pertama kali tulisan saya di-unggah di nggalek.co, sebulanan setelah nggalek.co berdiri. Tulisan itu ada berkat kerja keras Trigus dan Surur menceramahi saya bahwa apapun yang saya rasakan patut diungkapkan, salah satunya melalui tulisan.

Di awal-awal saya menulis, saya begitu bersemangat. Saya merasa menemukan sesuatu yang sebenarnya sudah saya simpan begitu lama namun belum menyadarinya. Trigus Dodik Susilo dan Misbahus Surur adalah dua orang yang terus menyemangati saya untuk menulis. Jika saya perumpamakan, Trigus seperti minyak yang terus menyirami saya untuk menulis: apa saja, namun ocehannya—yang ia sebut motivasi itu—tak pernah membuat saya menulis satu paragraph pun. Ia hanya berhasil membuat saya kuyup dengan minyak, namun tak pernah mampu untuk “membakar saya”.

Jika saya sudah lama mengenal Trigus, tidak demikian dengan Surur. Saya mengenalnya sebelum nggalek.co ada. Ia diperkenalkan kepada saya oleh Trigus. Pemuda asal Munjungan yang belum lama menikah ini juga ternyata mengajar di salah satu universitas negeri di Malang. Di nggalek.co, ia didapuk sebagai editor. Jika Trigus sebagai minyak yang terus mengguyur saya, Surur adalah korek apinya. Belum lama kami berkenalan dan tidak sering pula kami mengobrol lama, Surur sudah mampu “membakar saya”—sebetulnya kita sudah pernah ketemu meski tidak saling kenal, ketika saya sekolah MTs di Ponorogo, karena ternyata kami se-almamater. Beberapa hari setelah kami mengobrol sebentar di suatu hari, saya mengirimkan tulisan kepadanya. Dan akhirnya, muncul-lah tulisan saya di nggalek.co untuk pertama kalinya.

Jadi, jika salah satu dari mereka memiliki sedikit saja rasa bangga bahwa telah membuat saya mau menulis, sadarlah, bahwa kalian berdua tak bisa membanggakan diri sendiri. Trigus membutuhkan Surur untuk memantik apinya, sedangkan Surur juga tak akan bisa “membakar saya” dengan api yang begitu besar, jika tak ada siraman minyak dari Trigus sebelumnya. Kalian berdua, akurlah!

Hingga kini saya masih berusaha konsisten untuk terus menulis, apa saja yang sekiranya perlu saya tulis dan saya suarakan di nggalek.co. Dari 2016 hingga sekarang, konsistensi saya dalam menulis tidaklah sehebat mereka berdua. Ada kalanya saya mengalami “musim kemarau” dalam menulis. Meskipun—sedikit—diharuskan untuk menulis sebulan sekali, namun ada kalanya saya tak pernah menulis untuk nggalek.co selama 2 bulan, bahkan lebih. Apakah itu tidak apa-apa? Tentu saja tidak. Jika tidak mampu untuk donasi tulisan, maka saya diharuskan untuk mengganti dalam bentuk lain sesuai kesepakatan bersama.

Beberapa bulan setelah berdiri, disepakati bahwa kontributor/penulis nggalek.co yang dalam satu bulan tidak dapat mendonasikan setidaknya satu tulisan, maka diharuskan menggantinya dengan uang sebesar lima puluh ribu rupiah (ide uang sejumlah itu pertama kali malah keluar dari Androw Dzulfikar). Hebat sekaligus gendeng, menurut saya. Hebat karena hampir semua kontributornya setuju. Gendeng karena kok mau-maunya para kontributor itu menyetujui.

Saya setuju saja dengan kesepakatan itu. Pertama, urun rembug saya untuk menjaga konsistensi nggalek.co. Oleh karena segala pembiayaan tetek-bengek-nya adalah swadaya, maka tak ada yang dapat diharapkan selain keikhlasan dari yang mengurusi dan para kontributornya. Semoga apa yang sudah mereka lakukan untuk nggalek.co di-ridloi oleh Alloh SWT. Amin.

Kedua, kewajiban untuk mengganti donasi tulisan dengan rupiah saya jadikan sebagai motivasi, untuk saya sendiri supaya konsisten menulis. Karena dengan adanya keharusan seperti itu, menjadikan saya untuk mau tidak mau harus berupaya untuk terus menulis paling tidak sebulan sekali. Meski anggap saja penggugur kewajiban. Entah itu tulisan dengan topik menarik atau sekadar ngoceh. Tidak seperti Surur, Trigus, Rokhim, Pak Bonari atau lainnya yang setiap menulis, tulisan-tulisan mereka kerap menabok. Saya tentu sedikit-banyak belajar dari mereka.

Selama dua tahun ini, bermacam tema telah saya tulis dan diterbitkan oleh nggalek.co. Saya sangat mensyukuri karena darinya saya mendapatkan bermacam pelajaran dan pengalaman. Jumlah tulisan saya sebanyak dua puluh empat. Jika dirata-rata selama dua tahun ini, maka gugurlah kewajiban saya untuk menulis sekali dalam sebulan. Berarti, tak ada yang harus saya ganti dengan donasi uang. Begitu.

Saya sendiri, ada kalanya merasa jengah dengan Surur. Jika oleh Rokhim ia diibaratkan sebagai mood changer, saya setuju dengannya. Bahkan lebih dari itu. Kadang saya merasa heran dengan dia, kenapa setiap bulan ia begitu rajin menulis dan lantas juga menge-list yang belum menulis. Ia tak digaji, dapat komisi dari setiap tulisan yang di-edit-nya juga tidak. Bagi kontributor perempuan, mungkin Surur sama halnya dengan menstruasi yang datang tiap bulan, bikin sakit perut dan mood berubah.

Lain lagi dengan Trigus, jika tak ada tulisan dari saya, ya ampun, ia akan mengolok-olok saya sebagai pemuda nihil integritas. Kurang ajar sekali. Apa ia tak ingat, ke rumah siapa ia menuju jika di Watulimo. Siapa pula yang menyuguhinya kopi ketika otaknya kekurangan cairan gara-gara banyak urusan dan nggalek.co.

Secara pribadi, konsistensi saya dalam menulis belum sampai se-tingkat Surur dan Trigus yang ajeg menulis sebulan sekali—bahkan lebih. Saya hanya menulis ketika ada suatu hal yang ingin saya utarakan sekaligus menggugurkan kewajiban untuk donasi tulisan. Mungkin benar kata Trigus bahwa nggalek.co adalah satu-satunya panggung terakhir bagi siapa saja—termasuk saya—yang hendak menyuarakan kegundahan, kegalauan, teriakan-teriakan keresahan, pemikiran, ide-ide dan bermacam gagasan tentang Trenggalek.

Sangat mungkin editor selalu nggrundel dan misuh-misuh ketika saya mengirimkan tulisan kepadanya karena masih acak-acakan dan tidak sepenuhnya ngikut kaidah penulisan. Dari sekian banyak sebab, salah satunya tentu saja menulis di nggalek.co tak ada untungnya. Buat apa repot-repot nulis yang baik dan sesuai kaidah, jika tak menghasilkan rupiah dan menguntungkan? Tidak untuk editornya, tidak untuk yang mengurusi web-nya, apalagi untuk kontributornya, sama sekali tidak menguntungkan. Yang ada justru membebani.

Kalau suatu saat nanti saya tidak lagi menulis di nggalek.co, maka tenanglah hidup saya karena tak lagi menjadi buruan list bulanan, yang mampu mengubah suasana hati dan nafsu makan. Dan juga tak lagi menjadi objek olokan kurang ajar dari Trigus yang sok berdedikasi kepada Trenggalek. Saya bisa tenang ngapital—seperti yang selalu dituduhkan Trigus kepada saya—meraup rupiah dan membantu istri saya jualan souvenir dan aksesoris. Lebih untung, kan?

Andaipun sampai sekarang saya masih menulis di nggalek.co, itu semua karena saya masih merasa memiliki cinta untuk Trenggalek yang saya ekspresikan melalui nggalek.co. Selama nggalek.co eksis, maka selama itu pula cinta saya untuk Trenggalek akan terus terekspresikan Jika Surur mengatakan bahwa ia tak tahu kapan nggalek.co akan bertahan, saya pun tidak tahu kapan saya akan benar-benar jenuh menulis dan mengatakan “apa sih untungnya menulis di nggalek.co?”

Salam Lestari!

TINGGALKAN KOMENTAR