Cinta Kita terhadap Kota Trenggalek

Gara-gara akhir-akhir ini ada beberapa penulis yang menuliskan kesan dan pengalaman pribadinya ketika menulis di nggalek.co, saya juga entah kenapa jadi tertarik untuk ikut-serta. Anggap saja ini sebagai rentetan tulisan intermezzo sebelum menulis lagi dengan tema-tema yang lebih serius. Jadi begini, pertemuan saya dengan nggalek.co dimulai sekitar 2 tahun lalu ketika tengah asyik berselancar di dunia maya. Saat itu saya sedang iseng melakukan pencarian tentang Trenggalek. Situs ini lalu muncul dan langsung menarik perhatian, seolah seperti menemukan kembang cantik di tengah kebun.

Saya tertarik dengan latar awal web ini yang mirip dengan situs beken bermotto: “sedikit nakal banyak akal”. Apalagi jika membaca beberapa artikel dan biodata penulisnya, yang dituliskan dengan agak lucu dan slengean, saya pikir ini web dengan konsep serupa.

Lantas dengan tidak punya malu saya mengirimkan tulisan slengean ke email nggalek.co. Saat itu tidak ada satu pun penulis nggalek.co yang saya kenal secara dekat. Di tengah-tengah mereka saya hanya orang asing yang tiba-tiba nyumpel ikut menulis dan memintai saran sekaligus kritik atas tulisan bikinan saya. Jadi, jika ada yang bilang bahwa penulis nggalek.co asal mencomot, maka saya tentu lebih parah lagi, lantaran saya sendiri yang minta dipungut dari jalan. Lalu begitulah seterusnya, penjaga situs ini memberitahu saya bahwa web ini mengusung tema, isu dan narasi lokal serta memiliki konsep yang berbeda dengan situs/portal slengean nasional yang saya sebut tadi.

Seiring waktu saya mulai ikut berproses di dalamnya. Saya sebenarnya telah sedikit mengenal dunia menulis sebelum menemukan nggalek.co. Tetapi dunia menulis itu lantas saya tinggalkan, bahkan sebelum sempat belajar dengan serius. Saya juga tidak pernah datang ke acara-acara literasi atau bahkan menjadi anggota perkumpulan literasi, meski memiliki akses ke sana. Saya memang merasa tidak memiliki passion dalam dunia menulis. Baru ketika menemukan nggalek.co, saya memulainya kembali.

Awal belajar, saya diajari mengenali dasar-dasar penulisan seperti bagaimana menyusun kalimat, menempatkan tanda baca serta mengenal berbagai kosa kata untuk menciptakan tulisan dengan pilihan kata dan bahasa yang lebih kaya. Dasar-dasar kepenulisan itu mungkin terlihat sepele dan cenderung ribet. Seolah-olah ide-ide besar tidak akan segera lahir jika kita terus-menerus sibuk untuk mengurusi hal-hal yang mendasar itu. Tetapi mau bagaimana lagi, itu memang sudah menjadi bagian sepaket, pengetahuan menulis yang tidak boleh kita lewatkan, hanya karena tidak sabar ingin menumpahkan isi kepala. Bisa dibilang, belajar dasar-dasar penulisan itu adalah konsekuensi awal yang harus dijalani setiap penulis. Lalu kita bisa naik ke tahapan selanjutnya dengan mempelajari bagaimana mengembangkan ide dan isi tulisan.

Selain itu nggalek.co juga menambah pengetahuan saya tentang kota sendiri. Seluk beluk kota Trenggalek dikabarkan ke dalam variasi tulisan yang beragam serta sudut pandang penulis yang berbeda-beda. Seperti kata pepatah, ”sambil menyelam, minum air”. Di nggalek.co, saya bisa mengembangkan kreativitas literasi saya lewat menulis sambil terus melakukan pengenalan terhadap kota Trenggalek lewat membacai tulisan-tulisan tentangnya. Lagi pula, ada kebanggaan sendiri jika tulisan kita di-unggah oleh media yang punya konsistensi dan dieditori dengan serius. Meskipun hanya web lokal tanpa honorarium, setidaknya bisa kita gunakan untuk latihan menulis serta tangga awal untuk naik ke media dengan level yang lebih tinggi.

Nah, selanjutnya bergeser ke tema tentang mencintai kota. Saya mengenal pengertian mencintai sebagai suatu kemampuan yang bisa dipelajari dan ditumbuhkan sendiri lewat praktik. Ia bisa kita pelajari lewat pemahaman dan pengenalan, yang lantas bisa menumbuhkan tanggung jawab, perhatian dan kepedulian. Begitu juga dengan menumbuhkan kecintaan terhadap kota, kita bisa mulai melatarinya dengan mencari pengetahuan tentangnya yang lantas akan menumbuhkan “kesadaran-kesadaran ideologis”.

Bagi orang muda seperti saya, Trenggalek tentu kota yang tidak menarik. Ia seperti tempat yang diasingkan lantas terseok-seok dengan pertumbuhannya. Tetapi bagaimanapun kondisinya, dalam lingkup yang lebih luas, di sinilah rumah kita. Selama bertahun-tahun kita menempati tanah kota ini untuk tempat tinggal, mencari penghidupan, mengambil kebaikan-kebaikan dari lingkungannya dan tumbuh-berproses bersama masyarakatnya. Segala hal baik ataupun buruk yang terjadi pada “rumah” kita ini akan berimbas pada kehidupan pribadi dan keluarga kita. Seumpama rumah sendiri yang dirawat dan dibersihkan setiap hari, Trenggalek juga harus dijaga dan dirawat agar bisa menjadi tempat tinggal yang aman dan nyaman bagi penghuninya.

Selain itu, menjaga kota ini adalah bentuk penghargaan terhadap para pendahulu. Jika kita membaca sejarah Trenggalek, perjuangan para pemimpin terdahulu itu sebenarnya tidak hanya ditujukan untuk masyarakat pada saat itu, namun juga kepada kita, anak-cucunya. Mereka ibarat orangtua yang bekerja keras agar kita, anak-anaknya, bisa hidup dengan baik. Misalnya saja, jika kita melihat bahwa alam Trenggalek masih dalam keadaan baik, itu juga karena para pemimpin kita dulu menerapkan pembangunan dengan cara-cara yang arif terhadap alam (Kalian bisa membaca artikel, antara lain, “Kenapa di Trenggalek Tak Ada Candi?” dan “Tiga Tokoh Hebat yang Mengubah Kota Trenggalek).

Kita akan menjadi anak durhaka yang tidak tahu diri, jika sekarang kita meneruskan pembangunan mereka dengan cara-cara yang tidak arif terhadap alam. Jadi, kebaikan-kebaikan mereka seharusnya bisa kita hargai dengan menerapkan konsep pembangunan yang lebih maju namun tidak lantas merusak alam, yang dulu berusaha mereka jaga. Lagi pula, bukankah kita juga perlu dikenang sebagai orangtua yang baik (menjadi orangtua yang mewariskan masyarakat yang berkarakter, berbudi luhur serta alam yang masih lestari)? Bukan orangtua yang menyusahkan anak cucunya karena mewariskan kerusakan alam, kebobrokan karakter masyarakat, serta sekumpulan manusia yang kehilangan identitas dan jati diri luhurnya. Begitu-lah, Gaes.

TINGGALKAN KOMENTAR