Bagaimana Rongga Besar di Guo Lowo Terbentuk (1)
Rongga Besar di Guo Lowo tampak dari luar | Photo Mas Trigus

Selain di Kecamatan Kampak dan Dongko, di Desa Watu Agung, Watulimo, arah timur Gunung Sepikul—nama untuk dua pasang gunung (Gunung Sikambe dan Gunung Suwur) pemberian masyarakat setempat, yang tinggi menjulang itu—terdapat gua alam berongga luas. Gua ini sudah sejak lama digarap sedemikian rupa menjadi lokasi wisata, terutama fasilitas jalan menuju ke dalam rongga berupa jembatan panjang hingga ke ujung sana. Dengan fasilitas tersebut, pengunjung bisa dengan mudah masuk labirin gua hingga mentok.

Batu Stalaktit (dari atas ke bawah) dan batu Stalagmit (dari bawah ke atas)

Meski gua ini sudah ditambahi prasarana jalan dan banyak hal lain, tampak masih menyuguhkan keaslian arsitekturalnya: di antaranya pada dinding gua serta kekayaan stalaktit dan stalagmit. Pembangunan jalan menuju ke dalam, belum menghilangkan konstruksi asli, yang dibuat oleh abrasi air dari mungkin semenjak ratusan tahun.

Kalau diamati secara saksama, gua ini seolah terowongan air raksasa sebagai bagian dari siklus hidrologi air tanah: sungai di permukaan. Pada bagian lantai, yakni sungai di dalam gua terlihat jelas pasir bercampur kerikil di beberapa permukaannya yang lebar. Air di dalam gua tidak sekadar mengalir berkericik melalui celah-celah sempit, tetapi menderas dan tersungaikan.

Stalaktit dan stalagmit terpacak indah, berwarna putih, karena berbahan (material dari) pegunungan karst. Pada langit-langit gua, tersuguh keluasan seolah atap pada ruang pertemuan. Di gua ini juga masih ada bekas bantaran sungai, semacam bekas air terjun yang cukup lebar. Bekas aliran air yang membasuh tebing gua terekam membatu: tampak seperti air baru saja terjun lalu tiba-tiba berhenti.

Barangkali (duga saya) gua ini dulunya adalah sungai bawah tanah, dengan aliran yang cukup besar: hasil lintasan air (sirkulasi hidrologi) sungai bawah tanah dengan kekuatan yang besar tersebut, menghasilkan rongga besar gua ini. Di atas gua, dimensi tanahnya mencembung sesuai struktur bukit kapur (karst) yang me-rongga di bawahnya. Aliran sungai di dalam gua, perkiraan saya, mengarah dari utara ke selatan; mungkin juga dari timur laut ke selatan.

Di luar gua, berserak batu-batu gunung hitam kokoh. Sebagian membentuk barisan. Di selang-selingi pohonan jati yang melingkupi area gua. Meski sungai yang besar itu sudah tidak lagi dialiri air deras seperti abrasi yang pernah dibuatnya di zaman lampau.

Ini sedikit gambaran mengenai Guo Lowo (atau: Gua Lawa), sebuah lokasi wisata andalan Kabupaten Trenggalek. Menjadi salah satu rangkaian lokasi wisata wajib, jika kita pergi piknik ke Pantai Prigi dan sekitarnya, di Watulimo. Bahkan menurut kabar, rongga gua ini adalah yang terbesar di Asia Tenggara.

Secara topografis, lokasi Guo Lowo ini , jika bisa saya banding-bandingkan dengan letak Gua Ngerit di Kampak, ada sedikit kesamaan. Jika Guo Lowo di sebelah baratnya terdapat gunung batu kapur yang tinggi menjulang bernama Gunung Sepikul (pasangan Gunung Sikambe dan Gunung Suwur), di sebelah selatan Gua Ngerit terdapat gunung dari batu gamping yang tak kalah menjulang, yakni Gunung Manik-Oro.

Di antara Gunung Sepikul dan Guo Lowo ini mengalir sungai dengan limpahan batu-batu gunung yang berserak. Menghasilkan suara gemericik atau gemerojok, yang nyaman di telinga pengunjung/wisatawan. Aliran sungi di pintu masuk Guo Lawa mengarah ke selatan.

Rekaman tulisan ini sebetulnya dari catatan kunjungan saya yang ke sekian, kalau tidak salah sekitar dua tahun lalu, ketika masih sering ngeluyur ke beberapa “lokasi menarik” di Trenggalek. Saat ke sini, saya mengajak seorang teman, yakni Mas Roin J. Vahrudin.

***

Oh ya, Guo Lowo termasuk gua horizontal yang memanjang sekitar mungkin hampir setengah kilo (tentu saya mengira-ngira). Dengan kelebihan rongganya yang besar kendati sungai di permukaan gua kini telah surut dan menyisakan sungai yang berada di bawah lantai, yang mengalir melalui pecahan-pecahan batu di permukaan gua sana, dengan debit yang masih cukup deras. Secara umum, asal mula gua atau munculnya rongga-rongga di gua kerena penetrasi air tanah, terutama pada tanah yang rekahan-rekahannya memungkinkan aliran air tanah dapat menciptakan abrasi yang lama dan hebat.

Selain gua horizontal, Guo Lowo adalah gua water table (lapisan permukaan entah berupa tanah atau batu di atas air tanah): terjadinya aliran (sirkulasi) air di bawah water table, yang lantas menciptakan rongga. Meski begitu, gua sering terbentuk, tidak bisa lepas dari siklus geologi dan hidrologi setempat (lokal), yang dipengaruhi oleh topografi. Karena Trenggalek adalah daerah pegunungan-perbukitan, juga dilintasi karst selatan, Guo Lowo juga Gua Ngerit pun punya komposisi batuan yang indah dengan strukturnya yang meliuk-liuk.

Saat kita berada di labirin Guo Lowo, tetesan air dari atas berjatuhan, kadang mengenai kita, saat berjalan memasuki mulut gua hingga di ujung lorong sana. Tetesan ini menunjukkan bahwa stalaktitnya masih berkembang (hidup)—kendati sebagian telah mati. Air menetes melalui stalaktit, baik dari yang sudah agak panjang maupun yang masih pendek, alias baru terbentuk. Di sekitar gua juga banyak bertumbuh pepohonan (vegetasi), secara khusus pohon-pohon jati yang memungkinkan resapan air hujan ke dalam tanah lebih maksimal. Meski terhitung jumlah pepohonan di sini kurang begitu rimbun.

Masyarakat sekitar harus intensif menanam dan menghindari penebangan pepohonan yang berada di sekitar, untuk menjaga air di sekitar gua. Khususnya agar pemandangan dan keindahan gua, yang banyak tercipta dari kekayaan stalaktit dan stalagmitnya itu, dapat terus hidup, terjaga dan lestari.

TINGGALKAN KOMENTAR

Misbahus Surur
Kelahiran Munjungan, Trenggalek. Menulis buku Turonggo Yakso Berjuang Untuk Eksistensi (Yogyakarta: Syafni Press, 2013) dan menyunting buku Rengkek-Rengkek: Senarai Catatan dan Kisah (Per)jalan(an) di Kota Trenggalek (Trenggalek: Tuhālas Biblioteca, 2015).