Paradoks Manusia di Tengah Kemajuan Teknologi - Gambar dari Brilio
Paradoks Manusia di Tengah Kemajuan Teknologi - Gambar dari Brilio

 “Berapa banyak hubungan yang sudah kaubuat? Dengan siapa saja? Hubungan seperti apakah itu?”

Pernah-kah kita menerima pertanyaan seperti ini? Jika tidak, mungkin karena pertanyaannya yang tak relevan buat dijawab. Yang menjawab mungkin tak ingat berapa banyak hubungan yang sudah ia buat, dengan siapa saja, seperti apa hubungan itu, dan mengapa. Walaupun mampu menjawab, tak ada yang bisa memastikan kalau itu adalah jawaban yang benar. Bahkan walaupun benar, jawaban itu bisa saja berubah, nanti.

Seseorang yang bertanya seperti itu, kemungkinan besar dia adalah orang yang kurang kerjaan dan banyak menghabiskan waktunya hanya untuk berpikir. Kemungkinan kecil dia adalah orang yang sudah bosan hidup bersama orang-orang di sekitarnya (besar kecilnya kemungkinan ini tidak berdasar dari ukuran yang jelas). Dia mungkin juga berpikir, bahwa dengan bertanya, semua persoalan bisa dituntaskan. Tapi, apa benar seperti itu?

“Tiap orang itu sendirian. Tiap orang itu hampa. Orang-orang tak lagi membutuhkan orang lain. Bakat sehebat apa pun pasti bisa digantikan. Hubungan seperti apa pun bisa digantikan…” Makishima Shogo mengungkapkan kekecewaannya sebelum mati. Makhisima adalah tokoh antagonis dalam anime Psycho Pass karya Akira Amano.

Di masa depan yang jauh, Makishima adalah orang yang memandang sinis  terhadap kemajuan teknologi. Di masa depan yang jauh itu, teknologi bisa menentukan bakat atau kemampuan setiap manusia. Ketakutan orang-orang akan kematian juga sedikit berkurang tatkala mesin bisa ditanamkan di tubuh manusia, sehingga tubuh itu tak cepat mengalami penuaan.

Lebih jauh lagi, orang-orang tak lagi memerlukan hukum dan persidangan untuk memastikan orang itu salah atau benar; jahat atau baik, teknologi mampu melakukannya. Dengan menodongkan senapan atau memantau dari kamera CCTV di jalanan, kondisi mental dan tingkat kejahatan seseorang bisa terdeteksi. Semua kemajuan itu berada dalam kendali sebuah super komputer yang bernama Sybil system.

Namun, di dalam kendali Sybil System, Makhisima adalah seorang yang terasing. Kondisi mental Makishima tak terdeteksi oleh Sybil System, sehingga apa yang dilakukan Makishima tak bisa dipastikan salah atau benarnya. Orang-orang tak tahu mengapa bisa seperti itu. Makishima pun tak tahu.

Karena sejak kecil Makishima terasing dari lingkungannya, ia pun memandang Sybil System dari sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan orang. Baginya, Sybil System adalah sebuah penjara yang besar bernama Panopticon (penjara yang bentuknya bundar/bulat). Penjara itu memiliki fasilitas yang bisa mengamati semua orang sekaligus. “Sibly mungkin bentuk yang terburuk. Kau bisa mengendalikan tahanan hanya dengan sedikit penjaga,” ungkapnya dalam episode 19 yang berjudul ‘Bayangan yang Transparan’.

Merasa muak melihat kehidupan yang serba teramati dan tergantikan, Makishima pun mempertanyakan otoritas Sybil System dalam menganalisa kondisi mental dan penilaian baik/jahatnya manusia. Sampai ia mengetahui kalau di Sybil System ada kriteria yang tidak termasuk dalam penilaiannya. Kriteria itu adalah kehendak manusia. Ia kemudian mempengaruhi orang untuk bertindak atas kehendaknya sendiri, bukan karena penilaian Sybil System. Tapi orang-orang yang dipengaruhinya adalah orang yang memiliki kecenderungan untuk melakukan kejahatan, seperti pembunuhan. Jika ada orang baik atau pembela keadilan yang ditemuinya, ia akan menguji sifat alami pembunuh dari orang itu.

Karena semua tindakannya tidak bisa terdeteksi benar/salahnya oleh Sybil System, ia pun tak bisa diadili. Senapan canggih yang ditodongkan padanya tak bisa mengukur tingkat kejahatan yang ia lakukan. Sehingga setiap orang baik atau pembela keadilan yang mau membunuhnya, harus menggunakan senapan api maupun senjata-senjata yang tidak terkontaminasi oleh Sybil System.

Makishima berpandangan bahwa, seseorang itu bernilai jka mereka bertindak atas kehendaknya sendiri. Ia ingin menjadi saksi dari keagungan jiwa manusia. Apakah jiwa manusia itu layak untuk dikagumi atau tidak? Tapi, “saat hidup manusia bergantung pada Sybil, tanpa pernah memikirkan apa yang benar-benar mereka inginkan, apa mereka benar-benar berharga?” ucapnya di episode 10 yang berjudul ‘Game Methuselah’.

Apa yang dipertanyakan Makishima sebenarnya adalah hal-hal mendasar tentang kemanusiaan kita. Melalui Mahisima, sang pengarang Akira Amano mungkin menginginkan supaya kita kembali berpikir dan bertanya. Siapa kita? Apa yang kita inginkan?

Ketika teknologi semakin berkembang, ia memang membawa kemanfaatan, tapi ia juga membawa risiko lain, yaitu menggantikan kemanusiaan—tentu bukan Akira Amano yang pertama berpandangan seperti ini. Misal, kita tak terlalu butuh berkomunikasi secara lisan atau fisik dengan teman atau keluarga. Di waktu berkumpul bersama, kita sibuk dengan gawai yang ada koneksi internet dan sosial media.

Dengan gawai, kita bisa berkomunikasi dengan banyak orang di waktu yang hampir bersamaan, kalau bosan kita bisa bermain game, kalau bosan lagi, kita bisa nonton video, kalau bosan lagi kita kembali berkomunikasi dengan banyak orang. Saking bermanfaatnya teknologi (bagi diri kita sendiri), kita tak lagi membutuhkan keberadaan seseorang di depan kita. Teknologi mampu menggantikannya.

Tapi apakah kita bahagia ketika kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan dari gawai, tapi di saat yang sama gawai sudah menggantikan keberadaan orang-orang di sekitar kita? Sepertinya tidak juga. Gawai yang ada sosial medianya telah menciptakan sebuah paradoks. Tak hanya menggantikan keberadaan seseorang tapi sosial media telah membuat seseorang kesepian. Seperti yang diungkapkan oleh Sydney Engelberg, seorang profesor psikologi di Universitas Hebrew, Jarusalem. Menurut Sydney, media sosial lebih sering membuat manusia mengalami frustasi, terasing, dan kesepian dalam hidupnya.

Menurut Engelberg, Media sosial telah menghubungkan orang dengan banyak orang dalam waktu yang singkat, tapi (sering kali) orang itu merasa kesepian. Seperti saat kita berkumpul dengan teman atau keluarga, kita sibuk dengan gawai masing-masing, daripada berkomunikasi secara lisan/fisik. Tapi, saat kita jauh dari teman atau keluarga, kita membutuhkan komunikasi lisan/fisik dengan mereka.

Tidak berlebihan juga kalau teknologi sudah menggantikan sedikit dari keimanan kita. Misal orang akan begitu khusuk menghadapi gawainya, sampai-sampai orang yang ingin bicara, diabaikannya. Tapi ketika orang itu beribadah dan ada yang mengajaknya bicara/menggodanya dengan kata-kata yang lucu, kita akan tertawa. Memang teknologi bisa memberikan apapun yang kita inginkan secara konkrit dan langsung, tidak seperti beribadah yang hanya memohon-mohon dan bersyukur saja.

Hal ini diamini oleh Seorang pakar tentang kesepian bernama John Cacioppo. Direktur Center for Cognitive and Social Neuroscience di Universitas Chicago itu menjelaskan bahwa relasi internet serupa dengan relasi yang dibentuk dengan Tuhan. Menurutnya, relasi internet digunakan untuk mengisi kekosongan dan kesepian di dalam jiwa manusia.

Kita memang harus kembali bertanya, siapa kita? Apa yang kita inginkan? Apakah hidup kita berharga ketika kita bergantung pada teknologi tanpa memikirkan apa yang benar-benar kita inginkan? Ya, kita harus menanyakan semua itu dan menjawabnya. Sebelum seseorang yang ingin hidup normal sebagai manusia yang menanyakan itu kepada kita, dengan cara yang tidak kita inginkan. Seperti yang dilakukan oleh Makhisima.

TINGGALKAN KOMENTAR