di sebuah lobi hotel

Ruangan dengan konsep yang nyaman, saya duduk dengan beberapa majalah dan surat kabar. Persis di hadapan sebuah lift yang tiap menit pada jam menjelang cek-out terlihat orang berlalu lalang. Di sebelah kanan ruangan berdinding kaca, dengan sedikit konsep wooden-touching, indoor dan outdoor yang menyediakan aneka tea and coffee bagi mereka yang berkepentingan—secara umum—nongkrong. Di sebelah kiri ada pintu masuk utama dan di depannya adalah meja resepsionis dan customer services, dilengkapi dengan komputer dan handy-talkie.

[diiiiing] sebuah bunyi bersama terbukanya pintu lift. Beberapa teman—sebut saja—seniman, menyapa memecah kesepian, berkumpul bercengkrama layaknya saudara yang seakan-akan mati pada tempat, hari, tanggal dan pukul yang sama. [diiiiing] berikutnya ada seorang gadis berambut panjang diurai menutupi dadanya, dengan kepala menunduk meng-utak-atik hape, di belakangnya seorang pria yang lamat-lamat memandangi paha perempuan tersebut yang hanya menggunakan hotpants.

Selasar terawang ruang kaca di sebelah kanan, ada sekumpulan orang mengelilingi meja, satu yang berbaju merah berbicara keras pada lainnya, menyebut kata-kata samar “harus dibereskan”, “kita main halus”, “kalian bisa kerja tidak”.

Security officer dengan sigap selalu tersenyum dan menyambut setiap orang yang datang, ”selamat pagi Pak, ada yang bisa dibantu?” Standar. Berikutnya, dari dalam ada langkah cepat yang segera melewati pintu utama tanpa basa-basi, menghampiri mobil yang baru saja parkir. Dengan sigap menyorongkan amplop tebal berwarna cokelat di selipan jaket kulit seorang pria tambun yang keluar dari mobil. Tepat di sebelah kiri, di hadapan security officer, meja resepsionis tampak seperti selalu sibuk, ada yang sekadar bertanya harga kamar; ada yang reserve;  ada yang cek-in; ada yang cek-out, tunai, debit, credit, tampak sibuk.

Sedangkan gadis tadi menunggu (sebut saja lelakinya) sambil menyilangkan kaki dan mengibas-ibaskan rambutnya yang memang sedari tadi basah. Jangan tanya mengapa rambutnya bisa basah? Berselang berganti ada gerombolan berpeci, berjilbab, menggunakan seragam yang tampak serasi menenteng koper, akan melanjutkan perjalanan ke bandara sebagai jamaah umrah. Kembali memandang ke sebelah kanan, makin banyak muda-mudi meneguk kopi sembari menikmati fasilitas wi-fi.

Satu wadah dengan banyak kisah

Dalam bahasa Yunani, keahlian mengurus (nemein) rumah tangga (oikos) secara bijaksana dan teratur disebut oikonomia menjadi ekonomi (Ensiklopedia Populer Politik Pembangunan Pancasila; 1965). Dalam pengertian rumah tangga ini, bisa menjadi sangat luas. Bisa rumah tangga individu, bisa rumah tangga sebuah organisasi atau perusahaan, bisa rumah tangga daerah, provinsi, negara selanjutnya regional bahkan rumah tangga global atau dunia. Semua kegiatan kerumahtanggaan berada dalam wadahnya ekonomi.

Dalam sebuah rumah tangga, ada banyak individu yang memiliki peran yang berbeda-beda. Karena berbeda peran, maka berbeda pula keunggulan dan keahliannya. Dalam rumah tangga ekonomi ada yang berperan sebagai pendominasi, pemilik kapital besar yang berorientasi menggemukkan kapitalnya agar semakin kuat pengaruh dan cengkramannya kepada rumahtangga lain. Ada yang berperan sebagai juru adil ekonomi, mengupayakan agar setiap rumahtangga mendapatkan hak-haknya sesuai dengan semestinya tanpa ada yang mendominasi. Ada yang berperan sebagai ekonom tertindas, men-support ekonomi besar akan tetapi tidak secara fair menerima apa yang seharusnya mereka terima.

Sama seperti sebuah kisah dalam lobi hotel tadi, satu lobi hotel dengan banyak kepentingan. Satu agenda ekonomi bisa berbunyi banyak kepentingan. Ada yang berkepentingan dalam sarana beribadah, ada yang berkepentingan berkumpul, ada yang berkepentingan nafsu, angkara, dan keculasan-keculasan, ada yang berkepentingan persaudaraan dan pertemanan. Banyak kisah dalam ekonomi kita. Kisah ekonomi itu bisa dikerucutkan menjadi 3 kisah besar: 1) kisah kiri sosialis; 2) kisah kanan liberalis & kapitalis; 3) kisah ekonomi idealis, jalan lurus (bukan kiri dan bukan kanan).

Apakah ekonomi suatu hal penting?

Alasan apa kita dijajah? Alasan apa mereka di sana sejahtera? Alasan apa kamu bisa merasakan hidup enak? Alasan apa, kini kamu bingung mau makan, sekolah, bersosialisasi, mau nikah mungkin, yang membuat hidupmu galau atau selalu terjadi kontradiksi dalam hatimu? Dari berbagai alasan yang mungkin kamu sebutkan, akan terselip sebuah alasan yang akan selalu muncul, yaitu alasan Ekonomi.

Melihat beberapa tahun mundur ke belakang, kita selalu teringat kisah-kisah perjuangan yang diceritakan oleh guru dan orangtua kita dengan semangatnya. Apakah kita pernah berpikir alasan apa kita dijajah? Iya, ekonomi. Membahas penjajahan tidak terlepas dari kata imperialisme. Dan dalam imperialisme tidak akan lepas dari kata kapitalisme.

Imperialisme menurut Ir. Soekarno adalah suatu nafsu, suatu sistem menguasai atau mempengaruhi ekonomi bangsa lain atau negeri lain. Suatu sistem  merajai dan mengendalikan ekonomi suatu negara atau suatu bangsa (Indonesia Menggugat, 1930). Imperialisme tua VOC di abad 17 dan 18 dan Imperialisme modern Belanda di abad ke 19 dan 20 telah mengakibatban Indonesia menjadi jajahan Belanda selama beberapa abad. Akibat penjajahan ini rakyat Indonesia menjadi mundur di segala lapangan penghidupan. Baik dibidang ekonomi, maupun kebudayaan (45 tahun sumpah pemuda, 1974).

Nafsu menguasai ekonomi, dengan cara berdagang atau bertransaksi ekonomi dengan paksaan dan kekerasan inilah yang dinamakan penjajahan: imperialisme. Muara dari semua kegiatan imperialisme adalah kapitalisme, yaitu sistem pergaulan hidup yang timbul dari cara produksi yang memisahkan kaum buruh dari alat-alat produksi (Soekarno, 1930). Maksudnya adalah, ketika alat-alat produksi itu dinilai sebagai sebuah aset, dilakukan perawatan, dievaluasi nilai penyusutannya setiap bulan sebagai biaya yang harus dibebankan atas sebuah pemakaian dalam sebuah proses produksi, maka kapitalisme yang dimaksud adalah memisahkan buruh dari proses itu.

Buruh dinilai sebagai faktor non-ekonomi yang tidak bernilai. Padahal buruh lebih dari faktor ekonomi. Buruh adalah mitra, nyawa dari setiap proses, sehingga seharusnya terletak di atas setinggi-tingginya, bahkan di bawah Tuhan, bahasa kasarnya. Sehingga harapan Ir. Soekarno mengatakan demikian itu adalah agar nilai lebih bukan hanya milik majikan, tetapi milik semua pelaksana. Kapitalisme tidak dapat diterima karena menyebabkan akumulasi kapital, konsentrasi kapital, dan sentralisasi kapital (Indonesia Menggugat,1930).

Mr. Pieter Jelles Troelstra menyebut bertambah cepatnya bank-bank besar tumbuh, kapitalnya makin besar, aliran modal terpaksa harus keluar, ke negara-negara yang belum maju ekonominya dan miskin akan modal. Celakanya, modal ini digulirkan kepada ondernemingonderneming di negeri yang terbelakang ekonominya. Dikarenakan, tenaga murah, bunga, dan keuntungan tidak dibatasi oleh perundang-undangan.

Dilanjutkan oleh H.N Brailsford pada zaman sekarang yang dinamakan kekayaan itu ialah pertama-tama kesempatan menanamkan modal dengan untung yang luar biasa. Imperialisme adalah semata-mata penglahiran politik dari kecenderungan yang bertambah besar dari modal, yang bertimbun-timbun di negeri yang lebih maju industrinya, kepada negeri-negeri yang kurang maju dan kurang penduduk (Indonesia Menggugat, 1930).

Kata kuncinya adalah proses ekonomi. Ekonomi menjadi pintu awal lahirnya penjajahan. Masalahnya ketika tujuannya adalah sebesar-besarnya keuntungan, maka yang akan terjadi adalah sumber-sumber daya produksi ataupun ekonomi akan diupayakan dengan nilai seminimal mungkin. Pada akhirnya yang muncul saat itu adalah, proses tanam paksa, proses perbudakan dengan paksaan tanpa upah, hal ini dilakukan karena apa? Karena para kapitalis menginginkan kapitalnya semakin besar, semakin dapat mendominasi (monopoli), semakin bisa untuk ekspansi dan semakin kuat cakar-cakar imperialismenya ditancapkan di dalam dunia.

Logika Kompeni yang diuraikan oleh Ir. Soekarno adalah, kompeni atau VOC melakukan kerja sama dagang dengan raja-raja daerah, di mana kompeni menjadi mitra dan menjamin hegemoni kerajaan-kerajaan Nusantara. Tetapi dengan diijinkannya berdagang di Nusantara, kompeni memberikan kompensasi dan raja-raja juga dibebani kewajiban, di mana kewajiban itu didistribusikan kepada rakyat. Rakyat dipaksa menanggung akibat dari sebuah kebijakan, untuk kepentingan perusahaan dagang, bukan kepentingan rakyat.

Lalu dalih aturan dan dalih agama digunakan untuk menekan mereka melakukan segala pekerjaan itu. Cara-cara tersebut ditempuh untuk bersaing dengan kapital-kapital lain yang besar di Eropa; sistem pajak yang tidak berimbang; upeti dan sosial cost yang lain, ditambah dengan kompensasi atau upah, atau harga-harga akibat monopoli yang akhirnya tidak bisa menutup segala proses produksi. Akhirnya untuk memutar roda ekonomi, rakyat terpaksa berhutang, dan dari hutang inilah muncul berbagai macam penindasan.

(bersambung…)

TINGGALKAN KOMENTAR