Kelapa Trenggalek, Daya Saing dan Anna Karenina

Salah satu hasil perkebunan yang potensial untuk dikembangkan di Kabupaten Trenggalek adalah komoditas kelapa. Kelapa tumbuh subur di seluruh kabupaten. Bahkan, kelapa mudah kita jumpai melambai ditiup angin di sepanjang pesisir selatan.

Secara spasial, produksi kelapa terbesar berada pada Kecamatan Panggul, Munjungan, Tugu dan Karangan. Besarnya potensi kelapa ternyata belum memberikan sumbangsih yang signifikan bagi perekonomian wilayah. Kantong-kantong kemiskinan berada justru pada kecamatan yang memiliki produktivitas kelapa tinggi.

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk mengangkat derajat petani kelapa. Pelatihan, pendampingan dan transfer teknologi berulang kali dilakukan. Namun, hasil yang diharapkan belum kelihatan. Yang ada adalah ketika program tersebut selesai, keberlanjutannya hilang, tidak sesuai dengan yang diharapkan. Kondisi tersebut kemungkinan disebabkan oleh rendahnya kapasitas sumber daya manusia petani dalam menerima transfer teknologi.

Pemanfaatan kelapa oleh petani masih sebatas menjual kelapa secara gelondongan (mentah). Bahkan, banyak bagian kelapa yang terbuang sia-sia. Pohon kelapa juga sebagian besar berumur tua sehingga produktivitas semakin turun. Turunnya produktivitas juga akibat menjamurnya hama dan penyakit wangwung yang menyerang. Jika masalah ini tidak segera diatasi, maka kasus hama yang membunuh ribuan pohon cengkih bukan tidak mungkin juga bisa menyerang pohon kelapa.

Sebenarnya kelapa adalah pohon kehidupan. Semua bagian dari pohon kelapa dapat dimanfaatkan manusia mulai dari akar sampai daun. Peluang diversifikasi produk inilah yang belum disadari dan dimanfaatkan oleh masyarakat Trenggalek. Akar bisa diolah menjadi obat-obatan, batang menjadi bahan bangunan dan perabot, pelepah kering dan daun menjadi barang kerajinan, manggar kelapa menjadi gula, pucuk daun menjadi asinan dan lumpia (Kemenperin, 2012).

Bagian pohon kelapa dengan tingkat diversifikasi paling tinggi adalah buah kelapa yang bisa dimanfaatkan menjadi minyak VCO, sabun, biskuit, susu, margarin, kosmetik, kue, nata de coco, cuka, kecap, isi jok kursi, karpet, keset, dan karbon aktif. Diversifikasi produk turunan kelapa inilah yang akan mendistribusikan nilai tambah secara optimal dan proporsional (Damanik, 2007). Bahkan, Jepang sudah mengembangkan nata de coco sebagai bahan pembuatan layar LCD perangkat elektronik.

Permasalahan klasik lainnya dalam pengembangan olahan kelapa adalah aksesibilitas terhadap pasar yang rendah. Petani masih merasakan kekurangan informasi pasar terkait harga dan produksi di daerah lain. Sebenarnya peluang pasar produk olahan kelapa sangatlah besar. Permintaan global terhadap kelapa semakin meningkat setiap tahun.

Saat ini Indonesia bersaing dengan Vietnam, Filipina, India dan Srilanka sebagai eksportir kelapa (Tarigan, 2015). Rantai nilai perdagangan kelapa juga masih panjang mulai dari: petani – pengumpul tingkat desa – pengumpul tingkat kecamatan – tengkulak – pedagang kecil – pedagang besar (eksportir) – konsumen. Panjangnya rantai nilai inilah yang disinyalir menjadi penyebab utama rendahnya harga jual yang diterima petani.

Masalah akses permodalan bagi usaha petani kelapa juga pelik. Sebagian besar kepemilikan lahan petani kelapa kecil (<0,5 ha) dan produktivitas rendah, sehingga skala usaha juga relatif kecil. Hal ini menghambat pihak perbankan untuk mengucurkan kredit kepada mereka (risiko ketidakpastian proses produksi). Kondisi tersebut memaksa petani mencari pinjaman kredit ke pengumpul, tengkulak atau pedagang perantara. Ini menyebabkan tingkat ketergantungan petani yang tinggi kepada peminjam kredit, sehingga petani selalu berada dalam posisi yang lemah (dalam kemampuan daya tawar-menawarnya).

Lalu, bagaimana pengembangan kelapa di Kabupaten Trenggalek yang berdaya saing. Menurut Bappenas (2004), daya saing menggambarkan kemampuan daerah bersaing dengan daerah lain dalam memproduksi dan memasarkan barang dan jasanya. Agar berdaya saing, setiap daerah harus terus melakukan inovasi dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berbasis pada pengetahuan. Inovasi akan menyebabkan nilai pasar dari barang dan jasa akan meningkat dan sulit ditiru.

Daerah yang memiliki daya saing tinggi tentu akan mudah menumbuhkan denyut perekonomian bagi masyarakatnya. Berdasarkan data empiris, negara-negara maju yang berdaya saing tinggi justru negara yang tidak memiliki kekayaan sumber daya alam. Mereka menekankan paradigma knowledge based economy daripada resource based economy (LIPI, 2004). Lalu, akankah kutukan sumber daya alam yang melimpah telah menimpa petani kelapa kita dalam membuat produk yang berdaya saing?

Rendahnya kesejahteraan petani kelapa akibat belenggu kompleksitas masalah yang muncul perlu sebuah solusi konkrit yang komprehensif. Bukan parsial dan integral. Tidak terkoneksi satu sama lain serta tidak fokus. Sebagaimana ungkapan pengarang besar Rusia, Leo Tolstoy, dalam novel “Anna Karenina” yang masyhur: “Keluarga-keluarga bahagia semuanya mirip; setiap keluarga yang tidak bahagia, tidak bahagia dengan caranya sendiri”.

Quote Tolstoy di atas menekankan bahwa agar bahagia, suatu pernikahan harus berhasil di banyak aspek yang berbeda: ketertarikan seksual, kesepakatan mengenai uang, disiplin anak, agama, besan dan ipar, serta masalah-masalah vital yang lain (Diamond, 2013). Kegagalan terhadap salah satu aspek saja, bisa menghancurkan pernikahan, meski ada bahan lain yang dibutuhkan untuk bahagia.

Lalu apa hubungannya asas Anna Karenina dengan daya saing kelapa? Dalam perkembangannya, asas ini bisa diperluas untuk memahami berbagai hal lain dalam kehidupan selain pernikahan. Terkait dengan peningkatan daya saing kelapa ini, kira-kira asas Anna Karenina-nya Leo Tolstoy dapat dipinjam-lenturkankan menjadi begini: “Produk unggulan daerah yang berdaya saing semuanya mirip; setiap produk unggulan yang tidak berdaya saing, tidak berdaya saing dengan caranya sendiri”. Pertanyaan selanjutnya adalah aspek-aspek apa saja yang dibutuhkan untuk mewujudkan produk kelapa yang berdaya saing?

Yang dibutuhkan adalah sebuah sistem (termasuk cara berpikir). Merujuk pada Senge (1995) dalam bukunya “The Fifth Discipline”, prinsip dari berpikir sistem adalah memandang segala sesuatu-nya secara holistik, inter-dependency (saling bergantung) dan inter-relationships (saling terkait). Unsur system thinking-nya Senge dapat disamakan dengan aspek-aspek asas Anna Karenina-nya Tolstoy. Aspek peningkatan daya saing produk kelapa paling tidak bisa dijelaskan berikut:

Pertama, Membuat kerangka umum yang kondusif bagi pengembangan produk kelapa. Pembuatan kerangka ini adalah tugas pemerintah sebagai regulator dan fasilitator. Pemerintah harus menyediakan berbagai masterplan seperti rencana tata ruang, roadmap pengembangan kelapa, rencana pusat inovasi, rencana induk kelitbangan, jaminan kemudahan perijinan serta penyediaan infrastruktur pendukung terutama aksesibilitas jalan dan ruang publik kreatif (sebagai tempat bertemunya inovator dan sarana promosi produk). Aspek tersebut merupakan prasyarat yang harus ada sebelum melaksanakan aspek-aspek lainnya.

Kedua, Penguatan jaringan inovasi. Aspek ini merupakan upaya untuk melibatkan berbagai stakeholder untuk secara bersama-sama menumbuhkembangkan inovasi produk kelapa, melibatkan Academician, Business, Community dan Goverment (ABCG): 1) Perguruan tinggi berperan menghasilkan SDM dan IPTEK yang terkait dengan produk kelapa; 2) Sektor bisnis berperan sebagai pelaku usaha agribisnis maupun agroindustri yang menampung bahan baku kelapa dari petani; 3) Komunitas masyarakat diarahkan membentuk koperasi/BUMDes bersama sebagai lembaga pembiayaan dan pemasaran produk; serta 4) Pemerintah berperan sebagai regulator dan fasilitator.

Ketiga, Keterkaitan antarklaster industri. Pengembangan produk kelapa diarahkan membentuk klaster industri dan melibatkan industri lainnya dalam sebuah rantai nilai hulu-hilir. Industri intinya adalah pengolahan kelapa baik skala pabrik maupun rumah tangga (tidak menjual kelapa glondongan). Industri pemasoknya adalah industri pembibitan, obat hama/penyakit serta pemasok kelapa (petani). Industri terkaitnya adalah industri pariwisata yang menyasar wisatawan sebagai market pasar produk kelapa. Industri pendukungnya antara lain lembaga perbankan, PDAM, PLN, pengusaha transportasi sedangkan lembaga pendukungnya adalah pemerintah serta lembaga pendampingan usaha.

Keempat, Penumbuhan wirausaha baru (technopreneur). Kunci sukses dari aspek ini adalah memberikan contoh sukses pelaku usaha produk kelapa yang harapannya akan merangsang tumbuhnya jumlah wirausaha. Pendampingan secara intensif juga mutak dilakukan kepada calon pengusaha start-up.

Kelima, Budaya inovasi. Budaya inovasi harus diberi perhatian yang penuh dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berbasis inovasi. Yang ada selama ini, budaya masyarakat kita masih imitasi (Sari, 2013). Penumbuhkembangan budaya inovasi dapat dilakukan melalui penyelenggaraan ajang festival yang terbukti mampu merangsang masyarakat untuk berinovasi sebagaimana pelaksanaan “Festival Gagasan” di Kabupaten Trenggalek, April 2018, kemarin.

Setiap aspek tersebut harus mendapat perlakuan yang maksimal kalau mau mewujudkan pengembangan produk olahan kelapa yang berdaya saing, yang mampu mengangkat derajat perekonomian petani kelapa, serta memiliki efek backward dan fordward linkage. Sebagaimana asas Anna Karenina: semua aspek daya saing harus serius dijalankan semua stakeholder yang terlibat. “Kebahagiaan” petani kelapa akan tergantung pada bekerja atau tidaknya sistem. Ketidakbekerjanya satu aspek saja dalam sistem tersebut, akan menempatkan kembali petani kelapa ke dalam belenggu kemiskinan. Semoga tidak!

TINGGALKAN KOMENTAR