Benarkah Menjadi PNS Enak?

Disclaimer: Tulisan ini saya buat bukan untuk menegasikan peran “pejuang” birokrasi juga bukan untuk menyepelekan serta  menunjukkan sikap menolak untuk menjadi PNS (sebab, kalau suatu ketika saya ditawari menjadi PNS tanpa tes, saya mungkin akan memikirkannya haha..).

Menjelang pilpres kali ini,  siklus rekrutmen mencari tunas-tunas baru PNS digelar kembali (tergantung kebutuhan setiap daerah). Tahun 2018, Trenggalek secara resmi kebagian jatah formasi pegawai aparatur negara sejumlah 389. Dengan dibukanya pendaftaran tersebut, bagi mereka yang umurnya masih memenuhi syarat dan punya keinginan mendaftar, akan berusaha untuk mendaftar menjadi calon PNS.

Jika ada sebagian yang bangun tidur langsung menghampiri kaca lalu berkata dalam hati “saya pantas jadi PNS,” itu adalah sesuatu yang wajar.

Tidak bisa dipungkiri, gelar PNS masih menjadi jabatan prestisius di mata masyarakat Trenggalek. Bahkan ada yang berujar, guru yang sebenarnya adalah guru yang telah menjadi PNS. Jika masih honorer (GTT), mereka tidak dianggap sebagai guru. Kendati begitu, saya bisa saja menyebut guru PNS bukanlah guru sebenarnya, melainkan pegawai sekolah. Mikir seperti itu juga sah-sah saja.

Maka, jika sebagian besar orang pengangguran sedang mempersiapkan berkas-berkas persyaratan CPNS dan berharap lulus tes dan menjadi PNS, saya malah berpikir lain. Sebenarnya apa sih enaknya menjadi PNS?

Bukankah menjadi PNS itu sama dengan memasuki wilayah dengan cara hidup yang monoton? Misal, bekerja Senin hingga Jumat (ada yang sampai hari Sabtu mungkin): mengerjakan hal-hal itu saja (sesuai tupoksi), dan jarang bisa melakukan hal-hal menarik lainnya, seperti “bangun jam 10 siang di hari Selasa, di saat semua orang sedang bekerja”. Ah, ini hanya kegenitan pikiran saya, tidak perlu dirisaukan.

Pernah suatu ketika, saya ngobrol dengan seorang teman yang sejak dari SD sudah berkeinginan menjadi PNS (ia berpikir demikian, karena orangtuanya adalah PNS). Ia menjelaskan berbagai hal tentang asyiknya menjadi PNS seperti:

  • Pekerjaan jelas gajinya juga jelas. Ekonomi kita sudah dijamin.
  • PNS masuk kategori top strata sosial. Menjadi PNS berarti menjadi orang terhormat.
  • Masa pensiun adalah masa menikmati masa tua, karena tunjangan pensiun sudah disiapkan negara (padahal uangmu sendiri yang dipotong).
  • Dan satu lagi yang tidak kalah penting, jabatan PNS adalah kehormatan.

Beberapa hal yang disebutkan kawan saya di atas, merupakan sesuatu yang real. Ini tidak bisa dibantah apalagi diragukan. Mengingat bahwa, mencari pekerjaan layak di Trenggalek sama seperti mencari calon istri baru pasca menikah (bahasa lainnya, wayuh). Itu sulit lagi tak direstui.

Namun, justru disitulah poin-poin yang menurut saya tidak masuk akal dan malah menjadikannya tidak menarik. Kalau menjadi PNS itu seoalah terlihat membahagiakan, lantas kenapa para pegawai yang berada di kantor-kantor layanan (di Trenggalek) bersikap seperti manusia-manusia penuh beban? (semoga anggapan saya ini salah ya, Gaes).

Saya berharap, pikiran Kalian (yang sedang ngebet ingin jadi PNS) tidak seperti apa yang dipikirkan teman saya di atas. Saya memiliki optimisme tinggi bahwa yang Kalian niatkan di dalam hati adalah kesungguhan untuk mengabdikan diri pada nusa dan bangsa. Bukan semata untuk memperjelas penjaminan hidup atau mencari kelas strata sosial terhormat.

Seperti biasanya, saya selalu berusaha untuk memberikan second opini atas opini yang dibangun oleh teman saya semenjak SD ini.  Supaya apa yang dipikirkannya tidak langsung diyakininya hingga menjadi way of life.  Saya ingin mengajak diri saya sendiri dan kepada teman saya tadi untuk berpikir seperti ini: “setidaknya apa yang kamu yakini adalah sesuatu yang  pernah engkau ragukan”. Supaya jika yang kita yakini salah, kita bisa kembali memperbaiki kesalahan tersebut dan mencari pijakan yang lebih meyakinkan.

Dia berpikir bahwa menjadi PNS, pekerjaan jelas gajinya juga jelas. Ekonomi  sudah dijamin. Lalu saya bantah seperti ini: bukankah yang mampu menjamin kehidupanmu adalah Gusti Allah. Bahwa hidup, mati, rejeki, sakit sudah digariskan oleh-Nya. Apakah kalau kamu tidak jadi PNS, kamu tidak bisa makan dan masa depanmu tidak jelas? Janji Allah tidak pernah teringkari, kamu percaya Dia?  Ia mulai tidak suka.

Dia berpikir bahwa menjadi PNS masuk kategori top strata sosial. Menjadi PNS berarti menjadi orang terhormat. Saya terpaksa menjawab begini: apakah kehormatan yang diberikan manusia kepadamu dapat membuatmu menjadi lebih baik? Apakah kamu bisa mejadi lebih bijak? Ingatlah bahwa posisi manusia di sisi Allah itu sama, yang membedakan hanyalah kadar keimanan dan amal sholehnya. Kamu percaya pada-Nya? Ia mulai mengernyitkan dahi.

Dia berpikir bahwa masa pensiun adalah masa menikmati masa tua, karena tunjangan pensiun sudah disiapkan negara . Saya membantahnya begini: iya kawan itu benar, maksudnya, jika semenjak muda engkau rajin belajar menyandarkan ekonomimu kepada negara, di hari tua engkau pun akan tetap mencari sandaran, karena masa mudamu engkau habiskan untuk terus bersandar.

Dia berkata bahwa jabatan PNS adalah jabatan kehormatan. Saya agak memberanikan diri untuk menjawab pernyataan ini, karena saya sudah melihat bibirnya menyungging, tapi ya sudahlah, risiko tetap akan saya hadapi.

Jadi begini lho, kehormatan itu bukanlah sesuatu yang bisa engkau harapkan sekonyong-konyong hadir tanpa engkau berupaya untuk memantaskan diri. Kehormatan itu muncul atas dasar pemikiranmu, perilakumu, hubunganmu dan juga kecerdasanmu. Kenapa mengejar kehormatan palsu yang didapatkan dari auto-terhormat. Manusia terhormat adalah mereka yang bisa menghormati dirinya sebagai manusia bukan robot.

Iya langsung nyolot dengan mata berbinar-binar “kowe ki nyatu yo asuuuuuuuuu, Gus. Jancok, penjilat ko**l. Bersembunyi di ketiak pemerintah”. aja rumangsa bener dewe, kabeh iku ra kudu kaya cangkemmu. Teks ini sengaja saya hitamkan karena mengandung unsur pisuhan.

Lhoooo… PNS kok misuh? Apa nggak wedi dipecat gek digeruduk massa? Ia terus saja misuh.

Dan, perlu Sampean ketahui bahwa nama teman saya tadi adalah Eko.

TINGGALKAN KOMENTAR